Maaf Azura

1185 Words
Teriakan Azura membuat Reno seakan tersadar dengan apa yang telah dilakukannya, apalagi sekarang wajah Azura pucat pasih seperti orang yang akan diperkosa. Reno menyadari itu lalu melepaskan Azura dengan menghela napasnya dengaa berat, dia khilaf. Dia hampir memperkosa Azura hanya karena tak suka ada pria lain menyentuh istrinya. Entah apa yang dia rasakan sekarang ini, entah dia cemburu, atau apapun itu, dia sendiri pun tak tahu. Dia tak suka kalau ada orang lain yang menyentuh miliknya, tapi reaksi Azura yang membuatnya heran. Istrinya itu seperti mengalami trauma akibat pelecehan seksual. Azura hanya diam mematung dengan air mata terus mengalir di pipinya. Dia merasa dirinya begitu hina dan tidak berharga. "Maafkan aku Azura... maaf," ujar Reno dengan sangat menyesal. Tanpa menunggu jawaban dari Azura, dia memutuskan untuk keluar kamar, dia ingin menenangkan diri sejenak. Dia sangat menyesal dengan apa yang diperbuatnya pada Azura. Saat tengah malam dia kembali ke kamar hotel melirik Azura yang sudah terlelap di ranjang. Reno tidak berani tidur di samping istrinya dan memutuskan untuk duduk di sofa. Azura bukannya tidak tahu kalau Reno masuk kamar dan duduk di sofa. Dia hanya ingin tidak bertegur sapa dengan Reno dan memutuskan tidur sambil menyelimuti seluruh tubuhnya dengan bed cover. ******** Keesokan harinya Reno tidak bisa tidur, sepanjang malam dia terjaga memikirkan apa yang telah dilakukannya pada Azura. Ada sesuatu yang aneh dari Azura, kenapa gadis yang sudah menjadi istrinya terlihat begitu ketakutan? Apa yang telah terjadi pada Azura? Mungkin reaksi Azura kemari hanya karena kaget saja bukan sebab yang lain. Sepertinya hanya perasaanku saja yang terlalu sensitif. Sekarang apa yang harus dia lakukan? Jika dibiarkan bisa menjadi masalah yang berlarut-larut, dia harus segera menyelesaikan masalah mereka. Saat melihat Azura bergerak di atas ranjang, Reno ingin mengajak istrinya untuk berbicara. "Kamu sudah bangun?" tanya Reno. Azura hanya melirik Reno dan tidak menjawab pertanyaan suaminya tersebut. "Azura, aku ingin bicara sama kamu,” ujar Reno. Azura lagi-lagi hanya diam tanpa suara membuat Reno mendekatinya. “Aku mohon maaf padamu, Azura. Aku salah telah melakukan kelakuan yang tidak pantas ke kamu. Aku sangat menyesal atas semua yang terjadi menyakitimu. Aku benar-benar lepas kontrol, Azura,” ucap Reno menyesal. Azura memperhatikan raut wajah Reno yang terlihat menyesal. Sepertinya memang benar yang dikatakan Reno kalau dia benar-benar khilaf, lepas kontrol, atau apapun lah namanya tapi terlihat jelas laki-laki tersebut memang menyesal. Reno memegang tangan Azura. "Aku berjanji tak akan berbuat seperti itu lagi padamu. Maafkan aku, Azura," ujar Reno menatap mata Azura. Dengan menghela napas berat, Azura juga tidak ingin semua masalah mereka berlarut-larut akhirnya memutuskan untuk memberikan maaf untuk Reno. "Aku akan memaafkanmu, tapi jangan pernah kamu ulangi lagi perbuatan hampir memperkosaku," ujar Azura dengan mata berkaca-kaca. "Aku berjanji tak akan pernah mengulanginya lagi, terima kasih Azura," kata Leon tersenyum tipis menatap Azura. Walau ada perasaan ragu, tapi Azura mencoba untuk memaafkan Reno. “Sepertinya kita tidak perlu berlama-lama di hotel. Bagaimana kalau hari ini kita kembali ke rumahku saja,” ujar Reno. “Aku ingin pulang ke rumah Kakek,” ucap Azura. Reno menatap Azura kesal. Apa yang dipikirkan Azura kok malah ingin pulang ke rumah Ricardo, jika orang tua nya tahu kalau mereka tidak tinggal bersama malah akan membuat masalah lagi. “Sebaiknya ke rumahku saja, Azura.” Reno berkata dengan tegas. Kesal. Itu yang dirasakan Azura, laki-laki itu secara perlahan mulai menunjukkan sifat dan watak sebenarnya yang egois. Walau kesal dengan sikap Reno, tapi dia tidak ingin menampakkannya. Baru sehari mereka menikah jangan sampai merger perusahaan Jcorp akan terganggu. “Baiklah jika itu memang keinginanmu,” ujar Azura. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah pribadi Reno, Azura hanya diam. Dia bukannya tidak ingin berbicara dengan Reno, tapi tidak hal lain yang harus dibicarakan. Begitu juga Reno, dia memang tidak berniat untuk berbicara dengan Azura. Untuk apa menjalin hubungan baik bersama Azura hanya akan merepotkan, apalagi kalau sampai Azura mencintainya malah akan semakin menjadi beban. Tapi bagi dirinya sendiri tidak akan mungkin jatuh cinta pada Azura, di hatinya hanya ada Selvia. Sebuah rumah bernuansa minimalis bertingkat 2 dengan cat berwarna merah abu-abu memberikan kesan simple sang pemilik rumah. Dari yang dia perhatikan kalau Reno orangnya simple dan kaku seperti kanebo kering. Masuk ke dalam pekarangan rumah tidak ada tanaman mungkin Reno tidak sempat untuk mengurus semuanya dikarenakan kesibukan pria tersebut. “Turun kita masuk rumahku,” ujar Reno dingin. “Iya,” jawab Azura. Saat masuk ke dalam rumah ada sebuah foto yang tidak mengenakan untuk dipandang mata. Terpampang jelas foto dua anak manusia yang sedang tersenyum bahagia. Hal tersebut sukses membuat Azura semakin menambah kekesalannya. Anjiiir nih laki-laki memang siluman tikus bener dah. Udah tahu nikah sama aku malah masih memajang foto dengan kunti. “Bagaimana pendapatmu tentang Selvia? Cantik bukan?” tanya Reno dengan santai. Ekor mata Azura melirik Reno tajam. Baru kali dia berhadapan dengan pria seperti dia. Walau hanya pernikahan kontrak setidaknya Reno harus menghargai perasaannya. “Kenapa kamu melihatku seperti itu? Ada yang salah dari perkataanku?” tanya Reno sambil menatap Azura heran. Azura menyunggingkan bibirnya. “Ga ada yang salah hanya aku tidak pandai menilai orang lain cantik atau jelek. Bagiku semua wanita cantik tidak ada yang jelek.” “Ooh.” Reno tidak memperdulikan Azura, dia masuk ke dalam rumahnya sendiri. Sedangkan Azura, dia malah bingung harus bagaimana. Banyak sekali foto-foto Reno dan Selvia, ingin dia bakar foto-foto sialan itu. “Aku tidur di mana?” tanya Azura. “Kamar di atas ada 2 kamu gunakan kamar yang sebelah kiri,” ujar Reno. Azura pun naik ke lantai 2 melihat kamar yang memang ada 2 pintu. Dia penasaran dengan kamar yang sebelah kanan yang pastinya kamar Reno, secara perlahan dia membuka pintu kamar Reno. Lagi-lagi ada pajangan foto besar Reno dan Selvia di sana berpose dengan mesra. “Kamu ngapain di kamarku?” tanya Reno dengan tidak suka. Mendengar suara Reno yang tiba-tiba datang tentu saja membuat Azura terkejut. Sampai dia mengelus dadanya sendiri. “Kamu kok tiba-tiba muncul sih,” ujar Azura. “Kamu juga ngapain ke kamarku? Kamarmu itu di sebelah sana.” Tunjuk Reno. “Iya… iya aku tahu tidak usah kamu ingatkan.” “Baguslah kalau daya ingatanmu masih baik jadi tidak perlu ku ingatkan lagi.” Dengan kesal Azura keluar kamar Reno, tapi langkah terhenti saat Reno mengatakan sesuatu yang membuatnya semakin jengkel pada laki-laki yang sudah menjadi suaminya tersebut. “Rumah ini milik Selvia. Kamu jangan berharap bisa menjadi nyonya rumah di sini.” Azura membalikkan badannya menatap Reno dengan kesal. “Siapa yang membawa aku ke sini! Aku tidak memintamu untuk membawa aku ke rumah milik kekasihmu itu, pikir dong siapa yang membawa aku ke sini. Dasar laki-laki ga punya pikiran, percuma saja katanya dokter ternyata hatinya batu!” teriak Azura dengan lantang lalu pergi meninggalkan Reno yang terdiam. Suara bantingan pintu kamar Azura membuat Reno tersentak. Dia tidak menyangka Azura bisa marah padanya. Apakah yang dia katakan salah? Dia hanya ingin membuat Azura mengerti kalau Selvia tidak akan pernah tergantikan oleh wanita manapun, walau Azura lah sekarang yang menjadi istrinya. ***** Cerita Sorry I Love You juga ada di G.o.o.d.N.o.v.e.l kalau penasaran ingin membacanya lebih cepat bisa di sana yaa. Terima kasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD