"HAHAHAHA!!" Rayyan tertawa terpingkal-pingkal setelah Kenan menceritakan kejadian memalukan akibat kinerja Naya yang buruk.
"Kok lo malah ketawain gue gitu sih, Ray?" Kenan tampak tidak senang karena ditertawakan.
Rayyan yang belum bisa menghentikan tawanya kini mengangkat cangkir berisi teh hangat yang dibuatkan oleh sang istri lalu menyeruputnya perlahan. Barulah setelah itu Rayyan bisa meredakan tawanya.
Kemudian Rayyan meletakkan kembali cangkir tadi ke atas meja dengan sangat hati-hati. "Tehnya diminum, Ken. Nanti Kyara bisa marah kalau teh yang dia sediain nggak diminum," celetuk Rayyan karena melihat cangkir teh milik Kenan masih terisi penuh.
Dengan raut wajah kesalnya Kenan mengikuti perkataan Rayyan untuk meminum teh yang disediakan oleh Kyara. Dia tidak mungkin mau membuat Kyara kecewa. Biar bagaimanapun kemarahan Kyara adalah salah satu yang dia takuti.
"Terus jadinya gimana, Ken? Lo bisa atasin dong masalah berkas itu?" tanya Rayyan penasaran.
"Bisa. Untungnya gue udah profesional," jawab Kenan dengan mantap.
"Terus sekarang mana sekretaris lo?"
"Nggak gue ajak. Tadinya mau gue ajak ketemu sama lo dan Kyara, tapi karena udah terlanjur kesal jadinya nggak gue ajak."
"Hahahaha …." Rayyan kembali tertawa dan membuat Kenan menjadi jengkel.
Kemudian Kenan berdiri dari duduknya, berjalan menghampiri Ilona dan Nevan yang sedang asyik bermain di ruang keluarga. Untuk saat ini dia lebih memilih bermain bersama dua orang anak kecil dibanding berbincang dengan Rayyan.
Dari arah dapur Kyara berjalan membawa sebuah nampan. "Ilona, Nevan, yuk kita makan malam!" seru Kyara yang semakin dekat ke ruang keluarga.
Saat wanita tersebut meletakkan nampan di atas karpet bulu yang diduduki oleh Ilona dan juga Nevan, Kenan bisa melihat dua buah piring berisi seporsi nasi untuk ukuran anak-anak dengan chicken katsu yang sudah dipotong-potong dan disiram dengan kuah kare Jepang.
"Kya, kayaknya enak deh," ucap Kenan setelah melihat menu makan malam kedua buah hati Kyara.
"Kamu mau?"
"Memang boleh?"
"Boleh kok. Tunggu sebentar ya, aku ambilkan untuk kamu," ucap Kyara dengan senyumannya yang membuat Kenan terpana sehingga kedua mata Kenan mengikuti kemana Kyara pergi.
Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama. Kenan langsung menggelengkan kepalanya dan mengubah arah pandangnya ke arah lain. Dia tidak boleh lagi jatuh cinta pada Kyara. Karena sekarang wanita itu sudah menjadi milik sahabat Kenan sendiri.
Dari tempat duduknya Rayyan bisa memperhatikan sikap Kenan terhadap istrinya dengan sangat jelas. Rayyan juga bisa menduga jika sisa-sisa rasa yang dulu itu masih ada di dalam hati Kenan.
Tak lama kemudian Kyara kembali membawakan makanan dengan menu yang sama seperti sebelumnya untuk Kenan. Yang membedakan hanyalah porsinya saja yang lebih banyak.
Diberikannya makanan tersebut pada Kenan. "Ini, Ken. Dihabiskan ya," ujar Kyara.
"Pasti, Kya. Masakan kamu masih jadi yang terfavorit untukku," balas Kenan.
"Apa?"
"Ah, itu … tidak kok, maksudku masakan kamu masih enak seperti dulu," elak Kenan.
"Seperti dulu?"
"Eh? Hmm … begitulah pokoknya! Aku makan bareng Rayyan saja ya, Kya." Kenan berdiri sambil memegang piring di tangannya lalu melarikan diri dari Kyara. Dia tidak mau salah bicara lagi dan juga tidak mau terlontar banyak pertanyaan dari bibir Kyara.
Sementara itu di tempat lain. Di dalam kamarnya Naya duduk dengan wajahnya yang pucat setelah dimarahi oleh Kenan.
"Mudah-mudahan aku nggak bakal dipecat besok," harapnya.
"Eh, tapi nggak semuanya kesalahanku. Karena gara-gara Pak Kenan memenuhi pikiranku, aku jadi nggak fokus kerjanya. Iya, benar. Bukan kesalahanku. Semua karena bayangan Pak Kenan yang mampir dan nggak pulang-pulang dari kepalaku ini." Naya berusaha membela dirinya dan melemparkan kesalahannya pada hal lain.
Padahal bukan bayang-bayang Kenan yang tidak mau pergi, tetapi Naya yang tidak mengizinkannya pergi.
Apalagi kenangan saat menjadi kekasih satu hari Kenan. Semua itu dicetaknya dengan jelas dalam benak Naya agar gadis itu bisa terus mengingat sikap lembut Kenan pada waktu itu.
Kemudian Naya bangkit dan melangkah ke arah cermin. Dia berdiri di depan cermin, menatap wajahnya dengan seksama.
"Kayaknya mulai besok aku harus merubah penampilanku biar Pak Kenan bisa bersikap lembut padaku," ucap Naya di depan cermin.
"Pastinya harus meniru Kyara 'kan? Dengan begitu dia akan bisa bersikap baik padaku," lanjutnya.
Benar saja. Keesokan harinya Naya menata rambutnya seperti Kyara yang dia temui waktu itu. Dia juga memilih pakaian yang membuatnya tampak anggun.
"Semoga aja Pak Kenan suka dengan penampilanku ini," harap Naya.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel Naya berdering kencang. Dengan cepat Naya meraih ponselnya yang digeletakkan di samping bantal dan melihat siapa yang meneleponnya.
"Pak Kenan?" Raut wajahnya berubah panik setelah melihat layar ponselnya.
Diterimanya panggilan masuk dari Kenan dengan jantung yang berdegup kencang.
"Ha-halo, Pak. Selamat pagi," Naya memberikan salam.
[Pagi, Naya. Kamu ada dimana?] tanya Kenan.
"Saya masih di rumah, Pak. Baru saja mau berangkat."
[Okay, kamu keluar sekarang. Saya sudah di depan rumah kamu.]
"Depan rumah???" Reaksi Naya sangat terkejut saat Kenan mengatakan dia sudah di depan rumahnya.
[Saya tunggu lima menit, kalau lambat maka akan saya tinggal,] pungkas Kenan yang kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
Kini Naya diam terpaku dengan tangan yang masih memegang ponsel di telinganya. Rasanya dia salah mendengar jika Kenan sudah berada di depan rumahnya.
"Kayaknya salah dengar deh. Masa iya Pak Kenan jemput aku. Hihihi nggak mungkin ah. Pasti bercanda aja itu sih!" Naya masih berusaha menyangkal hal tersebut.
Kemudian Naya berjalan mendekat ke arah jendela. Dia membuka tirai jendela dan mengintip ke luar sana. Mobil Kenan sudah terparkir di depan rumah Naya.
"Itu beneran mobil Pak Kenan??? Dia beneran jemput aku???" Kedua mata Naya sampai ingin keluar.
Gadis itu langsung menyambar tas miliknya yang berada di rak, lalu dia pun bergegas menghampiri Kenan yang sudah menunggunya di luar sana.
Dari dalam mobilnya Kenan melihat Naya keluar dari dalam rumahnya dengan tergesa. Naya sampai harus berbalik karena sempat lupa mengunci pintu rumahnya tersebut. Hal tersebut tentu dianggap lucu oleh Kenan dan membuatnya tersenyum lebar.
“Pak, maaf kalau nunggu lama,” kata Naya saat dia membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
“Kamu lama banget. Saya sampai ngantuk nunggu kamu di sini,” balas Kenan.
Bukankah tadi Kenan bilang akan menunggunya selama lima menit? Dan sekarang belum sampai tiga menit Naya sudah duduk manis di samping Kenan. Bisa dibayangkan bagaimana terburu-burunya Naya menghampiri Kenan.
“Maaf ya, Pak.” Walau sebenarnya bukanlah Naya yang salah, tetapi gadis itu tetap meminta maaf agar tidak dimarahi Kenan.
Kemudian Kenan mengendarai mobilnya menuju ke kantor. Penasaran, Naya akhirnya bertanya kenapa Kenan datang menjemputnya.
"Pak, saya mau tanya boleh?"
"Mau tanya apa?"
"Tumben Pak Kenan mau jemput saya?"
Kenan melirik Naya dengan tajam. "Saya juga sebenarnya nggak mau. Tapi karena kebetulan kantornya Bu Audrey searah dengan rumah kamu, ya sudah sekalian saja saya jemput."
"Bu Audrey? Jadi kita mau ke kantor Bu Audrey?" Naya sedikit kebingungan.
"Naya, kamu nggak bercanda kan? Saya kan sudah buat janji temu lagi dengan beliau," tegas Kenan.
Tersungging senyum kikuk di wajah Naya. Sepertinya dia melupakan hal penting tersebut.
Gara-gara ribet dandan biar kayak Bu Kyara nih, jadi lupa kalau hari ini Pak Kenan ada janji temu sama Bu Audrey, gumam Naya dalam hati.
"Kamu lupa lagi? Kamu tuh gimana sih, Naya? Masa janji penting yang hanya selang satu hari saja kamu bisa lupa? Kamu mikirin apa sih?" Kenan memberondong Naya dengan berbagai pertanyaan dan juga dengan nada suaranya yang terdengar ketus. Naya menundukkan kepalanya karena takut menatap ke arah Kenan.
"Jangan ulangi lagi ya, Naya! Sampai kapan sih saya harus terus marah-marah sama kamu?" lanjut Kenan.
Naya mengangguk pelan dan mengucapkan kata maaf. "Maafin saya, Pak."
Kemudian terdengar di telinga Naya suara dengkusan Kenan sebagai tanda berakhirnya omelan dari bibir pria tampan tersebut.
"Ngomong-ngomong penampilan kamu tampak berbeda hari ini. Kamu terlihat lebih anggun dari biasanya," puji Kenan kemudian.
Kepala Naya yang tadinya menunduk kini terangkat dan menoleh ke arah Kenan dengan menampilkan senyum senang. "Saya lebih cantik 'kan, Pak? Hehehe …," tanyanya penuh percaya diri.
"Hmm … cantik. Sedikit mirip dengan Kyara," jawab Kenan.
"Berarti kesempatan saya terbuka lebar dong, Pak, karena sudah mirip dengan Kyara?" Entah keceplosan atau tidak, Naya malah melontarkan pertanyaan seperti itu.
Kenan mengernyitkan dahinya. "Kesempatan? Kesempatan apa maksud kamu?"
"Kesempatan yang itu loh, Pak." Kedua mata Naya berkedip beberapa kali dengan cepat untuk bermaksud memikat Kenan.
"Mata kamu kenapa? Bikin aku takut saja! Kamu sakit mata ya?"
"Hah???"
"Sudah, kamu jangan melihat ke arah saya. Lihat ke luar jendela saja. Nanti saya malah nggak fokus nyetirnya," titah Kenan.
Naya menghela nafas lesu karena penolakan yang ditunjukkan oleh Kenan. Padahal dia sudah berusaha tampak cantik dan anggun seperti Kyara, tetapi tetap saja sikap Kenan ketus seperti biasanya.
Bibir Kenan tersenyum tipis. Dia sangat menyadari jika Naya sengaja berpenampilan seperti itu untuk menarik perhatiannya. Cantik memang, tapi masih belum bisa menggeser posisi Kyara di hati Kenan.
"Naya," panggil Kenan pelan.
"Iya, Pak," balas Naya.
"Jadilah kekasihku dan gantikan posisi Kyara di hatiku," pinta Kenan.
"Iya, Pak," jawab Naya yang belum sepenuhnya sadar dengan permintaan Kenan barusan.
Tetapi sesaat kemudian kedua bola mata Naya membesar. Gadis itu menolehkan kepalanya lagi dengan cepat ke arah Kenan. "Tadi Pak Kenan bilang apa? Kekasih? Gantikan?" tanya Naya yang baru tersadar.
"Kamu nggak mau?"
"Bukan! Bukan nggak mau! Maksudnya Pak Kenan sekarang nih lagi nembak saya? Jadi penggantinya Kyara di hati Pak Kenan?" Naya meminta kejelasan.
Tanpa memberikan jawaban dari bibirnya Kenan mengangguk mantap. Sontak hal tersebut membuat Naya berteriak kegirangan sampai mengangkat kedua tangannya ke atas hingga menyentuh atap mobil tersebut.
"Yeay! Akhirnya aku pacaran sama Pak Kenan!" sorak Naya dengan raut wajah bahagianya.
Untuk sesaat benak Kenan berpikir, kenapa dia bisa meminta Naya untuk menjadi kekasihnya dan ditanggapi serius oleh Naya.
Mungkin awalnya Kenan hanya iseng saja dengan maksud menjahili Naya. Tetapi sayangnya permintaan menjadi kekasih Kenan adalah hal sudah dinanti-nantikan oleh Naya. Sehingga kini sepanjang sisa perjalanan Naya terus tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit.
Akankah hubungan dari sebuah keisengan ini terus berlanjut?