Sangat kesal dan merasa terhina itulah yang dirasakan Azura sekarang. Dia tidak pernah menyangka Reno akan berkata seperti itu padanya, tidak menghargai perasaannya sebagai istri walau pernikahan mereka hanyalah pernikahan kontrak.
“Lihat saja setelah setahun kontrak berakhir aku akan pergi sejauh mungkin dari laki-laki sialan itu,” ujar Azura dengan emosi.
“Apa yang dia lakukan sekarang akan aku balas pada saat yang tepat. Dasar laki-laki bodoh, aku sumpahin kamu ga akan pernah kembali dengan si Selvia itu dan menderita sendiri.”
Tapi suara ketukan pintu kamar membuat Azura menoleh ke sumber suara, tak lama wajah Reno muncul dari balik pintu.
“Apa maumu?” tanya Azura.
“Sebentar lagi Mama ku mau datang, kamu harus bersikap yang baik dan ingat kita harus mesra.” Reno memperingati Azura.
“Iya… iya aku ingat jangan khawatirkan hal sepele seperti itu.”
“Ini bukan hal sepele Azura. Semua menyangkut masa depan kita.”
Rasanya ingin sekali Azura membalas semua perkataan Reno, tapi dia menahannya. Bukan saat yang tepat untuknya beradu pendapat dengan Reno untuk sekarang.
Orang yang ditunggu datang juga Bella dan Luis ke rumah Reno dengan wajah kesal. Reno dan Azura bingung harus bersikap bagaimana.
“Kalian seharusnya melakukan bulan madu bukannya malah kembali ke rumah ini,” ujar Bella yang tanpa basa-basi menyampaikan keberatannya.
“Mama, aku sangat sibuk. Banyak pasien yang sudah menungguku,” ucap Reno memberikan alasan.
“Cuti! Rumah sakit itu milik Mama dan kamu sebagai penerus direktur rumah sakit berhak untuk mengambil cuti.” Bella bersuara dengan lantang.
“Mama,” keluh Reno merasa keberatan dengan keputusan Bella.
“Kenapa kamu keberatan Reno?”
“Bukan seperti itu, Ma.”
“Lalu apa alasannya? Apa jangan-jangan kamu merencanakan sesuatu yang tidak kami ketahui, Reno.”
“Yaa ampun Mama. Ini semua tidak seperti pemikiran Mama, aku tidak merencanakan apapun.”
“Sudahlah Reno turuti perkataan Mamamu, jangan membantah lagi,” ujar Luis.
“Tapi Pa—”
“Tidak ada tapi-tapian Reno! Ini sudah keputusan Mama dan Papa. Kamu dan Azura harus melakukan bulan madu,” titah Luis.
Perkataan Luis sulit untuk dibantah oleh Reno. Dia pun terpaksa menyetujui permintaan kedua orang tuanya daripada rencananya akan ketahuan. Dia harus berbulan madu dengan Azura, gadis yang baru kemarin menjadi istrinya, tapi sudah membuatnya merasa tidak nyaman.
Azura hanya diam menyaksikan perdebatan Reno dan orang tuanya. Terlihat jelas di wajah Laki-laki itu kalah dia keberatan dengan semua keputusan orang tuanya, tapi dia tidak memperdulikannya. Mau bulan madu atau tidak pun tak menjadi masalah untuknya.
“Azu, kamu mau ‘kan pergi bulan madu sama Reno?” tanya Bella dengan suara lembut pada Azura.
“Apapun keinginan Mama aku akan menurutinya, keputusan orang tua adalah yang terbaik,” jawab Azura sambil tersenyum.
Bella sangat senang mendengar perkataan Azura dan dia pun berkata, “Nah, Azu saja ga keberatan.”
“Akh, menantuku tersayang.” Bella langsung memeluk Azura dengan erat.
“Anggap saja Mama seperti Mama kandungmu yaa, Azu. Anak Megan anakku juga.”
“Iya Ma.”
Mendapat pelukan dari Bella membuat mata Azura berkaca-kaca dan membuatnya sangat bahagia. Dia yang tidak memiliki orang tua lagi merasakan kasih sayang seorang Ibu yang tidak pernah didapatkannya semenjak Megan meninggal. Tanpa terasa bulir-bulir air mata terjatuh di pipinya.
Dengan lembut Bella mengusap air mata Azura. Dia yang tidak memiliki seorang putri sangat bahagia bisa dekat dengan Azura. Baginya Azura lah menantu yang terbaik untuk putranya, Reno. Walau Bella mengetahui bahwa Reno masih mencintai Selvia, tapi dia yakin secara perlahan cinta akan tumbuh dihati Reno dan Azura juga dengan bantuannya.
“Jangan menangis sayang, Mama akan selalu ada untukmu,” ucap Bella.
“Terima kasih Mama.”
Melihat kedekatan Azura dan Bella membuat Reno tidak suka. Seharusnya Bella memperlakukan Selvia sama seperti ini sewaktu dulu dia memperkenalkan wanita yang dicintainya pada Bella dan Luis.
“Reno, kamu kenapa cuman diam saja?” tanya Bella.
“Aku harus bagaimana Ma? Semua keinginan Mama dan Papa sudah aku turuti,” ucap Reno.
“Baguslah kalau kamu mengerti Reno. Ini tiket bulan madu ke Sydney, Australia selama seminggu.” Bella memberikan tiket pesawat dan hotel ke tangan Reno.
Walau sangat berat bagi Reno, dia pun mengambilnya daripada Bella akan marah. Sambil melirik drama yang dibuat Azura semakin membuatnya kesal. Gadis itu baru saja sebentar sudah mampu merebut hati Bella, seandainya Selvia juga bisa merebut hati Bella tentu saja dia tidak akan berakhir dalam pernikahan kontrak ini.
Dasar Azura sialan! Dia pikir kalau bisa dekat dengan Mamaku akan membuatku bersikap baik padanya. Lihat saja Azura apa yang kamu rencanakan tidak akan berhasil. Dasar perempuan licik.
Azura melirik ke arah Reno. Dia berpikir pasti Reno mengumpat dalam hatinya, dia tidak akan memperdulikan Reno. Baginya laki-laki itu tidak ubahnya seperti pecundang yang hanya berani melakukan hal tidak baik di belakang orang tuanya sendiri.
“Besok kalian akan berangkat ke Sydney, Mama dan Papa yang akan mengantarkan ke bandara,” ujar Bella menatap Reno dengan tajam.
“Baik Ma,” ucap Reno pasrah.
Setelah kepergian Bella dan Luis terjadilah perang kata-kata antara Azura juga Reno. Tidak satupun dari mereka yang ingin mengalah.
“Dasar ratu drama!” pekik Reno dengan suara keras.
“Dasar raja drama!” balas Azura dengan suara tidak kalah kerasnya.
“Aku menyesal sudah menikahimu.”
“Hei! Pria pecundang memangnya cuman kamu saja yang menyesal. Aku juga sama kaliiiii.”
“Kamu ini memang sangat menyebalkan Azura!”
“Woi! Dokter Reno yang terhebat kamu pikir kelakuanmu itu tidak menyebalkan malah sangat-sangat menyebalkan dan memuakkan. Siapa coba yang mengajak menikah? Jangan merasa menyesal dengan keputusan yang anda ambil. Situ masih waras ‘kan? Belum hilang ingatan, ‘kan!”
Reno memelototkan matanya, bisa-bisanya Azura dengan berani membalikkan perkataannya. Dia salah menilai tentang Azura. Apalagi sekarang Azura membalas secara lantang memolotinya lagi , tapi mata indah Azura membuatnya ada perasaan aneh dalam hatinya, dia merasa senang Azura membalasnya
Mata Reno teralihkan pada bibir Azura, bibir mungil berwarna merah itu membuatnya gemas. Apalagi sekarang Azura menggerak-gerakkan bibirnya sambil berbicara semakin menimbulkan hasrat ingin mencium bibir Azura.
“Sudahlah, aku lelah bertengkar dengan remaja sepertimu,” ucap Reno yang mencoba mengendalikan dirinya untuk tidak semakin menatap Azura.
“Yaa sudah jangan memancing aku. Aku tidak akan dengan mudah kamu intimidasi dokter Reno!”
Daripada keadaan semakin tidak terkendali Reno memilih untuk diam tidak menanggapi perkataan Azura yang terlihat begitu emosi. Reno membalikkan badannya naik ke lantai 2 menuju kamarnya. Dia harus bisa menghindari Azura. Menatap bibir, mata, dan wajah Azura membuat Reno khawatir pada dirinya sendiri jika dia melewati batas dan semakin tidak terkendali untuk memiliki Azura.
Jantung Reno berdebar dengan kencang membuatnya memegang dadanya sendiri. Dia merasa aneh dengan apa yang terjadi pada dirinya. Kenapa bisa merasakan debaran pada Azura?
“Ada apa dengan aku yaa, kenapa aku jadi seperti ini,” ucap Reno dengan kebingungan saat berada dalam kamarnya.
“Ingat aku hanya mencintai Selvia. Aku tidak tertarik sama Azura. Ingat Reno ini hanya pernikahan kontrak, kalian menikah dengan tujuan dan maksud yang telah disepakati.” Reno berusaha menyakinkan dirinya sendiri untuk tidak memiliki perasaan pada Azura.
Reno mencoba untuk tidur walau bayang-bayang Azura datang dalam benaknya. Dia harus bisa fokus memikirkan masa depannya dengan Selvia bukan bersama Azura.
Sementara itu di dalam kamar Azura. Dia semakin membenci Reno, ingin rasanya dia kabur dari rumah Reno yang membuatnya kesal dan emosi sendiri tinggal di tempat tersebut.
“Selvia… Selvia… terus dasar perempuan aneh. Kalau mereka saling cinta seharusnya tidak berpisah. Laki-laki pengecut dengan perempuan sialan memang cocok, beda jenislah sama aku,” ucap Azura yang masih dikuasai oleh emosinya.
“Akh, lebih baik aku tidur saja daripada harus membuang-buang waktu ku memikirkan Reno. Bisa-bisa nanti kulitku kusam, jerawatan, dan ga kinclong lagi deh. Mending mikirin aku jadi pacarnya Kim Taehyung alias V ku tercinta. Oppa Taehyung saranghae.”
Azura memilih untuk tidur, dia ingin melepaskan semua beban pikiran yang sudah membuat emosinya terkuras untuk perang urat syaraf dengan Reno. Lebih baik dia berkhayal memikirkan Idol Kpop kesukaannya, V BTS.