Terpaksa Tunangan

1044 Words
Azura sangat terkejut kalau hari ini dia akan langsung bertunangan dengan Reno. Dia berpikir ini terlalu cepat, tingkah laku Reno saja begitu menyebalkan. Kalau tidak ingat ada Kakeknya dan orang tua Reno yang sangat baik padanya ingin dia hajar laki-laki dingin tersebut. "Apa bertunangan!" Azura menatap Ricardo. Ricardo terkejut dengan reaksi Azura begitu juga dengan Bella.Raut wajah Bella berubah, dia sedih dengan reaksi Azura hal tersebut membuatnya menjadi tidak enak sendiri. "Apa tante yakin hari ini langsung bertunangan? Kan saya dengan Reno baru bertemu sekali tante dan kami belum saling mengenal lebih lanjut tante," protes Azura. Dia keberatan dengan pertunangan yang mendadak. "Bu Bella maafkan saya, ini kesalahan saya yang tidak memberitahukan Azura kalau hari ini mereka akan langsung bertunangan. Ini kesalahan saya, saya mohon maaf," ujar Ricardo tidak enak pada Bella. "Ma jangan seperti itu wajar dong ma kalau Azura belum setuju, 'kan mereka baru pertama kali bertemu dan belum saling mengenal." Luis berusaha membujuk Bella. "Azu, kamu setuju 'kan kalau hari ini kamu mau kan langsung bertunangan dengan Reno?" Ricardo menatap Azura dengan tajam. Azura kebingungan. Ingin sekali dia menangis dan membantah semua rencana pertunangannya dengan Reno. Saat merasa kaki kirinya ada yang menyenggol dia melirik ke arah Reno. Reno mengedipkan matanya membuat Azura jadi mengerti pasti ada sesuatu yang sedang direncanakan Reno. "Azura, kamu setuju 'kan, Nak?" tanya Ricardo lagi. Azura menghela napas. "Iya Kek." Wajah Azura menjadi tidak bersemangat, dia bingung harus melakukan apa lagi sekarang. Setelah mendengar perkataan Azura yang mengatakan -IYA- membuat Reno mengerti kalau gadis memang tidak menginginkan mereka bertunangan. Hal tersebut membuat Reno menyunggingkan senyuman di bibirnya. Azura juga merupakan gadis yang penurut apalagi pada Ricardo. Sepertinya rencanaku akan lebih mudah. Azura memang tidak menginginkan pernikahan ini terjadi. Reno dan Azura saling memakaikan cincin di jari manis mereka masing-masing. Raut wajah orang tua Reno terlihat bahagia begitu juga dengan Ricardo, tapi berbeda dengan Reno. Wajah pria yang seorang dokter bedah itu terlihat biasa saja, datar tanpa ekspresi. Tidak terlihat raut wajah menunjukan dia bahagia ataupun tidak bahagia begitu juga dengan Azura. Dia hanya berpura-pura bahagia walau dalam hatinya menangis. Reno bukannya tidak menyadari hal tersebut. Dia tahu Azura terpaksa menerima semua yang telah diatur kedua orang tua dan kakeknya. Setelah berbincang-bincang antara kedua keluarga Azura dan Ricardo kembali ke rumah mereka. Tidak ada kata yang terucap hanya saling berdiam diri di dalam rumah. "Azu, kakek ingin bicara," ujar Ricardo dengan lembut pada cucunya. "Aku lelah Kek. Besok pagi saja ya," ucap Azura mencari alasan. "Yaa sudah. Kamu istirahat saja dulu besok pagi kita bicara yaa Nak." "Iya Kek." Dengan langkah kaki tidak bersemangat Azura menaiki satu persatu tangga menuju lantai dua. Masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya. Semenjak kejadian pelecehan seksual yang dialaminya dulu dia jadi waspada sendiri. "Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa menolak perjodohan ini," ucapnya dengan sedih. Azura menghubungi Joy, tapi dia urungkan. Dia yakin Joy sedang bekerja di club malam sehingga tidak akan bisa menerima telepon darinya. Tapi dugaan Azura salah, malah Joy sekarang yang menghubunginya. "Hallo Joy," ujar Azura saat mengangkat telepon dari Joy. "Azu, tolong aku," ucap Joy dengan panik. "Ada apa Joy? Kamu di mana?" "Aku lagi di rumah. Aku takut Azu." "Kenapa? Ada apa?" "Para rentenir itu datang lagi ke rumah. Aku belum bisa membayar hutang ayahku." "Aku akan ke rumahmu sekarang." "Jangan datang sendirian Azu. Bisakah meminta bantuan orang lain." "Ok." Azura mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia bingung harus menghubungi siapa, tiba-tiba terlintas nama Reno. Dia pun segera menghubungi Reno untuk meminta bantuan lelaki yang sudah menjadi tunangannya. "Ada apa menelponku?" tanya Reno dingin. "Ren, aku perlu bantuanmu. Tolong bantu aku." "Aku sibuk! Besok siang saja kita ketemu." "Tolong aku... ini menyangkut nyawa orang lain." "Kamu benar-benar merepotkan. Urus saja urusanmu sendiri jangan ganggu aku." Reno memutuskan komunikasinya dengan Azura. Dia tidak memperdulikan apa yang akan terjadi pada tunangannya. Buat apa menolong orang yang tidak berarti untuk dirinya sendiri, masih banyak hal yang jauh lebih penting daripada Azura. Mata Azura menatap ponselnya dengan nanar. Reno benar-benar tunangan sialan! Walau mereka tidak saling menyukai setidaknya Reno mendengarkan dulu penjelasannya bukannya main memutuskan komunikasi begitu saja. Walau takut tapi demi sahabatnya, Joy, dia pergi diam-diam keluar rumah. Azura sangat mengkhawatirkan keadaan Joy. Dengan secepat mungkin dia melajukan mobilnya menuju rumah sahabatnya tersebut. Benar yang dikatakan Joy kalau ada 2 orang pria berbadan besar, memakai jaket kulit berwarna hitam sedang berdiri di depan rumah Joy dan 2 orang lagi berada di dalam rumah Joy. Sayup-sayup Azura mendengar suara teriakan Joy. "Aku tidak tahu Ayahku di mana! Kalian cari saja dia sendiri. Itu hutangnya bukan hutangku," ujar Joy dengan emosi. Lagi-lagi Ayah Joy berhutang dan meninggalkan seluruh tanggung jawab hutang pada anaknya. Azura sangat kesal pada Ayah Joy yang suka berjudi. Dengan menguatkan tekatnya dia menuju rumah Joy tidak memperdulikan ada para pria berbadan tegap di sana. Langkah Azura tertahan 2 orang pria yang ada di depan rumah Joy menghentikannya malah menggoda dirinya. Tanpa mengenal takut Azura berani menghadapi mereka. "Apa yang kalian lakukan! Yang berhutang Ayahnya kenapa anaknya harus menanggungnya," ucap Azura dengan emosi. Joy mendengar suara Azura. Dia langsung keluar mendekati Azura. "Azu, kenapa kamu ke sini? Lepaskan dia, dia tidak ada hubungannya dengan masalahku." Para rentenir itu hanya menanggapi dengan tertawa dan mengejek Joy dan Azura. Saat salah satu rentenir akan menyentuh wajah Azura tiba-tiba sebuah tangan memukul rentenir tersebut. Membuat mereka terkejut tidak menyangka ada seorang pria berpakaian serba hitam dengan topi juga berwarna hitam menghajar satu persatu-satu rentenir yang ada di sana sampai mereka pun pergi dari rumah Joy. Azura dan Joy menatap pria tersebut tidak percaya. Dari ujung kaki sampai ujung kepala semuanya serba hitam mungkin hanya giginya saja yang berwarna putih saat pria itu tersenyum. "Ka-kamu siapa?" tanya Azura dengan takut-takut. "Kalian tidak perlu tahu aku siapa," ucapnya lalu pergi begitu saja. Kepergian pria tersebut membuat Azura dan Joy kebingungan. Berbagai macam pertanyaan ada di benak mereka, siapa dia? Kenapa menolongnya mereka? Pria berpakaian hitam tersebut masuk ke dalam mobilnya mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. "Nona Azura terlibat masalah, Tuan. Tapi saya akan membereskan semuanya tanpa Nona Azura mengetahui kalau anda melindunginya." Pria misterius yang berada di ujung sebrang telepon tersenyum. Tidak percuma dia menyuruh Aldo untuk selalu melindungi Azura walau hatinya sendiri sangat sakit saat tahu Azura sudah bertunangan dengan Reno Geraldo. ************
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD