Aku merasakan hawa panas merasuk ke dalam tubuhku. Semakin lama aku merasakan sesuatu yang berbeda. Sementara tubuhku semakin berat napas tersengal menahan sesuatu yang sesak dan sakit. Mulai kesadaranku menurun dan aku tidak ingat apa-apa lagi. Rasa sakit yang luar biasa tidak dapat aku tahan dan hanya gelap yang aku rasakan.
Aku mebuka mata saat mendengar suara berisik ada di sekitarku. Namun tubuhku masih terasa sakit dan terasa berat untuk digerakkan. Namun suara keras memaksa mataku untuk tetap membuka. Perlahan aku melihat sosok yang aku kenal.
“Mbak Surti? Mas Yudi ....”
Seketika ingatanku mengorek kejadian yang baru saja aku alami. Namun sayang semua kosong dan hanya gelap yang aku ingat. Menatap kedua orang yang sudah berjasa denganku, aku mencoba untuk duduk. Sorot mata mbak Surti yang tajam membuatku bergidik, takut. Mungkinkah aku sudah berbuat salah lagi? Tidak, tidak mungkin kakakku yang menyayangiku ini menuduhku macam-macam lagi.
“Khusna, kamu ngapain di kamar Mbak? Mau menggoda ipar kamu lagi? Dasar kamu ...,” bentak Mbak Surti dengan tangan sudah siap melayang ke arahku.
Mas Yudi yang ada di belakangnya seketika menahan tangannya. Hingga selamat dari amukan kakakku sendiri. Sungguh kejadian yang tidak dapat aku pikirkan saat ini. Otakku pusing dan tidak dapat berpikir. Mas Yudi dengan isyarat mata dan gelengan kepala, menyuruhku untuk pergi dari tempat itu. Bangkit dari ranjang akupun sedikit terkejut. Diriku ternyata berada di kamar kakakku. Astaga! Apa yang sesungguhnya terjadi denganku?
Dengan tubuh remuk redam bangkit dari ranjang dan berjalan tertatih keluar dari kamar. Kakakku masih dalam dekapan suaminya dengan sorot mata tajam mengarah ke arahku. Antara sedih dan bingung bercampur aduk menjadi satu saat ini. Bagaimana aku dapat mejelaskan ke dia, jika situasinya bertambah semakin rumit.
Masuk ke dalam kamarku sendiri, aku langsung ke depan cermin. Melihat kondisiku yang sangat mengenaskan. Mengapa pakaianku kusut sekali? Apa yang sudah terjadi denganku? Ya Tuhan, sakit sekali yang ada di bawah sana. Tiba-tiba pikiran negatif menyeruak di otakku. Tidak mungkin mas Yudi berbuat tidak senonoh terhadapku. Dia sangat mencintai kakakku, bahkan rela bertahan meski istrinya belum ada keturunan.
Bergegas aku membersikan diri di kamar mandi belakang. Rasa sakit masih terasa hingga terkejut melihat kulitku banyak bercak merah di sekitar perut dan bukit kembar. Apakah aku terkena penyakit kulit? Ya Tuhan, bagaimana ini? Pasti aku akan di usir oleh mereka. Dengan cepat aku mengguyurka air sekujur tubuhku yang sudah polos. Berkali-kali menatap warna merah yang tidak pernah aku jumpai selama ini.
Hampir satu jam aku bergelut di kamar mandi, mencoba mengingat kejadian yang lalu. Namun tetap saja otakku buntu, tidak ingat apapun. Masih dalam keadaan polos aku mihat tubuhku di cermin kamar mandi yang berukuran kecil. Dengan pelan aku raba kulitku yang putih, ada gelenyar aneh menyeruak di dalam saja. Rasa yang berbeda yang tidak bisa aku ungkapkan. Berkali-kali mencoba mengulang sentuhan namun tetap saja tidak mendapatkan jawaban. Hingga terdengar suara memanggil dengan keras membuatku tersadar.
“Khusna! Khusna! Kamu ada di dalam? Baik –baik saja kan?” suara keras laki laki dari luar yang sangat aku kenal.
“I-iya ... iya Mas. Sebentar!” jawabku gugup dan segera meraih bajunya yang tergantung di dinding.
Segera keluar dari kamar mandi mendapati mas Yudi sudah berdiri tegak dengan gagahnya. Roti sobek terlihat jelas dan berkeringat. Aneh sekali padahal saat ini cuaca sedang dingin baru saja turun hujan. Gugup aku melewati mas Yudi yang masih menatap ke arahku dengan tanpa kedip. Rasa bergidik saat melihatnya bersikap seperti itu.
“Jangan lupa, resletingnya belum kamu tutup tuh!” suaranya lirih tapi cukup membuatu terkejut menyadari kecerobohanku.
“Eh ... i-iya Mas hehehe ... lupa,” ucapku terkekeh berlalu masuk ke dalam kamar.
Aku terkejut, di dalam kamar ternyata kakakku sudah duduk di kursi kayu tempatku belajar. Sorot mata tajam kembali mengarah ke arahku. Dengan persaan tidak enak, aku berjalan mendekatinya. Bermaksud meminta maaf dengan mengulurkan tangan. Mbak Surti tidak menerima uluran tanganku, melainkan menepisnya dengan kasar. Sungguh hal itu membuatku terkejut, baru kali ini ia berbuat kasar seperti itu terhadap diriku.
“Mbak Surti ada perlu? Maaf ... tadi ....” ucapku tertahan saat melihat sorot mata sinis dari kakak yang selama ini melindungiku.
“Jangan panggil aku mbak kamu lagi! Kalau niatmu hanya jadi benalu dalam keluargaku. Harusnya kamu sadar di sini kamu itu numpang. Jika bukan aku, gak akan bisa kamu sekolah. Kurang ajar sekali kamu menggoda suami kakak kamu sendiri! INGAT!! Kalau aku mergokin kamu sekali lagi, habis kamu Khusna!!” bentaknya berlalu dengan menyenggol keras bahuku.
Air mata ini tidak kuasa untuk aku tahan. Jatuh tanpa bisa aku kendalikan. Terbersit di pikranku untuk pergi dan pulang saja dari rumah ini. Hingga beberapa menit lamanya aku terduduk di tepi ranjang dan teringat dengan emakku di kampung. Kasihan jika beliau mengetahui anak-anaknya bertengkar. Tidak mungkin aku menceritakan hal yang tidak pernah aku lakukan.
Dengan penuh keyakinan aku kembali pada tekatku untuk tetap tinggal dan lebih berhati-hati. Ini hanya salah paham saja, tidak mungkin aku menjadi pelakor dalam kehidupan kakak kandungku sendiri. Hanya doa yang bisa aku panjatkan agar semua baik-baik saja. Menarik napas dalam dan sujud di hadapan Yang Maha Esa, hanya itu saat ini yang dapat aku lakukan.
Rasa lapar mulai menyerang perutku dengan tanda bunyi yang membuatku tersadar. Perih melilit namun aku enggan untuk keluar kamar. Takut dengan tuduhan kakakku jika beretemu lagi dengan mas Yudi. Memang aku merasakan aneh belakangan ini dari sikap iparku itu. Meskipun tidak ada sikapnya yang melecehkan aku. Baru saja membaringkan tubuhku yang masih terasa remuk redam, serta menahan lapar. Suara ketukan di pintu membutaku kembali membuka mata. Siapa n]malam begini datang ke kamarku?
“Khus ... Khusna ... ini aku Mas Yudi,” suara kas terdengar lagi di luar sana. Aku idak akan membukanya, daripada nanti terjadi salah paham lagi dengan kakakku.
Namun rasanya tidak sopan juga membiarkannya tetap mengetuk pintu kamar. Apalgi jika nanti ketahuan oleh mbak Surti, bisa digantung aku di pohon cabe. Galau juga membiarkannya tetap memanggil namaku. Mungkin ada yang penting dan mbak Surti sudah mengarungi lautan mimpi.
“Iya ... iya ... ada apa Mas? Aku sudah tidur,” jawabku sekenanya.
“Kamu nggak bisa bohong, mana ada tidur bisa nyaut panggilan Masmu,” ucapnya terdengar terkekeh dari luar.
“Iya Mas ... maksudnya ini mau tidur. Sudah merem juga, Mas Yudi ada perlu?” jawabku gugup karena memang seperti itu kenyataannya.
“Iya, ini aku bawakan makanan. Mas tahu kamu belum makan sejak tadi.”
Astaga, makanan? Pas sekali saat perutku minta untuk diisi. Alhamdulillah rejeki anak sholekhah. Bergegas aku turun dari ranjang dan membuka pintu kamar.