Hari pertama kerja merupakan bagian paling menyenangkan untuk setiap orang, tapi memang tidak semua termasuk bagi Yoanna. Satu hari setelah Yoanna mendapat kesempatan menjadi pendamping Arnold sebagai fotografer tetap di cabang perusahaan JE'O, tidak membuat Yoanna merasa bersemangat meski kini ia sudah mendapat fasilitas mobil dan kamera di tangan. Bukan bagian yang tidak pantas disyukuri tetapi Yoanna masih mengingat ucapan Jee kemarin.
Roda empat sudah memberi kode jika Yoanna akan melakukan kegiatan sesungguhnya saat di basement kantor. Saat itu Yoanna tidak sengaja berada di samping mobil yang baru saja berhenti, lalu terbuka dan di sana Jee dan Aloysia baru saja turun dari mobil.
"Hai," Aloysia menghampiri Yoanna. "Kau... Nona Marcella 'kan?"
Sesaat Yoanna bingung mengapa Jee bersama wanita tapi Yoanna mencoba berpikir masa bodoh. "Ah, ya. Aku baru saja melihat pose-pose Anda. Dan saya sangat berterima kasih karena Anda mempercayakan saya sebagai salah satu bagian di JE'O."
"Tidak, semua itu karena kau memang berbakat Yoanna. Selanjutnya memang kau pantas mendapatkan itu semua." jawab Aloysia enteng.
Jee menangkap perbincangan Yoanna dan Aloysia. Tidak terlintas saja di pikiran Jee jika Aloysia yang sudah menentukan semua ini. Tetapi bukankah itu merupakan kebetulan yang menguntungkan? Ya, Jee hanya bisa memikirkan ambisi itu sampai percakapan wanita-wanita seksi di depannya semakin asyik.
"Oh ya, jangan sungkan untuk bertanya-tanya dengan senior mu di sini. Mereka semua orang-orang baik dan tidak apa-apa jika kau ingin bertanya kepadaku." bagi Aloysia membantu adalah kewajiban.
"Ya, tenang saja! Selain memotret aku juga suka membuat orang pusing dan mual karena pertanyaan ku." Yoanna segera menepi saat ada satu mobil yang parkir di sebelahnya.
"Tapi kita akan bekerjasama sementara saja Yoanna." tiba-tiba suara Aloysia merendah.
"Hm... Memangnya kenapa? Kau akan pindah?" tanya Yoanna mengamati jam tangan.
Aloysia menyunggingkan senyuman. "Tidak! Ah, tapi kau bisa menganggapnya seperti itu. Tetapi mungkin untuk selamanya."
Sakit. Itu yang sedang menikam batin Aloysia, memikul beban yang begitu berat tentang diagnosa dokter bahwa Aloysia terkena radang otak. Tapi Aloysia mencoba bersabar seolah tidak mengenal semua itu, Aloysia tidak ingin mengerti sebuah p********n karena penyakit yang menyedihkan.
"Se--lamanya?" tiba-tiba manik mata Yoanna terfokus pada wajah pucat terlapisi gincu.
Aloysia tertawa. "Oh astaga, itu hanya lelucon. Kau jangan terlalu serius menanggapi perkataan ku Yoanna!"
"Sial," Yoanna mendengus kemudian tertawa kecil. "Ya, terima kasih banyak karena Anda sudah sangat menghibur."
"Tidak! Aku tidak memberi mu apapun, tapi ngomong-ngomong kau sudah punya pacar atau sudak menikah?" tanya Aloysia ingin tahu.
"Aku?" sialnya Yoanna tidak bisa berkata jujur di depan Jee. "Em... Belum, maksudku... Aku belum menikah!"
Deg! Akhirnya Yoanna bertindak mengambil jalan pintas. Yoanna berbohong tentang status yang memang harus Yoanna lindungi sampai kapanpun.
"Oh baiklah!" Aloysia mengangguk paham.
"Memangnya kenapa? Apa Anda takut jika saya tidak konsisten saat bekerja?" sekarang Yoanna ingin tahu alasan Aloysia.
"Tidak! Bukan itu, aku hanya bertanya saja. Lagipula agar aku bisa mengenalmu lebih jauh lagi." balas Aloysia meninggalkan Yoanna untuk merangkul Jee.
Jee yang saat itu tengah menikmati hidangan asap dari rokok tiba-tiba malas melihat wajah Yoanna. Tapi tidak menyurutkan Jee tetap mencuri kesempatan menatap wajah cantik Yoanna.
"Perkenalkan, ini calon suamiku! Kau pasti sudah tahu kan Yoanna?" pamer Aloysia kini melingkarkan tangan di sela-sela lengan Jee.
"Ya, saya sudah berkenalan dengan Tuan Jamie." jawab Yoanna tidak bernafsu.
"Baiklah, sampai jumpa di beberapa jam saat pemotretan Yoanna."
Dengan pandangan tidak suka karena Aloysia mengerat begitu saja di sisi tubuh, Jee berusaha menyingkirkan jari lentik itu tanpa sepengatahuan Yoanna. Jee menceraikan langkah dari Aloysia dan bergegas mematikan putung rokok dan menuju ruang studio di mana pemotretan untuk tabloid terbaru akan dilakukan.
Dari jarak yang sudah semakin jauh Jee menoleh kembali ke belakang untuk memastikan langkah Yoanna yang tertinggal. Tapi Jee malas jika menemui Aloysia lagi, lalu Jee membenamkan tubuhnya di pot besar tepat di sisi pintu lift. Tidak lama Aloysia berlalu dan Jee menunggu Yoanna dengan sangat santai melingkarkan tangan di perut dan mengetuk-ngetuk kan sepatu di bagian bawah pot.
Beberapa menit kemudian langkah tergesa Yoanna menguras ambisi Jee untuk menemui, sampai Yoanna berada di depan pintu Jee masih setia mengintai dan langsung menarik lengan Yoanna.
"Oh, hei apa yang..."
Yoanna tersadar jika tangan yang sedang menguasai kemudian menyeretnya menjauh dari lift adalah Jee. Sambil memeluk kamera Yoanna merasa kesulitan saat Jee menariknya semakin cepat menuju tangga darurat. Entah apa yang akan Yoanna terima tapi Yoanna hanya menuruti langkah yang semakin cepat menaiki anak tangga.
"Lepasin!" bentak Yoanna tidak membuahkan hasil.
"Udah diem! Ada yang ingin aku omongin ke kamu, cuma sebentar." pinta Jee semakin jauh membawa Yoanna.
Cabang JE'O yang dipimpin oleh Lucky tidak terlalu terlalu menjulang dan hanya memiliki empat lantai. Jee kini berpijak pada bagian paling ujung gedung perusahaan dan di sana Jee menerjang hangat matahari pagi dan emosional batin yang tergerak saat melihat Yoanna.
"Maaf Pak," Yoanna mencampakkan tangan Jee. "Anda sudah keterlaluan! Nggak sopan!"
Tidak terima. Yoanna berbalik arah tetapi tangan Jee sudah melingkar di pinggangnya, Yoanna pun berontak dengan sisa tenaga dan tangan yang berusaha menahan kamera.
"Nggak usah bahas soal kesopanan Yoanna, aku nggak kenal itu. Lagian buat apa? Nggak akan ada gunanya karena kita bukan orang lain." lantas Jee membalikkan tubuh Yoanna ke arahnya.
Mendengar ocehan tidak berbobot karena Yoanna tidak ada waktu meladeni ia pun segera mendorong d**a Jee. "Bukan orang lain? Kita ini bukan siapa-siapa Pak, aku cuma karyawan dan..."
Tunggu. Yoanna merasa d**a dan tenggorokan sesak. Benarkah baru saja Yoanna tidak mengakui tentang Jee? Walau bukan itu kenyataan yang harus ditelan Yoanna tetap mencerna dan menyembunyikan fakta.
"Bapak adalah bos saya. Jadi plis Pak, jalani semuanya seperti layaknya kita ini saling membutuhkan dalam bisnis." pinta Yoanna entah ia merasa pedih dengan ucapannya.
"Aku ingin menikahimu Yoanna." terang Jee tanpa beban saat keinginan sudah terlontar sangat jelas.
"A--apa?"
Kamera yang hanya memiliki berat kurang lebih 1 kilo di tangannya terasa berat. Napas Yoanna tidak teratur saat embusannya mengurung tenaga saat jelas Jee memberikan nyata. Tapi Yoanna sebisa mungkin mengendalikan sikap dan tandak tanduk tenaga yang hampir tidak berdaya.
"Aku ingin kamu jadi istriku." ulang Jee menatap sayu.
Yoanna hanya mengendus saat menahan tawa. "J--jadi istri Bapak? Em... Maaf Pak, ini masih pagi jadi rasanya kurang sempurna kalau bikin candaan. Lebih baik Bapak cuci muka terus sarapan biar ada tenaga buat sadar!"
Tangan Yoanna mengusap-usap mantel Jee karena rintikan salju. Lalu dengan smirk yang memang tidak tertarik dengan ocehan Jee, Yoanna segera melangkah mundur ingin segera lenyap dari sana.
"Aku bisa bedain mana mimpi, mabuk dan sadar karena ucapanku!" satu sampai beberapa langkah Jee menjauh dari Yoanna. "Jangan bikin kebaikan aku ini berubah jadi ambisi atau aku bisa aja buat kamu jawab 'ya'."
Bukan Yoanna yang bisa mencampakkan Jee. Tapi kini Yoanna justru terpaksa mencerna ucapan Jee yang terdengar berat di terima. Apa maksudnya saja Yoanna tidak sanggup menemukan, tapi pikiran Yoanna teralihkan ke Shaila.
[...]
Belum memiliki nyali untuk bertemu tapi Yoanna sudah dua kali melipat tatapan serta ancaman Jee di kepala. Mengusung keberanian untuk mengundurkan diri Yoanna rasa tidak mungkin, karena Yoanna tetap harus berjuang demi Shaila.
Satu hari semenjak Jee berniat untuk menikahinya, Yoanna sudah merasa khawatir jika akan berangkat ke kantor. Tapi karena Yoanna tahu jika Jee memiliki perusahaan lain yang dinomorsatukan, Yoanna tetap beraktivitas seperti biasa. Dan melakukan pemotretan sesuai jadwal.
Sampai jam makan siang Yoanna masih saja mengoreksi hasil pengambilan gambar. Tidak jarang Yoanna merasa aneh dan menyortir kembali hasil pemotretan model busana musim dingin. Meski beberapa teman barunya berusaha mengajak Yoanna menikmati menu pengganjal perut Yoanna menolak dan memberi alasan tertentu.
Di ruang studio Yoanna mulai membakar ujung tembakau lalu menyesap dalam-dalam aroma khas yang sedikit menenangkan. Asap yang berlalu seakan lebih indah dari dugaan dan Yoanna ingin menjadi di antaranya daripada harus menelan racun di dalam tatapan Jee. Dua kali Yoanna membebaskan asap putih di bibirnya namun lamunannya terganggu saat denyitan pintu terdengar. Yoanna menoleh dan bayangan itu mempertegas jika Shaila tengah tersenyum.
Cepat-cepat Yoanna bangkit dan segera mengusaikan bara di batang rokok tanpa sepengetahuan Shaila.
"Hai Nona Superman." tangan dan kaki Yoanna saling bekerjasama menyambut Shaila. "Kamu deteng sama siapa sayang?"
Shaila meraih tengkuk lalu mengecup kedua pipi Yoanna. "Shaila dateng sama Tante Superman."
"Oh, terus mana Tante Thalita? Pasti Shaila ninggalin Tante ya?" goda Yoanna memainkan ujung hidung mancung Shaila.
"Abis Tante Thalita jalannya lama, jadi Shaila lari aja ke ruangan Bunda." ucap Shaila polos.
Yoanna mengangguk tanda memahami ucapan putrinya. "Terus Shaila tau darimana ini ruangan Bunda hayo?"
"Dari Tante dong, kita udah jalan lama... Banget. Shaila sampai capek." Shaila memijit-mijit betis sekedar menunjukkan rasa lelah ke Yoanna.
Lalu Yoanna menggendong Shaila dan berjalan untuk memamerkan seisi ruangan yang didesain apik dengan warna soft pada seluruh aksesoris keperluan pemotretan. Tidak jarang seperti saat-saat di Indonesia ketika Shaila datang ke tempat kerja, Yoanna selalu memperkenalkan jenis-jenis kamera dan cara menggunakannya dengan bahasa ringan. Shaila pun akan mulai berpikir saat Yoanna menerangkan.
"Bunda laper." wajah cantik dan lucu Shaila berubah. Seolah menahan sesuatu.
Yoanna tertawa dan berinisiatif mengajak Shaila ke kafe. Namun karena Thalita belum juga datang, Yoanna menunggu sejenak kemudian mereka berlalu dari ruangan dan menuju kafe. Di jalan keluar gedung Yoanna sedikit memasang waspada jika mendapati Jee berada di sana, tapi bukan Jee melainkan atasannya Lucky.
"Siang Pak." sapa Thalita seperti biasa dengan gaya nya yang manis.
Lucky mengangguk saja dan memang malas memberi tanggapan ke siapa pun, tapi keberadaan Shaila membedakan reaksi Lucky dan ia mengamati wajah cantik Shaila.
"Em, kayaknya kita punya tamu baru." tegur Lucky memancing salah satu wanita di depannya angkat bicara.
"Oh, kenalin nih Pak. Ini--"
"This is my niece." jawab Yoanna merebut perkataan Thalita dengan bahasa asing.
Ada rasa tidak percaya di dalam benak Thalita saat mendengar pengakuan Yoanna. Kenapa? Tapi pertanyaan itu terkubur saat Yoanna benar-benar terlihat biasa, Thalita hanya diam tanpa ingin meninggalkan bekas perkataan.
"Oh, hai. Siapa nama kamu?" terang Lucky merasa gemas melihat Shaila.
"Shaila Om."
Getir. Saat suara Shaila menunjukkan keberadaan Yoanna merasa telah bertidak kejam dengan mendustai ini semua. Tanpa menahan apapun lagi Yoanna berhasil meneteskan kepedihan namun ia sepandai mungkin bersembunyi dan masih tersenyum. Berat seakan tidak mampu untuk membimbing rasa sakit Yoanna dari apapun saat harus mengurung identitas siapa Shaila.