Cahaya keemasan matahari bercampur warna awan putih dari jendela pesawat pagi itu membuahkan semangat Yoanna untuk kembali ke Hamburg. Bibirnya terus tersenyum disertai kedua kaki yang siap berlari ke arah Shaila, tanpa menyadari hingga beberapa kali Yoanna pun tidak sadar menangisi kebahagiaan ini. Saat menatap tubuh di sebelahnya pun Yoanna menerima segenggam harapan baru. Tangan dan kecupan Jee tidak terhenti oleh apapun meski kedatangan seorang pramusaji ke dalam ruangan VIP pesawat yang ia tumpangi. Jee rutin memberi bujukan pada setiap sentuhan di perut Yoanna, mengusap lembut dan Jee menyibakkan rambut menutupi sebagian tengkuk. Geliat itu masih akan mengendap dan menguat di pikiran Jee yang menjadi gila, ia mengecup serta tangannya merambat ke bagian d**a Yoanna dari

