Hilang Kesadaran

1039 Words
Semenjak kejadian itu mbak Surti berubah sikapnya. Jika setiap hari selalu mengingatkan segala keperluanku tapi sekarang tidak lagi. Pagi hari saat sarapan pun dia tidak menyapaku. Biasanya selalu memintaku untuk masak apa yang dia dan mas yudi inginkan, tapi sudah beberapa hari ini tidak pernah. Bahkan akulah yang harus memulai setiap percakapan dengan dia dan itupun dijawabnya dengan singkat. Sesak rasanya dadaku melihat kondisi seperti ini. Aku yang tadinya selalu cerewet dengannya sekarang sudah tidak lagi. Mbak Surti semakin jauh dari perangainya seorang kakak yang melindungi adiknya. Bingung saat ini yang aku rasakan, bagaimana aku menjelaskan peristiwa kemarin jka dia tidak mau bicara. Bahkan saat aku membuka mulut mengajaknya berdamai mbak Surti selalu pergi dan masuk kamarnya. Aku bertekat tetap ingin merubah situasi ini agar normal kembali. Hari minggu waktu yang tepat saat libur sekolah, dan aku sudah siap dengan segala resikonya. Kulihat kamar kak Surti terbuka dan dua orang pasutri keluar dari sana. Muka masam masih terasa di wajah kakakku saat melihatku. Sedangkan suaminya dengan mesra merangkul pundak mbak Surti sedangkan matanya melirik kearahku dengan aneh. “Pagi Mbak, sudah aku masakkan soto ayam kesukaan mbak Surti dan mas Yudi. Silakan dinikmati.” Tanpa ada jawaban dari bibir kakakku mereka langsung menyantap makanan yang aku buat baru saja. Setelah selesai kupegang lengannya saat hedak beranjak dari meja makan. “Mbak aku mau ngomong, jangan diam seperti ini. Maafkan aku jika aku salah.” “Gak perlu, sudahlah mbak mau kerja dan awas jika kamu macam-macam lagi dengan suamiku. Ingat kamu di sini numpang!” “I-ya mbak aku paham. Aku Cuma numpang makanya aku tidak pernah macam-macam dengan suami mbak Surti. Kemarin itu ....“ ucapanku terputus saat mas Yudi tiba-tiba meraih tangan mbak Surti dan diajak pergi. “Mbak ... Mbak Surti!! Aku belum selesai ngomong Mbak ...!!” Mereka berdua tidak perduli meninggalkan aku sendiri terduduk di kursi ruang makan. Lelah, capek itu yang kurasakan saat ini. Padahal aku sudah siap jika mbak Surti memukul atau menamparku seperti kemarin asalkan kita bisa kembali seperti dulu. Buliran bening mulai jatuh dari mataku setelah kepergian mereka. Tidak ada harapan lagi untuk memperbaiki hubunganku dengan kakakku. Aku kembali ke kamar setelah setelah selesai membereskan meja makan dengan deraian air mata. Tapi ada yang aneh dari sikap mas Yudi, mengapa dia tidak menjelaskan pada mbak Surti apa yang sebenarnya terjadi? Apakah dia benar-benar tidak tahu jika aku benar-benar yang menolongnya saat di kamar mandi? Belum habis rasa penasaranku pintu kamar terdengar diketuk dari luar dengan pelan. Siapa lagi? Mungkinkah mbak Surti kembali dan berubah pikiran lagi. Syukurlah kalau memang seperti itu. Mungkin mas Yudi sudah bisa membujuk mbak Surti. Hanya dia yang dapat aku harapkan untuk membelaku sekarang ini. “Siapa?” “Aku ... Masmu bukalah!” Seperti suara mas Yudi apa dia balik lagi bersama dengan mbak Surti? Pintu kamar aku buka dengan pelan. “Mas Yudi?” tanyaku heran melihat sosok di hadapanku. “Iya ini aku, ayo kita ngomong di ruang tamu saja.” Aku mengikuti Mas Yudi berjalan menuju ruang tamu. Dia sendirian tidak dengan mbak Surti seperti yang ada dipikiranku. “Mbak Surti tidak balik Mas?” ucapku setelah duduk di kursi berhadapan dengan mas Yudi. “Tidak Mbak kamu sedang emosi jangan kamu tanggapi secara berlebihan dulu. Nih ... aku bawain jus jeruk biar fress pikiran kamu!” “Ya ampun terima kasih ya Mas. Aku hanya kepikiran saja dengan Mbak Surti, oh ya mas Yudi sudah memberikan penjelasan kepada mbak Surti kan? Kog masih bersikap seperti itu kepadaku.” “Sudah ... tapi ya kamu harus sabar saja. Tadi sudah aku bilang jika mood Mbak kamu lagi nggak baik jangan paksa buat bicara. Nanti biar Mas yang ngomong sama dia. Ayo diminum dulu! Sudah dibelikan gak mau minum Mas kecewa nanti.” “Masih kenyang Mas, tadi juga sudah sarapan. Nggak biasa minum jus pagi-pagi.” “Nggak mau nih ceritanya, ya sudah aku buang saja.” “Eh ... jangan!! Jangan Mas!! Baiklah aku minum sekarang biar mas Yudi tidak kecewa.”Seketika aku raih gelas dari plastik yang berisi jus jeruk dari masa Yudi. Jus jeruk yang terlihat segar aku minum hingga tandas. Terlihat senyum mengembang terlihat dari pria gagah yang ada di depanku saat aku minum hingga habis jus jeruk pemberiannya. Syukurlah dia tidak kecewa karena sempat aku tolak tadi. “Enak bukan? Itu jus spesial loh yang aku beli khusus buat adik iparku supaya tidak galau lagi.” “Iya enak ... eh ... kog ... kepalaku jadi pusing Mas? Apa karena kekenyangan?” Aku merasakan kepalau berputar perut rasanya seperti diaduk. Apakah mungkin aku terlalu kenyang karena habis sarapan ditambah dengan minum jus jeruk hingga tandas. “Ya sudah kamu tiduran saja, mas juga mau berangkat kerja. Tadi ingat kamu saja kepikiran jangan sampai sedih lagi Khusna. Buat hidup ini bahagia, happy nikmati surga dunia selama kita masih bisa bernapas. Kamu masih muda bayak hal yang belum kamu rasakan.” “I- iya Mas ... eh ... ini ...ini kepalaku serasa berputar. Mas aku bisa minta ... minta tolong bawa aku ke kamarku.” Tiba-tiba saja kepalaku terasa semakin berat dan tidak bisa kutahan mataku untuk menutup. Tubuhku terasa ambruk di kursi dan tidak bisa aku gerakkan. Samar-samar aku mendengar suara mas Yudi mengatakan “ya” kepadaku dan merasakan tubuhku sudah melayang entah dibawa kemana. Masih dalam keadaan setengah sadar aku merasakan ada yang menyentuh kulitku dan hawa dingin terasa. Aku tidak sanggup lagi membuka mata hanya bisa merasakan sesuatu yang terasa asing dengan tubuhku. Mulutku tidak mampu mengucapkan sepatah katapun. Seperti mimpi terasa geli di sekujur tubuhku namun aku tidak mampu untuk bergerak menolaknya. Kulit sekujur tubuhku terasa basah yang tidak aku ketahui apa penyebabnya. Masih aku terjaga setengah sadar namun mataku tidak juga mampu aku buka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apakah ini mimpi? Tapi terasa begitu nyata aku menerimanya. Apalagi terasa ada gesekan aneh yang membuat aku terkejut di bawah alam sadarku. Hanya diam tak bisa menggerakkan tubuh dan bibirku untuk bicara. Menangis dalam hati hanya itu yang dapat aku lakukan saat kurasakan berkali-kali merasakan sakit dan sesak nafas. Ya Tuhan ... apa yang sebenarnya terjadi denganku saat ini? Mengapa aku tidak bisa melakukan apa-apa? Apakah mungkin aku akan mati sekarang ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD