Perubahan Kerin

1422 Words
"Gue udah nyampek rumah, Ke." Kerin tersenyum lega membaca pesan yang dikirim Alfa barusan. Kerin terbiasa meminta orang-orang yang dikenalnya untuk mengabari jika sudah sampai rumah setiap kali mereka pergi bersama. "Oke." Kerin membalas pesan singkat Alfa lalu mengirimkannya. Ia baru saja sampai tempat kost diantar oleh Alfa. Sesampain di kosan, Kerin meletakkan tas dan ponselnya ke kamar lebih dulu baru setelah itu ia pergi mandi. Kosan tampak sepi. Hanya ada Lia yang duduk di ruang tamu sambil menonton TV sendirian. Sehabis mandi, Kerin kembali ke kamarnya dan mendapati sebuah pesan yang dikirim Alfa. Kerin telah mengganti pakaiannya dengan setelan piyama berwarna biru. Kerin sudah mengenakan skincare, mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur. Tiba-tiba ia teringat Alvo. Kenapa Alvo ingin mengajaknya pergi? Walau sekadar minum kopi, apa itu tidak aneh? Iya. Aneh karena yang mengajaknya itu Alvo. Sejak kapan Alvo baik padanya? Tidak pernah. Bahkan menjaga perasaannya saja tidak. Oh ya, Kerin lupa... ia, kan, bukan siapa-siapa Alvo. Jadi, untuk apa Alvo menjaga perasaan Kerin? Haha. Kerin saja yang terlalu banyak berharap kepada lelaki itu. Kerin mendengar ponselnya berdenting. Setelah ia menoleh dan melihat layar yang menyala terang, Kerin memutuskan untuk melihatnya sebentar sebelum dirinya pergi tidur. Siapa tahu penting. Siapa tahu dari Alvo... Dan benar saja. Tebakkannya benar. Kali ini bukan sekadar berharap saja. Bukan halusinasinya semata. Itu sungguhan Alvo. Ya, orang yang baru saja mengiriminya pesan adalah Alvo. "Ke." Hanya itu pesan yang diketik Alvo. Kerin menimbang. Berpikir akan membalasnya atau tidak. Karena jujur saja, penolakkannya tadi tidak berhenti membuatnya kepikiran. Itu pertama kalinya ia menolak ajakan Alvo. Kalau Alvo tersinggung, lalu marah, Kerin harus apa? Diam. Sontak, Kerin tersadar. Ia terlalu lama melamun cuma untuk berpikir membalas atau tidak. Satu pesan lagi masuk. Dari Alvo lagi. "Gue pengin ngomong sama lo." "Silakan." Kerin membalas pesan Alvo. Cuma karena pesan singkat Alvo, Kerin rasa ia tidak akan bisa tidur sampai pagi nanti. Segala hal yang menyangkut tentang lelaki itu akan direspons tubuh Kerin secara berlebihan. Sungguh. Seperti tidak bisa tidur salah satunya. Padahal hanya karena Alvo mengirim pesan—setelah mereka tidak menjalin kerjasama lagi. Ya, kan? Kerin meletakkan ponselnya ke atas bantal yang ia pangku. Menggigit ujung kukunya gelisah sambil menunggu balasan Alvo. Mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Bahkan Kerin yakin, berita putus mengenai dirinya sudah sampai ke telinga orang-orang terdekat Alvo. Seperti orang di kantor Alvo salah satunya. Entah. Mungkin saja setelah mendengar atasan mereka diputuskan dirinya, bisa jadi mereka ikut memaki Alvo di belakang lelaki itu. Kan, selama ini, Kerin lemah di mata mereka. Kerin berada di pihak yang tersakiti. Kerin tambah gelisah. Ia duduk tidak tenang di atas ranjangnya. Kerin mengubah letak duduknya, menarik bantal lalu meletakkannya ke samping. Ia menyambar ponsel, tidak berkedip memandangi layarnya, sekali pun matanya terasa silau karena pencahayaan ponselnya terlalu terang. "Kita bisa