Kamu Berhak Bahagia

1094 Words
Bagi Kerin, menjaga perasaan Amara, mamanya Alvo, adalah hal yang paling dia pikirkan. Butuh waktu berhari-hari merangkai kata-kata untuk disampaikannya. Kalau dia dan Alvo sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. Amara yang dipanggil Mama oleh Kerin, sangat baik kepadanya. Kerin yang kurang kasih sayang semenjak kedua orang tuanya bercerai, mengaku sangat senang saat bisa mengenal Amara. Wanita itu adalah orang baik, perhatian, sangat lembut kepadanya. Berbeda dengan anak lelakinya suka bicara tanpa berpikir lebih dulu. Bisa menyakiti perasaan orang atau tidak. Acara makan malam berlangsung tidak baik. Kesalahan tidak sepenuhnya mereka lemparkan ke Yasmin yang memang tidak tahu menahu. Bukan hal aneh kalau Yasmin hendak mengajak Alfa masuk ke dalam. Yang aneh justru Alfa. Kenapa masih menunggu di depan rumah Alvo, sedangkan Kerin sedang makan malam bersama orang tua Alvo juga teman-temannya. Coba begini saja. Anggap saja Alfa memang pacar baru Kerin. Kalau Kerin mendapat undangan makan malam dari keluarga mantan tunangannya, kenapa harus datang sendiri? Kenapa membiarkan Alfa menunggu di atas motor tanpa mengajaknya masuk? Atau yang lebih simpel, Alfa bisa pulang dulu, atau mencari cafe terdekat untuk menunggu Kerin, kan, bisa. Kalau sudah begini, siapa yang harus disalahkan? "Ya, Alvo!" seru Amara, meremas kesepuluh jarinya kuat. Selepas makan malam tadi, Yasmin diantar pulang oleh Alvo. Langen, Lando, Natan dan Ola pamitan pulang lebih dulu. Mereka semua memang berteman dekat, akan tetapi, lebih baik mereka mempercayakan semuanya kepada Alvo dan Kerin. Mereka yakin, kedua temannya sudah dewasa dan tahu keputusan apa yang harus diambil. Tadinya Langen mau angkat bicara, tetapi di bawah meja, Lando menggenggam tangan Langen kemudian menggelengkan kepalanya sebagai isyarat agar tidak ikut campur. Biar menjadi urusan yang bersangkutan saja. Sebagai teman, Lando dan yang lain cukup berdoa saja untuk Alvo dan Kerin. Amara mengajak Kerin bicara berdua di dalam kamar. Kerin siap disalahkan kalau itu bisa membuat Amara tidak kecewa padanya. Bisa saja Amara berpikir bahwa di posisi ini dia yang salah. Semua anggota keluarga Tjandra, baik kedua orang tua Alvo sampai Tante, Om serta Kakek dan Nenek lelaki itu—tahunya Kerin masih tunangan Alvo. Mungkin mereka akan menuduh Kerin yang selingkuh dengan lelaki lain sampai akhirnya Alvo memutuskannya. Tapi.... yang terjadi justru sebaliknya. "Sebenarnya Mama udah tahu gimana sikap Alvo ke kamu selama ini." Amara duduk memunggungi Kerin. Raut wajah wanita itu jelas kecewa. "Kenapa nggak bilang sama Mama aja, Ke? Kenapa kamu pendam sendiri?" Kerin kehilangan kata-kata. Lidahnya seperti sulit untuk digerakkan. Banyak desas-desus yang muncul di kantor. Amara sering mengunjungi putra dan suaminya di kantor. Entah memang ingin mengajak makan siang bersamax atau sekadar mampir selesai acara arisan bersama teman-temannya. Amara pernah tidak sengaja mendengar dua orang bergosip di toilet tentang sikap putranya ke Kerin, tunangannya. "Kelihatan banget Pak Alvo nggak bahagia. Atau cuma gue aja yang mikir gitu?" "Bukan lo aja sih. Gue mikir gitu juga. Pak Alvo tuh lempeng-lempeng aja sama tunangannya. Kayak orang terpaksa. Kayak nggak bahagia aja." "Tapi... bukannya ceweknya pilihan Pak Alvo sendiri, ya? Kalau mereka dijodohin, gue bakal maklum. Tapi ini bukan. Gue kadang kasian lihat tunangannya sering nunjukkin muka sedih." "Gue tahu Pak Alvo ganteng, kaya, perfect bangetlah. Tapi, ya, kalau gue di posisi ceweknya, mending gue cari yang biasa-biasa, tapi bisa bikin bahagia, yang bisa menghargai gue sebagai tunangannya." "Sama. Ngapain bisa dapetin yang kayak Pak Alvo, tapi nggak bikin bahagia. Ya, nggak, sih?" "Bener! Gue setuju sama lo." Amara sengaja diam di dalam bilik toilet lebih lama hanya untuk mendengar semua obrolan dua orang di luar. Amara mengembuskan napas kesal. Anak lelaki yang sering dia banggakan ke teman-temannya, ternyata tidak bisa memperlakukan pasangannya dengan baik. Apa yang kurang dari Kerin? Kalau mau yang lebih cantik, jelas ada, tapi, kalau yang lebih baik dari Kerin, Amara tidak yakin Alvo akan mendapatkannya biar keliling ke ujung dunia sekali pun! Kerin menelan ludah susah payah. Amara menceritakan apa yang didengar wanita itu di toilet. Sekarang kondisinya berbalik. Kerin sebagai korban, sementara Alvo, di posisikan sebagai lelaki yang tidak bisa menghargai tunangannya sendiri. Alvo memang menyebalkan. Seringkali kata-kata Alvo membuat Kerin merasa sakit hati. Tapi, bukan ini yang diinginkan Kerin. Dia ingin hubungannya dan Alvo berakhir dengan baik-baik saja. Tidak ada yang merasa diuntungkan atau dirugikan. Kerin tidak akan sampai hati membuat Alvo terlihat seperti lelaki jahat dan tidak berperasaan. "Mama minta maaf ya, Ke," ujar Amara memutar badannya perlahan. "Mama dan Papa nggak bisa mendidik Alvo dengan baik sampai dia nyakitin kamu selama ini." "Ma..." Kerin akan membuka mulut, tetapi disela oleh Amara. "Mama nggak akan menyalahkan kamu kalau sampai ninggalin Alvo untuk lelaki lain. Alvo memang perlu diberi pelajaran supaya tahu gimana rasanya ditinggalin sama orang yang sayang dan peduli sama dia selama ini!" tambah Amara, dengan amarah menggebu-gebu. Sekarang Kerin bingung harus bersikap seperti apa. Kejadian malam ini jelas akan mempersulit hidup Alvo ke depannya. Mama dan Papa Alvo pasti akan mengomeli lelaki itu. Apalagi papanya Alvo yang sedang berada di luar negeri. "Kamu bahagia sama lelaki itu, Ke?" tanya Amara, menggenggam tangan Kerin. "Maksud Mama?" Amara tersenyum tipis. Walau dia tidak rela melepaskan Kerin untuk dimiliki lelaki lain, tapi kebahagiaan Kerin yang utama. Amara dan suaminya sudah menganggap Kerin seperti anaknya sendiri. "Pacar kamu, Ke." Amara menambahkan, "Jadi, sebenarnya kamu sama Alvo udah putus?" Dengan kaku Kerin menganggukkan kepala. "Ya. Maaf, Ma." Kerin hampir menangis saat melihat wajah Amara yang tetap tersenyum, tetapi jelas sekali jika sedang kecewa. "Tadinya aku mau bilang ini ke Mama. Tapi, ternyata Yasmin udah ngasih tahu duluan." Amara manggut-manggut. "Semua keputusan ada di tangan kamu, Ke. Mama sama Papa penginnya kamu sama Alvo bisa langgeng sampai ke jenjang pernikahan. Tapi...." Kedua mata Amara berubah sayu. "Kalau kami memaksa kamu sama Alvo lebih lama, itu sama aja kami nggak sayang kamu. Gimana bisa kami membiarkan kamu hidup sama anak kami yang jahat? Bagi Mama dan Papa, kamu itu berharga. Kamu berhak buat bahagia walau nggak sama Alvo." Kerin menggigit bibir. Dia sudah membuat kedua orang tua Alvo sedih. Andai saja mereka tahu kalau selama ini Alvo dan Kerin hanya berpura-pura. Membuat sebuat kontrak kerjasama sebagai pasangan yang saling mencintai, padahal saling menyakiti. Kerin yang diam-diam menyukai Alvo. Dan Alvo, harus menahan diri untuk bersama orang yang tidak dicintainya. Bukannya itu saling menyakiti namanya? "Pacar kamu masih nunggu di luar, kan? Ayo, kita temui dia. Mama mau lihat orangnya kayak gimana." Amara menyambar tangan Kerin, lantas membawa perempuan itu keluar kamar. Kerin dan Amara berpapasan dengan Alvo di tengah-tengah anak tangga. Alvo memanggil mamanya, tapi kedua matanya tertuju ke Kerin yang cuma diam. Amara melewati Alvo, menatap Alvo sinis, kemudian menggandeng Kerin hingga turun ke bawah. "Ma." Alvo memanggil mamanya lagi, tapi tetap tidak dihiraukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD