Arafan keluar dari ruang perawatan Abrisam. Cukup tersentak dengan penuturan bocah laki-laki itu. Ia sendiri tak pernah mengira berita tentangnya bisa sampai ke Belgia. Ada sedikit kekecewaan pada diri sendiri karena payah dalam segala hal. "Gimana? Apa dia nurut?" tanya Vanya. Arafan mengangguk. Ia berjalan gontai ke arah kursi tunggu. Tampak tidak stabil. "Kamu baik-baik aja, Fan?" Arafan mengangguk. Cukup kacau dirinya setelah mendengar itu semua. Arafan mengangguk. Ia mendudukkan diri di kursi tunggu. "Kenapa, Fan? Ada apa?" tanya Vanya prihatin. Arafan meraup wajahnya kasar. "Apa kamu juga tahu soal berita tentangku? Selama ini?" "Berita apa? Yang mana?" "Semuanya. Semua tentangku yang mungkin sampai ke Belgia." Vanya terdiam. Di sana Nino kerap membahasnya. Di sana pula ada be

