Hari ini merupakan hari pernikahan Azura dan Reno. Nuansa putih merupakan tema dari pernikahan yang dipilih oleh Bella. Pernikahan sempurna dengan bunga-bunga mawar putih menghiasi setiap sudut gereja. Pernikahan mereka membuat setiap mata merasa iri dengan berbagai kemewahan yang memanjakan mata.
Pintu gereja sudah terbuka, Azura berjalan dengan anggun mengenakan gaun putih bersama Ricardo.
Semua mata melihat dengan kagum kecantikan sang mempelai wanita tidak terkecuali Reno. Reno terpesona menatap Azura, gadis tersebut tampak berbeda dari biasanya yang selalu cantik dan sekarang semakin cantik. Penampilan Reno pun tampak berbeda, dia mengenakan setelan jas pengantin putih.
Reno mengulurkan tangannya untuk mengambil tangan Azura dari tangan Ricardo. Saat tangan Azura akan berada ditangan Reno secara tiba-tiba Ricardo menarik tangan Azura dan memeluk cucunya dengan erat. Setetes air mata jatuh dipipi Ricardo yang tampak begitu emosional. Untuk beberapa saat suasana di dalam gereja menjadi penuh haru.
"Jaga Azura yaa Reno,," ujar Ricardo..
"Iya kek... aku akan menjaga Azura dengan segenap jiwa ku," jawab Reno.
"Kakek mempercayaimu," ujar Ricardo.
Bella juga meneteskan air mata dipipinya, dia sangat bahagia akhirnya Azura bisa menikah dengan wanita pilihannya.
"Kamu cantik banget Azura, ga salah mama menjodohkan aku dengan kamu," bisik Reno di telinga Azura.
Untuk sesaat Azura merasa ucapan Reno kagum pada kecantikannya, tapi dia menyakinkan dirinya sendiri bahwa yang dikatakan hanyalah sebuah kebohongan. Azura hanya tersenyum.
Seandainya pernikahan ini bukan pernikahan kontrak dan unsur merger perusahaan mungkin akan berbeda. Azura berkata dalam batinnya.
Pernikahan Reno dan Azura berjalan dengan lancar juga pesta pernikahan berlangsung dengan mewah di salah satu hotel bintang lima. Hampir 3 jam Azura berdiri menyalami satu persatu tamu undangan. Banyak sekali tamu dari dua keluarga yang datang memberikan selamat termaksud Steve.
Steve datang bersama orang tuanya, Steve sedih dan kecewa. Dia menyukai Azura dan melakukan hal yang salah dengan mencoba menjebak gadis tersebut. Maksudnya memberikan cairan obat perangsang agar Azura seutuhnya menjadi miliknya, tapi semuanya gagal sebelum rencana berhasil. Lelaki yang menolong Azura dulu malah sekarang menjadi suami Azura.
Setelah berdiri selama 3 jam Azura sangat lelah walau ini hanya pernikahan kontrak, tapi dia juga senang bisa memakai gaun pengantin pilihannya. Begitu juga dengan Reno terlihat wajahnya juga sama lelahnya seperti Azura. Mereka berdua selalu tersenyum penuh dengan kepalsuan. Resepsi pernikahan sudah selesai sekarang mereka berada di dalam hotel tempat untuk beristirahat. Azura duduk sendirian di dalam kamar hotel, Reno tak ada disana.
"Aah, biarlah tuh orang ga ada, jadi ga akan ada malam pertama. Aku juga ga mau disentuh tuh orang aneh," ujar Azura pada dirinya sendiri.
Azura segera mengganti pakaiannya dia sangat lelah. Dia menuju ranjang dan terlelap di ranjang hotel tanpa memikirkan Reno. Tidak lama kemudian Reno masuk ke dalam kamar hotel, dilihatnya Azura tertidur di ranjang. Dia merasa kasihan pada Azura, dia sebenarnya tak ingin melakukan semua ini tapi demi masa depannya dengan Selvia, dia akan melakukan apapun.
"Maafkan aku Azura," ucap Reno lalu tidur disamping Azura.
************
Paginya
Azura merasa sulit bernapas, ada sesuatu yang mengganjal di perutnya. Saat membuka matanya, dia melihat ada sepasang tangan memeluknya dengan erat. Azura dengan perlahan memindahkan lengan Reno, dia risih suaminya memeluk sambil tidur seperti sekarang.
Azura menuju kamar mandi, dia ingin secepat mungkin keluar dari kamar hotel. Dia sangat lapar tak mau menunggu Reno yang masih terlelap diatas ranjang. Dia sudah berada di dalam restoran, dia memutuskan makan sendiri.
"Boleh duduk disini?" suara pria mengagetkan Azura.
“Apa mau mu?” tanya Azura.
"Sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu atas semua kejadian malam itu.”
“Tidak usah membahasnya. Tidak penting.”
“Terima kasih Azura. Kemarin kamu sangat cantik.”
"Terima kasih," jawab Azura dengan singkat.
“Sebaiknya kamu pergi. Aku tidak mau bersama dengan orang sepertimu.”
"Maafkan yaa Azura. Mungkin sudah terlambat, tapi sebenarnya aku menyukaimu,”ujar Steve.
"Kamu suka sama aku?"
"Tapi aku telat yaa... seandainya aku lebih cepat melamarmu tentu keadaan berbeda," ujar Steve dengan tak bersemangat.
"Jadi maksudmu melakukan itu semua karena kamu menyukaiku?”
"Awalnya aku memang sempat mengira kamu tertarik sama aku, tapi ternyata dugaan aku salah. Kamu malah udah nikah duluan sama si penolong jadilah cintaku bertepuk sebelah tangan."
Mendengar perkataan Steve, dia merasa ada yang aneh. Apa maksudnya dia menikah dengan penolongnya?
"Tapi yang kamu lakukan itu salah.”
"Yaa sudahlah mungkin kita belum jodoh, tapi bila kamu ga bahagia dengan pernikahanmu, aku akan selalu ada untukmu, Azura."
"Terima kasih.”
Di saat bersamaan Reno yang baru tiba di restoran memperhatikan interaksi Azura dan Steve dengan pandangan tak suka. Dia mengenal siapa Steve Mulya, anak pengusaha Fredy Mulya pesaing bisnis LG company. Reno khawatir Steve ada maksud yang lain dengan Azura.
"Eheeem." Reno berdehem tepat di depan Azura dan Steve.
"Eeh, Reno, kamu sudah bangun," ujar Azura dengan santai.
"Iya sayang... kamu kok ninggalin aku sih," rengek Reno dengan wajah cemberut.
Azura kaget Reno memanggil dia dengan panggilan sayang.
"Abis kamu tidurnya nyenyak banget aku jadi ga tega membangunkanmu."
"Eeh, ada Steve Mulya disini, apa kabarmu Steve? bagaimana kabar pak Fredy dan ternyata kamu mengenal istriku," ujar Leon dengan berpura-pura ramah walau dalam hatinya dia sangat jengkel.
"Kabar Saya dan papa saya baik pak Reno," jawab Steve dengan sopan.
"Kalian saling mengenal?" tanya Alessia.
"Iya sayang, aku mengenal Steve dan pak Fredy, mereka salah satu relasi bisnis papa."
"Ternyata dunia ini sempit yaa... aku dan Steve teman satu kampus"
"Ooh… kamu makan apa sayang?" tanya Reno masih berpura-pura mesra pada Azura.
Alessia menghela napasnya, sekarang ada Steve mereka harus memainkan drama yang memuakkan ini.
"Kalau begitu saya permisi dulu yaa Azu dan Pak Reno.. Sampai bertemu lagi Azu jika kamu membutuhkan aku, aku akan bersedia melakukan apapun untukmu. Kamu wanita terindah yang pernah ku temui," ujar Steve sambil mengecup punggung tangan Azura.
Reno menjadi sangat marah, dia tak suka punggung tangan Azura dicium lelaki lain.
"Bugh..."
Reno memukul wajah Steve. Steve tersenyum memegang pipinya. Membuat Azura berteriak dia sangat kaget dengan apa yang terjadi dan menghampiri Steve.
"Steve kamu baik baik aja?" tanya Azura dengan khawatir sambil memegang wajah Steve.
Reno semakin tak suka dengan apa yang terjadi dia menarik lengan Azura dengan kasar.
"Jangan pernah kamu sentuh istriku lagi! Aku akan melakukan yang lebih parah dari ini kalau kamu berani menyentuh Azura," ujar Reno mengancam Steve.
Steve hanya terdiam, memang apa yang dia lakukan tak pantas. Dia menyukai Azura tapi sekarang sudah jadi milik orang lain bukan dia. Steve hanya melihat kepergian Alessia dengan sedih.
Azura dan Reno sudah berada di dalam kamar hotel. Reno menyeret Azura ke kamar mandi, dia mengambil sabun dan mencuci tangan istrinya dengan kasar membuat Azura meringis kesakitan. Azura sangat ketakutan, dia tak menyangka Reno bisa semarah itu dan sekarang memperlakukan dia dengan kasar.
"Reno lepas! lepasin aku, tangan aku sakit," teriak Azura.
"Kamu memang perempuan murahan!" bentak Reno dengan emosi.
Reno menarik tubuh Azura, menghempaskannya diatas ranjang. Reno naik ke atas tubuh Azura mendekatkan bibirnya dan mencium bibirnya dengan kasar.
Reno melumat bibir Azura dengan sangat kasar, merobek pakaian Azura terlihat jelas kedua gunung kembar yang putih mulus tanpa noda sedikitpun, Reno melihat itu semua dengan bernapsu. Azura sambil menangis menyilangkan tangannya di atas dadanya, dia berusaha melindungi dirinya sendiri.
Tapi apa lah daya, tenaganya sebagai seorang wanita kalah dengan tenaga seorang pria yang sedang dikuasi amarahnya. Reno memegang salah satu gunung kembar Azura dan meremasnya dengan kasar membuatnya meringis kesakitan, tapi juga merasa nikmat. Azura sempat terbuai dengan apa yang dilakukan oleh Reno padanya, tapi tiba-tiba dia teringat pada kejadian malam itu membuatnya menangis histeris.
“Tolong… lepasin aku. Aku mohon, tolong.” Azura berteriak dengan sangat keras dan ketakutan.
Wajah Azura memucat, napasnya terasa mencekik lehernya. Deru napasnya berpacu dengan cepat, dia sangat ketakutan.
“To–tolong. Jangan menyentuhku, aku mohon.” Azura semakin sulit untuk bernapas.
Teriakan Azura membuat Reno seakan tersadar dengan apa yang telah dilakukannya, apalagi sekarang wajah Azura pucat pasih seperti orang yang akan diperkosa.
*****
Cerita Sorry I Love You juga ada di G.o.o.d.N.o.v.e.l kalau penasaran ingin membacanya lebih cepat bisa di sana yaa. Terima kasih.