Lidah Alvo keluh. Bahkan tubuhnya susah untuk ia gerakkan. Begitu Kerin turun dari motor lalu menghampiri mobilnya, Alvo terpaksa menurunkan kaca mobil kemudian menunjukkan wajahnya. Perempuan itu sempat terkejut. Namun setelahnya menegur Alvo, kenapa tidak mengendarai motornya tidak hati-hati hingga menabrak kendaraan lain.
Terpaksa Alvo meminggirkan mobilnya. Ia akan bertanggungjawab karena sudah menabrak motor Alfa. Ia tidak sengaja melakukannya. Sungguh. Alvo terlalu banyak melamun tadi. Walau ia tidak memyukai kedekatan Alfa dan Kerin, tapi ia masih waras. Mana mungkin ia sengaja menabrak motor Alfa.
"Udah. Nggak apa-apa, Vo." Alfa mengatakannya sembari memandangi badan motornya. "Motor gue baik-baik aja. Lain kali lo harus hati-hati kalau lagi berkendara. Kenapa? Tadi lagi ngelamun lo ya?"
Alvo merapatkan bibir. Tidak berniat menjawab pertanyaan Alfa. Kalau ia mengakui sedang melamun, pasti Alfa akan menjadi-jadi. Lebih baik ia diam saja.
Alvo mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya. Kemudian menyodorkannya kepada Alfa. "Ini kartu nama gue. Lo bisa hubungi gue kalau emang ada apa-apa sama motor lo."
Alfa menolak kartu nama milik Alvo. "Nggak usah deh, Vo."
Dalam hati, Alvo menertawai Alfa. Sombong sekali! Padahal Alvo berniat baik. Sekali pun Alfa meminta ganti motor baru, Alvo bersedia memberikannya.
"Kalau ada apa-apa sama motor gue, nanti kan bisa minta Kerin buat hubungin lo." Kerin tersentak mendengar jawaban Alfa barusan. Alfa mengedipkan sebelah matanya. "Lo masih nyimpen nomor dia kan, Ke?"
Kerin dan Alvo saling menatap satu sama lain. Detik berikutnya, Kerin memalingkan wajahnya, jadi balas menatap Alfa ringan kemudian menganggukkan kepalanya.
Alvo merasa kecewa. Kerin seolah tidak sudi menatap wajahnya. Kenapa? Atau Kerin berubah benci pada Alvo setelah mereka tidak bersama lagi? Atau... Alfa yang melarang Kerin?
"Udah ya, Vo. Masalah kendaraan kita udah beres. Gue anggap motor gue nggak apa-apa." Alfa menepuk bahu Kerin dengan ringan. Memberi isyarat untuk mengikuti Alfa yang telah naik ke atas motor lebih dulu.
"Ke..."
Panggilan Alvo barusan membuat Kerin urung untuk naik ke motor Alfa. Kerin menatap Alvo sebentar, menunggu lelaki itu untuk bicara.
"Lo udah makan?" tanya Alvo membingungkan Kerin.
Alvo sendiri menyesali pertanyaannya. Kenapa harus menanyakan perempuan itu sudah makan? Padahal ia hanya ingin ngobrol berdua dan meminta maaf secara tulus.
"Maksud gue...," gumam Alvo kebingungan sendiri. "Gue mau ngajak lo ngobrol berdua. Di sekitar sini kayaknya ada kafe—"
"Sori, Vo," sela Kerin.
"Kenapa, Ke?" tanya Alvo kecewa.
"Gue mau langsung pulang dan istirahat," jawab Kerin pelan. "Lo hati-hati di jalan. Gue sama Alfa duluan, ya."
Alfa memandangi wajahnya sendiri dari pantulan kaca dari spion. Alvo terlihat begitu kecewa karena Kerin menolak ajakkannya. Ia merasakan Kerin memegangi bahunya, kemudian duduk di atas motornya.
"Kita duluan ya, Vo..." Alfa menatap Alvo sekilas, lalu menghidupkan mesin motornya.
Alvo hanya bisa memandangi kepergiaan Kerin bersama lelaki lain. Ini adalah kali pertama Kerin menolak ajakkannya. Padahal, sewaktu mereka masih bersama, Kerin tidak pernah menolak setiap kali ia ajak pergi. Sekali pun untuk bertemu salah satu kerabatnya, Kerin tidak pernah menolak.
Di sisi lain, Kerin merenungi sikapnya pada Alvo tadi. Apa yang ia lakukan sudah benar, kan? Kalau ia setuju untuk pergi berdua, walau sekadar minum kopi saja, itu sama seperti Kerin mengkhianati dirinya. Ia akan jatuh lagi, memikirkan Alvo lagi tiada henti.
Karena, untuk melupakan seseorang yang pernah berarti dalam hidupnya, butuh perjuangan keras. Dan menolak ajakkan Alvo adalah salah satu perjuangan juga. Hatinya mengatakan untuk pergi, tapi Kerin memaksa dirinya agar tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri.
Alfa menyadari Kerin yang berubah diam setelah bertemu Alvo. "Kenapa lo tolak ajakkan dia, Ke?" tanyanya.
"Kasian lo dong. Kalau gue pergi ngopi sama dia, lo jadi sia-sia udah jemput gue. Udah berapa banyak waktu yang lo buang cuma buat gue jadinya?" balas Kerin.
Alfa pura-pura tertawa. "Sejak kapan lo mikirin gue, Ke? Bukannya selama ini lo selalu sebal sama gue ya?"
Kerin balas tertawa. "Karena lo udah baik sama gue."
"Cuma karena itu?"
Kepala Kerin terangguk. "Ya. Karena apa lagi?" gumamnya. "Gue bakal balas kebaikan lo dengan kebaikan lainnya. Gue orang yang cukup tahu diri. Lo nggak usah khawatir."
Diam-diam Alfa merenungi kata-kata Kerin. Walau kalimat yang Kerin ucapkan terdengar normal, tapi Alfa menangkap suara Kerin yang sedih. Dan Alfa menyadari, itu terjadi setiap kali Kerin bertemu Alvo.
***
Ola berjalan ogah-ogahan. Masuk ke dalam sebuah mobil yang di parkir di depan pagar rumah tantenya. Siapa lagi yang akan mengganggunya malam-malam begini jika itu bukan Natan? Astaga! Sekarang hampir tengah malam, dan lelaki itu hendak mengajaknya pergi mencari makan?!
"Lo gila ya, ngajak gue cari makan malam-malam begini?!" omel Ola setelah duduk manis di samping Natan.
"Aku ngajak kamu cari makan. Apa salahnya?" tanya Natan.
Mobil Natan mulai bergerak, meninggalkan area kediaman Sandra. Ola menyandarkan kepalanya, menarik napas panjang kemudian mengembuskannya kasar.
"Nggak salah kalau emang mau ngajak makan. Tapi lo tahu ini jam berapa, nggak?" oceh Ola.
Natan melirik arloji di pergelangan tangannya. "Tahu. Baru setengah dua belas lewat sedikit kan. Daripada kamu bengong nggak jelas sambil pandangin HP. Mending kamu temenin aku cari makan," balas Natan kelewat santai.
Ola menarik dirinya dari sandaran kursi. "Lo di rumah kan ada Bibi. Kenapa nggak minta tolong buat dimasakin?"
"Kamu nggak tahu sekarang jam berapa? Apa sopan bangunin orang yang udah tidur buat disuruh masak?" Natan malah balas bertanya.
"Terus?! Gimana sama gue yang lo paksa bangun?! Lo telepon gue mulu. Ngirim chat nggak berhenti!"
Ola mengacak rambutnya sendiri. Ia selalu dibuat kesal setiap kali mereka bertemu. Ada saja ulah Natan. Kenapa sih? Suka sekali membuat Ola naik darah. Ola yakin Natan memang sengaja mengerjainya.
"Oh." Natan bergumam. Ia menoleh ke Ola sepintas. "Kamu udah tidur tadi? Maaf, aku nggak tahu. Aku kira kamu belum tidur."
Ola menjambak rambutnya sendiri. Merasa frustrasi menghadapi sikap Natan yang selalu menyebalkan! Ada saja yang membuat Ola naik darah hanya karena bicara dengan calon suaminya ini! Astaga! Belum resmi mereka menikah, Ola sudah dibuat makan hati. Bahkan terlalu sering!
"Cari makanan yang enak! Awas aja lo ngajak makan, tapi nggak sebanding sama usaha gue bangun dan nemenin lo tengah malam begini!" tunjuk Ola ke wajah Natan dengan geram.
"Hmm..." Balasan Natan hanya gumaman saja. Menambah kekesalan Ola. Ia sama seperti bicara dengan tembok!