Taruhan Langen dan Alfa

1279 Words
Berkumpul empat orang mengelilingi meja. Ada Langen, Lando, Kerin dan Alfa—yang masih betah di tempat kosan perempuan itu. Walau mereka duduk di kursi teras, tapi yang dibahas ya masih itu-itu saja. Apalagi kalau bukan soal Alvo? Jujur saja Langen khawatir tentang Kerin. Langen hampir tersedak makanan sewaktu Yasmin membahas Alfa yang menunggu di luar. Sudah begitu, menyebut Alfa sebagai pacar Kerin. Apa nggak terkejut si Langen! Ya terkejut dong! Langen nggak tahu Yasmin kenal Alfa dari mana. Kerin juga nggak cerita apa-apa soal pertemuannya dengan Alvo dan Yasmin yang sedang makan siang bersama waktu itu. Kerin mengeluh semuanya salah Alfa. Di depan Yasmin, Alfa bilang kalau Kerin—mantan tunangan Alvo. Keempat orang itu makan siang bersama. Alfa dan Yasmin banyak mengobrol. Sedangkan Alvo dan Kerin hanya saling diam, pura-pura menikmati makanan, padahal pengin cepat-cepat pergi dari sana karena sudah nggak tahan. Wajah Alvo jelas nggak suka dengan kehadirannya dan Alfa. Tapi dasarnya Alfa yang bandel, kayak sengaja banget pengin bikin Alvo naik darah. Lando mendengar keseluruhan cerita Kerin. Lando sampai bela-belain pergi mencari minimarket terdekat cuma karena disuruh Langen membeli snack dan minuman. Langen ogah pergi sebelum Kerin menceritakan semuanya. Tanpa ketinggalan satu cerita pun. Sebenarnya Lando malas mau bepergian. Sepulang dari kantor, Lando pulang ke rumahnya sebentar untuk siap-siap. Dia mandi, ganti baju, setelah itu pergi menjemput Langen dulu. Jadi Lando belum sempat istirahat sama sekali. Giliran makan malam di sana tadi, malah terjadi hal yang nggak terduga. Alvo, temannya Lando. Begitu pun sama Yasmin. Lando melirik Kerin sejenak, perempuan itu sedang menarik napas kemudian menurunkan kedua bahunya. Kerin berasumsi Alvo dan Yasmin pasti balikan setelah bertemu. Jadi, Kerin memutuskan untuk mundur lebih dulu sebelum semakin sakit hati. Lando masih diam, tetapi kedua telinga dia lebarkan dan tajamkan. Menurut Lando, Kerin terlalu cepat membuat keputusan. Belum tentu kembalinya Yasmin, akan membuat hubungan Yasmin dan Alvo kembali juga seperti dulu. Lagi pula kalau diperhatikan, Yasmin kelihatan biasa-biasa saja kok. Maksudnya, nggak ada tanda-tanda masih suka sama Alvo. Siapa tahu kedatangan Yasmin ke Indonesia, cuma pengin liburan atau sekadar pengin bertemu teman-temannya saja. "Jangan buka mulut lo kalau cuma mau belain Alvo!" tunjuk Langen ke hidung Lando tiba-tiba. Lando berdecak. Menurunkan tangan Langen ke bawah kemudian menggelengkan kepalanya. "Aku cuma mau nanya sama Kerin," gumamnya. "Nanya apa?" tanya Langen, judes. Jangan heran kalau melihat Langen yang judes parah sama Lando. Mereka, kan, bisa tunangan karena dijodohkan. Langen nggak mau dijodohkan. Sedangkan Lando, dari awal kayaknya memang suka sama Langen. Ada cerita lucu tentang mereka berdua, sih. Dulu, saat Langen sedang menyamar sebagai seorang mahasiswa di kampus, Lando menjadi dosen di sana. Kata Langen, Lando, tuh, judes banget. Menyebalkan. Pokoknya menjadi awal mula Langen sebal sama Lando. Eh, nggak tahunya, Lando juga bukan dosen beneran. Lando sengaja menyamar sebagai dosen cuma karena pengin berinteraksi sama Langen saja! Kerin yang mendengar cerita Langen pun nggak berhenti terbahak. Ekspresi yang ditunjukkan Langen saat itu lucu banget. Kerin sampai nggak bisa menahan tawa walau bibirnya dibungkam sama Langen. "Kenapa lo bisa nyimpulin Alvo bakal balikan sama Yasmin?" tanya Lando menatap Kerin lurus. Kerin menyandarkan punggung ke sandaran kursi. "Karena Alvo masih suka sama Yasmin." Lando bertanya lagi, "Tahu dari mana?" Kerin memutar kedua bola matanya, jengah. "Dari Alvo-lah. Masa gue nebak? Lo nggak lihat Alvo se-sumringah apa tiap lihat Yasmin? Dia yang nggak biasa senyum ke orang, tapi saat lihat Yasmin, Alvo bisa kayak orang gila karena nggak berhenti cengar-cengir!" Di bawah meja, Langen mencubit paha Lando. Lelaki itu membungkam bibirnya rapat. Sementara Langen, perempuan itu memberi isyarat lewat tatapan matanya. Seolah Langen mengatakan, "Tuh, kan. Gue bilang apa! Diem dulu, deh!" "Itu kan Alvo, Ke. Nah, lo udah tanya ke Yasmin, nggak?" celetuk Alfa yang sejak tadi hanya jadi pendengar. Kerin, Langen beserta Lando, sontak menatap ke arah Alfa yang malah cengar-cengir. "Lho, iya, kan? Lo perlu nanya ke Yasmin juga. Alvo emang ganteng, Ke. Kaya, pula. Tapi apa lo mikir, cewek cantik kayak Yasmin mau diajak balikan sama mantan, sedangkan dia bisa dapet yang di atasnya Alvo." Langen menjentikkan dua jarinya. "Eh, bener juga kata lo." Langen menunjuk Alfa, dan Alfa menepuk dadanya seolah bangga. "Yang gue lihat, si Yasmin emang beneran baik. Dia keliahatan tulus kok." Alfa menaik turunkan alisnya. "Lo pasti bisa ngerasain kalau Yasmin orang baik." Langen tahu-tahu nyeletuk. "Kalau dia baik, dia nggak mungkin muncul lagi di depan Alvo!" Alfa menyeringai. "Taruhan sama gue, dia pulang ke Indonesia bukan buat balikan sama Alvo." Langen menarik lengan bajunya hingga ke siku. Dia merasa tertantang. "Oke." Langen berseru penuh semangat. "Maaf nih, Ke. Gue pikir, Yasmin sama Alvo bakal balikan, sih." Kerin cuma bisa pasrah. Ya, iya. Memangnya dia bisa apa kalau Alvo memang nggak punya perasaan apa-apa kepadanya? Di mata Alvo, di hati lelaki itu, hanya ada nama Yasmin. Bukan dirinya. Kerin berani bertaruh. Bahkan untuk memikirkannya sekali pun saja, Alvo nggak akan pernah. "Siapa tahu Yasmin ke Indonesia mau anter undangan atau apa, gitu," celetuk Alfa lagi. "Undangan nikah, gitu?" sahut Lando. Alfa menaikkan kedua bahunya. "Mungkin juga tunangan...." *** Alvo kembali mengajak Yasmin untuk makan siang bersama hari ini. Sebagai tanda permintaan maaf karena kejadian semalam. Dasar nggak waras! Seharusnya yang minta maaf itu Yasmin. Kenapa jadi Alvo yang meminta maaf, kalau yang membuat kegaduhan kemarin adalah Yasmin! Bukannya begitu... menurut Alvo, Yasmin nggak bisa disalahan sepenuhnya. Karena Yasmin nggak tahu menahu soal hubungan Kerin dan Alvo bagaimana. "Kenapa jadi kamu yang minta maaf, Vo?" tanya Yasmin bingung. "Justru harusnya aku. Semalam udah bikin gaduh." Alvo menggelengkan kepalanya, tidak membiarkan Yasmin terus merasa bersalah. "Pasti kamu nggak nyaman semalam, ya." Yasmin tersenyum tipis. Perempuan itu menggelengkan kepala pelan. Sesungguhnya dia ingin meminta maaf kepada Kerin dan mamanya Alvo. Yasmin sungguh tidak tahu kalau Amara, belum tahu jika Alvo dan Kerin sudah putus. Dia nggak bermaksud buruk kepada Kerin. Yasmin berpapasan dengan Alfa di depan pagar rumah Alvo. Yasmin pikir, Alfa pasti memiliki hubungan yang baik dengan Alvo walau Alvo mantan tunangan Kerin. Terbukti Kerin diundang makan malam oleh Amara. Kalau nggak, mana mungkin Kerin ada di rumah orang tua Alvo, kan? Makanya Yasmin menawarkan Alfa masuk ke dalam saja, berbarengan dengan Yasmin. Namun Alfa menolak, lelaki itu bilang akan menunggu Kerin hingga selesai makan malam. "Maaf, aku nggak tahu serumit itu hubungan kalian berdua." Yasmin bergumam pelan. "Aku berdoa, semoga kamu segera menemukan seseorang yang cocok menurut kamu, Vo." "Udah." Alvo mengangguk kemudian tersenyum lebar. "Oh, ya?" sahut Yasmin ikut senang. Alvo diam, sibuk menenangkan debaran jantungnya yang menggila hanya karena melihat Yasmin duduk di depannya. Alvo sedang menimang, apa dia bisa mengatakannya sekarang? Apa Yasmin akan menerimanya lagi? "Yas, sebenernya, aku—" Tatapan Yasmin tertuju ke pintu restoran. Alvo menelan suaranya kembali. Kepalanya menengok ke belakang, mengikuti pandangan Yasmin terarah. Seorang lelaki tinggi, berkemeja abu-abu, sedang tersenyum kepada Yasmin lalu ikut melambaikan tangan. Alvo nggak berkedip. Bahkan dia berubah seperti patung saat si lelaki merangkul Yasmin dan mencium kening perempuan itu—di depan mata Alvo! "Yas." Alvo memanggil Yasmin dengan suara yang lirih. Yasmin menunjuk kursi kosong di sampingnya. Si lelaki duduk di sana. "Vo, maaf aku nggak bilang kalau ajak pacar aku buat makan siang bareng kita, ya." "Gimana, Yas?" tanya Alvo, mirip orang lingkung. "Mumpung dia ada di sini, jadi sekalian aku kenalin sama kamu ya." Yasmin meraih tangan lelaki di sampingnya. Senyum perempuan sangat ceria, terlihat begitu bahagia. "Ini, Radit. Pacar aku, Vo. Dan kedatangan aku ke Indonesia buat anterin undangan pertunangan kita berdua." Lidah Alvo keluh. Sejenak, Alvo pikir dirinya pingsan setelah mendengar Yasmin memiliki pacar. Bahkan sebentar lagi akan bertunangan. "Vo?" tegur Yasmin. Alvo tergagap. Buru-buru dia menguasai dirinya. "Iya, Yas..." "Aku harap kalian bisa datang, ya. Sekalian kita reuni sama temen-teman yang lain," tambah Yasmin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD