Alvo mengikuti langkah mamanya dan Kerin dari belakang. Mamanya terus berjalan sembari menggandeng tangan perempuan itu menuju keluar pagar rumah. Alvo menunggu di depan pintu, mengangkat dagu sembari memerhatikan mamanya menghampiri motor Alfa.
Alfa seperti sengaja ingin mengacaukan hidup Alvo. Andai saja Alfa tidak menunggu Kerin lalu bertemu Yasmin, mungkin kejadian seperti tadi nggak akan terjadi. Alvo bisa mengulur waktu sebelum Kerin mengatakan hal jujur kepada mamanya.
Jujur saja, Alvo belum rela kalau Kerin mengakhiri kerjasama di antara mereka. Setidaknya, sampai ia dan Yasmin bisa kembali bersama lebih dulu. Ya, Alvo berniat mengajak Yasmin pacaran lagi dengannya.
Apa yang salah? Yasmin kelihatan masih sendiri. Saat mereka makan siang bersama waktu itu. Sebelum Alfa dan Kerin datang lalu menganggu acara makan mereka, Yasmin tidak pernah menyinggung nama lelaki lain, atau nama pacar barunya. Itu artinya Yasmin belum memiliki pasangan, bukan? Berarti Alvo masih punya kesempatan untuk mendapatkan perempuan itu.
Alvo mendengkus. Kedua tangannya bersedekap. Bisa-bisanya sang Mama mengajak ngobrol Alfa begitu ramah. Alvo berada di posisi korban. Kerin masih berstatuskan sebagai tunangannya di mata keluarga Alvo. Lalu, tahu-tahu memiliki pacar. Itu artinya Kerin berselingkuh! Seharusnya mamanya mendatangi Alfa lalu menampar lelaki itu. Bukannya haha-hihi kayak sekarang!
Apa yang dikatakan Kerin kepada mamanya? Alvo menaikkan sebelah alisnya, kedua matanya menyipit, nggak berhenti memandangi gerak-gerik Mama dan Alfa bergantian. Sementara Kerin, yang berdiri di belakang mamanya Alvo, cuma diam sesekali mengusap tengkuknya canggung.
Alvo menyeringai sinis. Enak sekali si Kerin. Baru mengakhiri kontrak dengannya, Kerin sudah memiliki gandengan baru!
Amara tahu kalau Alvo ada di belakangnya, menatap ia, Kerin beserta Alfa. Rasakan! Sekarang menyesal karrna sudah melepaskan perempuan sebaik Kerin, kan? Di mana lagi Alvo bisa mendapatkan perempuan yang mau menerima sifat buruk Alvo? Amara tidak akan bisa marah kalau memang Kerin lebih memilih Alfa.
Lelaki muda di depannya sangat ramah juga sopan. Walau gaya berpakaiannya agak mirip berandalan, lengkap dengan sebelah telinga yang ditindik, toh, penampilan seseorang tidak bisa dijadikan patokan baik dan buruknya manusia. Alfa kelihatan lelaki penyayang, perhatian, sedari tadi Amara tidak berhenti memerhatikan Alfa ketika menatap ke arah Kerin. Amara mengangguk kecil, kedua sudutnya tertarik membentuk senyum. Sekarang ia mengerti kenapa Kerin memilih Alfa pada akhirnya.
Karena Alfa berbeda dari Alvo. Alfa lebih menghargai pasangannya. Lihat saja, Alfa mau menunggu Kerin di depan pagar rumahnya. Coba kalau itu Alvo, Amara yakin tidak akan mau anaknya menunggui pasangannya yang sedang makan malam dengan keluarga mantan tunangannya.
"Kalian hati-hati di jalan. Fa, jangan ngebut, ya." Amara berpesan kepada Alfa sebelum motor lelaki itu dinyalakan.
"Siap, Tante!" balas Alfa memberi gerakkan hormat, kemudian keduanya tertawa.
Kerin sudah naik ke atas jok motor Alfa. Melihat interaksi Amara dan Alfa yang akrab, Kerin jadi bertanya-tanya Alfa manusia macam apa sebenarnya. Kenapa mudah sekali berinteraksi dengan orang baru tanpa canggung? Kemarin Yasmin, sekarang mamanya Alvo. Kerin yakin, jika tadi Alfa diajaknya masuk ke dalam, Alfa akan mudah berbaur dengan yang lain.
Kerin dan Alfa bergantian mencium punggung tangan Amara. Setelah keduanya mengucapkan salam, Alfa menghidupkan motor kemudian meninggalkan rumah keluarga Alvo.
Di atas motor, Alfa sesekali melirik Kerin dari kaca spion-nya. Kerin kelihatan diam melamun, seperti ada yang sedang dipikirkan perempuan itu. Mungkin, Kerin masih memikirkan Alvo.
Sewaktu Alfa menunggu Kerin di depan rumah orang tua Alvo, Alfa melihat lelaki itu masuk ke dalam mobil setelah Yasmin masuk lebih dulu. Alfa menggelengkan kepala heran. Padahal masih ada Kerin di dalam sana, tetapi Alvo malah pergi bersama Yasmin. Atau Alvo bodoh? Tidak bisa menjaga perasaan orang yang telah lama berada di sisinya selama ini? Ah, ya. Mungkin Alvo memang tidak pernah menyukai Kerin selama ini. Hanya menganggap Kerin sebagai rekan daripada sebagai pasangannya.
"Mamanya Alvo baik banget ya, Ke," ujar Alfa melirik Kerin dari spion.
"Hm, iya." Rupanya Kerin mendengar apa yang Alfa katakan.
"Nggak heran kalau lo galau banget mau bilang putus ke mamanya," tambah Alfa. "Terus, Alvo berengsek gitu, ngikut siapa ya?"
Kerin melirik Alfa sebentar kemudian menarik napas panjang. "Mana gue tahu. Udah watak dia gitu kali."
Alfa tertawa. Kerin nggak marah padahal Alfa menyebut Alvo beresengsek tadi. "Udah lebih lega sekarang?" tanyanya.
Kerin mengangguk, tetapi ragu. "Kayaknya, gitu..."
Alfa menolehkan kepalanya ke belakang sekilas. "Masih mikirin Alvo?"
Entahlah. Kerin nggak bisa menjawab pertanyaan Alfa. Dia bingung apa yang membuatnya mengganjal. Harusnya Kerin lebih lega karena tidak dibebani lagi dengan hubungan pura-puranya dengan Alfa. Kerin nggak harus merasa bersalah karena sudah membohongi kedua orang tua lelaki itu lagi. Ya, kan? Tapi rasanya Kerin belum sepenuhnya lega.
Alfa diam setelahnya. Kelihatannya Kerin lelah. Makanya Alfa memilih menyimpan semua pertanyaan di kepalanya. Alfa akan menunggu Kerin agar lebih tenang.
Nggak terasa, motor Alfa sampai di halaman kosan Kerin. Alfa mematikan mesin motornya. Kedua matanya menangkap sosok Langen dan Lando di kursi teras. Dari ekspresi wajah mereka, jelas sekali sedang panik.
Langen langsung melompat dari kursi lalu menghampiri Kerin. Alfa masih berada di atas motor, memerhatikan kedua perempuan di hadapannya. Kerin yang lesu, dan Langen yang bersemangat menanyai Kerin.
"Gimana, Ke? Tante Amara marah sama lo?" tanya Langen nggak sabaran mendengar jawaban Kerin.
"Nggak," jawab Kerin nggak semangat.
"Nggak apa, nih?" tanya Langen lagi.
Kerin menurunkan tasnya. Berjalan malas-malasan menuju ke kursi teras. Perempuan itu duduk kemudian menarik napas panjang. "Asal lo berdua tahu, Tante Amara justru sebaliknya. Tante Amara nggak marah walau tahu gue ada pacar."
"Lo sama dia beneran pacaran?" tunjuk Langen ke Alfa.
Kerin mendongak, menatap Alfa lantas mendengkus. "Nggaklah, La." Kerin mengeluh sebal. "Maksud gue, Tante Amara tahunya gue punya pacar baru."
"Oh." Bukan Langen, yang menimpali justru Lando.
"Tante Amara bilang apa, Ke? Beneran nggak marah?" cerocos Langen.
Kerin lagi-lagi menarik napas lalu mengembuskannya. Kalau boleh jujur, Kerin akan lebih lega jika Amara memarahinya saja. Bukannya malah bersikap baik sampai mau menemui Alfa seperti tadi. Amara menyapa Alfa sangat ramah, sama sekali tidak menunjukkan kemarahan yang dipendam.
"Tante Amara malah nyalahin Alvo," gumam Kerin menundukkan kepala.
"Bagus dong!" seru Alfa, menarik perhatian ketiga manusia di depannya. Alfa buru-buru menambahkan. "Itu artinya Tante Amara nggak pilih kasih. Biarpun Alvo anaknya, Tante Amara nggak sembarangan bela, gitu. Makanya gue bilang bagus."
Kerin menatap Alfa sinis. Beruntung, Kerin sedang tidak ingin berdebat dengan siapa pun termasuk Alfa. Dia sudah kehilangan banyak energi karena kejadian tadi. Bayangkan saja, tahu-tahu Yasmin bilang Alfa, yang dikira pacar Kerin sungguhan—menunggu di depan pagar rumah—di depan Amara dan lainnya. Kerin sampai nggak bisa berkata apa-apa. Dalam hati Kerin mengutuk Alfa!