"Giz, kenalin sepupu gue, Alan."
Numb.
Blank.
Aku tidak mampu berpikir. Aku tidak mampu berkata-kata. Yang bisa kulakukan hanya duduk di kursiku dengan mata membulat dan mulut terbuka.
Cowok ini. Cowok bernama Alan ini adalah cowok berinisial A yang selama sebelas hari ini membuatku sering termenung dan kosong. Cowok yang telah mengubah rambutnya menjadi berwarna coklat gelap itu berdiri di samping Niana setelah memeluk gadis itu.
Ia memberikan senyum khasnya yang menggoda... padaku.
He was my one night stand guy.
He was the guy who ripped out my virginity.
He was the guy who made me delusional lately.
Cowok bernama Alan ini berjalan mendekatiku. Tiap gerakan yang dibuatnya membuat debar di dadaku semakin cepat dan tak beraturan. Ia berdiri di hadapanku. Membuat mataku terkunci oleh lengkungan bibirnya yang ia pancarkan padaku. Aku terpaku dan terdiam. Menunggu. Tanpa melirik ke arah teman baruku, Niana, aku sudah tahu gadis itu tengah kebingungan. Same, darl, I'm so confused right now.
Cowok seksi yang mendapatkan keperawananku itu mengulurkan tangannya. Menawarkan diri untuk berkenalan dan berjabat tangan denganku. Namun aku hanya diam membisu. Tak bermaksud untuk berperilaku tidak sopan, akan tetapi aku juga tidak mengerti mengapa tubuhku tak mampu bergerak dan otakku terasa kosong. Segala rasa berkecamuk dalam batinku.
"Alan," ucapnya.
Tanpa kusangka ia justru mengambil tangan kananku tanpa aba-aba, menyebutkan namanya dengan suara khasnya yang lembut itu.
Aku hanya mampu menatapnya. Blankly.
Masih dengan senyum misteriusnya yang... oh, sungguh menggoda itu mengangkat tanganku yang ia genggam dan mengecup punggung tanganku dengan lembut. Kecupan basah karena aku merasakan lidah dan bibirnya yang menyedot kulitku.
Demi Afrodit sang Niana cinta, apakah cowok ini tengah melakukan french kiss dengan tanganku? Apakah ia sedang menyupang tanganku? Astaga... aku bingung harus berbuat apa dan berkata apa. Ia mengecup tanganku selama tiga detik dan kemudian menatap mataku hingga aku tersedot ke dalam iris coklat gelap miliknya.
Benar saja, ada tanda merah samar pada punggung tanganku itu. Ia menatapku seolah-olah ia akan menyantapku. Layaknya orang-orang yang tengah memakan pizzanya dengan sangat lahap. Kurasakan tangannya yang lain terangkat dan menyentuh pipiku, membelainya dengan penuh... affection.
He teased me.
Niana menghampiri kami. Tanpa kusangka ia memukul-mukul sepupunya, membuat Alan agak menjauh dariku.
"Sorry ya, Giz... sepupu gue emang kurang ajar."
Ya. Sangat kurang ajar.
Alan melepaskanku. Mundur dua langkah dan tertawa saat menerima pukulan-pukulan yang sama sekali tidak menyakitkan itu.
"Well, I think I had to go first. Udah jam empat, gue harus pulang. Rumah gue jauh takutnya kemalaman," bohongku, "Niana, sekali lagi, thanks for today."
Aku mengambil tasku. "See ya... ketemu di kampus ya besok."
Aku melambaikan tangan pada Niana dan membungkuk pada sepupunya. Berjalan menjauh dan keluar dari rumah makan itu dengan tergesa-gesa. Napasku memburu. Aku takut. Entah mengapa aku menjadi was-was. Ini seharusnya tidak terjadi. Bagaimana bisa aku bertemu dengan cowok itu lagi?
Ini semua salah, karena pasangan one night stand tidak akan bertemu kembali. Tidak akan mengetahui nama dan siapa sebernarnya orang yang menjadi pasangannya. Ini tidak benar, keliru.
Ini semua salahku. Lama-kelamaan aku mulai menyesal telah melakukan itu semua. Aku merasa kotor. Aku jijik dengan diriku sendiri.
Ini semua salah Donny lelaki jaAyum itu. Jika ia segera mengakhiri hubungan kami terlebih dahulu tanpa aku harus memergokinya melakukan itu dengan selingkuhannya, aku tidak akan sesakit dan serapuh ini.
Ini semua salah orangtuaku yang tidak ada dan jarang berada di rumah. Membuatku kesepian dan tidak ada teman untuk mencurahkan isi hatiku.
Ini semua salah Sabrina. Sahabatku itu yang membawaku ke pub untuk melepaskan sakit di hatiku. Ini salahnya karena telah memberiku tablet kecil berwarna pink itu. Jika aku tidak menyambut dan meminumnya, aku tidak akan berakhir di kamar hotel dengan cowok yang tidak kukenal.
Ini semua salah cowok misterius berinisial A--Alan--yang telah menciumku hingga aku terhanyut olehnya. Jika saja aku tidak berpaling ke arahnya dan mengacuhkan tangannya yang bertengger di pinggulku, maka aku tidak akan larut pada tatapan matanya yang dalam dan berakhir b******a dengannya.
Ini semua salah Niana. Dari seluruh mahasiswa yang ada di kampusku, mengapa harus ia yang lewat di depanku dan dengan senang hati menyelamatkanku. Jika aku tahu ia adalah sepupu dari Alan, cowok misterius itu, aku tidak akan mengajaknya makan siang dan bertemu dengan sepupunya. Aku menyesal telah berbaik hati untuk menemani cewek anggun itu menunggu sepupunya.
Aku menyesali semuanya.
Aku menyalahkan semuanya.
Aku tidak ingin segalanya berkecamuk mengacaukan pikiran dan hatiku.
Aku berjalan lebih cepat. Melangkahkan kakiku secepat mungkin ke halte bis tujuan Senayan. Aku ingin pulang secepatnya. Aku harus pulang secepatnya.
Ugh! Bisnya lama sekali... Aku melirik jam tanganku. Sudah lima belas menit aku menunggu di sini. Bengong dan membuatku mulai mengantuk. Aku mengambil headset dan iphoneku. Mungkin dengan mendengarkan musik aku bisa menghabiskan waktu....
"Ngapain di sini?"
Aku mengangkat kepalaku.
Cowok itu. Alan.
Ia menatapku dengan senyum menggoda khasnya.
Shit!
Takut. Seketika aku merasa sangat takut.
What the f**k is he doing here? Bagaimana bisa ia menemukanku di sini?
Ia berdiri sangat dekat di hadapanku. Di belakangnya terir mobil BMWnya yang ia pakai malam itu. Tangannya mendekat padaku. Kurasakan jarinya menyentuh telingaku dan melepas salah satu speaker yang mengganjal telinga kiriku.
"Rumah lo di mana? Biar gue anter."
Ia dan suara lembutnya. Salah satu sudut bibirnya masih tertarik melengkung ke atas. Senyum khasnya.
Aku berdiri mendadak. Membuatnya menatapku terkejut namun masih tetap berada di tempatnya. Aku melangkahkan kakiku, menjauh darinya.
"Hei, mau ke mana?"
Aku merasakan sesuatu menyentuh kulit pergelangan tanganku. Ia mencegatku. Aku menepis sentuhannya dan menarik lenganku. Aku takut.
"Don't touch me!" gumamku.
Ia terkekeh dengan senyum menggodanya yang berubah menjadi senyum sinis.
Stop it! That's make you hotter than before!
"Don't touch you, huh?" Ia terkekeh sinis. "Lo lupa gimana rasanya malam itu?"
Kata-kata yang diucapkannya membuat hatiku terasa teriris, berdarah, perih. Tanpa kusadari aku memegang dadaku dan meringis. Merasakan puluhan peluru tertembak ke jantungku. Melumpuhkanku. Sakit.
Tanpa kuduga mataku berkeringat. Membuat pandanganku buram dan saat aku berkedip, cairan itu jatuh ke pipi. Aku segera menyekanya dan berpaling. Melangkahkan kakiku. Menjauhinya. Tidak peduli ke arah mana. Aku harus pergi jauh dari cowok ini.
"Hei! Hei!"
Aku menulikan telingaku. Menyeka air mataku yang tidak terus mengalir.
Every guys, in the world, are jerks. Guys are d***s. Guys are bastards. Mereka semua sama saja. Tidak Donny, tidak cowok ini. Semua sama.
Sekali lagi aku merasakan tanganku digenggamannya. Sekali lagi kutepis sentuhannya. Kali ini genggamannya lebih kuat sehingga aku tidak bisa melepaskan diri.
"Lepasin gue! Dasar b******n!"
Ia tertawa sinis. "Okay, gue lepas kalo lo mau bilang alasan lo nangis barusan."
Aku menghela napas dengan hati berat. "Gue nggak nangis."
Ia melengos. "Nggak usah ngeles! Kasih tau gue!"
"Gue nggak nangis!"
"Terus kenapa mata lo ada airnya?"
Aku balas melengos. "Mata gue keringetan. Sekarang lepasin gue!"
Ia membalik tubuhnya. Melangkah ke arah mobilnya. Menarikku.
"Gue anter lo pulang."
Aku bersikeras melepaskan tanganku. "Gue nggak mau! Lepasin gue!"
Orang-orang mulai menatap kami. Menonton adegan kami. Seakan-akan kami adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Hempasan tanganku lebih keras namun genggaman tangannya makin erat. Apa maunya cowok ini?!
"Lepasin! Sakit!" pekikku.
Langkahnya terhenti. Ia melepas tanganku. Saat aku hendak melangkah kabur, tiba-tiba tangannya meraih bahuku. Dalam hitungan sekejap, ia menggendongku. Membawaku dengan mudah ke BMWnya.
Aku berontak. Menggerakkan kakiku dan memukul d**a bidangnya.
"Lepasin gue! Turunin gue! Turunin!"
Percuma. Aku sudah berada dalam mobilnya. Duduk di kursi penumpang. Ia memasangkan sabuk pengaman untukku dan mengunci pintuku dari luar. Aku tidak bisa melarikan diri karena perlu waktu untuk melakukan itu. Aku terlanjur panik dan tidak dapat berpikir jernih. Alan sudah menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya.
"Jawab. Rumah lo di mana?"
Aku diam saja. Mengunci mulutku. Tidak ingin menjawabnya.
Ia menghela napas. "Kalo lo nggak jawab pertanyaan gue, lo gue bawa pulang! Mau?"
Aku menggeleng cepat dan segera menjawab pertanyaannya. Ia tersenyum menang.