Waktu sangat cepat mengayun kehidupan pada tujuan dan harapan. Bukti bahwa 72 bulan telah mengunci diri Yoanna pada kesalahan yang tidak bisa ia nobatkan sebagai masalah. Yoanna menerima banyak kebahagiaan dalam jangkah kaki akan kesabaran Yoanna melawan takdir yang sangat adil. Sudah sekian lama tahun berganti dengan keunggulan lain Yoanna masih menolerir namun kata 'tapi' sudah menelaah semuanya karena Yoanna telah menerima sebuah kodrat itu menjadi sebuah anugerah, rasa semangat Yoanna selalu timbul ketika melihat putrinya yang kini telah tumbuh menjadi gadis kecil yang jelita.
Persiapan untuk segera berangkat ke bandara sudah mencapai 80%. Lima menit kemudian Thalita datang membawa kabar gembira jika ia telah membeli satu tiket untuk Kima. Awalnya sempat terjadi kebimbangan di antara Yoanna ataupun Thalita mengenai pengasuh Shaila, tetapi urusan Kima biarlah menjadi tanggung jawab Yoanna dan Thalita. Biar bagaimanapun Kima sudah merawat Shaila semenjak masih bayi.
Warna malam semakin menggelap dan jadwal penerbangan sudah mendesak Yoanna dan yang lainnya untuk segera berangkat ke Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta. Sebelum meninggalkan kota kelahiran dan memang Yoanna sendiri tidak akan pernah tahu kapan kembali ke Indonesia, ia menyempatkan diri mengunjungi rumahnya. Tetapi Yoanna hanya mampu melihat pagar rumahnya dengan perasaan getir, Yoanna berusaha menyimpan baik-baik air mata dan kerinduan.
"Kamu yakin nggak akan masuk Yo?" tegur Thalita membangunkan lamunan Yoanna.
Sekilas Yoanna menoleh dan tertunduk. "Enggak Li, udah cukup kok aku liat mereka dari jauh. Aku nggak mau bikin Mama sama Papa aku sedih dan berantem lagi, sudah cukup aku bikin mereka menderita Li."
Talitha tidak berdaya memberi komentar selain menggenggam tangan Yoanna. Lalu taksi segera pergi dari daerah tempat tinggal Yoanna menuju ke daerah Cengkareng. Dalam perjalanan Yoanna mengukuhkan tekad saat memikul beban masalah sendiri, Yoanna hafal tentang kepedihan dan semenjak keluarga mengusirnya Yoanna berlaku adil pada diri yaitu akan bekerja keras demi buah hatinya.
[...]
Hamburg, Jerman
Tepat sekitar dua puluh jam penerbangan dari Jakarta ke Hamburg telah menguras tenaga tanpa meruntuhkan rasa semangat. Di daerah Flughafenstr Yoanna memilih singgah di salah satu restoran terdekat sembari melepas penat dan dahaga. Dengan telaten Yoanna membangunkan Shaila dari tidur lalu memakaikan baju hangat untuk Shaila karena saat ini Jerman mengalami musim dingin.
Kota tersibuk di dunia terletak di antara sungai Elbe dan Alster, Hamburg kembali merangsang kesenangan Yoanna saat melihat matahari merubah warna. Sedikit memberitahu kepada Shaila bahwa Hamburg adalah kota yang pernah menjadi tempat tinggal Yoanna selama tiga tahun dulu.
"Bunda ada kapal." tangan Shaila menunjuk pada perahu yang mengapung di sekitar tempat makan mereka.
Yoanna menggeleng sambil mulai membenarkan kuncir kuda Shaila. "Bukan sayang, itu perahu."
"Sama aja Bunda." tampaknya Shaila memaksa jika kedua alat transportasi itu tidak memiliki perbedaan.
"Enggak dong Nona Superman, perahu dan kapal itu beda. Kalau kapal besar, tapi kalau perahu kecil." jelas Yoanna singkat agar Shaila lebih mudah memahami perbedaan yang akurat.
Satu menu seafood yang Yoanna pesan untuk Shaila sudah menggemparkan aroma dan selera di atas meja. Semilir angin sore itu menawarkan kelegaan setelah perjalanan jauh dan Shaila terlihat kuat bahkan semangat. Satu sampai dua suap Shaila sedikit aneh dengan olahan ikan haring dilengkapi dengan bawang dan acar. Tetapi perlahan Shaila mulai menyukai menu khas Hmburg itu saat Yoanna menambahkan saus horseradish.
"Gimana, enak kan?" jari telunjuk Yoanna menyingkirkan bekas bumbu yang menempel di bibir Shaila.
Shaila mengangguk. "Enak Bunda, tapi jangan pakai itu. Rasanya pedes Bunda."
Hampir saja Yoanna kembali menuangkan saus pelengkap. Sampai akhirnya Yoanna tahu jika Shaila tidak suka dengan masakan pedas, tapi untuk mengganti cita rasa sedikit berbeda tanpa mengurangi kekentalan rasa Yoanna memberi saus tomat. Dan ketegasan rasa senang Shaila terpancar.
"Yo, kita bisa masakin fischbrötchen setiap hari buat Shaila." Thalita merujuk ide.
"Oh iya," Yoanna tidak bisa tenang jika mengingat makanan yang satu itu. "Kita bisa belanja ikan di Hamburg Fish Market Li, ide bagus! Kita wajib cari penginapan di sana."
Raut Thalita berubah. Thalita hanya menenggak air mineral lalu menyiramkan saus ke atas daging cincang di dalam hot plate untuk mengikat rasa masakan. Suara mendesis saus itu mengutak-atik suasana sore di restoran.
"Deket sih dari kantor, cuma kayaknya kita nggak ada waktu buat sekedar jalan-jalan ke pelabuhan. Nanti deh, aku atur dan pesen aja." Sergah Thalita agar hari ini dan satu bulan ke depan Yoanna fokus dengan pekerjaan barunya.
"Iya iya, aku tau kok. Aku kan semangat aja Li, udah berapa tahun aku nggak ke sini?"
Deg! Berapa tahun? Semenjak Yoanna tersandung kasus menjijikkan sekaligus menjengkelkan karena Yoanna tidak bisa menyalahkan orang lain. Satu malam yang mengubah seluruh kehidupan Yoanna. Malam singkat bersama pria itu. Ah sial! Yoanna tidak bisa menelan makanannya, bahkan menelan ludah saja butuh tenaga.
"Hm... Berapa tahun ya?" kepala Thalita mendongak, kedua manik matanya terangkat memikirkan sesuatu.
Yoanna tidak langsung membalas bahkan Yoanna menenggelamkan ingatannya di menu lain, Yoanna mengumbar senyum dan rasa semangat baru meski batinnya meronta. Lalu Yoanna kembali menyuapi Shaila dengan sisa tenaga dan otak yang masih terasa waras dan tidak ingin menggila akan malam itu.
Setelah cukup untuk menikmati jamuan makan dan panorama, Yoanna mengikuti apa yang dikatakan oleh Thalita. Mereka segera meninggalkan restoran dan menuju terminal.
Di sepanjang perjalanan menuju daerah Ottensen yang terletak di wilayah Altona tepi sungai Elbe, Yoanna mengedarkan pandangan pada bangunan-bangunan bersejarah di Eropa. Jiwa Yoanna enggan melupakan bagaimana kota itu berjasa sebagai perantara atas keahlian Yoanna sebagai seseorang yang memilik jiwa seni tinggi, sudah sepuluh tahun Yoanna mendalami bidang seni fotografi dan memang Yoanna telah jatuh cinta dengan Hamburg.
Rasa lelah telah menggerogoti malam dan tenaga ketika sebuah apartemen modern namun kesan klasik nya tetap terjamah oleh mata menyambut. Pertama Yoanna menidurkan Shaila sampai akhirnya Yoanna menjamah laptop untuk sekedar mengulang hasil kerjanya dulu. Macam-macam jenis hasil pemotretan itu Yoanna perhatikan sampai tidak sadar jika Thalita duduk di sebelahnya dengan mata meneliti layar komputer.
"Itu... Hasil jepretan kamu Yo?" tanya Thalitha menyeruput kopi.
Yoanna mengangguk pasti. "Ya, enam tahun yang lalu. Cuma aku putusin buat koleksi dan nggak ada niat print."
"Eh tunggu-tunggu," terang mata Thalita membulat. "Ini... Asli jepretan kamu Yo? Serius?"
"Iya Li, itu hasil jepretan tangan aku...." bibir Yoanna sedikit maju ketika menjelaskan kepada Thalita."
"Emang kenapa sih? Serem deh kalo kamu mulai neliti kayak gitu." imbuh Yoanna ingin tahu.
Thalita segera menuntaskan isi dalam gelas. "Itu bisa banget tuh. Kamu ikutan kontes aja Yo, sambil kerja di perusahaan JE'O kamu ikut kontes di perusahaan yang kerja sama dengan JE'O. Ah, bentar. Aku lupa, apa ya nama perusahaan itu?"
"Halah udah lah. Aku males ikut kontes begituan." tolak Yoanna tanpa ragu.
"Sombong!" Talitha menjambak ringan rambut Yoanna. "Kamu bisa merentangkan nama kamu lagi di sini Yo. Kamu bisa cari sampingan."
Ganti Yoanna menatap sinis dengan manik mata semakin menajam ke arah Thalita. "Terus waktu buat Shaila mana?"
"Ck, aneh deh kamu. Kontes ini cuma sehari Yo, tapi hadiahnya lumayan. Yang aku tau nih, pemenang bakal jadi partner sang fotografer terkenal seperti Arnold, Jason, dan... Teresa."
Seakan tidak percaya namun Yoanna tahu jika pendengarannya masih sangat baik. Satu sampai dua kali Yoanna meminta Thalita menjelaskan. Bukan mengenai seberapa besar hadiah itu tetapi nama Arnold sang fotografer terkemuka di Eropa. Yoanna terlalu berharap setelah mendengar kontes tersebut.
"Atau kalau kamu mau nambah view yang lebih erotis, kamu datang ke acara festival." saran Thalita seolah memberi opsi ambisi untuk Yoanna.
"Festival Natal? Tapi Shaila baru sembuh Li, aku nggak tega ngajak dia keluar lama-lama. Dingin." sesal Yoanna mengutak-atik kuku.
"Em... Gimana ya? Emang acara itu di Berlin Yo, kasian sih Shaila." Thalita mengerti apa yang dirasakan sahabatnya. "Tapi kamu jangan khawatir Yo, kita sewa penginapan di sana sampai kamu puas melakukan pemotretan di sana."
Masih saja Yoanna menggeleng lemah. "Udah Li, aku makasih banget kamu sering bantuin aku. Cuma ya... Masalah itu nggak udah deh, lagipula aku kan udah nggak punya kamera."
Keduanya bergeming. Baik Yoanna atau Thalita merasa ide yang dirancang akan sia-sia, tetapi satu pemikiran datang di pikiran Yoanna sampai tidak perlu memberi ungkapan Thalita sudah memahami apa yang ada di benak Yoanna. Mereka tetap akan pergi ke Berlin dengan membawa cita-cita dan menyewa kamera dari rental.
[...]
Titik kecil cahaya kota terlihat dari atas bangunan mewah milik keluarga terpandang di kota Hamburg. Kepulan asap dari tembakau menguak kehangatan dari salju yang baru saja mereda. Manik mata Jee tidak beranjak dari sebuah hiasan berdebu dan sengaja Jee tidak memperbolehkan pelayan untuk membersihkan sisa debu di lentera berinisial Y.
"Udah," Lucky datang dari arah belakang dan menepuk pundak Jee. "Nggak usah dipikirin, kalau festival di Berlin gagal dan kontes ini masih nggak berhasil nemuin si gadis kamu itu juga. Kita masih bisa mencobanya tahun depan Jee."
Jee hanya terdiam sambil melepas abu dari ujung rokoknya. Jee malas jika memberi kabar pada otaknya tentang kegagalan yang sudah terjadi tiga kali saat mengadakan festival sekaligus kontes bertujuan mencari inisial Y.
"Sabar Jee, aku selalu dukung kamu buat dapetin pacar kamu itu." asumsi Lucky berusaha menenangkan sahabatnya.
"Dia bukan pacarku. Dan nggak usah tanya kenapa!" sambar Jee pada kenyataannya.
"Nggak! Aku nggak akan nanya apapun ke kamu. Cuma saran aku... Cobalah mencintai wanita lain dan beri dia kesempatan untuk membuat kamu bahagia Jee." ujar Lucky tanpa menutupi tujuannya agar Aloysia bahagia bersama pria yang dicintai.
Bagi Jee orang mengucapkan beberapa kalimat nikmat saat bercinta sangat wajar. Tapi tidak saat Jee mengungkap cinta, itu terdengar mustahil jika dari mulutnya akan berucap tulus, semua membutuhkan komitmen sampai Jee yakin telah menemukan tambatan hatinya. Tugas Jee saat ini hanyalah mencumbu waktu dan pikiran tentang acara festival besok. Acara musim dingin yang sengaja diadakan untuk menguatkan reaksi dan antusias kontes Minggu depan, di perusahaan yang berada di bawah naungan JE'O Picture.
"Sebenernya aku mau ngundang Aloysia ke acara festival, kalau kamu kasih ijin sih." ragu namun Lucky berharap bisa meluluhkan hati Jee.
"Kenapa harus minta ijin?" jawab Jee tidak bersemangat.
"Kan kamu bos nya, jadi semua tamu undangan harus minta persetujuan dari kamu dong." kemudian Lucky merasa lemah jika berbicara banyak tentang Aloysia.
Jee tersenyum miring sambil mematikan ujung rokoknya. "Acara itu untuk orang umum Lucky, jadi siapapun bisa hadir dan berpartisipasi meriahkan acara besok."
"Umum? Jadi kamu anggap Aloysia itu orang umum aja? Ck, keterlaluan kamu Jee." klaim Lucky tentang keangkuhan Jee.
"Keterlaluan, aku?" sontak Jee menoleh dan membanting tatapan untuk Lucky.
Lucky menajamkan pendengaran dan pandangan. "Ya, kamu! Gimana bisa kamu ngomong gitu Jee, dia tunangan kamu!"
Area mata Jee mengerut karena tertawa lepas. "Kamu peduli banget sama Aloysia, kenapa? Kamu minat? Ambil aja nggak masalah, malah aku bakal berterima kasih sama kamu Lucky."
Tanpa beban dan kesalahan Jee pergi meninggalkan tempat Lucky yang saat itu mendengus kesal. Tidak masalah memang. Karena bagi Jee berakhirnya pertunangan dengan Aloysia merupakan mimpi besar Jee.
Di jalanan mobil favorit Jee melintas bebas sambil Jee melakukan panggilan untuk seorang wanita yang ia cintai, orang yang selalu membangkitkan semangat saat Jee merasa jika apa yang ia inginkan tidak akan pernah tercapai. Tapi tidak jarang Jee membuat wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu dengan sikap Jee yang tidakpernah menerima sebuah wasiat ayah Jee.
"Aku minta maaf Mi, tapi aku masih sama. Aku tetep nunggu wanita itu datang, atau bisa saja memang dia ada di sekitar ku! Mami nggak perlu capek-capek buat jodohin aku sama Aloysia, dia bukan tipe aku. Bukan karena kurang oke atau cantik. Aloysia sempurna, tapi sayangnya... Aku nggak layak, aku mandul." terang Jee panjang lebar kepada ibunya.
Pernyataan yang tidak dapat dibantah dengan uang sekalipun. Kodrat yang menurut Jee ia lelah dalam menghadapi masalah, percuma jika ia mencari sebuah kepuasan dengan wanita seperti Aloysia. Jee hanya ingin tetap melajang, atau bahkan ia akan tetap mencari di mana sosok Yoanna saat ini.
Mobil telah terparkir di halaman rumah pribadi Jee yang terletak di pusat kota Hamburg, dari jarak jauh Jee melihat ruangan terlapisi kaca tembus pandang hanya di bagian di mana sebuah benda yang Yoanna tinggalkan berada di sana. Benda yang terkadang Jee jadikan bersinar, wujud terang yang setiap malam Jee perhatikan. Sebuah lentera berinisial 'Y'.