Nah! Itu dia! Sabrina. Sahabatku itu dengan heboh datang menghampiriku. Lihat saja dandanannya yang super hot. Maklum, dia adalah seorang model. Wajahnya yang cantik, kulit putih mulus, body semampai, dan pakaian modis yang selalu menjadi impian tiap perempuan di dunia. Tak munafik, aku pun sangat iri pada sahabatku itu.
Sabrina segera memelukku dan mencium pipi kiri dan kananku ketika ia tiba di hadapanku. Aku membalas pelukannya dengan hati yang penuh dengan bunga-bunga yang bermekaran. Ah... betapa aku merindukan sahabatku ini. Terakhir aku bertemu dengannya adalah malam di mana aku bertemu dengan Alan. Hampir satu bulan yang lalu.
Kami melonggarkan pelukan. Sabrina membelai rambut panjangku, merapikannya dan menatapku penuh kasih sayang.
"Duh, gue kangen banget sama lo, Giz."
Aku tertawa kecil. "Sama,"sahutku.
Aku melonggarkan pelukanku dan menoleh ke kanan. Melambaikan tanganku pada Niana yang berdiri dengan jarak lima langkah dari tempatku dan Sabrina berdiri.
"Kenalin, Sabrina, ini temen sekampus gue, namanya Niana."
Niana melangkah mendekati kami dan menyodorkan tangan kanannya. Sabrina dengan ramah menyambutnya.
"Lo... Lo Niana kan?" tanya Sabrina dengan tatapan takjub.
Niana mengangguk seraya tersenyum. "Iya, benar. Gue Niana. Have we met before?"
Sabrina tertawa kecil dengan sikap sopan. Ia menjawab, "Belum sih... tapi siapa sih yang nggak kenal sama Niana?"
Aku mengangguk setuju. "Iya, siapa yang nggak kenal sama dia? Dia kan primadona FEB!"
Niana mencubit lenganku dengan gemas. Aku meringis berpura-pura kesakitan, membuat Niana dan Sabrina tertawa.
"By the way, ngapain lo ke sini? Tumben..." tanyaku basa-basi pada Sabrina.
"Gue ke sini nyariin lo, siapa lagi?" sahutnya.
Aku mengernyitkan kening. "Kok nggak chat, SMS atau telpon gitu? Kan mungkin aja gue lagi nggak di kampus sekarang."
"Hape gue mati. Baterainya habis. Jadi gue langsung ke sini aja. Lagian kalo nyari lo mah cuma perlu pake hati aja cukup, Giz. Kita kan sehati," sahutnya asal.
Ah, dasar memang Sabrina. Ia tidak berubah sama sekali. Bahkan lebih parah dibandingkan dulu. Jayus. Aku memincingkan mataku dan membuat Sabrina terus tertawa. Ia mengangkat kedua tangannya.
"Well, gue ke sini mau ngajak lo main nanti malam. You in?" katanya dengan senyum manis mengembang di wajahnya.
Keningku berkerut. Main? Jangan bilang....
"Come on... It will gonna be so much fun! Entar gue kenalin deh sama teman-teman gue. Siapa tau ada yang kecantol! Lagian pasti lo sendirian juga kan di rumah, bokap nyokap lo pasti lagi pada di luar kota. Gimana? I'll get you at ten, okay?"
Sudah kuduga. Dia akan mengajakku clubbing lagi.
"Kalo ada waktu, lo juga boleh ikutan, Niana. Kita welcome sama siapa pun," Sabrina juga mengajak cewek yang berdiri di sampingku.
Niana terlihat agak ragu. Ia menjawab, "Maaf ya... sebenarnya gue pengen ikutan, tapi malam ini gue ada acara gitu. Jadi maaf banget, gue nggak bisa...."
Aku mengerucutkan bibirku. Ah, sayang sekali Niana tak dapat ikut menghabiskan friday night bersamaku dan Sabrina. Tunggu! Apa aku memang harus ikut pesta ala Sabrina malam ini? Lagi??
Hmm, kupikir-pikir, sepertinya aku memang sangat memerlukan hiburan. Terutama beberapa hari belakangan ini. Aku tak mampu menjernihkan pikiranku. Bagaimana tidak? Aku selalu terbayangan akan rentetan kejadian tak terduga. Terutama pertemuanku dengan Alan dua hari yang lalu.
Gosh, I cant even thinking straight after that day.
Semuanya benar-benar mengganggu sistem kerja otakku. Bayang-bayang cowok itu benar-benar menggangguku. Semua yang kukerjakan benar-benar tidak ada yang benar. Teman-teman sekelasku, bahkan Niana sekalipun sering memeberitahuku bahwa aku selalu bengong dan kelihatan bingung. Ujung-ujungnya aku selalu mengulang pertanyaan dan membuat mereka kesal. Entahlah, aku juga tak mengerti dengan apa yang tengah terjadi di kepalaku. Rasanya ingin meledak saja.
Sesungguhnya aku merasa sangat jenuh dan jengah dengan kehidupanku yang mulai berantakan. Aku juga tak mengerti apa yang tengah terjadi pada diriku. Apakah Tuhan sedang menghukumku atau sejenisnya? Aku merasa hidupku tidak adil.
Semuanya bermulai dari kejadian penghianatan yang dilakukan mantan kekasihku, Donny. Berlanjut dengan pertemuanku dengan Alan yang sukses total menjungkir balikkan duniaku. Rasanya hari-hariku tak seindah dan sedamai dulu. Segala yang kujalani selama sebulan ini. Bagai rumah di tepi tebing. Aku selalu merasa cemas dan takut. Gelisah dan tak normal.
Aku menghela napas sejenak. Menatap Sabrina yang menampakkan wajah berharap dan menunggu. Melirik Niana yang juga penasaran dengan keputusanku. Lucu sekali dua perempuan cantik ini. Hanya ingin mendengar keputusanku saja reaksi mereka sudah seperti ini.
Sabrina memekik kegirangan saat melihat kepalaku yang mengangguk. Ia memelukku dengan gemas dan aku hanya bisa meringis karena perlakuannya itu. Niana pun ikut tersenyum.
"Okay, I'll pick you up at ten! Dandan yang cantik!" kata Sabrina. Ia mencubit kedua pipiku dengan gemas. "Kalo gitu gue duluan ya. Ada photoshoot. Bye, gals!"
Dan Sabrina pun melenggang menjauh seraya melambaikan tangannya. Aku dan Niana memperhatikan Sabrina yang menjadi pusat perhatian mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas .
"Temen lo keren banget ya, Giz," kata Niana berkomentar. Ia tersenyum manis.
Masih menatap Sabrina yang meninggalkan halaman kampus dengan mobil mewahnya.
"He-eh, kadang gue nggak nyangka punya sahabat sekece dia."
Niana tertawa dan menggeleng maklum. Kami pun berjalan beriringan. Meninggalkan kampus yang berdiri di belakang punggung kami. Saatnya makan siang.
***
"Guys, kenalin ini Gizelle sohib gue dari zaman ingusan!!" seru Sabrina pada teman-teman sosialitanya.
Mereka memperhatikanku dari ujung kaki hingga ujung rambut dan kemudian menyambutku dengan hangat dan ramah. Terima kasih pada Sabrina, cewek fashionista yang sempat-sempatnya memberikanku make over sebelum kami berangkat ke Club ini lagi.
Ya, Club yang pernah kudatangi satu bulan yang lalu. Tempat hiburan malam yang menjadi lokasi pertemuanku dengan Womanizer bernama Alan. Sial, jika aku tahu ke mana Sabrina akan membawaku malam ini, aku akan menolak mentah-mentah. Lebih baik aku membusuk di rumah malam ini daripada kembali menginjakkan kaki ke tempat ini. Namun apa mau dikata? Aku sudah terlanjur mengiyakan dan tak enak untuk membatalkan janjiku.
Sabrina memberikanku segelas white wine padaku dan mengedipkan mata kanannya padaku. Tentu saja aku harus menyambutnya. Sabrina mengangkat gelasnya, diiringi oleh sekumpulan temannya dan aku pun mengikutinya.
"Welcome to my party, my beloved friends! Enjoy the night!" pekik Sabrina tiba-tiba, membuatku kaget.
Oh, rupanya ini adalah pestanya. Pantas saja sahabatku itu memaksaku untuk datang. Aku menyenggol sikunya dan berseru di telingnya.
"Pesta dalam rangka apa?"
Sabrina tersedak. Ia terbatuk-batuk dan membuatku tertawa.
"Gue dapat iklan baru!" balasnya ikut berseru di telingaku.
Ugh! Benar-benar melelahkan jika mengobrol di sini. Lantunan musik yang memekakkan indra pendengaran tak akan terelakkan di sini. Aku menenggak kembali minuman dari sari anggur berkadar alkohol kurang dari lima belas persen itu. Syukurlah Sabrina tak memberikanku minuman yang berat seperti dulu. Kalau hanya wine, aku akan tetap sadar sepanjang malam.
Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru. Dalam hati aku berdoa agar tak ada sosok pria yang telah mengacaukan hidupku di sini. Berharap agar malam ini aku dapat benar-benar menikmati hiburan bersama Sabrina dan teman-temannya.
"Giz!!"
Aku terlonjak kaget ketika mendengar Sabrina berteriak di telingaku. Ketika aku menoleh ke arah sahabatku, aku melihat seorang laki-laki tampan berdiri di sebelahnya. A chic guy. Cowok seksi dengan mata berkarisma itu tersenyum padaku. Matanya yang hitam legam, tajam dan agak sipit itu menatapku. Maskulin, macho, namun terlihat bersahabat.
"Giz, kenalin, ini teman gue. Namanya Steven," kata Sabrina.
Aku tersadar dari keterpesonaanku. Cowok itu mengulurkan tangan kanannya dan berkata dengan suara beratnya.
"Steven."
Dengan kikuk, aku pun menyambut tangan itu dan menjabatnya.
"Gizelle."
Dan kami berdua tersenyum dengan tatapan mata menyatu dan terhubung. Wah, cowok ini benar-benar membuatku merasa panas!
"GUYS!!"
Aku tersentak saat mendengar Sabrina berseru memanggilku dan cowok seksi bernama Steven itu. Kami bersamaan menoleh pada sahabatku. Tak dapat kupungkiri. Rasanya malu sekaligus canggung karena Steven tahu bahwa aku menikmati kontes tatap-menatap antara kami berdua.
"Stop that staring contest! Let the game begin!!"
Keningku mengernyit. "Game?"
"Iya, game. Mission game. Game wajib yang selalu ada di pestanya Sabrina. Yuk!" ajak Steven.
Ia meletakkan tangannya ke pinggulku dan membawaku ke dalam sebuah lounge di mana kumpulan sosialita Sabrina berada. Musik terdengar lebih pelan di sini.
Sucha gentleman.
Poin positifku untuk cowok ini bertambah lagi. Oh, dia sungguh berbeda jauh dengan Alan. Apalagi Donny.
Wait! Kenapa aku membandingkan Steven dengan mereka?
Sabrina menepuk tangannya dan berdiri di atas meja. Membuat semua mata teman-temannya tertuju padanya. Begitu pula denganku dan Steven.
"You guys ready for the first mission?!"
Semuanya berseru antusias. Baiklah, ini akan menjadi sangat seru.
"Like always, gue udah nulis nama kalian dan bakal gue ambil secara acak. Dan seperti biasa, gue yang milih partner in crimenya. Okay, pals?!"
Semua mengamini. Sabrina mengangkat botol vodkanya dan diikuti semua temannya. Mau tak mau aku juga mengamini.
"First mission is... get high at the floor without clothes! Underwears only!"
Astaga! Permainan ini mengerikan! Aku tak menyangka Sabrina, sahabatku itu mempunyai pergaulan yang liar seperti ini.
Sabrina mulai memasukkan tangannya ke dalam akuarium kecil berisi kertas-kertas nama teman-temannya. Ia mengeluarkan salah satunya dan dengan senyum menggoda membuka gulungan kertas itu perlahan.
"Ressa!!"
Semua heboh. Cowok bernama Ressa berdiri dengan bangga dan mulai melepas kemejanya.
"And the partner is his girlfriend, of course!"
Gila! Mereka benar-benar menjalankan misinya. Sepasang kekasih itu melepaskan pakaian mereka dan hanya dengan pakaian dalam saja. Sabrina melempar satu botol kecil berisi pil yang dulu pernah ia berikan padaku. Oh, sepasang kekasih itu akan benar-benar get high setelah meneguk pil itu!
Setelah meminum pil itu dengan wine, mereka mulai berjalan ke lantai dansa. Dari tempat kami berkumpul, dapat dilihat mereka menjadi pusat perhatian dan menari hanyut dalam musik up beat.
Astaga... rasanya aku mau pulang saja! Apa jadinya jika namaku yang menjadi korban permainan ini?
"Next mission is... make out at the dance floor!!"
Kali ini reaksi teman-teman Sabrina lebih meriah lagi. Dasar tidak waras!
Entah mengapa aku merasa gugup dan gelisah. Ada firasat buruk muncul di relung hatiku. Jangan bilang....
"My beloved bestie, Gizelle!!"
Dan semua bertepuk tangan dan berseru dengan meriah ketika mereka menyadari siapa orang yang akan menjadi make out partnerku.