Setelah mendengar Yasmin kembali ke Indonesia walau cuma untuk beberapa hari singgah, Alvo menaruh harapan kepada perempuan itu. Yasmin menjadi orang pertama, dan satu-satunya nama perempuan yang ada di hati Alvo sampai hari ini.
Alvo memutar kursi kerjanya. Meletakkan sebelah tangannya ke kepala kemudian menarik napas panjang. Memang benar, tidak seharusnya dia menaruh harapan kepada seseorang. Terlebih orang itu adalah mantan pacarnya.
Tadinya Alvo yakin kalau Yasmin merasakan hal sama seperti dirinya. Masih ada harapan bahwa hubungan yang sempat berakhir beberapa tahun yang lalu bisa terjalin kembali. Apa salahnya? Saat mereka bertemu di jam makan siang waktu itu, iya, pertama kalinya mereka bertemu setelah lama tidak bertemu—Yasmin datang sendirian, bahkan tidak membahas atau bahkan menyebut satu nama lelaki mana pun. Salahnya di mana kalau Alvo jadi berharap? Jika saja Yasmin bilang dari awal tentang Radit, mungkin Alvo tidak akan sesakit ini.
Alvo sungguhan kecewa.
"Al."
Suara ketukan pintu dari luar ruang kerja mengejutkan Alvo. Otomatis lamunannya buyar seketika. Alvo menegapkan badan, kepalanya berputar mengarah ke pintu yang terus diketuk.
Itu suara Lando.
"Gue masuk ya, Al," ujar Lando meminta izin sebelum membuka pintu.
"Iya. Masuk aja," sambut Alvo.
Benar saja, begitu pintu ruang kerjanya dibuka, Lando muncul di ambang pintu sembari menjejalkan sebelah tangannya ke dalam saku celana. Lando melangkah masuk, menutup pintu lebih dulu sebelum menghampiri meja kerja Alvo.
"Gue telepon lo dari tadi nggak diangkat." Lando menarik kursi kosong lantas mendudukinya. "Ada apa? Gue ke sini karena permintaan Yasmin. Katanya, dia kepikiran setelah pertemuan kalian kemaren."
Ekspresi wajah Alvo berubah dingin. Bukan berarti Alvo marah, apalagi dendam kepada Yasmin. Bagaimanapun, Yasmin adalah orang yang dicintai Alvo. Hanya saja... Alvo merasa malu. Apa kata teman-temannya, khususnya Kerin kalau tahu dirinya ditolak Yasmin?
Lando menaikkan sebelah alisnya agak tinggi. "Vo." Lelaki itu mengetuk meja, menegur temannya.
Alvo diam untuk beberapa saat. Walau dia tidak ingin membahas soal pertemuannya bersama Yasmin kemarin, tapi Lando sudah terlanjur kemari. Karena permintaan Yasmin pula. Sekali Alvo bilang tidak ingin bercerita, Lando akan mengejarnya terus-terusan hingga Alvo mengatakan yang sebenarnya.
"Yasmin mau tunangan. Alasan dia pulang ke Indonesia cuma ngasih undangan ke kita," gumam Alvo murung.
Alvo memicingkan mata. Lando sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejut.
"Apa?" tanya Lando.
"Kok lo biasa aja? Lo udah tahu?" tebak Alvo.
Lando menganggukkan kepalanya perlahan.
"Sialan lo, Ndo!" maki Alvo marah.
"Bukannya gue nggak mau kasih tahu lo, Vo," ujar Lando membela diri. "Gue kenal lo udah dari lama. Gue tahu lo kayak gimana saat ada orang yang ngelarang lo buat nggak melakukan sesuatu yang percuma. Coba gue tanya," gumam Lando, menatap temannya lurus. "Kalau gue bilang Yasmin mau tunangan. Apa lo percaya? Gue yakin lo bakal ngeyel sebelum denger sendiri dari Yasmin."
Alvo terenyak. Apa sebegitu dangkalnya Alvo di mata teman-temannya? Lando bisa saja memberitahunya dari awal tentang Yasmin. Kalau sudah begini, Alvo mau marah pada siapa?
"Lagian lo mau sampai kapan mengharapkan Yasmin, Vo? Kalian udah lama putus. Bahkan kemaren lo udah ada Kerin."
Alvo menatap Lando sinis. "Gue sama Kerin cuma pura-pura. Dan lo tahu itu."
Lando manggut-manggut. "Iya, status kalian pura-pura emang. Tapi, apa nggak ada keinginan buat buka hati untuk Kerin?"
Alvo mendelik. "Gila kali lo, ya?"
"Apanya yang gila? Emang Kerin kenapa? Kerin nggak cukup pantas buat lo? Kenapa milih Kerin waktu itu, sedangkan ada banyak perempuan yang bisa lo pilih buat jadi pacar pura-pura lo?" tanya Lando menggebu-gebu.
Semua orang tahu kalau Alvo tampan dan kaya. Jika digambarkan bagaimana Alvo, semua orang pasti akan mengatakan kalau Alvo nyaris sempurna. Bahkan Alvo mengakui ketampanannya. Bisa saja Alvo menunjuk perempuan lain yang bukan Kerin. Yang menurut Alvo setara dengannya. Jadi, kenapa harus Kerin? Tidak mungkin kalau tidak ada alasannya kan!
"Dua tahun lo jadiin Kerin boneka lo. Dua tahun, lho, Vo."
"Boneka lo bilang?" protes Alvo tersinggung.
"Jadi, sebutan apa yang bener?" balas Lando sinis. "Lo ikat Kerin tanpa ada kejelasan. Entah satu atau dua tahun, lo nggak menyebutkan itu di kontrak. Lo pikir lo siapa bisa menyetir kehidupan orang lain, Vo? Kerin juga berhak bahagia."
Emosi Alvo agaknya terpancing karena kata-kata Lando. Tumben saja Lando membahas hubungannya dan Kerin. Padahal selama ini Lando mana pernah mau mencampuri urusannya. Urusannya Natan dan teman-teman Lando yang lain. Tapi, sekarang Lando terlihat begitu menggebu-gebu sekali.
"Apa jaminan yang lo kasih buat Kerin? Apa, Vo?" tanya Lando. "Andai aja lo ikat dia tanpa kejelasan. Terus lo ketemu perempuan lain yang menurut lo cocok. Gimana nasib Kerin? Lo nggak bakal kepikiran apa yang bakal dia hadapi nantinya? Apa lo nggak merasa bersalah?"
Lando pun menambahkan, "Keputusan yang diambil Kerin udah bener, Vo. Udah saatnya dia mencari kebahagiaannya sendiri. Dan gue lihat, apa yang Kerin harapkan ada di diri Alfa. Lo udah kenal Alfa, kan?"
Telinga Alvo sangat sensitif jika ada orang yang menyebut nama Alfa. Kemarin mamanya, sekarang Lando. Besok siapa? Papanya? Memangnya apa yang dilakukan Alfa sampai orang-orang jadi membandingkannya dengan Alvo?
"Lo udah pernah minta maaf sama Kerin selama ini, nggak?" tanya Lando, menunjukkan senyum sinis.
"Emang gue kenapa sampai harus minta maaf sama dia?" balas Alvo tak kalah sinis.
Lando diam sejenak, menarik napas kemudian mengembuskannya perlahan. "Karena lo udah bikin Kerin membuang banyak waktu secara sia-sia. Nemenin orang yang bahkan nggak bisa bilang maaf dan terima kasih."
"Ndo, lo mau ngajak gue berantem?" tanya Alvo kesal.
Lando menggeleng lagi. "Nggak. Gue bilang gini karena pengin lo berubah. Lo terlalu menganggap diri lo lebih tinggi dari orang lain."
"Cukup ya, Ndo," tegur Alvo. "Kata-kata lo udah keterlaluan."
Lando terbahak. "Baru gue bilang gitu lo marah. Gimana sama Kerin yang tiap hari lo ketusin, Vo? Pernah mikirin perasaan dia, nggak, lo?"
Alvo merasa terus disudutkan oleh Lando. Dibanding dengan Lando, Alvo lebih sering berdebat dengan Natan. Dan ini pertama kalinya Alvo berdebat dengan Lando. Bahkan dia merasa kuwalahan menanggapi setiap kata-kata yang keluar dari mulut Lando.
Lando berdiri dari kursi. "Sebenernya gue nggak mau ikut campur urusan lo, Vo. Tapi sebagai temen, gue perlu ingetin lo sesekali saat lo udah mulai keterlaluan. Gue nggak mau aja lo terus-terusan nyakitin orang lain. Apalagi orangnya udah berjasa banyak sama lo."
Alvo ikut berdiri. "Gue nyakitin siapa sih, Ndo? Kerin maksud lo? Kapan?"
"Lo yakin lo nggak pernah nyakitin orang lain? Sedangkan semua orang di sekeliling kita tahu seberapa pedes mulut lo setiap kali ngomong."
Lando tidak tahan berlama-lama di sini. Daripada nantinya mereka bertengkar dan membuat keributan di saat ada orang tua Alvo di rumah, lebih baik Lando mengalah saja. Dia akan membiarkan Alvo merenungi semua sikap dan perbuatannya kepada Kerin khususnya.