“Silakan masuk,” ujar Dimas setelah membuka pintu utama kafenya. Sebuah usaha yang ia tekuni satu tahun ini. “Aku lagi nggak butuh traktiran, Kak. Ngapain ke sini?” Dimas tersenyum. Andara cukup berbeda dengan Hanania. Gadis itu sangat lurus pendiriannya. “Ayok cari kursi dulu.” Andara tak langsung melangkah. Ia tak nyaman saat harus berdua saja dengan laki-laki non mahram. Ia malu saat harus mekakukan itu. “Ada si Mbak di belakang, Ra. Hari ini kafe libur, pekerja pada gak masuk emang. Tapi ada Mbak di belakang.” Andara tampak berpikir. Ia ragu untuk menerima tawaran itu, tapi melihat kondisi kakaknya ia butuh pendapat orang lain. Bisa jadi dia mendapat solusi setelah bicara dengan Dimas. Pelan, Andara melangkah. Memilih kursi paling dekat dengan jendela kaca. Biar dari luar kafe pos

