Kerin berjalan sendirian keluar kompleks perumahan Langen tinggal bersama orang tuanya. Kerin merapatkan kedua tangan memeluk tubuhnya sendiri. Tadi Langen sudah menawarkan untuk mengantar Kerin pulang. Tapi Kerin menolaknya dengan halus.
Saat seperti ini, Kerin ingin sendiri dan memikirkan masalahnya sendiri. Masalah? Kerin tidak tahu harus menyebutnya apa. Ia pikir ia tidak memiliki masalah selain tentang perasaannya sendiri. Sampai hari ini, Kerin tidak tahu bagaimana nasib Alvo setelah kejadian malam itu.
Apa ia masih memikirkan Alvo? Tentu saja. Tapi lebih ke perasaan bersalah. Karena dirinya, Amara jadi berpikir bahwa semua kesalahan terletak pada anak lelakinya. Kerin sendiri baru tahu kalau sikap Alvo kepadanya selama ini diperhatikan orang-orang di kantor Alvo. Mereka semua baik, selalu menyapa Kerin setiap kali ia datang untuk menemui Alvo. Tapi, diam-diam mereka membicarakan dirinya. Di mata mereka, Kerin sama halnya perempuan yang menyedihkan. Mau saja bertahan dengan lelaki dingin dan arogan seperti Alvo.
Mereka benar, kok. Kerin memang menyedihkan. Itu faktanya. Kenapa harus mengelak? Mengenai sikap Alvo ke Kerin, ia juga memiliki andil. Toh, sejak awal Alvo memang begitu. Bukan cuma kepada Kerin saja, tetapi juga orang-orang terdekat Alvo.
Coba tanya Lando, atau Natan. Kedua lelaki itu sudah berteman sejak masa kuliah. Bahkan tidak terhitung berapa kali Natan mengeluh dengan sikap Alvo. Tapi yang namanya teman, seburuk apa pun perangainya, akan ditemani juga.
"Hai, cewek!" sapa seorang lelaki di belakang punggung Kerin.
Kerin mengenali suara lelaki itu. Juga deru motornya. Lantas saja ia berbalik, dan tebakkannya benar. Itu Alfa. Mengendarai motornya pelan-pelan mengikuti langkah Kerin yang lesu.
"Mbak, mau naik ojek, nggak? Ayolah, Mbak. Saya belum narik seharian ini." Alfa bertingkah macam tukang ojek di depan Kerin. Dipasangnya wajah memelas hingga perempuan itu berhenti sebentar lantas menggelengkan kepalanya. "Murah, Mbak. Saya kasih tarif lima ribu aja, deh! Mau diantar ke mana? Ke ujung dunia pun saya antar, Mbak! Mau ya?"
Kerin tidak bisa tidak tertawa melihat tingkah Alfa. "Udah ah. Lo malah bikin gue geli sendiri." Kerin menepuk lengan Alfa.
Alfa menghentikan laju motornya. Berhenti tepat di samping Kerin. "Padahal gue nggak lagi gelitikin lo, Ke."
"Tingkah lo yang bikin gue geli!" Kerin meninju lengan Alfa pelan.
"Yuk, naik!" seru Alfa menengokkan kepalanya ke belakang motornya yang kosong.
Kerin agaknya mulai terbiasa dengan Alfa sekarang. Awalnya Kerin selalu sebal dengan lelaki ini. Ke mana-mana ia selalu diikuti. Atau tahu-tahu muncul di rumah kosannya seperti beberapa waktu yang lalu. Ya, saat Alvo datang menjemputnya.
Alfa memerhatikan Kerin dari pantulan spion motornya. Kerin masih saja ketahuan melamun sesekali. Padahal sudah lewat beberapa hari setelah kejadian makan malam waktu itu. Seharusnya Kerin merasa lega karena beban di bahunya berkurang. Kerin tidak perlu merasa sakit hati karena tingkah Alvo.
"Ke," panggil Alfa. "Gue perhatiin beberapa hari ini lo ngelamun mulu. Lo mikirin apa?"
"Perasaan gue biasa aja. Kapan gue ngelamun emang?"
Alfa berusaha memancing Kerin lagi. "Mau gue sebutin kapan aja lo ketahuan ngelamun?" Alfa menengok sekilas. "Kalau ada masalah atau ada yang lagi lo pikirin. Lo bisa cerita sama gue itu apa. Biar kelihatan berandal begini, siapa tahu gue bisa bantu lo menyelesaikan masalah."
Kerin tertawa sumbang. "Nggak ada, Fa. Gue lagi mikirin kerjaan aja."
"Kerjaan atau Alvo?" pancing Alfa lagi.
Benar saja, Kerin terdiam setelah Alfa menyebut nama lelaki itu. Kelihatan sekali kalau Kerin sangat menyukai Alvo. Padahal Alvo tidak pernah memperlakukan Kerin dengan baik. Bahkan terakhir kali lelaki itu menjemput Kerin untuk makan malam, kata-kata yang keluar sangat nyelekit.
"Oke. Gue nggak bakal bahan Alvo." Alfa mengendarai motor menggunakan satu tangan. Sebelah tangannya ia gerakkan seperti mengunci mulutnya. "Daripada bahan mantan. Kenapa lo nggak cerita ada apa aja hari ini?"
Alfa salah kalau terus-terusan menyebut nama Alvo. Sementara Kerin, akan selalu menunjukkan reaksi yang sama setiap kali nama Alvo disebut. Alfa mencengkram setir motornya kuat-kuat. Ada perasaan marah yang ia pendam kepada lelaki itu. Kalau ditanya apa kurang Kerin, jelas tidak ada. Pertanyaan yang benar adalah, "Kapan Alvo mau belajar menerima Kerin?" karena yang semua orang tahu, Alvo masih memiliki perasaan kepada Yasmin.
"Gue juga tinggal sendirian di rumah, Ke," ujar Alfa memelankan laju motornya agar Kerin bisa mendengar kata-katanya. "Kadang, gue kangen masakan Mama. Tapi, yang paling bikin kangen saat pulang ke rumah orang tua, gue ditanya begini, 'kerjaan gimana? Lancar? Ada kejadian apa aja hari ini, Bang?'. Gitu, Ke."
Kerin terdiam dan menelaah apa yang disampaikan Alfa padanya barusan. Kerin juga merindukan hal yang sama seperti Alfa. Sudah lama sekali Kerin tidak mendengar pertanyaan semacam itu.
"Lo mau gue cerita apa aja yang gue lakuin seharian ini?" tebak Kerin.
Alfa mengangguk. "Iya. Bahkan kalau lo mau, lo bisa cerita apa pun ke gue setiap hari."
"Tapi kita nggak ketemu tiap hari. Gimana gue bisa cerita?" balas Kerin.
"Lo bisa telepon gue, Ke. Apa gunanya lo punya HP, hah?"
Benar juga. Segala sesuatu sudah canggih. Kalau tidak bisa bertemu, Kerin bisa menelpon Alfa. Walau sekadar mengeluarkan keluh kesahnya ke lelaki itu. Atau kalau mau, Kerin bisa menceritakan apa pun pada Alfa.
"Gue tahu lo nggak seterbuka itu ke Langen." Suara Alfa berubah sedih.
Dari luar, Kerin kelihatan seperti perempuan kuat yang tangguh. Tapi, belum ada yang menyadari seberapa rapuhnya Kerin sesungguhnya. Kalau saja Langen tidak memaksa perempuan itu bercerita, Kerin akan tetap bungkam. Sekali pun terpaksa bercerita, Kerin masih akan menyimpan satu atau dua cerita yang disimpannya.
Dari kejauhan, tanpa diketahui Kerin apa lagi Alfa, mobil Alvo sedang membuntuti keduanya. Alvo masih saja menjadi lelaki pengecut yang beraninya hanya menatap dari jauh daripada bertindak. Kalau memang ia ingin meminta maaf pada Kerin. Kenapa tidak ia datangi saja perempuan itu lalu meminta maaf secara terang-terangan? Padahal dengan cara mengikuti Kerin ke mana-mana malah membuatnya mirip seperti seorang penguntit.
Alvo memandangi motor Alfa gelisah. Ah, tidak. Yang membuat Alvo gelisah adalah kedekatan Kerin dan Alfa. Semakin hari keduanya terlihat sangat dekat. Ke mana-mana selalu pergi berdua. Alvo jadi tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Kerin.
Kalau ada Alfa, lelaki itu pasti mengacaukannya.
Pertanyaan yang sama ada di kepala Alvo. Tidak kunjung mau pergi padahal Alvo sudah sangat tersiksa.
Siapa Alfa? Seperti apa hubungan Alfa dan Kerin sebenarnya?
Sejujurnya Alvo tidak percaya jika Alfa pacar baru Kerin. Melihat sikap Kerin yang agak ketus ke Alfa, Alvo berasumsi Alfa hanya teman Kerin. Tapi... mana ada teman yang berani mencium pipi teman perempuannya? Lagi pula, Alfa sangat asing di mata Alvo. Belum pernah ia lihat sebelumnya wajah Alfa.
Ia sempat menanyakan perihal Alfa ke Langen. Namun jawaban perempuan itu sangat ketus. Semenjak ia dan Kerin tidak lagi bersama, di saat itu pula Langen menatapnya seperti musuh bebuyutan.
Bruk!
Alvo tersentak. Ia terlalu lama melamun sampai tidak sadar menabrak kendaraan seseorang. Alvo lantas berhenti mengendarai mobilnya. Menatap dua orang di depan sana yang tampaknya tidak kalah terkejut.
Kerin turun dari motor Alfa. Berjalan ke arah mobilnya sambil menyipitkan mata.
Sialan. Alvo ketahuan membuntuti Kerin dan Alfa!