6.

936 Words
[ Hamifh ]  Sometimes I wonder how you put up with me - Hamifh                                                                                        ***     Bella dengan wajah telernya mengembangkan senyum-yang-harus-gue-akui- manis, persis ketika dia melihat gue muncul dari pintu.      Oh.      Bisa jadi ini alasan kenapa dia tau siapa aja wanita yang pernah masuk apartemen gue.      That electrical smart digital code door lock.      Bella knows the code.      Gue tiba-tiba merinding, jangan-jangan dia pernah mengendap-endap masuk dan ngelihat gue lagi...      Ah sudahlah.       "Baru pulang?" tanyanya sambil mengangkat gelas berisi red wine ke hadapan gue.       Gue melepas jas kemudian melemparnya ke badan Bella yang sedang meringkuk di meja.      After all this time gue nggak nyaman lihat Bella berkeliaran di apartemen gue dengan hanya memakai Sleeveless dress.       I am a man. Did she ever notice that? Ini yang membuat gue nggak pernah membolehkan dia minum selain sama gue. Gue mengambil gelas wine nya lalu menghabiskan sekali minum.      "What now?" tanya gue.      Bella menyeringai. "Si dungu. Selingkuh."       Oh, That jerk cheated on her.      Gue nggak kaget. Harusnya Bella juga nggak heran. Sudah ke empat kali dalam setahun ini Bela memergoki si b*****t selingkuh dengan wanita lain. Ya gue nggak bilang gue nggak b******k juga, tapi si b*****t satu ini kelewat b******k.      Si bodoh satu ini apalagi, mau aja diajak balikan lagi. Gue mendengus, lalu menuang wine lagi ke gelas.      "Elu lebih dungu." kata gue sambil iseng menarik rambut panjang Bella.       Bella mendongak. "Selingkuhannya hamil. What should I do then?" kata Bella tidak terlalu jelas, tapi gue bisa menangkap perkataannya.           Tiba-tiba dia bangkit, lalu duduk dipangkuan dan memeluk gue.      Badannya oleng, kepalanya tidak bisa menyanggah sempurna terparkir lemah di bahu gue. Gue melepas pelukannya yang membuat Bella terjungkal ke sofa, namun dia bangkit lagi dan...       Fv*k       She is drunk. She's kissing me like crazy.       Let me tell you something "being drunk doesn't count as an excuse"      Walau organ tubuh gue yang lain, berdesir merespon sentuhannya tanpa bisa otak gue kendalikan.      Gue menarik diri.      "Stop right there. You will regret this!" gue setengah membentak.      Hampir membuat Bela terlempar ke lantai. Dia benar-benar gila malam ini. Semabuk-mabuk Bella, dia nggak pernah senekat ini.           Terdengar suara isak tangis setelahnya.       I don't like this scene. I hate it. Bela tersungkur di lantai, meringkuk dan menangis.      Gue ngeri melihat Bella seperti sekarang, nggak ada kalimat yang bisa gue ucapkan karena gue tahu she wouldn't listen. Gue membiarkan dia menangis sampai dia lelah sendiri. Hingga dia tertidur di lantai.  *******************When you love, you get hurt. When you get hurt, you hate. **************     Terpaksa, bisa digaris bawahi bagian itu. Terpaksa gue nggak masuk kerja. Cuti pertama gue semenjak dua minggu lewat sehari gue aktif di perusahaan.  The perks of being shareholder, gue nggak perlu minta izin ke siapapun walaupun gue yakin, setelahnya gue jadi bahan omongan direksi lain.      But, Who cares? Bella menarik kursi makan, lalu duduk sambil mengamati gue yang sedang menyiapkan dia sarapan. Penampilannya kacau, rambutnya kusut persis kemoceng yang keseringan dipake buat bersihin debu.       "I am hungry." katanya sambil menggaruk rambut. Gue menaruh semangkuk nasi, sup dan telor setengah matang di meja. "Gue semalem nggak melakukan hal yang aneh-aneh kan?" tanyanya sambil menyuapkan nasi ke mulutnya yang lebar.   Mengetahui gue masih diam, dia berkata lagi. "Gue tertib kok walaupun lagi mabuk."       Yes people. Itu hanya self proclaimed. Dan malas juga gue membahas apa yang dia lakukan semalam. Muncul rasa empati saat melihat Bela mengunyah makanan dengan mata yang sembab.      I never understood love. Pacarnya selingkuh, yaudah. Selesai.      Cari yang lain, bagian mana sih yang susah? Sampai harus dibuat romantic tragedy meratap-ratap begini.      Life must go on, right? Don't judge me. Gue paham kesedihannya, tapi apa perlu sampai se histeria ini?       "Lo pasti lagi marah sama gue." kata Bella lagi, menyudahi aktivitas sarapannya. Dia tau gue orang pertama yang nggak setuju dia balikan lagi sama si b*****t.      Tapi dia bahkan nggak pernah dengerin apa kata gue.           "Sometimes, I'd ask myself why am I still hanging on to this person? It doesn't make sense to be with someone who always hurts you. But yaa.. Gue nggak bisa pungkiri kalau dia juga banyak nolong gue dan pernah bikin gue bahagia. Lagian Nggak peduli seberapa kali dia melakukan kesalahan, gue selalu nemu cara buat memaafkan." Gue masih diam.       "But now... Gue nggak mungkin ngerampas Ayah dari calon anaknya, kan Mifh?"       Gue mengambil ponsel dari saku celana tidur gue. Mengirim e-ticket pesawat dan hotel ke kontak Bela.      "Nanti cek w******p, gue kirim e-ticket pesawat, hotel juga." Bella reflek langsung melejit ke ruang santai, mengambil ponsel di tas nya lalu menjerit ketika membaca email gue.      "PARIS?! Seriously HAMIFH?!"   See? Bella berlari memeluk gue. Gue nggak sanggup ngeliat perempuan ini berkeliaran di apartemen gue setiap hari dengan mata sebesar mata Alien. Belum lagi curhatan, ratapan yang-Demi-Tuhan gue nggak akan pernah bisa sabar.       "Thank you so much." katanya sambil memeluk gue.      "You didn't need my advices, because you are the most stubborn person on planet. All you need is an escape."      dengan kata lain, gue ngusir dia.      But look at her, dia bahkan nggak sadar kalau dia gue usir dari negara ini.       "Why are you soooo soooooo kind?" katanya sambil melepas pelukannya.      "Eh tapi lo kejam! Masa gue ketiduran di sofa nggak lo pindah ke tempat yang lebih layak?!" protes Bella.           "Itu layak."      Sofa gue jauh lebih lebar dari sofa yang bisa orang-orang bayangkan.      "You should've known that you would never lay on my bed" lanjut gue.      Bella harusnya tahu, bahwa gue nggak pernah mengizinkan siapapun tidur di tempat tidur gue.       Bella menopang dagunya dengan kedua tangan. "Kadang gue mikir, cewek-cewek yang lo bawa masuk kesini lo suruh nungging di antara kompor lo ya?" Dan kopi yang baru gue sesap, menyembur keluar seketika. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD