Laki-laki berlidah tajam

1130 Words
Keesokan harinya Azura janjian bertemu dengan Reno. Dia sangat kesal pada tunangan sialannya itu, jika bukan karena kakeknya tidak akan mungkin dia mau dengan Reno. Laki-laki sama sekali tidak memperdulikannya. Azura masuk ke dalam salah satu kafe yang tampak lenggang. Jam makan siang sudah lewat jadi kafe tersebut tidak seramai biasanya. Reno melambaikan tangannya ke arah Azura. "Hai Azura," sapa Reno. “Tidak usah basa-basi sekarang apa maumu!” ujar Azura dengan raut wajah kesal. "Waah ternyata kamu ga sabar-an ya, udah to the point. Santai dulu lah sejenak, pesan minum gitu." "Iya aku memang ga sabar-an, ga mau pesan-pesan apapun jadi cepetan kamu mau bilang tentang maksud dan tujuanmu!!" "Baiklah kalau kamu ingin aku langsung untuk berbicara maksud dan tujuanku. Jadi begini Azura, aku mau kamu menikah kontrak dengan aku," ujar Reno dengan wajah serius. "Apa! Menikah kontrak sama kamu? Kamu masih waras ‘kan?" "Aku waras lah... karena aku masih waras makanya aku mau bilang ke kamu tentang rencana aku. Aku ini juga seorang dokter tentu harus waras jika berada di ruang operasi. Kamu kalau berbicara yang bener dong." "Yaa ampun sensi amat sih, salahmu sendiri berkata yang ga masuk akal. Menikah kontrak? Ga bangeet deh lebih baik tidak usah menikah saja.” "Kamu seharusnya memikirkan dulu tentang perkataan ku bukan langsung berkata tidak usah menikah." "Males akh, aku mau pulang dan apa yang kamu bilang ini akan aku sampaikan ke kakek aku," ancam Azura. "Azura… Azura… kamu pikir kalau kamu dalam posisi menguntungkan? Kamu salah nona manja. Kita ini saling membutuhkan, aku butuh kamu dan kamu butuh aku." "Salah! Aku ga butuh kamu, tapi kamu yang butuh aku," sahut Azura dengan sengit. "Susah yaa bicara sama kamu yang memiliki diameter otak kecil,” ujar Reno sambil menunjukan bulatan di jarinya ke arah Azura. Azura sudah habis kesabaran menghadapi pria bermulut pedas ini. Ingin sekali dia memotong lidah dokter tampan berkacamata tersebut. “Kamu yaa memang bermulut kejam!” “Hahaha, inilah susahnya berbicara dengan nona manja yang bisanya menghabiskan uang keluarga bukannya mandiri,” ejek Reno. “Daripada aku harus mendengarkan lidahmu yang berbisa itu lebih baik aku pergi saja dari sini. Pernikahan kita tidak akan pernah terjadi.” “Apa kamu tahu kalau perusahaan Pak Ricardo akan mengalami kebangkrutan?” “Apa maksudmu?” “Apa kamu pikir pernikahan yang diatur oleh orang tua ku dan kakek mu ini semudah yang terlihat? Tanpa ada maksud tertentu? Aku bingung kamu ini naif atau bodoh yaa.” "Apapun bentuk pernikahannya aku ga mau menikah dengan kamu!" "Azura, pernikahan kita hanya pernikahan bisnis yang saling menguntungkan antara kamu dan aku, perusahaan Jcorp sedang dalam krisis ekonomi dan pernikahan kita hanya sebagai kerjasama membantu Jcorp yang diambang kebangkrutan dan kamu akan jatuh miskin jika kita tidak menikah," ujar Reno dengan serius. Azura mengurungkan niatnya untuk pulang setelah mendengar perkataan Reno. Apakah semua ini benar? Jika benar dia hanya akan jadi barang pertukaran saja, apa kakeknya tidak memikirkan perasaannya? "Gimana? Masih kamu nolak aku," kata Reno lagi. "Aku bingung... oke lah kamu bilang pernikahan kita karena bisnis dan saling menguntungkan. Maksudnya keuntungan apa yang kamu dapatkan dari aku? Kalau dari aku jelas menguntungkan." "Begini aku sebenarnya tak ingin meneruskan perusahaan papa, aku lebih suka adikku Richie yang meneruskannya. Richie lebih cocok di bisnis ini sedangkan aku tidak tertarik dalam bisnis, tapi papa bilang kalau mau menikah dengan kamu, aku akan dibebaskan untuk memilih jadi dokter atau ceo. Pernikahan kita sama-sama menguntungkan." Azura terdiam lagi mendengarkan perkataan Reno. Memang pernikahan mereka sama-sama saling menguntungkan, tapi menikah kontrak itu mengganggu pikirannya dan Reno belum menjelaskannya tentang hal tersebut. "GL company tanam saham Jcorp, perusahaan Jcrop bisa selamat dari ambang kehancuran dan kamu pasti jadi pewarisnya. Saatnya tiba kamu nanti bisa menghandle Jcorp jadi aku pun bisa bebas dengan apa yang aku inginkan," jelas Reno lagi. "Keinginan kamu? Terus keinginan aku gimana?" tanya Azura. "Sudahlah jangan membicarakan keinginan kamu yang penting sekarang kamu nikah sama aku. Kita tidak ada yang rugi," ujar Reno dengan santai. "Aku bingung harus menjawab apa." "Aku anggap kamu setuju" "Eeh, aku belum jawab apa-apa loh" Azura menatap Reno dengan tajam, dia tak bisa berpikir lagi. Mendengar perkataan Reno malah membuat kepalanya semakin pusing. "Begini Azu, apa kamu ga merasa aneh kalau kita baru pertama bertemu langsung bertunangan dan sebulan lagi kita menikah?" "Iya aneh sih." "Aku tadinya akan menikah dengan kekasih ku Selvia walau tanpa restu dari orang tua. Aku ga tau apa yang diperbuat sama papa ke Selvia, akhirnya kekasihku pergi padahal semuanya sudah dipersiapkan dari gedung sampai segala urusan pernikahan. Semua orang di perusahaan dan rumah sakit sudah tau aku akan menikah, demi menyelamatkan nama baik keluarga akhirnya mereka menjodohkan aku sama kamu, tapi aku masih menunggu Selvia untuk kembali lagi padaku, hanya dengan pernikahan pura-pura bisa membuat aku bebas dengan pilihanku." "Jadi ini alasan aku menikah kontrak sama kamu, demi menunggu calon istrimu itu kembali? Jadi kamu anggap aku apa?" "Aku tetap akan anggap kamu sebagai istriku, tapi hanya istri di atas kertas dan di depan orang tuaku." "Ooh..." "Selain itu kamu juga anak teman papa dan mama, perusahaan keluarga kamu diambang kebangkrutan jadinya mereka makin semangat menjodohkan kita." "Ooh..." "Pernikahan kita hanya pernikahan kontrak, setelah setahun menikah, kita bercerai. Lagi pula pernikahan kita walau tidak ada kejadian apapun aku ditinggal Selvia tetap hanyalah pernikahan bisnis, ingat kita saling menguntungkan kedua belah pihak." Reno dan Azura hanya saling diam dan sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. "Aku mau pulang dulu nanti aku pikirkan semua rencana yang kamu katakan," kata Azura dengan tak bersemangat. Azura berada di mobilnya, dia merasa miris dengan hidupnya. Haruskah dia menikah dengan Reno yang hanya memanfaatkannya saja dan pernikahan mereka hanyalah pernikahan bisnis. ************** Azura kembali pulang ke rumahnya dengan pikiran yang tak menentu. Di saat bersamaan Ricardo juga baru pulang dari perusahaan. "Azu sudah pulang? Gimana udah bertemu dengan tunanganmu tadi." "Sudah, tapi aku kecewa kek," ujar Azura dengan raut wajah sedih. "Loh kenapa? Apa kamu dikecewakan sama Reno? Kakek akan bicarakan dengan Luis." "Tadi Reno berkata padaku kalau pernikahan aku dan dia hanya pernikahan bisnis." "Azu, kakek mau minta maaf padamu. Sebenarnya memang seperti itu, tapi kakek yakin kamu akan bahagia bersama Reno. Orang tua Reno sepertinya menyayangimu, cinta akan tumbuh seiringnya kalian bersama. Reno juga seorang dokter jadi walau nanti adiknya yang meneruskan GL company, dia tetap bisa mencukupi semua kehidupanmu.” "Kakek jika memang menurut kakek ini yang terbaik aku akan menerimanya." "Tapi, jika kamu ga setuju, kakek akan membatalkan pernikahan ini. Kakek nanti akan berjuang menyelamatkan perusahaan JCrop dengan semampu kakek tapi jika tak bisa kita tidak akan jatuh miskin. Hanya hidup kita tak akan seperti sekarang." "Aku setuju kakek... apapun yang menurut kakek merupakan hal yang terbaik untukku, aku bahagia." Ricardo memeluk Azura dengan kasih sayang, dia bersyukur cucunya mau menuruti semua rencananya. Dia sudah berumur dan sering sakit-sakitan, entah kapan malaikat maut akan menjemputnya. Ricardo melakukan ini semua demi Azura agar cucunya tersebut hidup dengan berkecukupan tidak kekurangan apapun. Setelah selesai berbicara dengan Ricardo. Azura pun menghubungi Reno, mereka janjian untuk bertemu keesokan harinya. Membahas pernikahan kontrak sekaligus pernikahan bisnis dan kerjasama mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD