Setelah menghabiskan dua porsi bubur ayam, Kerin mengusir Alfa untuk pulang. Kerin menolak diajak jalan-jalan karena ingin menghabiskan hari minggunya di kosan saja. Lagi pula dia tidur baru beberapa jam.
Kerin membalas lambaian tangan Alfa kemudian bersedekap. Perempuan itu memutar badan lantas masuk ke dalam kosannya. Kerin tersentak, tahu-tahu temannya ada di belakangnya sambil menyengir penuh arti.
"Pacar baru, Ke?" Dewi, salah satu teman kosan Kerin, yang selalu jelalatan kalau melihat lelaki ganteng.
Kerin menoleh ke belakang, mengikuti ke mana Dewi sedang mengarahkan pandangannya. Alfa dan motornya sudah pergi. Tapi entah kenapa Dewi masih saja menatap ke arah halaman.
Kerin menepukkan kedua tangannya di depan wajah Dewi. Sengaja mengejutkan perempuan itu. Kemarin-kemarin heran melihat Alvo setiap datang kemari. Sekarang sampai nggak berkedip melihat Alfa padahal orangnya sudah pergi.
"Lo bisa dapet cowok-cowok cakep dari mana sih? Pake susuk lo, ya?!" tuduhnya, membuat Kerin mendelikkan matanya.
Kerin menoyor kepala Dewi geram. Enak saja bilang Kerin memakai susuk!
"Tapi beneran, Ke. Yang ini nggak kalah ganteng sama yang kemaren. Mana dandanannya keren banget. Nggak kayak yang waktu itu. Tapi sama-sama cakep, sih!" ujarnya lalu menyengir lebar.
Memang dasarnya Dewi saja suka jelalatan kalau melihat lelaki. Mau itu Alfa atau Alvo. Dewi paling nggak bisa melihat lelaki menganggur sebentar saja. Buktinya, tadi Alfa bilang digoda sewaku Kerin tinggal ke kamar mandi. Padahal nggak sampai lima belas menit Kerin tinggal, Dewi sudah memulai aksinya. Haha. Ya nggak apa-apa sih kalau berniat mau menggoda. Entah itu Alvo atau Alfa. Dua-duanya bukan pacar Kerin. Tapi.... kalau sampai Dewi bisa membuat Alvo tergoda waktu itu, Kerin akan memberikan dua jempot untuk Dewi!
***
Natan sudah menunggu satu jam lebih di depan kampus perempuan muda itu. Tapi nggak terlihat adanya tanda-tanda Ola akan muncul. Natan sudah mencoba menghubungi ke nomor Ola namun nggak diangkat.
Natan menarik napas, menoleh ke arah jendela mobil yang kacanya dia turunkan hingga setengah. Natan memandangi mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu-lalang keluar kampus satu per satu. Tapi tetap nggak ditemukannya Ola.
Lelaki itu memutuskan untuk turun, menyusul Ola ke kelasnya. Ke mana cewek itu? Natan sudah mewanti-wanti sejak semalam kalau dia akan menjemput Ola ke sekolah hari ini. Natan akan mengajak Ola pergi ke acara ulang tahun salah satu kerabatnya.
Natan nggak mungkin membawa Ola ke acaranya kerabatnya dengan memakai baju urakan dan rambut yang dikuncir kuda asal-asalan, dong? Natan harus membawa Ola ke butik lebih dulu untuk memilih gaun, sepatu hingga aksesoris. Lalu setelahnya mengajak Ola pergi ke salon untuk berdandan.
Ola dan Natan memiliki jarak usia yang lumayan jauh. Natan yang sudah menginjak kepala tiga, dan Ola yang belum genap berusia dua puluh tahun. Ola yang cuek, Ola yang sembarangan memakai pakaian, jarang ber-make up seperti kebanyakan para perempuan. Natan nggak masalah kalau Ola memang nggak mau dandan. Tapi, tingkahnya yang mirip lelaki itu, lho, pengin sekali Natan merubahnya.
Dijodohkan orang tua sama sekali nggak ada dalam bayangan Natan. Hubungannya bersama Elise harus kandas beberapa tahun yang lalu. Bukan karena Natan sudah nggak mencintai perempuan itu. Apalagi berpaling ke perempuan lain. Karena sungguh, Natan sebegitu menyayangi Elise. Hanya saja.... mereka harus mengalah untuk kedua orang tua mereka. Mamanya Elise menikah dengan papanya Natan.
Tentu saja berita pernikahan Papa Natan dan mamanya Elise mengejutkan semua orang. Nggak terkecuali teman-teman Natan juga. Siapa yang nggak tahu kalau Natan berpacaran dengan Elise? Dari zaman kuliah, lho. Tapi begitu tahu kalau lelaki yang dipacari mamanya itu papanya Natan, Elise langsung lemas. Antara percaya sama nggak. Mau melarang, tapi Elise nggak tega untuk bilang. Mamanya Elise sudah lama menjanda. Dari Elise berusia sepuluh tahun sampai Elise dewasa. Elise nggak pernah melihat mamanya seceria itu sekian lama. Elise senang mamanya menemukan orang yang bisa membuat mamanya jatuh cinta lagi, bisa tersenyum ceria lagi. Tapi... kenapa lelaki itu harus papanya Natan?
Natan dan Elise dilema. Di satu sisi mereka senang orang tua mereka bisa menemukan orang yang dicintai setelah sekian lama. Namun, di sisi lain, Elise dan Natan juga saling mencintai. Nggak mungkin mereka terus berpacaran, kalau saja status mereka akan berubah menjadi sepasang adik dan Kakak.
Dengan berat hati, Elise dan Natan sepakat untuk putus dan membiarkan kedua orang tua mereka menikah. Walau berat, mereka akan berusaha menerima takdir mereka. Melihat orang tuanya bahagia saja sudah cukup.
Natan menghela napas. Kepalanya dia gelengkan mengusir bayangan masa lalunya bersama Kerin. Saat mereka masih berpacaran, kemudian melihat Kerin dibawa pergi oleh orang tua mereka untuk tinggal di luar negeri. Di Indonesia, Natan tinggal sendiri dan hanya ditemani Bibi yang bekerja di rumah, serta tukang kebun dan seorang satpam.
Langkah Natan berhenti. Di ujung sana, lelaki itu melihat Ola berjalan bersama dua oran teman sambil haha-hihi. Natan sengaja diam di tempat, menunggu perempuan itu menyadari kehadirannya.
Natan melihat lengan Ola dijawil salah satu temannya. Ola yang sibuk menjejalkan snack ke dalam mulutnya, lantas celingukkan ke kanan ke kiri. Keduanya saling bertatapan dan Natan menaikkan sebelah alisnya sembari menunjuk ke arloji yang melingkari pergelangan tangannya.
Ola tampak ogah-ogahan. Perempuan itu mengentakkan kedua kakinya. Meremas bungkus snack yang sepertinya sudah habis. Natan menyandarkan bahu ke dinding, menunggu Ola menghampiri, lalu mengomelinya habis-habisan karena berani muncul di kampusnya.
"Lo ngapain dateng ke sini sih, Om?! Lo mau bikin gue malu ya?!" omel Ola, sama sekali nggak berniat memberi salam kepada Natan lebih dulu.
Membuat malu katanya? Natan menertawai Ola. Coba kumpulkan semua perempuan di kampus ini dan tanya seberapa tampannya Natan. Cuma Ola saja yang bilang Natan tua dan memalukan.
"La," sapa Intan, temannya Ola. "Gue duluan ya. Lo udah dijemput Kakak lo, kan?"
Natan mendelik. Kakak?
Ola gelagapan. "Eh, iya." Ola menggaruk kepalanya.
Intan tersenyum tipis. Menyapa Natan setelahnya. "Mari, Kak..."
"La, gue juga duluan, ya!" seru Anne, diam-diam melirik Natan. "Anjir, cakep juga calon suami lo." Anne berbisik ke telinga Ola sebelum pergi.
Giliran Ola yang mendelik. Dia hendak menginjak kaki Anne, tapi temannya yang satu itu pandai menghindar. Ah, ya. Anne satu-satunya teman Ola yang mengetahui siapa Natan sebenarnya.
Anne terbahak keras hingga menarik perhatian Natan. Perempuan berambut sebahu itu sama halnya seperti Ola. Walau penampilan Anne terkesan lebih manis, tapi percayalah, mereka sama urakkannya.
"Ayo!" tegur Natan pada Ola yang malah melamun.
"Iya! Ish!" Ola sengaja berjalan di belakang Natan. Membuat jarak yang agak jauh agar orang-orang tidak mengira mereka saling kenal.
"Oh, ya," seru Natan tiba-tiba memutar badan dan hampir saja hidung Ola menabrak d**a lelaki itu.
Ola sontak melangkah mundur. Menatap Natan sebal setengah mati.
"Teman kamu bilang, aku itu Kakak kamu." Natan memicingkan matanya.
"Iya." Ola bergumam. "Lo masih bisa denger ya? Kirain telinga lo ikutan tua juga."
Natan perlu menyediakan stock kesabaran lebih banyak. Mereka baru bertunangan statusnya. Tapi Ola sudah seringkali menguji kesabaran Natan. Apalagi saat mereka sudah menikah nanti.
"Kenapa kamu nggak bilang aja kalau kita sebentar lagi mau menikah?" tanya Natan.
Ola mendengkus. "Lo gila hah?!"
"Gila kenapa? Apa yang salah sama aku?" tanya Natan tersinggung.
Ola melambaikan tangan. Dia malas berdebat dengan Natan. "Udah ah. Gue males debat sama lo. Ayo, buruan. Kita masih harus pergi ke butik sama salon, kan? Jangan buang-buang waktu gue, deh!"
Astaga. Ya Tuhan! Seharusnya Natan yang bilang begitu kepada Ola! Ola sudah membuang waktu dan energi Natan sia-sia.
Akh, menyebalkan sekali calon istrinya!