Kecewa

1022 Words
"Kamu mau nikah, Yas?" Yasmin menarik kedua sudut bibirnya. "Iya, Vo. Tapi belum tahu kapan. Jadi untuk sementara kita tunangan dulu." Penjelasan Yasmin seharusnya sudah cukup membuat Alvo yakin bahwa dirinya memang tidak memiliki kesempatan bersama perempuan itu lagi. Alvo terlalu percaya diri. Dia mengira kedatangan Yasmin ke Indonesia karena ingin kembali bersamanya. Alvo telah melepaskan Kerin. Ternyata, Yasmin sudah memiliki seseorang. Bahkan mereka akan bertunangan. Yasmin menemukan raut kecewa di wajah Alvo. Perempuan itu belum sadar kalau sang mantan pacar, yaitu Alvo, masih ingin memilikinya. Yasmin mengira bahwa Alvo sudah tidak mempunyai perasaan apa pun seperti dirinya sekarang. Yasmin telah bahagia bersama pasangannya—Radit. Sehabis makan siang bersama. Ya. Alvo, Yasmin dan Radit, tunangan Yasmin. Radit pamit lebih dulu karena sedang berjanjian bersama seorang teman. Meninggalkan Yasmin hanya berdua dengan Alvo. Alvo memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Dia cuma ingin bertanya apa Yasmin sungguhan akan menikahi lelaki itu? Apa dalam benak Yasmin, tidak berpikiran sekali pun untuk kembali bersama Alvo seperti dulu? Mereka memiliki banyak kenangan ketika bersama. Alvo dan Yasmin bukan pacaran satu atau dua hari. Atau satu dua bulan saja. Mereka pacaran bertahun-tahun. Apa semudah itu Yasmin melupakan Alvo? Sedangkan Alvo, sampai hari ini masih menyukai Yasmin. Bahkan perasaannya masih sama seperti dulu. "Vo?" panggil Yasmin. Tatapan Alvo datar. Rasanya untuk menyembunyikan kekecewaannya di depan Yasmin tidak terlalu mudah. Selepas kepergiaan Radit tadi, Alvo merubah ekspresi wajahnya. Menatap lurus ke arah Yasmin yang duduk di kursi seberang. "Aku lihat kamu lagi banyak pikiran. Kenapa, Vo? Mau cerita?" bujuk Yasmin. Alvo menunduk sebentar. Sepertinya Alvo melupakan satu hal tentang Yasmin. Dari dulu Yasmin sangat baik. Bukan cuma kepada Alvo. Tapi juga kepada teman-temannya hingga sering kali Alvo protes ke Yasmin karena dinilainya terlalu baik. Bagaimana jika ada lelaki yang salah mengartikan kebaikan Yasmin? Dan... sekarang dirinya yang melakukan itu. Alvo salah mengartikan kebaikan Yasmin. "Vo? Kok, ketawa?" tanya Yasmin bingung. Tadi Alvo tampak sedih dan banyak pikiran. Namun ketika lelaki itu menunduk, Yasmin mendengar Alvo tertawa. Walau tidak keras, tapi Yasmin bisa mendengarnya. "Aku pikir... kita bisa sama-sama lagi kayak dulu, Yas." Kepala Alvo terangkat, kedua mata mereka saling bertemu. Alvo yang kecewa, dan Yasmin yang tampak bingung. "Maksud kamu, Vo?" tanya Yasmin memastikan lagi. Apa yang didengarnya barusan salah. "Sama-sama kayak dulu gimana maksud kamu? Balikan?" tebak Yasmin ragu. Alvo menganggukkan kepala sekali. "Ya, gitu..." Suara lelaki itu lirih, sarat kekecewaan bukan cuma terletak di wajahnya saja. Tetapi juga pada suaranya. "Kita udah lama nggak ketemu dan ngobrol. Tahu-tahu kamu pulang ke Indonesia dan hubungin aku." Alvo menelan ludah. Rasanya sudah cukup dia menjelaskan maksudnya kepada Yasmin. Perempuan itu sangat pintar. Alvo yakin, untuk memahami kata-katanya, Yasmin tidak akan kesulitan sama sekali. Sudah jelas Alvo masih mengharapkan perempuan itu. Tapi Alvo mendapat tamparan dengan diberitahunya, kalau Yasmin, akan segera bertunangan dengan lelaki lain bernama Radit. "Vo..." Yasmin tersenyum canggung. Tidak habis pikir Alvo akan mengira dirinya ingin kembali bersama lelaki itu. "Kayaknya kamu salah paham, Vo. Aku—" "Apa sekali pun kamu nggak pernah kepikiran untuk balikan sama aku?" tanya Alvo memelas. Yasmin menarik napas sejenak, kemudian mengangguk sepintas. "Jujur iya. Tapi itu dulu, Vo. Udah lama banget. Lagi pula setelah aku pikir lagi, setelah putus, untuk apa balikan lagi?" Alvo mendengkus. Seolah tersinggung dengan kata-kata Yasmin. "Maaf kalau udah bikin kamu salah paham. Tapi, kedatangan aku ke Indonesia, karena murni pengin ketemu sama kamu dan lainnya." "Sekalian ngasih undangan pertunangan kamu sama lelaki tadi? Iya, Yas?" Tiba-tiba Alvo meninggikan suaranya. Yasmin tersentak kaget. Sontak menoleh ke kanan ke kiri. Orang-orang dari meja lain sedang menatap ke arahnya dan Alvo. Yasmin mulai tidak nyaman. Alvo kelihatan marah, tapi baru kali ini meninggikan suara sampai Yasmin terkejut. Lagi pula, dapat dari mana pemikiran seperti itu? Mereka sudah sangat lama putus. Pada awalnya, Yasmin masih memikirkan Alvo setelah putus. Dia sempat ingin menghubungi Alvo. Namun Yasmin mengurungkan niatnya. Yasmin pikir, jika dia masih menelpon Alvo, itu sama seperti memberi harapan baru. Padahal dia dan Alvo sudah sepakat mengakhiri hubungan mereka. "Waktu kita makan siang beberapa hari yang lalu, setelah pertama kalinya kamu hubungin aku lagi dan bilang kamu ada di Indonesia, aku merasa ada harapan. Aku pikir pada akhirnya kamu menyerah juga berjauhan sama aku. Tapi ternyata dugaan aku salah, Yas..." "Maaf, Vo," ujar Yasmin menatap Alvo serba salah. Alvo mengangkat dagunya. "Oh, nggak.... kamu nggak perlu minta maaf, Yas. Karena aku aja yang terlalu percaya diri. Aku lupa, kalau kamu selalu baik sama semua orang." Yasmin menelan ludah. Bingung harus memberi reaksi seperti apa. Di satu sisi, Yasmin senang bisa bertemu Alvo dan teman-temannya lagi. Tapi di sisi lain, Yasmin tidak enak hati kepada Alvo. Yasmin merasa bersalah karena sudah membuat lelaki itu salah mengartikan kedatangannya. Seharusnya Yasmin bilang dari awal saja. Maka kejadiannya tidak akan seperti ini. "Vo...." Yasmin memanggil Alvo. "Aku salah paham kayaknya ya." Alvo terlihat berusaha santai. Mana pernah Yasmin mengira kalau Alvo masih mengharapkan hubungan mereka kembali seperti beberapa tahun yang lalu. Kalau boleh jujur, Yasmin sudah melupakan kenangan mereka sebagai sepasang kekasih. Yasmin sudah move on kepada lelaki lain yang kini menjadi calon tunangannya. "Bukan maksud aku...," "Aku paham, Yas. Aku minta maaf." Alvo bergumam pelan. Alvo menyambar ponsel dan jasnya yang tersampir. Dia hendak pergi setelah meletakkan beberapa lembar uang ke atas meja. Yasmin mengambil tasnya, memanggil Alvo beberapa kali namun tidak dihiraukan lelaki itu. "Vo," panggil Yasmin lagi. Alvo melewati orang-orang yang lalu-lalang di restoran itu. Alvo terlalu malu menyembunyikan wajah kecewanya di depan Yasmin. Ingin sekali Alvo menceburkan dirinya ke dalam danau. Bisa-bisanya dia mengira Yasmin masih suka padanya. Astaga. Bodoh sekali Alvo! Rupanya Alvo terlalu percaya diri. Hanya karena dirinya tampan dan mapan, ia memiliki kepercayaan begitu tinggi. Padahal, tidak semua perempuan mau dengannya. Pada akhirnya Alvo meninggalkan Yasmin sendiri dengan perasaan serba salah. Alvo terlalu malu menatap wajah Yasmin, dan Yasmin bingung harus memberi reaksi seperti apa. Karena selain bingung, Yasmin hanya bisa mengucapkan kata maaf. Maaf karena tidak bisa bersama lagi. Hubungan mereka tidak lebih dari seorang teman lama yang dipertemukan lagi. Itu saja. Alvo membuka pintu mobil dan buru-buru masuk. Ketika dia duduk di kursi kemudi, Alvo menarik napas panjang lalu memukul setir mobilnya kuat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD