Hidup di dunia bagaikan suatu ujian dalam hidup. Ada berbagai cerita yang berharga untuk kita syukuri dan ada cerita sedih sebagai pelajaran dalam kehidupan agar tidak terulang lagi di masa depan.
Azura terbangun dengan kondisi badannya tidak seperti dulu. Kepalanya pusing, merasakan sakitnya di sekujur tubuhnya terasa remuk redam. Dia bingung dengan keadaan disekitarnya, kamar ini bukan kamarnya.
"Aku di mana?" ujar Azura bingung.
"Kenapa aku ga pakai baju?"
Berbagai pertanyaan ada di dalam benak Azura. Dia berusaha mengingat apa yang terjadi kemarin malam sehingga bisa berakhir di sebuah ranjang.
"Apa yang telah aku lakukan," teriaknya dengan ketakutan.
Dia sendirian, ketakutan dengan yang telah dialaminya. Dia tidak dapat berpikiran jernih ingin rasanya mengakhiri hidupnya, tapi dia sendiri takut.
"Yaa Tuhan. Aku sangat berdosa." Air mata jatuh dipipinya.
Azura hanya bisa menangisi kebodohannya padahal Joy sudah mengingatkannya untuk tidak ikut ke club malam dan menerima minuman dari orang asing, tapi yang telah dia lakukan sekarang. Malah terjebak dalam kebodohannya sendiri.
Saat dirinya teringat tangan kekar seorang pria menyentuh tubuhnya semakin membuatnya yakin tangan pria yang sama. Pria yang telah melakukan pelecehan seksual pada dirinya di malam pulang dari menonton konser. Dia memegang bagian intinya terasa nyeri dan ada sedikit bercak darah juga sisa-sisa a******i dari pria yang sudah merenggut keperawannya.
Air mata terus mengalir dari manik-manik mata indahnya. Sekarang dia hanya bisa menyesal dan mengutuk kebodohannya yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Semua adalah kesalahannya, semua adalah ketidak mampuannya menjaga keperawanannya untuk suaminya kelak. Entah apa yang harus dihadapinya jika Ricardo mengetahui semua kejadian ini. Dia yakin hati kakeknya pasti hancur dengan ketidakberdayaannya.
Suara ponsel berdering membuat Azura mencari ke mana sumber suaranya. Dengan langkah tertatih-tatih dia mengambil tasnya yang tertata rapi di meja depan ranjang. Nama Joy tertera di layar ponsel.
"Hallo," ujar Azura dengan suara menahan tangis.
"Kamu di mana Azu? Kenapa kamu pergi dari club dan meninggalkan mobilmu?" tanya Joy dengan mengkhawatirkan Azura.
"Tolong aku, Joy. Tolong aku."
"Azura... kamu kenapa? Kamu di mana sekarang? Aku akan ke tempatmu."
"Aku ga tahu berada di mana. Sepertinya aku di hotel."
"Apa nama hotelnya? Aku akan ke sana dengan mobilmu."
Azura mencari kertas yang biasanya ada nama hotel di kop pesan.
"Aku di hotel Grand Diamond Center."
"Tunggu aku. Aku akan ke sana."
"Iya Joy."
Setelah memutuskan komunikasi dengan Joy. Azura melihat ponselnya banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan di ponselnya, ada dari Ricardo, Gisel, Joy, dan Wendy. Semua bertanya dan mengkhawatirkan dirinya. Tangis Azura semakin meledak, dia menangis, menjerit, menjambak rambutnya sendiri bagaikan orang yang tidak memiliki akal sehat. Hatinya begitu sakit dan terluka. Bahkan pria yang menidurinya juga tidak ada di sana.
Dengan langkah tertatih-tatih Azura menuju kamar mandi. Menghidupkan air pancuran yang keluar dari semburan shower, sambil terduduk dia menangis di bawah kucuran air yang mengalir dengan deras. Suara tangisnya tertutupi oleh derasan air yang menetes menyentuh badannya.
Setelah 30 menit Azura berada di bawah pancuran. Dia pun keluar kamar mandi saat itu bertepatan dengan suara bell kamar hotel. Dengan menggunakan kimono hotel dia membukakan pintu dan langsung memeluk Joy. Joy kebingungan, apa yang telah terjadi pada Azura sampai sahabatnya itu menangis dalam pelukkannya.
"Azu katakan apa yang telah terjadi padamu. Kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Joy saat dilihatnya wajah Azura yang tampak pucat pasih.
"Aku kehilangan keperawananku, Joy."
"Apa! Bagaimana bisa? Azu ceritakan padaku apa yang telah terjadi."
Joy menunggu Azura menceritakan apa yang terjadi padanya sahabatnya. Bukannya Azura menceritakan ada kejadian apa malah menangis terus menerus tanpa henti, sampai-sampai Joy mengambilkan segelas air putih untuk Azura.
Setelah Azura tenang Joy pun bertanya kembali. "Siapa yang melakukan ini ke kamu, Zu?"
Azura menggelengkan kepalanya secara perlahan. Tentu saja itu membuat Joy terkejut, dia yakin Azura menjadi korban dari pemerkosaan.
"Kita lapor polisi," ujar Joy.
"Jangan Joy. Kalau Kakek tahu apa yang sudah aku alami takut serangan jantungnya kambuh lagi."
"Lalu harus bagaimana Azura? Jika tidak lapor polisi kita tidak pernah tahu siapa pelakunya."
"Aku yakin Roy dan Steve sudah bekerjasama untuk menjebakku dan memberikan aku obat perangsang."
Tangan Joy mengepal. Dia memang sudah curiga pada Steve dan tidak menyangka kalau Roy malah menjadi bagian dari kehancuran hidup Azura. Dia akan menantang Steve dan meminta pertanggung jawabannya.
"Ceritakan padaku semua yang telah terjadi."
Azura menceritakan semua yang dia alami tanpa ada satupun dia kurangi. Semuanya pada adanya sampai Joy ikut merasakan kesedihan yang telah dialami Azura.
"Azu. Kehilangan keperawanan bukan segalanya. Kamu masih muda, kaya, berpendidikan, dan sangat cantik pasti ada pria yang mau menerimamu apa adanya. Aku yakin itu," ucap Joy memberikan semangat pada Azura.
"Benarkah Joy? Aku berarti bukan seperti w************n yang menjajakan tubuhnya pada p****************g?" tanya Azura malu sendiri pada keadaannya.
"Bukan Azura. Kamu bukanlah wanita seperti itu. Kamu mengalami pemerkosaan, kamu dijebak."
"Aku takut Joy."
"Apa kamu bisa mengingat wajah pria itu?"
"Aku tidak dapat mengingatnya Joy. Aku sudah berusaha mengingatnya, tapi hanya suaranya saja yang terekam jelas di dalam pikiranku."
"Cctv. Ayo kita cek cctv hotel dan atas nama siapa reservasi kamar hotel ini. Ini kamar suite yang jelas mahal dan aku yakin kita bisa mengetahui siapa pria itu."
"Jangan Joy. Kalau aku melakukannya nanti akan menjadi masalah untukku sendiri. Aku takut Joy."
Air mata Azura lagi-lagi mengalir dengan derasnya dalam pelukkan Joy. Hanya air mata yang mampu dia lakukan sekarang. Hidupnya terasa sudah hancur.
"Ooh Zu. Kemarin aku mengatakan pada Kakekmu kalau kamu menginap di rumahku. Jadi jangan khawatir kejadian ini tidak akan diketahui oleh siapapun. Hanya kita berdua yang tahu."
"Terima kasih Joy."
"Kalau memang kamu tidak ingin mengetahui siapa pria itu sebaiknya kita pergi secepat mungkin dari sini. Siapa tahu pria itu kembali lagi."
"Iya Joy."
Dengan secepat mungkin Azura mengenakan pakaiannya dan membereskan semua yang terjadi di dalam kamar hotel. Dia harus segera pergi dari hotel Grand Diamond Center agar tidak ada siapapun yang tahu apa terjadi.
*********
Dugaan Joy memang benar. Pria misterius yang mengenakan stelan jas berwarna navy kembali lagi ke dalam kamar hotel mencari Azura. Dia membuka pintu kamar mandi, tapi tidak menemukan Azura.
"Kemana Azura? Aku hanya meninggalkannya sebentar untuk rapat malah dia pergi sekarang," ujarnya menyesal.
Dia sangat menyesal tidak sempat memperkenalkan dirinya pada Azura. Dia ingin Azura mengingatkan dan akan menjadikan Azura sebagai kekasihnya. Dari dulu dia sudah jatuh hati pada wanita cantik itu. Saat melihat ranjang hotel dia teringat kejadian tadi pagi.
Dia terbangun di atas ranjang. Dia menatap Azura yang tertidur begitu nyenyak dalam dekapannya. Dia merasa sangat menyesal sudah merenggut keperawanan Azura. Dia yakin setelah Azura bangun nanti pagi akan merasa sangat menyesal dengan apa yang telah terjadi. Bukannya dia ingin lepas dari tanggung jawab dan akan pergi begitu saja, tapi dia ada rapat penting yang harus dia lakukan dan tidak bisa dia tinggalkan begitu saja.
Suara ponsel mengagetkannya. Dia mengambil ponsel yang ada di saku jasnya tertera nama Papa di layar ponsel.
"Kamu segera ke London sekarang juga. Cabang perusahaan sedang dalam masalah."
"Tapi Pa, aku masih ada urusan yang belum aku selesaikan di sini. Bisakah ditunda besok."
"Memangnya urusan apa? Nanti saja diurus setelah kamu kembali dari London. Urusan perusahaan itu jauh lebih penting, menyangkut kehidupan banyak karyawan yang ekonominya bergantung pada kamu."
Dengan menghela napas berat dia akhirnya menuruti keinginan Papanya. "Baik Pa."
Setelah menutup ponselnya. Dia hanya bisa berkata dengan tidak semangat, "aku akan segera kembali Azura. Tunggulah aku."