FIVE

1346 Words
Mimpi apa aku semalam sampai-sampai bisa berakhir duduk di mobil beraroma maskulin ini. Apek rokok yang bercampur dengan segarnya pinus menyelusup secara paksa ke indra penciumanku. Tak lupa aroma khas parfum pemilik mobil yang menyeruak ke seluruh penjuru. Aroma maskulin yang tak mungkin dapat kulupakan. Tanpa kusadari aku menutup kedua mataku hanya untuk merekam kembali aroma ini. "How's your day?" Apa aku tidak salah dengar? Telingaku masih bekerja dengan benar bukan? Dia... mengemudi mobilnya dengan santai dan enteng, menanyakan kabarku. Kabar hari-hari yang kujalani selama sebelas hari setelah pertemuanku dengannya. Setelah percintaan yang kami lewati malam itu. Is he nuts or something?  Ia menanyakan kabarku seakan-akan kami adalah teman lama yang setelah bertahun-tahun baru saja dipertemukan. Seolah-olah kami pernah menjalin hubungan yang sangat baik... berteman dan bersahabat. Aku membuang pandanganku ke jendela. Menyaksikan aktivitas lalu lintas jalan raya Jakarta yang ramai lancar. Terlintas rasa ingin menjawab pertanyaannya. Mungkin ia hanya ingin mencoba lebih ramah padaku. Mengingat kami pernah melewati satu malam bersama. Walaupun dengan konteks tujuan yang tidak sewajarnya. "Baik," sahutku singkat. Suaraku agak serak saat mengucapkan satu kata itu. Tentu saja jawabanku itu merupakan kebohongan semata. Bagaimana bisa aku menjalani rutinitasku yang membosankan dengan baik setelah mengalami hal-hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya? Dari memergoki pacar sendiri yang melakukan seks dengan selingkuhannya dan kemudian pada malam harinya melepaskan keperawanan karena putus asa. Dan yang mendapat kehormatan menjadi perenggut keperawananku itu adalah cowok yang ada di sebelahku ini. Alan. "So... lo kenal sama sepupu gue? Niana?" Aku tahu ia sedang berbasa-basi. Bukankah pertemuan singkat kami di restoran itu sudah sangat jelas? Aku baru saja selesai late lunch dengan Nona Bae. Untuk apa ia mempertanyakan hal yang sudah ia ketahui? "Kami teman sekampus." Kulihat bayangannya dari kaca jendela mobil ia sedang mengangguk dengan senyum miring khasnya. Alan bersandar dengan santai ke pintu yang ada di sampingnya. Ia terlihat sangat rileks. Berbeda jauh denganku yang sedari tadi sudah merasakan debaran kuat di dadaku. Kemudian hening kembali. Aku terlalu gugup dan tidak nyaman dengan kedekatan ini. Entah pergi ke mana keramahan yang kumiliki saat bersama dengan cowok ini. Jika saja Alan adalah laki-laki asing yang belum pernah kutemui sama sekali, mungkin sekarang aku sedang tersenyum ramah padanya dan melontarkan berbagai pertanyaan walaupun sekedar basa-basi. Namun dia adalah Alan. Dia adalah pengecualian. Aku terlalu malu padanya. Aku terlalu benci padanya. "Gizelle," panggilnya. Aku merasa terganggu dengan caranya menyebut dan memanggil namaku. Suara lembutnya yang memanjakan gendang telinga benar-benar membuatku tak nyaman. Entahlah. Aku pun tak mengerti dengan apa yang kurasakan. Ada sesuatu yang meraup tanganku yang beristirahat di pahaku. Seketika aku pun menoleh. Alan menggenggam tanganku. Dapat kurasakan dinginnya cincin yang menghias jari tengah dan kelingkingnya. Kehangatan yang diantarkan pada permukaan kulitku pun tak terelakkan. Ia menautkan lima jemarinya dengan milikku. Menguncinya. Perlakuan yang sama persis dengan sebelas hari yang lalu. Perlakuan yang membuat kupukupu berterbangan bersamaan darah yang mengalir pada nadiku. Diriku seakan-akan kembali tersedot ke dalam kenangan indah bersamanya malam itu. Kenangan yang mungkin akan selalu kuingat seumur hidupku. Akan selalu terukir di memori internal dan tak akan bisa dihapuskan. Karena itu adalah kali pertamaku. Ditambah lagi dengan pria setampan dan hot seperti Alan. Tak dapat dipungkiri. Mungkin sebagian perempuan akan melabeliku dengan cap beruntung karena telah melewati malam yang luar biasa dengan Alan. Dan setelah kupikir-pikir, ada benarnya juga.... Bodoh! Apa yang baru saja terlintas di kepalaku?! Aku? Beruntung? Aku telah beruntung melewati malam itu bersamanya?! Down to earth, Gizelle! Pemikiran gila darimana itu?! Dia adalah seorang Womanizer! Kebutuhan pokoknya adalah wanita. Dan kau hanyalah segelintir wanita yang numpang lewat di aktivitas seksnya. Tersadar oleh betapa terlenanya diriku dengan sentuhan yang cowok itu berikan di punggung tanganku, aku menguraikan genggamannya. Berdeham dengan canggung dan merapikan rambut panjang coklatku yang terurai. Salah tingkah. "Giz," panggilnya lagi. Aku tak kuasa untuk menahan diri agar tidak menoleh padanya. Tubuhku mengkhianati keinginanku. Kulihat ia tersenyum. Kali ini bukan senyum congkak yang biasa terlukis di wajah rupawannya. Melainkan senyum yang terkesan lebih tulus dan menghangatkan rongga d**a. "Gue seneng bisa ketemu lo lagi," ungkapnya. Benarkah? Benarkah ia merasakan apa yang ia ungkapkan itu? Entah mengapa aku merasa ragu. Apakah aku terlalu bodoh untuk kembali dibohongi? Mobil berjalan perlahan di persimpangan karena rambu lalu lintas telah menunjukkan tanda untuk terus. Cowok itu menarik rem tangan yang ada di sebelah kanannya, membuat mobil yang kami tumpangi tak bererak. Ia menghadapkan tubuhnya padaku yang duduk kaku di sampingnya. Sekali lagi kurasakan dua tangannya yang mengambil tangan kiriku. Mataku terbelalak saat merasakan deru napas dari hidung dan bibirnya. Rupanya ia ingin mencium tanganku sekali lagi. Gerakannya terhenti saat aku menarik tanganku. Ia menatapku dengan penuh tanda tanya. Bingung dengan tanggapanku. Heran dengan penolakan yang baru saja kulakukan. Keningnya berkerut. Tatapannya memberiku isyarat agar aku menjelaskan semuanya. "Kita udah selesai, A," tandasku. Aku sengaja memberikan penekanan pada inisial yang ia tinggalkan untukku. Ia semakin bingung dengan maksud dari ucapanku. "Lo dan gue. Kita udah selesai... nggak saling kenal," tambahku. Sesaat matanya kosong. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Bahkan saat ia berpikir keras pun, Alan terlihat sangat menawan. Dua detik kemudian ia tertawa. "Nggak," gelaknya, "nggak bisa gitu, Giz." Ia menyisirkan jemari kanannya pada rambutnya. Oh, itu adalah kebiasaannya. Gerakan khasnya yang sukses membuatku teringat bagaimana rasanya melihat dirinya berada di atas tubuhku dan mencintaiku dengan segala cumbunya. "Lo nggak bisa ngelupain apa yang kita sama-sama nikmati malam itu, Giz. Karena gue nggak pernah lupa," tandasnya dengan nada serius. Alan mengambil tanganku lagi dan kali ini ia benar-benar menciumnya. Kali ini aku tak melawan. Ya Tuhan, apakah ini karma yang akan membelengguku karena telah mengambil langkah penuh dosa dengan memilih untuk menghabiskan malam dengannya? Anganku akan kenangan bersama Alan buyar seketika saat terdengar bunyi klakson mobil dari belakang. Kudengar Alan mengumpat di bawah napasnya. Seakan tak rela melepaskan tautan jarinya. Ia mencium punggung tanganku sekali lagi sebelum memindahkan persneling ke huruf D. Oh... I feel like my heart will explode! Mobil pun kembali bergerak. Alan memutar setirnya, berbelok ke kanan dan memasuki daerah Senayan. Sekitar satu kilometer lagi kami akan memasuki komplek di mana tempat tinggalku berada. Duh! Sebentar lagi... dua belokan lagi kami akan tiba di depan rumahku. Tidak! Alan tidak boleh mengetahui rumahku di mana. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Aku tidak ingin berurusan dengannya lagi. Terbersit ide gila di otakku. Tanpa pikir panjang, aku pun segera merealisasikannya. Ini semua demi kehidupanmu di esok hari, Gizelle. Demi kebaikanmu! "Alan," panggilku. "Mm?" sahutnya segera. Sepertinya ia sudah menungguku untuk menyebut namanya. "Yes, baby?" Baby? Dia memanggilku dengan sebutan itu. Kata itu mengingatkanku kembali bagaimana ia membuatku terbang melayang dengan segala desahan akan kenikmatan yang ia berikan padaku. Dalam satu kedipan mata, aku segera menghapus bayangan diriku dan Alan. Bagaimana bisa perhatianku teralihkan hanya karena satu kata itu? Get yourself together, Gizelle! "Boleh berenti di depan minimarket itu? Gue perlu beli sesuatu." Tanpa pikir panjang, Alan segera menepikan BMW hitamnya di depan bangunan yang kumaksud. Ketika mobil terus, dengan secepat kilat aku melepas sabuk pengamanku dan membuka pintu. Aku keluar dari mobil dan lari. Bukannya berlari masuk ke minimarket, aku justru kabur ke arah belokan di ujung jalan. "GIZELLE!!" Kudengar Alan terus meneriakkan namaku. Dengan wedges yang menjadi alas kakiku, aku terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Jelas saja Alan mengejarku. Acara kejar-kejaran terus ketika aku berbelok ke kiri dan masuk ke dalam pekarangan rumah keluarga Lee yang pagarnya memang tak pernah dikunci. Dan aku segera berhadapan dengan anjing penjaga rumah itu. Untunglah aku sering berkunjung ke rumah ini, jadi anjing itu pasti mengenali bau tubuhku. Anjing itu menghampiriku yang terhengal-hengal bersembunyi di balik pagar. Ia menatapku seolah-olah bertanya mengapa aku datang ke rumah itu. Aku menaruh telunjukku ke bibirki dan memberi isyarat agar ia tak menggonggong. Dan benar saja, ia duduk patuh di hadapanku. Kudengar dari balik tembok pagar yang menyembunyikan tubuhku suara derap langkah Alan. Rasanya dadaku hampir meledak saking kuatnya degup jantungku. Ia mengumpat frustasi, "s**t!!" Kemudian kudengar suara kaki itu berbalik kembali dan menjauh dari tempatnya berada. Aku menghela napas lega. Pada akhirnya aku dapat kabur, pergi darinya. Semoga saja di kemudian hari aku tak bertemu dengannya lagi. Tenanglah, Giz. Semuanya akan baik-baik saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD