TAKDIR YANG MEMPERTEMUKAN
Tidak semua kisah cinta dimulai dengan sesuatu yang istimewa.
Langit sore itu terlalu indah untuk pertemuan yang seharusnya terasa bisa-biasa saja.
Aku masih ingat bagaimana cahaya matahari jatuh di wajahnya,seolah dunia sengaja memperlambat waktunya untuk memberi ku momen untuk melihat seorang gadis yang berada di hadapan ku pada saat itu.
Aku tidak pernah menyangka pertemuan yang sederhana dan tidak pernah di sangka itu akan menjadi awal dari kisah yang tidak akan pernah benar-benar selesai.
Dan aku juga tidak akan menyangka bahwa suatu hari nanti,aku akan berdiri di tempat yang sama ,sendirian,dan mengenang seseorang yang tak lagi bisa ku genggam.
Tidak ada hujan yang turun tiba-tiba.
Tidak ada alunan musik yang mengiringi langkah kakinya hari itu.
Dan tidak ada yang akan menyangka sebuah kisah yang panjang akan di awali pada hari itu.
Hanya sebuah angkot yang sederhana dengan ruangan dan kursi sempit yang bercampur udara panas dan debu jalanan.
Di sanalah duduk seorang remaja "RADITIA".
Hari itu bisasa saja,seperti hari yang telah berlalu
tidak ada yang istimewa.
Hingga seorang gadis naik.
Ia duduk tidak jauh darinya"persis di bangku depan radit duduk".
Dengan seragam sekolahnya yang masih rapi sepulang sekolah.
Wajahnya tenang...tanpa sadar ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
Tidak ada percakapan
Tidak ada senyum
Namun entah kenapa pertemuan itu...tersimpan.
Dan dari pertemuan tak di sengaja pada hari itu akan lahirlah sebuah jalan dan cerita yang panjang.
Kisah duo orang yang akan tumbuh bersama.
Yang saling mencintai.
Yang akan mengikat janji sitia selamanya.
DAN PADA AKHIRNYA...!!
Perpisah
"Aku masih menyimpan CINCIN itu...cincin yang tak akan pernah menemukan jari manis untuknya.
Bukan karena lupa atau dipisahkan oleh batu nisan...."
Pertemuan itu seharusnya berakhir begitu saja,namun keesokan harinya takdir seolah belum berhenti bermain.
Raditia kembali berada di angkot yang sama,dijam yang hampir sama.Ia tidak berharap apa-apa,samapai langkah dan wajah yang pernah ia lihat itu kembali muncul di hadapannya.
"CLARA"
Namun kali ini dia tidak sendiri.
Seorang gadis kini bersamanya.
Dan seperti tidak asing bagi radit.
Takdir kembali bermain dengan caranya sendiri,seolah ingin mempertemukan dua insan yang tidak pernah saling mengenal satu sama lain.
Setelah beberapa saat pemperhatikan ia baru sadar bahwa gadis yang bersamanya itu(clara) adalah adik kelas semasa duduk di sekolah dasar dulu.
Kesempatan itu tak disia-siakan oleh radit.
"ALISHA?" panggil radit dengan ragu.
Gadis itu menoleh, lalu tersenyum kecil
"Eh,kak radit" balasnya
Ternyata alisha juga masih mengingat radit.
Percakapan pun terjadi antara mereka,
"kamu apakabar?sekolah di sini" tanya radit.
"iya kak" jawabnya singkat.
Percakapan itu hanya singakat,tidak lama,dan tidak ada yang penting.
Selama di perjalanan raditia selalu mencuri pandang ke arah clara,hatinya terasa bergetar,jantungnya terasa berdetak lebih cepat saat meliha wajah itu.Gadis yang entah kenapa masih terus mengisi pikirannya sejak pertemuan pertama dan singkat kemarin.
Namun raditia didak sanggub untuk sekedar menyapa,bibirnya turasa terkunci,Ia merasa tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.Hingga waktu kembali berlalu.
Tiga hari telah berlalu semenjak pertemua singkat itu.
Dunia kembali mempertemukan.Seolah alam ingin menyatukan mereka.
Kali ini raditia tidak melihat gadis yang membuat hatinya bergetar.Ia hanya melihat alisha teman clara.
Disaat ini lah raditia memberanikan diri untuk bertanya kepada alisha.
"hay alisha,jumpa lagi nih" sapa radit sambil senyum.
"eh kak radit" jawab alisha santai.
Raditia terdiam sebentar seolah mengumpulkan keberanian untuk bertanya.
"yang kemarin teman kamu ya(clara)?"
"kalau boleh tau siapa namanya?"tanya radit malu-malu.
"iya kak,namanya clara,temen sekelas" .Alisha melanjutkan ucapannya
"kak radit naksirya" jawab alisha sembari senyum kecil.
Radit hanya tersenyum malu
"boleh minta pin BB nya nggk lis?" raditia berucap dengan penuh harapan.
Namun alisha tidak mau lansung memberikan pin BB clara kepada raditia karena Ia harus menanyakan dulu kepada temannya yaitu clara.
Alisha mengeleng "nggak bisa kak,aku harus tanya clara dulu".
Jawaban itu sederhana,namun cukup intuk membuat raditia mengerti kalau tidak semua hal bisa dia dapat dengan cepat.
Namun setidaknya kini Ia sudah punya harapan.
Beberapa hari kemudian raditia kembali bertemu namun bukan di atas angkot lagi.Mereka berpapasan di sebuah pusat perbelanjaan di kota itu.
Raditia kembali bertanya seputar clara,apakah alisha sudah bertanya kepada clara.
Dan kali ini alisha datang dengan jawaban
"ini kak pin bbm-nya clara". ujar alisha.
"makasih ya lis" kata raditia sembari mencatat pin BBM clara.
Entah mengapa,hal kecil itu seperti kemengan besar bagi raditia.
"Dari sebuah pertemuan singkat di angkot,percakapan sederhana,hingga keberanian untuk bertanya...semua membawa mereka berdua perlahan ke titik yang sama"