Rasa kesal dan marah ada di dalam benak Azura. Dia ingin melepaskan segalanya, tapi dia sendiri tidak mampu. Apalagi sekarang dia harus berhadapan dengan Reno, lelaki yang kaku, dingin, dan sama sekali tidak memperdulikannya membuat Azura merasa dihargai oleh seorang wanita.
Mata Azura menatap Reno dengan dingin, dia tidak ingin terintimidasi oleh pria tersebut. Sekarang mereka sama-sama saling membutuhkan, itu membuat Azura merasa ada kesempatan untuk mengambil keuntungan juga. Pernikahan mereka ada hanya pernikahan kontrak dan bisnis semata.
"Sekarang bagaimana kita harus memulainya," kata Azura tanpa berbasa-basi pada Reno.
"Seperti yang aku katakan kemarin, kita menikah, GL company menanam saham perusahaan Jcorp. Si Liam siap memimpin perusahaan, papa ga maksa aku lagi jadi penerusnya, aku tetap dengan profesiku sebagai seorang dokter kalau semua nya lancar kita bercerai,” ucap Reno.
“Lalu bagaimana kita berpisah?" tanya Azura.
“Yaa kita bercerai saja. Cukup mengatakan kalau tidak ada kecocokan dan berpisah. Hal yang bisa dibuat mudah tidak usah dipersulit.”
"Tak semudah itu Reno. Umurku baru 20 tahun dan aku akan menyandang status janda dengan umur masih semuda ini. Entah itu musibah atau anugerah."
"Aku sudah memikirkannya dan inilah resikonya. Walau kamu jadi janda, tapi kamu janda kaya dan aku tidak akan pernah menyentuh kamu. Orang-orang pasti akan menghormati kamu.
"Jika seperti itu sama aja dong akan membuat keluarga aku malu, membuat kakek aku kecewa. Pasti keluarga kamu juga akan merasakan hal yang sama."
"Tentang masalah keluarga aku, kamu ga usah pikirin. Buat apa kamu mikirin keluarga aku. Pikiran aja deh keluargamu sendiri dan hidupmu sendiri. Setelah kita bercerai, aku yakin Selvia akan kembali padaku lagi. Hanya dia wanita yang pantas untukku bukan yang lain,” ujar Reno dengan santai seakan permasalahan ini sudah diselesaikan.
Azura sangat kesal. Entah apa dosanya yang terdahulu sampai bisa bertemu dengan pria seperti Reno. Pria yang kasar, ketus, menyebalkan, dan hanya membuatnya semakin marah. Bagi Azura, Reno hanya laki-laki pengecut. Jika dia mencintai wanita lain kenapa dia tak memperjuangkan wanita itu bukannya malah mau dijodohkan dengan dirinya.
"Mungkin ini memang sangat menyebalkan tapi demi perusahaan kakek ku, aku terpaksa menyetujui semua rencana ini." Azura menarik napasnya dengan berat.
“Ada satu syarat lagi untukmu,” ujar Azura.
“Kamu bukan dalam posisi bisa membuat syarat ke aku,” ejek Reno.
“Dan kamu juga sama. Ingat ini hanya pernikahan bisnis jangan berharap lebih.”
“Apa aku tidak salah dengar Azura? Kamu yang sepertinya berharap lebih dari ini.”
“Berisik! Aku hanya ingin mengatakan kamu jangan pernah menyentuhku seujung rambut dan kuku pun dan kamu jangan pernah ikut campur dalam kehidupan pribadiku. Kita harus saling menghargai hubungan bisnis ini.”
“Baguslah kita sepakat. Aku juga tidak berniat menyentuh wanita sepertimu dan urusan pribadimu sama sekali tidak penting untuk aku.”
Azura dan Reno saling berjabat tangan.
“Ooh, iya aku hampir lupa. Kamu jangan pernah jatuh cinta padaku bahkan pada bayanganku pun kamu tidak boleh jatuh cinta.”
Mendengar perkataan Reno membuat Azura tertawa. Tak sudi dia mencintai pria seperti Reno kalau perlu pun cintanya akan dibuangnya sejauh mungkin.
“Tenang saja pria sepertimu tidak akan membuatku jatuh cinta dan satu lagi pesan untukmu jangan pernah jatuh cinta juga ke aku bahkan pada bayanganku pun kamu jangan pernah coba-coba sedikit saja jatuh cinta sama aku. Kamu mengerti!” Azura menatap Reno dengan tegas. Apa yang pria ini ucapkan akan dikembalikannya lagi semuanya tanpa terkecuali.
"Oke Azura mulai sekarang kita sepasang kekasih yang sudah bertunangan dan akan menikah satu bulan lagi. Jangan sampai ada orang lain tahu tentang pernikahan kontrak kita, semua orang harus tau bahwa kita pasangan yang saling mencintai."
“Betul sekali. Hanya pernikahan kontrak selama setahun.”
Mereka saling tersenyum dengan penuh arti dan rencana masing-masing.
**************
Pernikahan Azura dan Reno tinggal seminggu lagi. Azura sekarang berada disalah satu butik terkenal sedang mencoba berbagai macam gaun pengantin.
"Aku ga nyangka semua ini benar benar terjadi, pengantin pengganti terdengar sangat menjijikan," ujar Azura perlahan.
"Azu, aku yakin kamu bisa semua demi kakekmu,"
ujar Wendy menyemangati Azura.
"Semoga aku ga salah mengambil keputusan ini."
Joy dan Wendy menatap Azura dengan sedih, dia tahu sahabatnya tidak menginginkan pernikahan ini. Wendy dan Joy sudah mengetahui tentang pernikahan Azura hanya sebuah pernikahan kontrak dan bisnis. Reno memanfaatkan keadaan Azura untuk kepentingannya sendiri begitu juga Azura.
Azura, Wendy, dan Joy keluar dari butik gaun pernikahan. Mereka berjalan dengan tak semangat, merasakan kesedihan Azura.
"Azu aku pengen tau gimana wajah calon suamimu itu," ujar Wendy.
"Cakep, tinggi, impian para wanitalah," jawab Azura.
"Kenapa kekasihnya meninggalkan pria yang seperti itu yaa. Pasti ada sesuatu nih," ujar Joy curiga.
"Aku juga ga tau alasan kekasihnya itu kabur saat sebulan lagi mereka mau menikah. Aku juga malas banyak nanya, walau tuh Reno tampan tapi aku ga suka kelakuannya."
"Ayo kita mulai menyelidiki," kata Wendy.
"Iiih janganlah aku ga mau," elak Azura.
"Udahlah cerewet amat," ajak Joy dengan semangat.
Mereka tiba dirumah sakit tempat Reno berkerja.
Joy melihat signboard nama nama dokter dan jawdal prakteknya.
"Nama calon suamimu itu Reno Geraldo, ‘kan?" tanya Joy pada Alessia.
"Iya."
"Dia dokter apa? Umum atau spesialis apa gitu?"
"Aku ga tau."
"Yaa ampun Azu bentar lagi kamu mau nikah loh. Masa kamu ga tau apapun tentang calon suamimu sih? Kamu tuh cantik, tapi agak kurang pintar."
"Aku males banyak tanya kan cuma bentaran aja nikahnya. Ga penting juga,” sahut Azura kesal.
"Walau hanya pernikahan kontrak, tapi seenggaknya harus tau lah dia dokter apa," kata Joy dengan kesal.
"Apa yaa eeeh itu ada namanya."
Mereka serentak melihat nama Dr. Reno Geraldo SpB. Azura baru mengetahui ternyata Leon dokter spesialis bedah.
"Ayo kita cari ruangan si Reno itu," ajak Wendy dengan semangat.
Azura, Joy, dan Wendy menyusuri koridor rumah sakit, mencari ruangan Reno.
"Nah ketemu." Joy menemukan ruangan Reno.
"Tapi kok sepi yaa? apa mungkin bukan jam praktik si dokter?" ujar Wendy lagi.
"Sepertinya bukan jam praktik, udahlah kita pulang aja," ajak Azura yang merasa tak enak jika dia kesana tanpa memberi tau Reno.
"Kita sudah terlanjur disini lebih baik kita mencari tau tentang pak dokter itu," kata Wendy yang ingin mengetahui tentang Reno.
"Maaf sekarang bukan jam praktik dokter Reno Geraldo. Jam praktiknya masih tiga jam lagi." suara seorang perawat mengagetkan mereka.
Azura, Wendy, dan Joy melihat ke arah suara yang mengagetkan mereka.
"Jika kalian ingin mendaftar bukan disini tapi didepan," ujar suster tersebut dengan raut wajah tak suka.
"Kami bukan pasien," jawab Joy.
"Iya kami bukan pasien," sahut Wendy.
"Ayo lah kita pulang aja." Azura berbisik pada Joy.
"Jika bukan pasien kenapa kalian kesini, yang tidak berkepentingan dilarang masuk," ujar suster dengan curiga kedatangan mereka.
"Maaf kami salah ruangan," kata Azura mencari alasan agar bisa kabur dari situasi yang tak mengenakan ini.
"Teman saya ini tunangan dokter Reno," kata Wendy sambil menunjuk ke arah Alessia.
Suster tersebut tak percaya melihat Alessia, dia melihat Alessia dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
"Hahaha jangan bercanda deh kalian, apa kalian salah satu fansnya dokter Reno? Kalau kalian seperti itu saya akan panggilan satpam rumah sakit," ujar suster dengan suara mulai meninggi.
"Teman saya ini benar-benar tunangan dokter Leon dan sebentar lagi akan menikah lebih tepatnya calon istri dokter Reno. Jika kamu tak percaya hubungi saja dokter Reno dan tanya benar atau tidaknya. Nama teman saya ini Azura Javier," jawab Joy dengan suara lebih tinggi, dia tak mau kalah dari suster yang menyebalkan tersebut.
Suster melihat Azura lagi, sebenarnya dia ragu tapi belum pernah ada pasien atau pun seorang fans mengaku sebagai tunangan atau calon istri. Apa lagi Alessia terlihat memakai barang barang bermerk ternama, tas nya Chanel, tapi bisa saja itu merk kw. Seorang satpam mendekati mereka.
"Ada apa Hani? Jangan membuat keributan dirumah sakit?" tanya satpam.
"Ini pak Doni ada para gadis gadis ini ngaku ngaku jadi tunangan dokter Reno dan makin parah lagi halu nya mereka bilang kalau calon istrinya. Ada aja yaa trik mereka untuk mendekati pak dokter yang ganteng itu."
"Pak satpam teman saya ini benar benar calon istrinya dokter Renk. Masa pak satpam ga tau sih dokter Reno mau menikah," jelas Joy pada Doni satpam rumah sakit.
"Kalian ikut saya ke kantor," kata Doni.
"Tapi pak kami berkata jujur."
"Kalian bisa diam! Saya tidak mau tau, kalian ikut ke kantor sekarang!” ujar Doni dengan suara keras.
"Da..da.. gadis-gadis yang mengharapkan dokter Reno, selamat berakhir di kantor satpam," ujar Hani sambil melambaikan tangan pada mereka.
Azura, Wendy dan Joy sangat kesal tapi mereka tak bisa berbuat apa apa dan terpaksa mengikuti Doni ke kantor keamanan rumah sakit.
********