ketemu, kan? Gue pengin ngajak lo ngobrol sambil makan siang." Balasan Alvo masuk dan membuat Kerin tercengang. Untuk tiga detik lamanya Kerin terbengong. Membaca ulang pesan itu dan bertanya, "Beneran Alvo yang kirim pesan ini, nih?" "Lo bisa ngomong sekarang, Vo. Nggak perlu sampai ngajak gue makan siang segala." Kerin nyaris membanting ponsel ke lantai sehabis mengirim balasannya sendiri. Kerin segera tengkurap di atas kasurnya, memukul puncak kepalanya sendiri, menyesali balasan pesan yang ia tulis untuk lelaki itu. "Apa Alfa melarang lo ketemu sama gue, Ke?" Kedua mata Kerin mengerjap-ngerjap. Kenapa jadi Alfa? Kerin mendengkus. Meluruskan kedua kakinya. Ia menatap layar ponselnya lagi. "Nggak. Alfa nggak pernah melarang gue buat ketemu siapa pun termasuk lo. Gue bahkan diberi kebebasan buat pergi sama siapa aja. Mau temen cewek atau cowok!" Berbeda dari balasan yang ia tulis sebelumnya. Kali ini amarah Kerin agak terpancing. Sepicik itu pemikiran Alvo, ya? Alvo pikir Alfa itu dirinya? Ya... walau ia dan Alfa tidak sungguhan pacaran, tapi Kerin yakin, jika Alfa menjadi pacarnya, Alfa akan bersikap lebih baik daripada Alvo. "Kalau gitu, lo temuin gue besok. Atau perlu gue jemput lo sekalian?" Sialan. Sifat Alvo yang asli keluar lagi. Egois. Suka mengatur, dan ingin menang sendiri. Baiklah. Tidak ada salahnya Kerin menerima ajakan lelaki itu. Karena setelah hubungan pura-pura mereka berakhir, ia dan Alvo tidak pernah mengucapkan kata perpisahan untuk terakhir kalinya. "Nggak usah." Kerin membalas pesan Alvo lagi. Kerin menambahkan, "Sebutin aja lo mau kita ngobrol di restoran atau kafe mana. Gue bisa pergi sendiri tanpa lo jemput." Kerin menarik napas panjang setelah pesannya terkirim dan dibaca lelaki itu. Kerin menepuk dadaannya. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa pertemuan mereka nanti adalah yang terakhir kalinya. *** Kerin merasa DeJaVu. Waktu itu ia dan Alvo duduk berdua untuk makan siang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Alvo sedang lahap makan, dan Kerin sibuk menyusun kata-kata yang akan ia sampaikan kepada Alvo. Ya, siang itu, Kerin hendak menyampaikan bahwa dirinya ingin berhenti menjadi tunangan pura-pura Alvo. Hanya saja Kerin bingung harus memulai dari mana. Dan alasan apa yang ia berikan jika Alvo bertanya kenapa? Ya, sampai sebegitunya. Padahal ia tidak perlu memberi alasan sekali pun Alvo bertanya. Kerin berhak meminta jika memang ingin berakhir. Kenapa harus repot-repot mencari alasan? Setelah Kerin mengeluarkan beberapa kata dan Alvo menanggapi dengan raut wajah bingung. Seorang lelaki tahu-tahu menghampiri mejanya, dan mencium pipi Kerin sehingga ia terkejut bukan main. Orang itu Alfa. Entah, saat itu Kerin harus mengucap syukur atau seharusnya menampar Alfa karena sudah kurang ajar mencium pipinya sembarangan. "Kerin." Alvo menegur Kerin, mengetuk meja mereka beberapa kali. Kerin tersadar. Segera menguasai dirinya. "Apa?" "Lo mau pesan apa?" tanya Alvo. Kerin melihat seorang pelayan menatap ke arahnya kemudian tersenyum namun juga bingung. Mungkin pikir si pelayan, Kerin aneh, terlalu banyak membuang waktu si pelayan menunggu Kerin menyebut pesanannya untuk ditulis. "Eh, maaf." Kerin menganggukkan kepalanya ringan dan meminta maaf. "Jadi lo mau pesan apa?" tanya Alvo lagi. Kerin hanya menyebutnya secangkir kopi, kemudian menyodorkan kembali buku menu kepada si pelayan. "Cuma itu aja?" tanya si pelayan dengan raut wajah agak sebal. Kerin mengangguk lagi. Alvo menyadari pelayan yang sebal, lantas menambahkan, "Sementara itu dulu. Kalau ada yang mau kami pesan lagi, kami bisa panggil kalian." Otomatis kepala Kerin bergerak, ia mendongakkannya, menatap Alvo untuk beberapa detik. Pelayan itu segera undur diri. Alvo memang tidak memarahi si pelayan. Akan tetapi, dari tatapan mata yang Alvo tunjukkan, jelas sekali menunjukkan jika lelaki itu kesal. "Kenapa lo cuma pesan kopi? Lo bisa pesan makan atau apa pun yang lo mau," ujar Alvo sehabis pelayan tadi pergi. "Kedatangan gue ke sini bukan buat makan. Tapi ngopi sambil dengerin lo ngomong." Kerin membalas santai. "Lagian gue nggak punya banyak waktu. Gue punya kerjaan yang nggak bisa ditinggal lama-lama." "Kerjaan atau jaga perasaan Alfa, Ke?" Kerin mendelikkan mata. Menatap Alvo kesal. Lagi-lagi Alvo memasukkan nama Alfa ke dalam topik obrolan mereka. "Lo naksir Alfa, Vo?" tanya Kerin geram. "Sinting lo, ya, Ke," balas Alvo ikut geram. "Dari semalam kayaknya lo sebut-sebut Alfa mulu padahal kita lagi berdua. Gue jadi curiga lo naksir dia ternyata." Kerin menggerutu, kemudian bersedekap. "Bercanda lo nggak lucu." Alvo menatap Kerin sebal. "Gue nggak berniat ngajak lo bercanda. Oh, emang dari dulu kita mana pernah bercanda ya," sindir Kerin. Mana ada orang yang mau mengajak orang seperti Alvo untuk bercanda? Selain Lando dan Natan, tidak ada satu orang pun yang kuat menjadi teman Alvo. Kerin pernah berada di posisi itu. Alvo terlalu kaku untuk diajak bercanda. Belum sempat diajak bercanda, Alvo akan lebih dulu menatap dingin ke lawan bicaranya. "Lo bisa bilang lo mau ngomong apa sama gue," kata Kerin tanpa basa-basi. "Yang gue inget sampai sekarang, lo nggak suka duduk lama-lama sama gue." Kerin terus menyindir Alvo. Alvo pun menyadari perubahan sikap Kerin kepadanya. Dalam hati, ia tidak berhenti menyalahkan Alfa atas perubahan perempuan di depannya ini. "Kopi lo belum dateng," gumam Alvo. "Gue nggak berniat minum kopi, kok. Anggap aja sebagai formalitas. Yang penting gue dateng sesuai janji gue sama lo. Sekarang, lo bilang aja apa yang pengin lo bilang ke gue, Vo." Alvo merasa kehilangan Kerin yang dulu. Ya, walaupun Kerin sejak dulu tidak akur dengannya, tapi setidaknya Kerin yang ia kenal dahulu tidak sinis seperti sekarang. Tidak menyindir, atau bahkan menyerangnya dengan intonasi suara yang ketus seperti hari ini. "Lo banyak berubah, Ke. Padahal belum genap satu bulan kita—" "Gue dateng ke sini bukan minta dikomentarin sama lo, Vo." Kerin tersenyum sinis. "Jangan buang-buang waktu gue. Gue tahu lo bukan orang yang suka basa-basi." Alvo menelan kembali kata-katanya. Ditatapnya Kerin lurus, lalu ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum kecewa. "Vo." Yang didengar Alvo bukan suara Kerin. Melainkan Yasmin. Perempuan itu tahu-tahu muncul di belakangnya. Yasmin menyapa Alvo. Sementara itu, Yasmin justru menggandeng calon suaminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD