Perjodohan

1456 Words
Penyesalan selalu datang terlambat dan baru akan menyadari jika semuanya telah terjadi. Seandainya kemarin dia mendengarkan kata-kata Joy tentu kejadian yang menghancurkan masa depannya tidak akan terjadi. Joy tidak mengantarkan Azura pulang ke rumahnya. Tidak mungkin Azura pulang dalam keadaan yang memprihatinkan. Wajah Azura pucat dan tampak tertekan tidak ada lagi raut kebahagiaan terpancar wajah cantik sahabatnya yang selalu ceria. "Kamu makan dulu, Zu," ujar Joy menyuapkan sesendok nasi pada Azura. Azura tanpa semangat memakan secara perlahan suapan dari Joy. Dia sebenarnya tidak lapar, tapi sahabatnya itu selalu mendukungnya membuatnya tidak enak sendiri. "Maafkan aku, Azura ini semua salahku. Seandainya aku lebih keras menyuruhmu tidak ikut ke club malam dan mengawasimu semua ini tidak akan pernah terjadi," ujar Joy dengan menyesal. Air mata terjatuh lagi di pipi Azura. "Bukan Joy. Ini memang kesalahanku. Aku yang seharusnya meminta maaf ke kamu." "Kamu hubungi kakekmu dulu biar tidak khawatir." "Iya Joy." Azura menghubungi Ricardo. Dia mengatakan kalau akan tidur di rumah Joy selama 3 hari, tapi sayangnya Ricardo tidak mengijinkannya malah menyuruh Joy yang tidur di rumah mereka. Walau Azura ingin menolaknya, tapi dia tidak ingin membuat Ricardo kecewa akhirnya Joy dan Azura datang ke rumah kakeknya. Betapa terkejutnya Ricardo dengan penampilan Azura yang tampak pucat. Dia ingin segera menghubungi dokter, tapi Azura melarangnya. "Aku hanya kelelahan Kakek, di kampus banyak sekali tugas-tugas yang menumpuk," ujar Azura dengan berbohong. "Tapi kakek tetap akan memanggil dokter." "Besok aku pasti sudah sehat kakek." Berkali-kali Azura menolak, berkali-kali juga Ricardo tetap ingin memanggil dokter. Akhirnya Azura mengalah, Ricardo membawa seorang dokter bersama Bella Geraldo datang ke rumahnya. Bella tampak sedih saat Azura terbaring lemah di atas ranjang. Membuat Azura merasa bingung, tapi dia tetap berpikiran positif mungkin saja Bella khawatir padanya karena dia anak dari sahabat Bella. Mata Joy berbinar-binar saat seorang dokter muda yang tampan memeriksa keadaan Azura. Joy jadi curiga mungkinkah dokter tampan ini yang akan dijodohkan dengan Azura? "Ren, bagaimana keadaan Azura?" tanya Bella pada putranya saat mereka sudah keluar dari kamar Azura. "Hanya kelelahan dan sepertinya mengalami shock. Mungkin Azura memiliki masalah yang tidak diketahui Pak Ricardo?" "Menurut Joy temannya Azura bergadang selama 2 hari menyelesaikan tugas kuliah," ujar Ricardo. Reno hanya diam. Dia merasa ada yang berbeda dengan keadaan Azura jika hanya tentang masalah tugas kampus tidak mungkin gadis itu seperti orang yang mengalami tekanan dan memiliki suatu masalah yang berat. Tapi dia memilih tidak mengatakannya mungkin saja efek setiap orang berbeda-beda dalam mengatasi masalahnya. Sudah 3 hari keadaan Azura semakin membaik. Joy selalu menemani Azura bersama dengan Wendy yang juga ikut dengan mereka. Wendy tidak mengetahui permasalahan Azura hanya bisa mensupport saja. Secara perlahan Azura bisa menerima kejadian yang dialaminya dan mencoba berdamai dengan kesalahan yang dilakukannya. Mungkin ini memang sudah takdir Azura harus melewati perjalanan hidup yang membuatnya harus bangkit dan tetap tegar dalam menghadapi semua cobaan hidup. ******* 7 hari kemudian telah berlalu, keadaan Azura sudah semakin membaik dan dia sudah beraktivitas seperti biasanya. Ricardo mengajak Azura untuk bertemu dengan keluarga Geraldo. Ricardo mengatakan pada Azura kalau Bella selalu mengkhawatirkan Azura dan sebagai balas budi mereka datang kejamuan makan malam yang diadakan keluarga Geraldo. Azura sekarang sudah berada di dalam mobil bersama kakeknya, mereka akan segera berangkat ke restoran. "Azu, kakek tau kamu terpaksa mau datang kesini tapi tolong hargai Luis dan Bella. Tolong jangan buat kakek malu," ujar Ricardo menatap cucu nya dengan lembut. "Iya Kakek aku mengerti. Tante Bella juga sudah sangat mengkhawatirkan aku," ucap Azura. "Kamu memang cucu kakek yang paling penurut dan baik." Azura memeluk Ricardo. Dia sekarang sudah berbeda, dia hanya ingin membuat Kakeknya bahagia. Ricardo menatap Azura. Di usianya yang sudah tua dan mempunyai sakit jantung dia ingin memastikan Azura memiliki seorang pendamping yang akan menjaga dan melindungi cucunya jika dia dipanggil oleh Tuhan. Tak lama kemudian mereka tiba di salah satu restoran keluarga. Azura dan Ricardo masuk ke dalam restoran yang di sana sudah ada Luis, Bella, dan Reno. Azura mengenal Reno karena dokter itu yang memeriksa keadaannya. "Wah, Azura sekarang sudah sehat dan menjadi semakin cantik," puji Bella melihat penampilan Azura. "Terim kasih Tante." "Reno, kamu sudah mengenal Azura, 'kan?" tanya Luis pada dokter Reno. "Iya Pa," jawab Reno dingin sambil menatap Azura dengan tidak suka. Azura mengernyitkan dahinya. Kenapa dokter itu menatapnya dengan tidak suka? Apa dokter Reno mengetahui alasan dia sakit dulu. Sebelum makan malam, Bella mengatakan kalau Azura akan dijodohkan dengan putrnya, Reno. Tentu saja hal tersebut membuat Azura terkejut, dia tidak menyangka kalau dokter Reno lah yang dijodohkan dengannya. Azura hanya bisa diam sambil sesekali dia melirik ke arah Reno. Memperhatikan setiap detail pria yang akan dijodohkan dengannya. Dokter tampan itu memiliki alis tebal, garis rahang yang sempurna, dan mata berwarna abu-abu walau dibingkai dengan kacamata. Dia merasa heran sendiri kenapa pria yang nyaris sempurna dengan pekerjaan sebagai dokter mau saja dijodohkan dengannya. Pria seperti Reno pasti bisa dengan mudah mendapatkan gadis yang diinginkannya. Pasti ada suatu alasan yang tidak dia ketahui dibalik perjodohan ini. Reno tahu kalau Azura mengamatinya dan tak mempermasalahkan itu. "Ooh iya Azura, ini si Reno seorang dokter loh di salah satu rumah sakit swasta milik kami," ujar Bella dengan semangat menjelaskan tentang perkerjaan Reno. "Tapi itu hanya sementara Leon akan memimpin GL company dan melanjutkan kepemimpinanku," ujar Luis. "Sayang jangan begitu biarkan Reno memilih meneruskan menjadi dokter atau menjadi CEO di GL company. Ingat anak kita bukan cuma Reno tapi ada Richie, adik kembarnya Reno." "Walau ada Richie kembaran Reno tapi anak terkadang Richie masih suka seenaknya sendiri. Belum bisa bertanggung jawab, Seperti sekarang entah kemana dia pergi. Seharusnya Richie berada di London malah sekarang entah pergi bersenang-senang ke negara mana lagi." "Sayang setiap anak memiliki kekurangan dan kelebihan." "Iya aku tahu semua itu Bella. Walau rumah sakit memang milik keluarga kita, aku lebih suka Reno meneruskan perusahaan dari pada Richie." "Sayang nanti saja yaa kita bahas, kasian Azura belum mengerti tentang semua ini." "Maafkan om yaa Azura. Reno dan Richie anak kembar, tapi memiliki sifat yang sangat berbeda. Reno dulu meneruskan kuliahnya menjadi seorang dokter walau aku menentangnya tapi anak itu sangat keras kepala. Akhirnya aku mengalah dan aku masih menginginkan Reno menjadi penerus perusahaanku," ujar Luis memberikan pengertian pada Azura. "Iya Om," ujar Azura sambil tersenyum. "Pak Ricardo sepertinya kita harus meninggalkan Azura dan Reno berdua aja deh. Biar mereka bisa saling berbincang bincang dan saling mengenal," ujar Bella. "Benar itu Pak Ricardo. Seperti mereka kita tinggalkan dulu," ujar Luis dan mendapatkan anggukan dari Ricardo. "Azura tante tinggal dulu kalian berdua yaa supaya saling mengenal." Mereka pun meninggalkan Azura dan Reno berdua. Sepeninggalan mereka suasana antara Azura dan Reno bukannya makin membaik tapi malah makin hening. Azura kesal dengan situasi ini, dia memilih untuk membuka pembicaraan mereka duluan. "Aku suka makan disini, ini salah satu restoran favoritku." Azura memulai pembicaraan mereka. "Namaku Azura Marion Javier dan namamu itu Reno Geraldo, 'kan?" tanya Azura. Reno masih saja diam seribu bahasa tak menjawab pertanyaan Azura. "Sepertinya kamu lagi sariawan ya jadinya memilih untuk diam begitu." Azura mencoba menebak sifat pria ini sepertinya sangat bertolak belakang dengan sifatnya yang cerewet dan tak bisa diam. "Aku bukan sariawan, tapi lagi malas berbicara," ujar Reno akhirnya bersuara. "Yaa sudah diam lah kalau begitu ga usah ngomong." Reno menatap Azura dengan tidak suka. Kenapa dia harus dijodohkan dengan wanita seperti Azura yang terlalu banyak bicara membuat ketenangan Reno selama ini menjadi terusik. "Aku mau bicara sama kamu. Aku ga mau dijodohkan sama kamu," kata Azura dengan santai. "Serius kamu ga mau dijodohin sama aku?" tanya Reno yang tiba-tiba menjadi semangat. "Apa masih kurang jelas perkataan aku. Iya, aku ga mau dijodohin sama kamu." "Yaa udah kalo kamu ga mau." Reno berkata dengan santai. "Baguslah," ujar Azura dengan santai juga. "Tuh ada kakek mu, bilang aja kalau ga mau dijodohin." "Seandainya aku bisa bilang ga mungkin aku ada disini." "Kenapa sih kamu mau dijodohin sama aku?" "Karena aku butuh kamu." "Butuh gimana maksud mu?" "Aku minta nomor ponsel mu, besok kita ketemu lagi. Ada yang harus aku omongin ke kamu." Azura memberikan nomor ponselnya dan mereka janjian untuk bertemu lagi membahas tentang perjodohan mereka berdua. "Aku minta tolong sama kamu untuk mengikuti perkataan mama aku sekarang ini yaa, aku ga mau mama aku sedih." Reno berkata dengan pelan. "Memangnya aku harus bagaimana?" "Pokoknya ikutin aja dulu alur drama ini besok aku jelasin ke kamu." "Baiklah kalau begitu." Ricardo, Bella, dan Luis sudah kembali duduk dimeja bersama Azura dan Reno. Azura dan Reno bersikap biasa demi melihat orang orang yang mereka sayang bahagia. "Azura hari ini merupakan hari yang paling baik. Kamu sudah sehat dan sekarang tante ingin mengatakan kalau kamu dan Reno akan langsung bertunangan." Bella menatap Azura dengan bahagia. "Apa bertunangan???" Azura sangat terkejut mendengar perkataan Bella. Dia baru saja bertemu dengan Reno dan sekarang mereka akan langsung bertunangan. ********
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD