Di dapur yang jaraknya berdekatan dengan kamar mas Yudi aku mulai racik minuman hangat. Tetap saja bayangan tubuh mas Yudi masih terbayang. Jangan sampai aku mataku ternoda lagi. Berkali-kali aku gelengkan kepala untuk menyingkirkan pikiran kotor yang mulai masuk di benakku. Hingga air panas yang sudah aku tuang tidak terasa tumpah pada alas gelasnya. “Ya ampun kenapa bisa jadi begini bisa gila aku.”
Setelah selesai meracik aku pergi ke kamar kepada mas Yudi yang masih terbaring di ranjangnya. Dia mencoba duduk untuk menerima minuman yang aku berikan. Senyum misteri masih diberikan saat aku mengulurkan gelas yang berisi teh hangat. Dia meminumnya hinnga tandas.
“Terima kasih Khusna enak sekali minuman yang kamu buat. Bisa minta tolong lagi? Ambilkan pakaianku yang ada di almari. Badanku belum kuat masih lemas.”
“Iya Mas, di rak yang sebelah mana?”
“Rak yang bawah sendiri, coba buka saja sekalian ambilkan dalamanku. Yang ini sudah basah terkena cairan.”
Aku mengambil pakaian tidur milik mas Yudi beserta dalaman. Aneh juga masa yang dikerokin punggung jadi berkeringat. Perasaan sejak tadi dia tidur tidak bereaksi sama sekali saat koin menggerus kulitnya. Dia juga tidak pergi ke kamar mandi, karena kamar mandinya dekat dengan dapur pasti aku tahu.
“Saya keluar dulu Mas mau aku ambilkan makan sekalian atau dibelikan makanan?”
“Boleh juga aku ganti dulu buatin aku bubur saja, perutku rasanya agak mual nih.”
“Siap Mas.”
Kututup pintu kamar mas Yudi dan pergi ke dapur untuk membuatkan bubur. Untung saja aku selama ini belajar dari Emak yang suka membuat makanan kecil untuk anak- anaknya. Sementara saudaraku yang lain lebih suka bermain aku suka bantu Emak di dapur untuk menyiapkan makanan untuk semua anggota keluarga.
Meskipun masakan kami sangat jauh dari kata sederhana.
Semua bahan aku siapkan di meja siap untuk di olah. Pikiranku masih saja sikap mas Yudi yang aneh hari ini. Mungkin karena sakit hingga kepalanya kejedot memberikan senyum misterinya. Kembali kepalaku menggeleng jika mengingatnya. Dalam waktu beberapa menit bubur sudah masak. Baru aku mau membuka pintu terdengar ketukan dari luar rumah. Siapa lagi? Apa mungkin pintunya dikunci oleh mas Yudi? Akhirnya aku tidak jadi membuka kamar mbak Surti aku melangkah menuju ruang tamu. Hari masih siang tidak mungkin mbak Surti pulang ke rumah. Kubuka pintu dari kayu yang sudah memudar warna catnya dengan pelan.
“Loh ... Mbak, sudah pulang? Ada apa? Tidak biasanya?”
Serentetan pertanyaan aku lontarkan kepada kakak kandungku. Wajahnya terlihat kusam. Seperti ada masalah dengan dirinya. Tapi mbak Surti bukannya menjawab pertanyaanku namun masuk ruang dan menghepaskan tubuhnya di kursi tamu. Aku jadi bingung mau berkata apalagi kepada mbak Surti , takut hanya itu yang ada di pikiranku saat ini. Selama satu bulan aku berada di rumah ini baru kali ini aku melihat kakakku murung seperti ini. Jadi serba salah.
“Kamu bawa apa itu Khusna? Bubur masih panas? Aku makan ya pusing sekali aku. Tolong kamu buat lagi yang banyak mungkin nanti aku mau lagi. Dan buatkan aku minuman hangat!” Ucapan bak Surti membuatku sedikit lega. Mungkin saja sama seperti mas Yudi sedang tidak enak badan.
“Baik Mbak.”
Kembali lagi aku masuk ke dalam dapur untuk membuatkan bubur untuk mas Yudi. Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Mulanya aku cuek tidak berpikir jauh, tapi setelah agak lama baru sadar jika suara air mengalir itu terus terdengar padahal bak yang ada di dalam kamar mandi kecil. Hanya diisi beberapa detik saja sudah pasti penuh. Ku-urungkan memasak bubur yang belum matang. Didorong rasa penasaran aku membuka pintu kamar mandi yang hanya tertutup tirai kain.
“Mas Yudi!” Aku berteriak melihat tubuh mas Yudi yang telanjang tertelungkup di bak kamar mandi Pingsan. Sementara kran terbuka dan air tetap mengalir ke dalam bak kamar mandi hingga luber.
Bingung itu yang sekarang ada di pikiranku. Bagaimana aku menolong dia sedangkan tubuhnya tidak sehelai kain pun menempel. Sedangkan mbak Surti juga tidak dalam keadaan baik-baik saja. “Ya ampun aku harus bagaimana? Tidak mungkin aku biarkan dia tetap seperti ini.”
Nekat aku mencari celana pendek yang tergantung di dinding kamar mandi. Mulai aku pakaikan celana pendek itu meskipun berkali-kali mataku ternoda dengan suatu benda milik laki-laki yang belum pernah aku lihat selama ini. Hatiku bergetar, mengapa harus aku yang melihatnya. Tidak mungkin aku tutup mata melihat pemandangan gratis ini. Dulu aku mau jabat tangan laki-laki saja gak mau malah sekarang lihat benda yang sangat asing menodai mata polosku.
Setelah selesai pelan aku senderkan tubuh mas Yudi di dinding kamar mandi dan duduk di kloset duduk. Tidak mungkin aku bawa ke kamar karena tubuhnya sangat berat. Waktu memakaikan celana pendek saja kesulitan karena beban tubuhnya hingga beberapa kali menyentuh daerah terlarang. Mungkin ini pengalaman buruk buatku selama hidup. Tidak pernah mengenal laki-laki saat usiaku sudah berumur enam belas tahun ini.
Baru saja aku mau beranjak keluar dari kamar mandi terlihat mbak Surti menatap aku tajam dari tengah pintu masuk. Sorot mata tajam menusuk ke arahku. Tanganku mulai gemetar mataku sesekali menoleh kearah mas Yudi yang perlahan mulai bergerak tubuhnya. Ya ampun ... ini pasti salah paham. Mbak Surti tidak tahu bagaimana ceritanya tadi?
“Kamu ...!!” Suaranya mulai keras terdengar menusuk di telingaku. Mbak Surti sudah merah wajahnya dan menghampiri suaminya yang masih duduk di kloset.
Seketika tangannya menampar pipiku hingga terasa panas sekali. Mataku merah menahan sakit. Baru kali ini aku ditampar oleh kakak kandungku sendiri. Sedangkan dia tidak menanyakan kenapa aku sampai ada di dalam kamar mandi ini bersama dengan suaminya. Mbak Surti sepertinya tidak membutuhkan penjelasan dariku. Terbukti dia melangkah dan meraih tangan suaminya untuk diajaknya keluar dari kamar mandi ini.
“Kamu ...!! Dasar tidak tahu diri!! Sudah bagus aku membiayai sekolahmu, malah ngelunjak dengan iparmu!! Mau jadi gadis murahan hah ...!!” Suara mbak Surti keras di telingaku. Sengaja dia melakukannya agar aku ngerti yang dia maksudkan. Kemudian berlalu sambil membawa suaminya masuk ke dalam kamar.
Mataku sudah mulai deras berair melihat kakak perempuan mengacuhkan diriku. Maksud hati ingin menolong tapi malah terjadi salah paham. Bagaimana aku menjelaskannya, karena aku tahu mbak Surti sangat mencintai suaminya. Mas Yudi segalanya buat mbak Surti yang sekarang belum juga di karuniai seorang anak. Berat jika aku tidak segera menjelaskan padanya. Apalagi kami dari pagi di rumah hanya berdua saja.