Kerin dan Alvo berjalan beriringan masuk ke dalam rumah keluarga Tjandra. Alvo sesekali melirik Kerin kemudian menoleh ke belakang. Dari sela-sela pagar rumah, Alvo melihat Alfa dan motornya masih di sana sedang memandangi mereka.
Langkah Kerin tahu-tahu berhenti. Kepalanya menoleh dan mendapati sebelah tangan Alvo melingkari bahunya. "Apaan nih? Lepasin, Vo," tegur Kerin terlihat nggak nyaman.
Alvo malah mendekap erat bahu Kerin. "Malam ini lo masih jadi tunangan gue, Ke."
Kerin menarik tangan Alvo kemudian mengempaskannya. Alvo sesekali menoleh ke pagar dan tersenyum sinis. Alfa belum pergi juga rupanya. Tapi nggak apa-apa. Sekalian saja biar Alfa melihat pacarnya sedang dirangkul Alvo.
"Gue sama lo resmi nggak ada hubungan apa-apa. Lagi pula tinggal beberapa jam lagi gue sama lo kelihatan putus di mata orang-orang. Jadi, lo nggak perlu memaksakan diri buat kelihatan peduli sama gue, Vo."
Kerin membuang pandangannya ke objek lain. Ya ke mana, kek. Asal bukan ke arah Alvo. Sampai kerjasama mereka berdua telah selesai, Alvo masih saja bertindak semaunya, seakan Kerin senang-senang saja mendapat perlakuan manis dari lelaki itu.
Lagian, tumben sekali Alvo mau merangkul Kerin? Jangan kan ada skinship di antara mereka berdua. Untuk menunjukkan senyum di depan Kerin saja, Alvo kayak ogah banget!
"Gue duluan." Kerin menarik rantai tasnya lebih tinggi, lalu meninggalkan Alvo yang tidak bisa berkata-kata.
***
Kerin menjumpai teman-teman Alvo sekaligus temannya. Gimana, sih... Alvo, tuh, berteman sama Lando dan Natan. Nah, sedangkan Lando itu tunangannya Langen, teman baiknya Kerin. Terus si Natan, itu calon tunangannya Ola, sepupunya Langen. Jadi yang dikenal Alvo, ya... Kerin juga kenal.
Omong-omong soal teman-teman Kerin dan Alvo, sebenarnya nggak kalah absurd sama kisah percintaan Kerin yang kandas, padahal belum dimulai sama sekali. Dua tahun sama-sama, nggak bisa disebut pacaran. Lebih tepatnya cuma dua orang yang bekerjasam. Tapi, nih. Ada tapinya. Yang diuntungkan hanya Alvo. Justru sebaliknya, Kerin kayak nggak punya kebebasan buat pergi ke sana sini karena sejak awal sudah diberi peringatan sama Alvo, kalau, Kerin akan dijadikan gunjingan keluarga besar Tjandra—jika sampai ketahuan jalan bareng lelaki lain.
Tunggu. Kerin menelaah kata-kata Alvo saat itu. Dari kalimat yang Alvo ucapkan, seolah Kerin—jalan bareng sama lelaki lain, tuh, semacam selingkuh! Padahal kan, nggak. Lagi pula hak Kerin dong mau jalan sama siapa saja. Mau sama lelaki A, kek. Si B, C, sampai Z, juga hak Kerin!
Tapi bodohnya Kerin, walau dikekang ini itu sama Alvo, Kerin mau-maunya bertahan sampai di tahun kedua. Memang dasarnya Kerin saja yang buta karena cinta!
"Wah! Rambut baru, Kak Kerin," goda Ola dari tempat duduknya. Di sampingnya ada Natan, tunangan Ola, sedang menyibukkan diri menatap layar ponsel yang menyala. "Cantik, Kak. Lo kayak perempuan feminim kalau kayak gini. Eh, tapi lo sama Bang Alvo lagi nggak apa-apa, kan? Biasanya kalau cewek merubah penampilan, kebanyakan baru putus cinta!"
Natan menyenggol lengan Ola, tatapannya yang dingin berubah galak.
"Apa sih, Om?!" keluh Ola, balas mendelik ke Natan.
Natan meletakkan ponsel ke atas meja. Kepalanya pelan-pelan mendekati telinga Ola, kemudian berbisik ke telinga cewek berusia sembilan belas tahun itu. "Bisa nggak usah berisik di rumah orang, nggak?"
"Nggak—bisa. Kenapa emang?" tantang Ola, menaikkan dagunya angkuh.
Perdebatan Natan dan Ola bukan cuma sekali terjadi. Di mana mereka berada, mereka duduk, makan dan minum, pasti selalu saja berdebat dan adu mulut. Nggak peduli sedang sepi atau banyak orang sekali pun. Misalnya saja seperti sekarang. Biarpun sedang di rumah orang, Natan dan Ola nggak pernah lupa untuk berdebat sekali pun menjadi pusat perhatian banyak orang.
"La," bisik Langen yang duduk di seberang.
"Iya, iya!" seru Ola. Pada akhirnya perempuan muda itu mengalah setelah ditegur oleh Kakak sepupunya.
Semua kan karena Natan yang memulai. Tapi orang-orang selalu menegurnya lebih dulu. Kenapa? Karena Ola lebih muda dari mereka semua? Ya, deh, tahu yang sudah tua!
Ola menengok ke samping dan menatap Natan sangat sinis. Seharusnya Natan lebih sering mengalah padanya. Kan, Natan merasa dirinya lebih tua. Lebih dewasa. Tapi semua perdebatan di antara mereka, itu dimulai dari Natan!
Apa-apa dilarang, apa-apa nggak boleh. Ola bukan tipikal perempuan penurut—kalau Natan berpikir begitu. Ola tuh bebas. Saat papanya masih ada, Ola boleh melakukan apa saja walau terkadang masih pergi diam-diam.
"Eh, udah ngumpul semua ya?" seru mamanya Alvo, berjalan menghampiri teman-teman anaknya. "Oh, kayaknya ada satu orang yang belum dateng."
Jelas saja semua orang di meja makan saling berpandangan. Ola menghitung dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Pas, kok. Memangnya siapa lagi yang diundang mamanya Alvo?
"Selamat malam, Tante. Maaf, saya telat," sapa seorang perempuan cantik, memasuki ruang makan dan menyapa yang lainnya. "Hai, Vo. Oh, ada Kerin?" Yasmin, mantan pacar Alvo, menyunggingkan senyum ramah.
Kerin diam dan balas tersenyum tipis. Entah kenapa, tapi Kerin yakin semua orang yang melihat Yasmin, akan mengatakan kalau perempuan itu sangat cantik. Nyaris sempurna di mata Kerin. Yasmin mempunyai tubuh tinggi, langsing, rambut lurus panjang sebahu berwarna hitam legam. Kulitnya yang seputih s**u membuat Kerin nggak bisa berkedip.
Otomatis Kerin menunduk, menatap kedua kakinya sendiri lalu mengembuskan napas panjang tanpa kentara. Kerin mengangguk-angguk, seperti menyadarkan dirinya. Keputusannya untuk mundur menyukai Alvo sudah benar. Saingannya kelewat cantik. Nggak sebanding sama Kerin yang biasa-biasa saja.
"Halo, Yas! Apa kabar? Tante kira kamu nggak akan dateng ke sini." Mamanya Alvo menyambut kedatangan Yasmin sangat hangat sekaligus ramah.
Yasmin balas memeluk mamanya Alvo. Senyum cerah perempuan itu bahkan menyilaukan mata Kerin. Astaga. Kerin yang perempuan saja betah melihat Yasmin yang bening. Apalagi Alvo! Tuh! Baru dibilang, Kerin menyadari Alvo menatap Yasmin sampai nggak kedip sama sekali.
"Aku nggak mungkin nggak dateng, Tante." Yasmin mengurai pelukannya.
"Makasih udah dateng ya, Yas," ujar mamanya Alvo.
"Sama-sama, Tante." Yasmin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ayo duduk, Yas. Sini..." Wanita itu menunjuk kursi yang masih kosong.
Yasmin duduk di kiri Natan. Yasmin menyapa Natan, kemudian pandangannya beralih ke perempuan muda di samping lelaki itu. Yasmin memuji Ola sangat cantik. Ola terlihat girang, menoleh ke Natan lantas menaik turunkan alisnya jahil.
Orang-orang yang diundang mamanya Alvo makan malam telah hadir. Wanita itu duduk di kursi paling ujung. Menolehkan kepalanya ke kanan kiri memerhatikan pelayan yang menata menu secara bergantian. Ola yang pada dasarnya suka makan, jelas saja girang!
"Jangan mangap. Mingkem. Kamu mau orang-orang di sini lihat air liur kamu netes?" Natan meletakkan kedua tangannya ke atas kepala dan dagu Ola. Secara sengaja lelaki itu menutup bibir Ola paksa.
Ola menggerakkan kepalanya. Menatap Natan sinis. "Lihat, kan! Lo duluan yang suka ngajak gelud. Ntar gue yang ditegur sama yang lain!"
Di saat Ola dan Natan berdebat, Yasmin menyadari keberadaan Kerin yang duduk di kursi seberang. Yasmin melempar senyum ramah dan dibalas oleh Kerin walau canggung.
"Kalian udah saling kenal?" tanya mamanya Alvo menunjuk Kerin dan Yasmin bergantian.
Yasmin masih mengulas senyum. "Kita pernah ketemu beberapa hari yang lalu."
"Iya, Ma," tambah Kerin kikuk.
Yasmin menepuk keningnya pelan. "Ah, pantes aja aku lihat pacar kamu di depan pagar. Ternyata kamu juga diundang sama Tante Amara," tambahnya, menarik kebingungan orang-orang.
"Pacarnya siapa, Yas?" tanya Amara.
Yasmin menjawab dengan polosnya. "Pacarnya Kerin, Tante. Kerin... itu mantan tunangannya Alvo, kan?"
Seketika, suasana berubah hening. Langen dan Lando yang mengetahui cerita seseungguhnya ikut menelan ludah kasar. Sementara Alvo dan Kerin mematung, tidak bisa bergerak biar sebentar saja. Bahkan untuk mengedipkan mata saja nggak bisa.
"Aku udah ajak masuk ke dalam, tapi dia nolak," lanjut Yasmin lagi.