Sewaktu pulang dari rumah Fathur kemarin, Dio bilang ingin mencoba menggedorkan kepala Fathur ke tiang ring basket dan ingin lihat apakah ada yang berubah darinya. Kepala bocor sudah pasti, tapi yang ingin dilihatnya adalah bagaimana sikapnya pada Divara yang sudah jelas menaruh perhatian padanya tapi Fathur menganggap semua itu tak ada. "Aku kasihan pada temanmu itu, Niar." "Jadi kamu peduli pada seorang perempuan, jika seorang itu menyukaimu, bagaimana?" "Akan berbeda, aku tak akan memberi sebuah harapan jika tak suka, perjelas saja, masalah terselesaikan." "Kamu memang suka beterus terang, Dio. Tapi kuberitahu ya, sebaiknya jangan mengasihani seorang Divara sebelum kamu melihat api di matanya yang membara. Fathur hanya tidak peka, kita tahu bagaimana ia tumbuh seperti itu." "Bahka

