Siapa Alfa Sebenarnya?

1072 Words
Nggak ada manusia selain Alfa yang jago membuat orang lain naik darah! Ya, bayangin aja sih. Masa pagi-pagi sudah datang ke tempat kosannya. Kerin semalaman nggak bisa tidur karena memikirkan masalahnya dan Alvo. Hampir subuh Kerin bisa tidur, setelah dibangunin sama teman kosannya. Katanya, ada lelaki ganteng yang menunggu Kerin di luar. Kerin keluar dengan penampilan berantakan. Ya iya. Baru tidur satu dua jam, terus dibangunin, mana sempat mau cuci muka. Kedua matanya saja terasa masih lengket karena baru merasakan kantuk yang amat luar biasa. Alfa menyambut Kerin dengan senyum sumringah. Di tangannya terdapat kantong plastik yang entah apa isinya. Kerin menarik napas jengkel, kemudian menyusul Alfa duduk di kursi teras sembari menggaruk rambutnya yang diikat asal-asalan. Kerin menguap lebar sambil mendongakkan wajahnya ke atas. Alfa sibuk sendiri mengeluarkan dua porsi bubur ayam dari kantong kresek yang dia bawa tadi. "Ngapain sih lo ke sini pagi-pagi?" keluh Kerin menggaruk rambutnya kasar. "Gue bahkan baru tidur beberapa jam. Dan lo tahu-tahu dateng ke sini!" Alfa sama sekali nggak menghiraukan ocehan Kerin. Dia malah mendorong satu porsi bubur ayamnya. "Makan dulu, Ke. Karena gue tahu, ngomelin orang juga butuh tenaga." Kerin melirik Alfa lalu ke bubur ayam yang ditawarkan lelaki itu untuknya. Baunya sangat enak, apalagi toping di atas bubur adalah favorit Kerin. Alfa menatapnya, menunjuk ke bubur ayam tersebut lalu menaik turunkan alisnya jahil. "Gue maafin." Kerin mengambil sendok. "Karena lo ke sini bawain gue sarapan." Alfa mencebikkan bibir mengejek Kerin. "Gampang banget ya bikin lo maafin gue." Lelaki itu tertawa kecil. "Lain kali gue bawa abangnya sekalian. Siapa tahu mood lo langsung baikan lagi." Tanpa disadari Kerin, Alfa terus memerhatikan dirinya. Alfa memiringkan kepalanya, menatap Kerin sambil senyum-senyum sendiri. Kerin yang semula fokua untuk makan—padahal belum menyikat giginya, akhirnya sadar juga. Kerin menengok ke samping tempat duduk Alfa kemudian mendengkus pelan. "Lo suka banget sama gue kayaknya." Kerin menyuapkan bubur dan suwiran ayam ke dalam mulutnya. "Sadar nggak, lo lihatin gue sambil cengar-cengir kayak orang nggak waras?" "Sadar dong. Gue yang senyum ini," sahut Alfa santai. Sama sekali nggak mengelak. Coba kalau yang ada di posisi Alfa itu Alvo. Duh, jelas nggak bakalan mau ngaku. Gengsinya selangit! Eh, tapi mana mungkin juga Alvo akan menatapnya seperti yang dilakukan Alfa sekarang. Jelas saja mustahil! Dari dulu Alvo merasa dirinya orang paling tampan, pintar, dan berada di level paling tinggi! Kerin menelan buburnya, muncul senyum sinis kemudian menyuap lagi. Iya, dia tahu Alvo memang tampan. Sudah begitu, ditunjang sama posisi bagus di kantor, otak yang cerdas, dan dompet yang tebal juga tentunya. Tapi ya, apa Alvo nggak mikir kalau di atas langit, masih ada langit lagi? Yang berarti, yang tampannya di atas Alvo, tuh, banyak! Cuma Kerin belum menemukannya saja. "Ke, hari minggu nih." Alfa mengingatkan. Setelah terlalu lama dia memandangi Kerin, Alfa memakan makanannya. Padahal punya Kerin sudah hampir habis. "Iya, tahu. Gue belum pikun. Kenapa emang?" tanya Kerin, menyuapkan suapan terakhir ke dalam mulutnya. "Jalan, yuk?" ajak Alfa. Kerin melirik bubur milik Alfa. Bertindak sok polos, Kerin memasukkan sendoknya ke dalam bubur Alfa kemudian menyuapkannya ke dalam mulutnya sendiri. Alfa terkekeh. "Belum kenyang lo, ya?" tanyanya. "Alfa menarik sendoknya, lantas mendorongnya ke dekat Kerin. "Buat gue? Tapi ini kan punya lo," ujar Kerin basa-basi. Alfa mencebikkan bibirnya. Sebelah tangannya terangkat, lalu menepuk puncak kepala Kerin dengan sayang. Sesaat, Kerin terenyak. Diam selama lima detik penuh kala Alfa menepuk puncak kepalanya. Alfa juga memberikan bubur milik lelaki itu kepadanya. Padahal menyuap satu sendok saja belum. Tapi malah diberikan kepada Kerin. Lagi... Kerin mulai membandingkan Alfa dan Alvo. Kerin menyuap makannya sambil diam. Seharusnya dia nggak boleh membandingkan Alfa dan Alvo. Karena dibanding-bandingkan sama sekali nggak enak. Tapi... kedua lelaki itu memiliki sifat hingga tindakan yang sangat kontras. Alvo mana pernah mau mengalah kepada Kerin? Saat mereka makan bersama saja, semuanya Alvo yang menentukan. Kerin hanya tinggal menunggu makanan lalu datang. Lalu, apa Alvo pernah melakukan hal manis seperti yang dilakukan Alfa barusan? Jawabannya tentu nggak. Mungkin, jika Alvo melakukannya sekali pun hanya untuk kebutuhan sandiwara mereka di depan keluarga Alvo sendiri, bisa jadi besoknya Alvo akan mandi kembang tujuh rupa! "Ngelamun lagi," tegur Alfa mendecakkan lidah. Kerin tersadar. Kepalanya menoleh ke sana kemari lantas menggigit ujung sendoknya. "Apa?" "Lo ngelamun." Alfa menatap Kerin lurus. Perempuan itu diam lagi. Bingung harus memberi jawaban apa. Karena Alfa memang benar. Kerin sedang melamun. Ada satu pertanyaan yang tersimpan di kepala Kerin. Sebenarnya, Alfa ini siapa? Kenapa selalu muncul di saat Kerin kesulitan? Contohnya saja, saat Kerin meminta putus sama Alvo. Eh, nggak bisa dibilang putus, sih. Kan, nggak pernah pacaran sungguhan. Hubungan mereka hanya sebatas kontrak—yang nggak diketahui kapan berakhirnya kerjasama mereka. Saat Kerin kesulitan memberi jawaban, Alfa tahu-tahu mencium pipinya sambil memanggilnya, "Sayang." Siapa yang nggak bakalan terkejut tiba-tiba dicium sama lelaki secakep Alfa? Ya... Kerin aku sih. Alfa nggak kalah dari Alvo walau dandanannya mirip berandalan. Ini kata Alvo. Bukan kata Kerin. "Mikirin apa sih? Alvo pasti," tebak Alfa cengengesan. "Bukan." Kerin menyudahi memakan buburnya. Diletakkannya steorofoam ke tengah-tengah meja. Mulai menatap Alfa lurus. Membuat Alfa jadi gugup. "Sebenernya lo siapa sih? Kenapa lo dateng saat gue lagi butuh seseorang?" tanya Kerin serius. "Dari lo yang tiba-tiba cium pipi gue dan bilang gue pacar lo di depan Alfa. Anterin gue ke rumahnya Alvo dan nunggu lama. Dan sekarang, pagi-pagi banget lo dateng ke sini sambil bawa bubur ayam." "Takdir kali, Ke," jawab Alfa tenang. "Jangan bilang takdir kalau lo emang sengaja nyusunnya. Ya, kan?" tuduh Kerin. "Nyusun apa sih, Ke?" Alfa tertawa geli. "Gue nggak nyusun atau emang sengaja gue atur supaya muncul saat lo lagi butuh bantuan. Mungkin dengan adanya gue, bisa bikin lo sedikit terhibur setelah ngelepas Alvo." Kerin diam. Sibuk mencerna kata-kata Alfa. "Gue tahu Alvo nggak pernah bersikap baik ke lo selama ini. Walau dia nggak ngasarin lo secara fisik, tapi hati lo disakitin terus selama ini." Kerin tersenyum sinis. "Sok tahu!" "Gue beneran tahu, Ke." Kedua mata Kerin memicing. "Tahu dari mana emang?!" "Langen," jawab Alfa. Kerin memgerutkan dahinya. Langen? Langen, temannya? "Lo beruntung punya temen kayak Langen. Biar mulutnya kalau ngomong nggak disaring dulu, tapi dia sayang banget sama lo. Belum apa-apa, gue udah diwanti-wanti sama dia supaya nggak nyakitin lo kayak Alvo nyakitin lo selama ini." Kerin membenarkan kata-kata Alfa. Dia memang beruntung memiliki Langen. Walau terkadang perempuan itu asal bicara, tapi yang dikatakan Langen selalu benar. Kerin saja yang bodoh dari dulu. Sudah tahu disakiti, kenapa masih bertahan? Sampai dua tahun pula!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD