"Sebentar."
Kepala Tasha tertoleh. Mencari kemana tikus got yang biasa mengekorinya kemana pun. Melihat Lei yang malah sibuk menonton organ tunggal di depan panggung seorang diri seperti anak ayam kehilangan induk, Tasha menghela napas panjang.
"Ya, mari. Bawakan aku minum."
Liam mengulum senyum ramah. Tidak ada argumentasi yang menjurus masa lalu mereka saat berbicara. Meski sesekali tatapan Tamara padanya seperti ingin bergulat, Tasha dengan segenap hati dan jiwa siap meladeni.
"Aku tidak melihat putra bungsumu di sini," sapa Liam tiba-tiba. Membuat masam di wajah istrinya kembali terbit.
"Oh, dia tidak datang. Jerome punya jam manggung dengan rekan band tidak jelasnya."
"Band tidak jelas?" Tasha menautkan alis. "Kau masih tidak setuju kalau putramu bermain band?"
"Jerome melakukannya karena dia suka. Itu hanya hobi. Selingan saja kalau dia bosan."
"Tapi menjadi pemasukan terbesar, kan?"
Kepala Tamara terangguk.
"Latisha pun sama. Putri kami menganggap musik sebagai hobi. Tapi dia musisi sejati. Kami tidak melarangnya menjadi apa pun yang dia mau. Daripada putri kami berjoget tidak jelas di bar atau bungee jumping mengisi waktu di balkon atas gedung apartemennya, lebih baik dia bermusik."
Tamara mendadak pias. "Putrimu punya hobi seekstrim itu?"
"Kau hanya tidak tahu," kata Tasha mendadak ramah. "Latisha hampir membuat ayahnya serangan jantung karena salto dari tali tipis saat kami berkunjung ke New Zealand empat tahun lalu. Saat itu Latisha ingin bermain outbond, dan kami mengiyakan. Dia berdiri di atas tali tipis saat bawahnya adalah jurang."
Liam mendesah muram. "Dan putri kami malah meledek dengan salto. Meski keamanannya super ketat, tapi kami tetap cemas."
"Ya Tuhan," Tamara cemas sekaligus merasa tertarik.
"Karena badan Latisha kecil dan ramping, tali itu masih kuat. Andai saja aku yang salto di atas tali setipis rambut itu, mungkin sudah innalillahi."
Liam tertawa. "Jadi Roy, biarkan saja Jerome lakukan apa pun yang dia mau. Selama itu tidak menyentuh barang haram atau membuat orang tuanya malu."
Hiroito Tamara mendesah pasrah. Menaruh minumannya di atas meja dan menggeleng. Saat dia to the point bicara pada ibu Latisha.
"Apa Latisha sudah punya kekasih?"
Tasha tersedak ceri segar di mulutnya. "Pardon?"
Lalu, buru-buru kembali bersikap anggun.
"Latisha? Hahahahahahaha—," Tasha berdeham. "—belum. Kenapa?"
"Apa putrimu punya masalah seksual?"
Perempuan itu mengatakannya tanpa berpikir panjang. Tasha mengangkat alis. Tapi dia sama bodohnya dengan menjawab ringan. "Suka sesamanya, begitu? Apa bahasa kasarnya, lesbong?"
"Yah, begitu."
Liam menggeleng dan Roy menghela napas. Istrinya benar-benar terbuka dengan maksud dan tujuannya mengundang keluarga Magna kemari.
"Sebagai ibu perhatian, Latisha tentunya masih menyukai batang. Dia memang telah selesai dengan Calvin, tapi dia sekarang sendiri dan bahagia sekarang. Kenapa Tamara? Siapa yang mau kau umpankan untuk putriku?"
Hiroito Tamara menarik napas panjang. Dadanya bertabuh seperti genderang mau perang.
"Jerome," Tamara melirik suaminya yang mengangguk pasrah. "Hiroito Jerome."
"WHAT?"
Respon itu tidak diberikan sang ibu alias Magna Tasha yang memberi reaksi kecil berupa 'oh' semata. Tapi reaksi berlebihan itu datang dari dua dedemit yang berdiri di belakang mereka.
Lei dan Nata yang melempar pekikan tak percaya.
***
Nata menarik napas. Menatap pada Lei, asisten sok tampan dari keluarga kaya lama, Magna. Bukan apa, tapi pria itu menikmati musik seakan dunianya memang hanya untuk dia seorang!
Menatap Ken dan Hani yang kembali ke pangkuan sang ibunda, Nata bisa bernapas lebih lega. Dia beranjak mendekati Lei yang masih sibuk menonton, sampai tanpa sadar tersenyum lebar sendiri.
"Kau di sini?"
Lei menoleh dramatis. Menatap Nata dari atas sampai bawah dan mendesah frustrasi. Bagaimana bisa kembaran bekicot sawah ini ada di sini? Semua orang tahu siapa Nata. Tidak—coret—hanya dia yang tahu siapa Nata si b******k preman pasar yang gemar menaiki meja kantin semasa SMA dulu.
"Oh?" Lei bersuara. "Kau masih bekerja untuk keluarga Hiroito? Siapa tuanmu? Hiroito Roy atau Hiroito Tamara?"
"Siapa saja yang membayarku," balas Nata masam. Mata cokelatnya menatap Lei dingin. "Kau sendiri? Masih menjadi b***k Magna Tasha?"
"b***k?" Lei mendesis. "Aku ini dayang terhormat."
Nata menggeleng tak percaya. Lei selalu punya kepercayaan diri bagus sejak mereka SMA. Banyak orang menyebut mereka seperti air kobokan dan minyak jelantah. Tidak bisa menyatu.
Nata menatap organ tunggal dengan si vokalis adalah mantan penyanyi opera tahun 80-an. Ini permintaan dari Hiroito Tamara. Meski Nata sendiri lebih setuju kalau panggung sempit ini diisi oleh Hiroito Jerome dan tiga teman manusia suramnya. Termasuk manajer berwajah datar yang kerap kali memancing emosi Nata sebagai tangan kanan kepercayaan keluarga Hiroito.
"Heh! Diajak bicara malah melamun. Tidak heran kalau lalat buah ini masih menyebalkan."
Lei berbalik pergi. Mengisi perutnya yang kosong dengan makanan ringan. Lalu melihat Nata yang mendekat seperti buntut cacing.
"Kenapa kau datang? Bukankah keluarga Magna dan Hiroito masih tarik urat?"
"Mana kutahu," sahut Lei masam. Menatap majikannya yang sedang berdiri dan bercakap hangat. Walau dia tahu dalam hati dongkol mampus. Karena Hiroito Tamara adalah mantan kekasih tercantik dari deretan mantan Magna Liam di masa muda.
RaZakan!
"Beruntung bosku tidak menyiram mulut petasan korek Magna Tasha dengan air suci, ya. Kebayang kalau bibir seksinya melepuh."
Lei memutar mata bosan.
Saat Nata mendekat dan Lei yang diam-diam dibuat penisirin segera merapat. Dia menyentuh bahu Nata, meminta agar pria itu menatapnya. "Mana bos manjamu?"
Alis Nata tertaut. "Siapa?"
"Hiroito Jerome."
"Manggung."
"Oh, dia punya pekerjaan? Sejak awal aku mengira kalau pria itu madesu. Masa depan suram."
Nata mendelik tak percaya. "Aku semula berpikir Magna Latisha juga punya masa depan suram. Lihat saja ibunya seperti itu."
"Keluarga Hiroito lebih aneh lagi," semprot Lei tidak terima. Meski dilecehkan sampai membuatnya menangis darah, Lei akan membela keluarga Magna sampai titik darah penghabisan.
"Lebih aneh keluarga majikanmu. Kau tidak tahu kalau keluarga Hiroito terlahir dari genetika bagus? Lihat dulu siapa Hiroito Madara. Kau mungkin tidak tahu, tapi Hiroito Jerome sudah bisa berjalan saat usianya satu tahun."
Lei mendengus masam. "Kau juga tidak tahu, di usia dua tahun majikan cantikku, Magna Latisha bisa sikap kayang. Nyaris membuat jantung ibunya turun ke lambung. Anak itu jelmaan setan akrobatik."
Mereka memang belum bekerja saat usia para penerus tahta masih kecil. Ini hanya cerita lucu dari masing-masing bos yang sering mengenang masa aneh anak-anak mereka.
"Akui saja. Saat itu, Latisha sudah pandai minum s**u di gelas. Dan Jerome masih menggunakan dot, kan? Halah. Hiroito Ian pernah membahasnya di acara pagi-pagi rumpi."
Itu adalah hal paling laknat yang pernah Hiroito Ian datangi selagi dia masih hidup. Sampai berlutut di kaki Jerome untuk meminta maaf karena spontanitas bicara.
Dan pada bisik-bisik samar yang semakin membuat keduanya terkejut bukan main.
Hiroito Tamara baru saja menawarkan perjodohan untuk putranya pada Magna Latisha. Artis cantik yang menjadi idola kaum adam. Menantu idaman ibu-ibu sejuta umat.
Nata terheran-heran.
"Hei, Nata de coco, kau dengar itu?"
Dan setelah suara Tamara selesai mengalun, keduanya memekik bersamaan. Membuat empat pasang mata beralih pada keduanya.
"WHAT?"