Aku duduk diam mendengarkan dosen berceramah di depan. Ralat, tidak mendengarkan sebenarnya karena pikiranku melayang ke sebelas hari yang lalu. Malam di mana aku pertama kalinya melakukan seks, melepaskan keperawananku dengan orang yang sama sekali tidak kukenal.
Sebut aku gadis murahan karena memang begitulah diriku kini. Aku sudah menyia-nyiakan semuanya bukan untuk orang yang aku cintai. Melainkan orang asing.
Namun, dibalik keputusan t***l itu, sungguh, benar-benar berhasil menRaihankan segala perhatianku. Fokusku teralih ke kejadian malam itu dan Donny? Aku benar-benar melupakannya.
Kepalaku telah dipenuhi oleh bayang-bayang semu pria itu. Aku teringat tubuh well-tonednya, dua tato di tubuhnya, suara desahan dan geramannya, bibirnya yang lembut dan cara bermain lidahnya.
Bayang-bayang momen saat itu selalu melesat di otak dan benakku. Terutama saat ia mengetahui bahwa aku adalah seorang perawan. Cowok itu benar-benar. Jelas sekali terekam di otakku ekspresinya yang menggambarkan seolah-olah ia telah melakukan dosa besar, kejahatan paling keji di dunia ini.
'f**k, you're a virgin. Oh, s**t!'
Aku hanya bisa meringis dan menangis menahan sakit pada saat itu. Ia terlihat sangat frustasi.
'Kenapa lo ga bilang?!'
Sepercik darah mengalir dariku, m*****i sprei putih yang bersih.
Ia sangat marah. Ia merasa sangat berdosa. Ia meminta maaf padaku. Ia memohon maaf padaku. Menyeka air mataku. Menciumi bibirku lembut. Teramat sangat lembut. Entah ke mana perginya hasrat liar yang baru saja kulihat sebelumnya. Ia berubah seratus delapan puluh derajat. Sepenuhnya aku merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa lembut walaupun awalnya sangat menyakitkan karena ia terlalu kasar untuk perawan sepertiku.
After session, ia meminta maaf lagi. Merengkuhku, mendekapku, memelukku, menciumku, menidurkanku dengan gumaman merdunya, mengelus kulitku, merasakan napasnya yang hangat di leherku. Merasakan hangat dan aroma tubuhnya. He comforted me. Aku merasa seperti wanita yang paling dicintai, paling spesial di dunia ini. Hingga akhirnya saat aku membuka mata di pagi hari, ia sudah menghilang
Tidak ada orang yang memelukku.
Tidak ada orang yang bernapas di leherku.
Tidak ada orang yang menghangatkanku
Aku menemukan sepiring pancake dan segelas s**u cokelat yang masih hangat di mini table, membuktikan cowok itu baru saja pergi dan secarik kertas bertuliskan;
I'm so sorry.
A
Dia memberikanku inisial. A.
Whoever he was, I'll remember this A guy. He was my first. I'll never forget the way he treated me. His gentle, delicate and soft touches.
Tanpa kusadari kelas telah berakhir. Waktu terasa berlalu sangat cepat. Dosen yang mengajar sudah menghilang dari depan kelas. Disusul oleh mahasiswa yang mengikuti kuliahnya. Aku merapikan mejaku. Memasukkan buku catatan dan alat tulis ke dalam tasku dan kemudian berjalan keluar.
"Gizelle!!"
Aku mengenal suara itu. Donny. Lelah dengannya, aku berpura-pura tidak mendengarnya. Menulikan kedua telingaku.
"Please, Giz, gue perlu ngomong sama lo," pintanya saat ia sudah berada di sampingku.
Aku terus berjalan menuju pintu utama gedung fakultas. Menghindarinya. Apa lagi yang diinginkan b******n ini? Semakin aku melihat wajahnya, semakin muak aku dibuatnya.
Aku tidak menghiraukannya yang terus memanggil namaku. Terus berjalan hingga aku melihat seseorang. Ah, aku dapat ide, semoga saja berhasil.
"Niana," panggilku.
Cewek cantik bernama Niana itu menoleh padaku dengan wajah bingung. Aku setengah berlari menghampirinya. Dengan Donny yang masih mengekoriku.
"Oh, iya, ada apa, Gizelle?"
Tentu saja cewek cantik dan lembut mengenalku. Kami sering satu kelas namun tidak terlalu dekat. Namun ada satu hal yang membuatku tertegun.
Benar kata orang-orang, Niana memang sangat cantik dan anggun. Sungguh jauh denganku. Kami berbeda kasta. Akan tetapi, dibalik perbedaan itu, satu hal yang benar-benar membuat kagum padanya. Ia sangat ramah.
Aku menghampirinya sambil berpikir. Ayo, Gizelle, putar otakmu! Apa yang harus dikatakan pada cewek ini agar Donny enyah dari hadapanmu?
Seketika aku teringat tugas kelompok yang diberikan Profesor Shin. Aku satu kelas dengan putri tunggal keluarga kaya-raya Bae. Benar sekali!
"Niana, kapan kita ngerjain project dari Bapak Fauzi?"
Aku bertanya sambil mengedip-ngedipkan mata kiriku padanya. Oh, semoga ia mengerti maksudku bahwa aku sedang berupaya untuk menghindari Donny, mantan kekasihku yang b******n itu.
Satu kampus mengetahui bahwa aku telah berpacaran dengan anggota BEM tampan dan terkenal yang tengah mengejar-ngejarku itu. Semua orang juga mengetahui hubunganku dan cowok b******n itu sudah berakhir dan hal tersebut benar-benar menggeman. Bagaimana mungkin hubunganku dan Donny yang adem-ayem itu bisa berakhir secara mendadak seperti ini?
Niana menatapku bingung. Ia mencerna omong kosong yang telah ku ucapkan. Namun, setelah melihat wajah memelasku ia pun mengerti dan memberi senyum lembutnya. Dia cantik sekali.
"Oooh, project itu? Kebetulan gue ada waktu nih. Kita kerjain sekarang aja yuk? Tapi gue mau makan siang dulu. Gimana?"
Mendengar itu, aku sumringah. Menatap cewek ini dengan rasa bersyukur. Dia sangat pengertian. Aku menoleh ke sampingku. Donny sudah menjauh. Berjalan membelakangi kami. Aku menghela napas lega. Akhirnya b******k itu sudah pergi.
"Makasih banyak ya."
Aku menundukkan kepalaku sedikit. Niana balas menunduk dan memberikan senyum maklum.
"No prob."
"Gue nggak tau harus balas lo gimana."
Niana tertawa. Suara tawanya terdengar sangat lembut dan merdu di telingaku.
"Ah, jangan dipikirin, gue ngerti kok."
Kami tertawa.
"Gimana kalo gue traktir makan siang aja? Tapi gue nggak bisa traktir yang mahal-mahal... mau? Gue kebetulan juga keroncongan nih. Yuk?"
Niana tersenyum dan mengangguk.
"Yuk!"
***
Kami duduk berhadapan di sebuah rumah makan pizza. Sudah selesai makan. Aku sengaja memilih rumah makan dengan menu spesial untuk Niana penyelamatku. Yeah...walaupun tidak terlalu mahal.
"Gizelle," panggilnya.
Aku membalas tatapan mata cewek anggun di depanku.
"Nggak usah formal gitu dong, kita kan teman sekelas. Canggung banget kalo ada formalitas gini."
Niana memberikan senyum manisnya. Entah mengapa hatiku terasa hangat melihatnya. Cewek ini benar-benar sesuatu. Dia mempunyai aura anggun seperti seorang ibu yang memberikan kehangatan untuk anak-anaknya.
"Beneran? Oke deh!"
Kami tertawa.
"Giz," ulangnya.
Aku membalasnya dengan senyuman. "Mm?"
Ia terlihat ragu.
"Kenapa? Tanya aja."
Aku sudah tahu ia akan menanyakan hal ini. Aku sudah siap.
"Bukannya gue mau ikut campur... tapi gue penasaran. Satu kampus pada pengen tau, kenapa lo tiba-tiba putus sama Donny padahal kalian itu lovely couple kampus banget."
Aku terkekeh."Waaah, jadi gue sempat jadi trending topic di kampus nih?" Ia mengangguk. "Janji jangan bilang siapa-siapa?"
Ia mengangguk mantap. "I swear to God!" Ia meletakkan tangan kanannya ke d**a kirinya.
Aku memberinya senyuman dan menarik napas panjang sebelum bercerita. "Gue yang mutusin dia. Gue mergokin dia had s*x sama Tia di ruang BEM."
"Ya Tuhan," gumam Niana. Ia mengambil tanganku. Menggenggam dan mengelusnya. "That was terrible. He's such a...."
"d**k. He's sucha d**k. I know," sambungku.
Niana tersenyum masam. "I'm so sorry to hear that." Ia berdiri dari tempat duduknya, menghampiriku, kemudian memelukku.
Aku terkejut. Cewek ini benar-benar mempunyai hati yang hangat. Aku membalas pelukannya. Tanpa kusadari aku terharu oleh apa yang ia lakukan padaku. Air mataku menetes dari pelupuk mata. Mengalir ke pipiku.
"Nggak tau kenapa, tapi gue rasa lo pasti selalu mendam semuanya sendiri. Lain kali kalo ada apa-apa cerita ke gue. Dari sekarang lo bisa cerita apapun ke gue. Gue siap jadi tempat sampah lo."
Tangisku makin parah. "Makasih, Niana. Ini pertama kalinya ada anak kampus yang benar-benar care sama gue. Makasih banget."
Cewek cantik itu tertawa. Kami melepas pelukan. Ia tersenyum menatapku. Mengambil tisu dari dalam tas mahalnya dan menyodorkannya padaku.
"Jangan nangis. senyum dong. Lo lebih cantik kalo senyum."
Aku menyambut tisunya. Menyeka air mataku. Mencoba tersenyum.
"Niana, gue nggak tau ternyata ada orang yang baik banget, terutama di kampus kita. Lo care banget. Kalo tau gitu kenapa kita nggak temenan dari dulu aja?"
Niana mengangguk. "Untung banget ya lo ketemu gue tadi. Kalo bukan gue, siapa yang bakalan bantuin lo?"
Kami tertawa lagi.
Tiba-tiba ponsel Niana berdering. "Bentar ya."
Aku mengangguk.
"Halo? Wah, Pupu! Kok baru nelpon?... Iya dong... Lagi makan nih sama temen gue... Seriusan! Temen!... Ya cewek lah!... Kok nggak percaya?... Dasar semprul lo!... Mm? Ini di mana ya?"
Ia menaikkan alisnya. Menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Ini di mana ya? Gue lupa."
"Pizza Kitchen!"
Niana menjentikkan jarinya. "Gue lagi di Pizza Kitchen!... Ngapain lo ke sini? Gue ogah ketemu lo! Lo udah hampir dua minggu balik dari LA tapi nggak pernah nyamperin gue!... Eh! Eh jangan! Jangan ke sin-"
Niana berdecak. "Ih maksa! Malah ke sini."
Aku memberinya senyum.
"Giz, maaf ya. Bisa nggak lo nemenin gue bentar sampe sepupu gue dateng?" pintanya dengan wajah memelas.
Tentu saja aku tak menolak. "Nggak masalah."
Ia tersenyum manis. "Makasih ya... makasih juga traktirannya, hehe."
"Gue yang makasih banget sama lo."
"Inget ya, lain kali jangan dipendam, cerita ke gue."
Aku mengangguk. "Lo baik banget. Gue jadi curiga. Jangan-jangan lo ada apa-apanya nih."
Kami tertawa lagi.
Hufffh, thank God... I got a new mate.