Calon Istri 2

1054 Words
Ahmad mendekat membawa setangkai mawar merah di tangannya, "Selamat ya, De," ucap Ahmad. "Terima kasih, Mas," balas Salamah sambil menerima bunga dari Ahmad dan menyeka air matanya. "Udah sih De nangisnya. Takutnya aku khilaf meluk kamu," bisik Ahmad. Plaaaakkk. Secara spontan Salamah memukul lengan Ahmad, "Mas apaan sih," protes Salamah, kemudian mendekat menyalami dan memeluk keluarganya. Mereka makan bersama di pendopo terbuka yang terletak tak jauh dari masjid. Mega, Haris dan Eza pun ikut berkumpul dengan kedua keluarga yang sebentar lagi akan berbesanan. Rahma dan Ibnu, kedua adik Salamah, ikut makan bersama mendekatkan diri dan mengenal keluarga calon kakak ipar mereka. "Ciye calon manten duduknya jangan jauh-jauh sih," ledek Nita yang melihat Ahmad mengunyah makanan sembari mencuri padang pada calon istrinya "Belum sah Nitnit, sudah sah mah duduknya dipangkuan ya, De," jawab Ahmad sambil menarik turunkan alisnya menggoda Salamah. "Ya Allah sudah kebelet nikah ini mah, Pak Mul gimana nih?" timpal Restu sambil tertawa diikuti semua yang ada di sana. Menertawakan kalimat blak-blakkan yang tadi dilontarkan Ahmad, sementara Salamah reflek melotot pada Ahmad yang meledeknya di depan kedua orang tua mereka. "Ijabsahnya sekarang saja bisa nggak, Yah. Biar bisa dibawa pulang." Kalimat Ahmad lagi-lagi membuat tawa merebak, membuat suasana terlihat mencair dan akrab, hanya Salamah yang lebih memilih menunduk karena malu. 'Ya Allah, ini calon suamiku model apa sih, gak ada malu-malunya' gerutu Salamah dalam hati "Apa perlu saya panggilkan Abah Kiyai sekarang buat nikahin kamu, Mad," tawar Haris "Boleh nggak Abah?" tanya Ahmad memelas pada Mulyana. Plaakkkk “Aduh.” Ahmad menjerit kesakitan sambil mengusap pahanya. "Ya Allah, Mas cuma tinggal dua minggu lagi sabar sih." Meri membulatkan matanya pada sang putra, sedangkan Ahmad masih meringis kesakitan karena pukulan tangan Meri di pahanya. "Mas malu-maluin dih," protes Nita. Semuanya terlibat obrolan hangat mendekatkan dua keluarga yang akan berbesanan, Mega dan Haris pamit untuk pulang karena Eza sudah mengantuk. Beberapa motor dan mobil para wali santri yang datang juga sudah terlihat satu persatu meninggalkan area pondok pesantren. Tak lama setelah Mega pulang, keluarga Ahmad dan Salamah juga pamit pulang, mereka berangkat bersama dengan mobil yang dikendarai Ahmad. Salamah beserta Ibnu dan Rahma kedua adiknya mengantar mereka sampai mobil.Setelah mobil tak terlihat dari pandangan mereka, mereka kembali ke bilik masing-masing. *** Di hari khotmil Qur'an dan akhirussanah, suasana di lingkungan Pondok Pesantren Al-Hikmah terlihat sangat ramai, dari jalan masuk menuju yayasan sampai di depan gerbang, para penjual dadakan yang menggelar dagangannya sudah berjejer sejak usai salat subuh. Santriwan dan santriwati terlihat hilir mudik melakukan berbagai rangkaian acara sejak pukul tujuh pagi. “Kamu cari siapa, Mah?” tanya Zahwa yang melihat Salamah yang terus menatap ke arah gerbang seolah sedang menunggu seseorang. “Nggak, Wa, cuma lihat para pedagang kok kayaknya lebih ramai ya,” elak Salamah yang tidak mau ketahuan sedang mencari Ahmad yang sejak pagi hingga hampir sore tidak dilihatnya. Padahal sosok yang dia cari sedari tadi menatapnya dari jarak yang cukup jauh, memandang dan memperhatikan tiap gerak-gerik Salamah. Namun, dia harus menahan diri agar tidak menghampiri sang gadis karena ingin muncul di saat yang tepat sesuai apa yang telah dia rencanakan sebelumnya. Senja temaram disambut suara azan magrib berkumandang, para wali santriwan dan santriwati sebagian memilih keluar sejenak untuk salat dan mandi di tempat kerabat mereka sebelum menyaksikan acara inti khotmil Qur’an yang akan dimulai usai salat Isya nanti. Ahmad dan keluarganya, mengajak keluarga Salamah untuk, mandi, salat dan beristirahat sejenak di rumah Mega. Sementara para khotimah di rias di bilik santriwati untuk acara inti. "Duh sekarang jadi penganten khotimah, Minggu depan langsung jadi manten lagi," ledek Zahwa pada Salamah yang diikuti tawa teman-temannya. "Ih beneran ya, Aku tuh kaget banget pas Rahma bagi undangan nikahan teh Salamah pagi tadi, " sahut Putri yang membantu para perias di ruangan tersebut. "Udah mah calonnya bapak ganteng itu tuh, Put. Guru olahraga yang sering ke sini nyari Bu Mega," timpal Zahwa. “Ih pengen juga dapat yang ganteng kayak pak Ahmad,” jerit putri heboh. Sahut menyahut dari para santri yang terus meledek Salamah terus terdengar, sehingga ruangan yang digunakan untuk merias itu sangat ramai dengan gelak tawa para santriwati. “Pak Ahmad itu sudah ganteng, badannya tegap, kokoh, putih kayak oppa-oppa Korea, eh kalau senyum, ya Allah aku klepek-klepek,” puji Aulia sambil berusaha menggambarkan sosok Ahmad yang selama ini diidolakannya. “Pasti banyak cewek yang kecewa tuh mbak Salamah nikah sama dia. Kaya aku patah hati gini,” keluh Aulia yang langsung disoraki oleh para santri lainnya. Ada rasa yang mengganjal di hati Salamah, ketika Aulia teman sekelas Rahma memuji ketampanan Ahmad dan mengatakan pasti banyak yang kecewa dan patah hati ketika Ahmad memutuskan menikah dangan Salamah, tetapi segera dia tepis segala pemikiran buruk yang mungkin akan terjadi. Hingga akhir acara, Salamah belum juga bertemu dengan Ahmad. Padahal sore tadi dirinya bertemu dengan Nita dan Meri ketika salat asar. Namun dia tidak menanyakan keberadaan Ahmad karena malu untuk mengutarakannya. "Cari siapa sih, Mah celingukan terus dari tadi?" tanya Mala yang juga lulus tahun ini, mereka berjalan turun dari panggung setelah menerima medali dan ijazah Al-Qur'an. "Nggak kok, Mal," elak Salamah. “Aduh.” Mala mengaduh karena kepalanya terkena punggung Zahwa yang berjalan di depannya dan berhenti mendadak. Langkah semua pengantin khotimah terhenti di depan gerbang bilik santriwati, mereka menatap penasaran akan sosok yang berdiri dengan serangkaian mawar berwarna-warni yang menutupi mukanya. "Siapa sih?" tanya Mala pada Zahwa. "Pacar dia kali, eh salah calon suami Salamah maksudnya," tebak Zahwa berjalan mundur dan menyenggol Salamah. Tidak salah tebakan Zahwa, karena pria tersebut melangkah ke arah Salamah membawa rangkaian mawar dengan wangi semerbak, menutupi hampir seluruh wajahnya. Sang pria kemudian mengulurkan rangkaian bunga tersebut tepat di hadapan Salamah. "Congratulations, calon istri,” bisik Ahmad di telinga Salamah dengan senyum terbaik yang dia hadiahkan untuk calon istrinya. “Calon istri,” koor semua santri bersamaan. Salamah menerima bunga dengan ucapan terima kasih, wajahnya terasa memanas dengan degupan jantung yang mungkin bisa didengar Mala dan Zahwa di sampingnya. “Terima kasih,” desis Salamah begitu lirih dengan bibir bergetar menahan segala gejolak di d**a. Ahmad kembali tersenyum dan membungkukkan badan, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan teriakan 'ciye-ciye' beserta tepuk tangan yang membuat Salamah tersipu, bahagia dan kaget menerimanya. "Satu, dua, tiga." Zahwa memberi komando. "Ciye calon istri," teriak semua santri yang ada ditempat kejadian secara bersamaan membuat Salamah menyembunyikan wajahnya yang merah merona di balik rangkaian mawar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD