Doa Quran

1062 Words
Setelah acara penutupan selesai Reza terus mendesak Ahmad perihal siapa penulis dari pesan di buku tersebut. Diam-diam Reza menaruh hati pada Ayu, dan dia curiga Ayu yang menulisnya. Bukan tanpa alasan Reza mengira itu tulisan Ayu, karena semua rekan di sekolah tempat mereka mengajar memang sudah tahu kalau Ayu menaruh hati pada Ahmad, tetapi Ahmad tidak pernah menanggapi perasaan Ayu. "Siapa sih, Bro? Bu Ayu ya?" desak Reza ketika Ahmad memasukan perlengkapannya ke tas dan bersiap untuk pulang. "Pak Reza cemburu ya?" tuduh Herlan sambil tertawa. "Patah hati dong ditinggal pak Ahmad nikah," ledek Herlan dengan gaya gemulai. "Ih ogah," Reza bergidik jijik. "Pak Reza tunggu aja undangan dari Pak Ahmad, sambil siapin kado spesial buat soulmatenya," timpal Mega. "Wah jangan-jangan kalian sudah tahu ‘nih, Saya saja yang ketinggalan gosip," tuduh Reza sambil menunjuk Mega dan Herlan. "Kita ‘kan Mak Jomblangnya ya, Mbak." Herlan cekikikan dan berhigh five dengan Mega, sedangkan Ahmad hanya geleng-geleng kepala melihat kekepoan Reza. "Tenang Bro calon Saya bukan bu Ayu kok," papar Ahmad. Bagaimanapun Ahmad tahu kalau Reza menyukai Ayu. Bahkan, Reza sering menyatakan perasaannya secara blak-blakan di depan Ayu, dan sesering itu pula Ayu menolak Reza. "Ya, tetap saja mana mau dia sama saya," keluh Reza lesu membalas ucapan Ahmad. "Semangat, Bro. Perlu saya comblangin nggak?" seru Herlan menepuk pundak Reza. "Alah, sok-sokan comblangin, sendirinya saja belum laku," ejek Reza pada Herlan dengan menyenggol badan Herlan menggunakan sikunya. Mereka pun saling dorong dan ejek sambil tertawa bersama. "Yang tua minggir ah, ogah kecipratan darah para pemuda." Mega melambaikan kedua tangannya dan ke luar dari ruangan. Kini tinggal Ahmad, Reza dan Herlan yang masih membicarakan siapa pemilik buku tadi. Akhirnya, Ahmad menceritakan tentang rencana pernikahannya dengan Salamah yang akan digelar pertengahan bulan April. Ahmad menceritakan awal ketertarikannya pada Salamah sampai akhirnya dia memutuskan untuk langsung menyampaikan niat baik untuk melamar Salamah pada kedua keluarga, tanpa mereka sedari tadi dua pasang telinga mendengarkan obrolan mereka dari balik pintu ruangan. "Jadi Kamu mau nikah, Mah?" bisik Zahwa bertanya pada Salamah. "Iya, tapi jangan bilang ke yang lain ya," mohon Salamah. "Yang tau baru Rahma sama Maya, dan sekarang kamu, Wa," aku Salamah meremas punggung tangan Zahwa. Zahwa menarik tangan Salamah agak menjauh dari ruangan tersebut, dia pun memaksa Salamah bercerita tentang rencana pernikahannya dengan Ahmad. Salamah dengan terpaksa menceritakan secara singkat proses pertunangannya dengan Ahmad. “Sesingkat itu?” tanya Zahwa tak percaya. Salah mengangguk, “Aku saja baru tahu namanya waktu dia ngelamar,” aku Salamah yang berhasil membuat Zahwa kaget. “Serius?” “Iya, serius,” ucap Salamah sambil mengangkat kedua jari tangannya membentuk huruf V. “Nggak nyangka bisa dapat guru ganteng kayak dia,” goda Zahwa. "Sudah ah, nggak usah godain aku. Jadi kita bersihin ruangannya sekarang apa nanti?" tanya Salamah berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka. "Kita balik ke dapur lagi, yuk. Nanti kalau sudah kosong baru dibersihkan,” ajak Zahwa menarik tangan Salamah. Rencana mereka membersihkan ruang kelas bekas acara pun diundur sementara waktu karena Ahmad, Reza dan Herlan yang masih bertahan di sana, meskipun sekedar ngobrol ringan dan bercengkrama dengan suasana lebih santai. Usai salat dzuhur berjamaah di Masjid Yayasan Al-Hikmah, Ahmad, Reza dan Herlan melanjutkan obrolan dan senda gurau mereka di kantin sekolah. Setelah menghabiskan makan siang mereka, Reza pamit pulang. Herlan dan Ahmad berjalan menuju rumah Abah Kiyai untuk sowan. Sowan adalah tradisi santri berkunjung kepada Kyai dengan harapan mendapatkan petunjuk atas sebuah permasalahan yang diajukannya, mengharapkan doa dari Kyai atau sekedar bertatap muka dan silaturahim saja. Setelah berbincang dan mendengarkan beberapa nasehat dari Abah Kiyai, Ahmad dan Herlan berpamitan dan berniat kembali pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah Ahmad kembali mencerna wejangan dan nasehat dari Abah Kiyai sebagai modal berumahtangga. Apalagi rumah tangga yang akan dia bina bersama Salamah tanpa dasar pondasi cinta yang kuat, hanya bermodal keyakinan dari hati Ahmad untuk melamar Salamah. Rencana melamar Salamah dia dapatkan setelah tujuh hari shalat istikharah meminta petunjuk dari Sang Pemilik Hati, barulah dia bertambah yakin Salamah wanita baik dan solehah yang akan cocok untuk menjadi istri dan calon Ibu untuk anak-anaknya kelak *** Malam Doa Qur'an pun tiba, beberapa mobil wali santriwati yang putrinya khotmil juz amma ataupun khotmil Al-Qur'an sudah terlihat berjejer di parkiran. Keluarga Ahmad datang bersamaan dengan kedatangan Haris, Mega dan Eza, anak sulung mereka. Mega tidak membawa serta Salsa karena sudah terlelap. Santriwati beserta tamu wanita berada di Lantai satu masjid, sedangkan para santriwan dan tamu laki-laki berada di lantai atas, karena malam ini adalah doa Al-Qur’an khusus para khotimah. Setelah kemarin doa yang sama buat para khotimin telah terselenggara. Semua yang hadir mengikuti acara dengan khusyu, acara doa khotmil Al-Qur'an dipimpin langsung pengasuh Pondok pesantren Al-Hikmah, Abah K.H. Abdul Aziz untuk bersama-sama berdoa mengharap limpahan karunia Allah lewat keberkahan khatam Al-Qur’an. Sebab di antara saat terijabahnya doa adalah ketika mengkhatamkan Al-Qur’an. Adapun Kaifiat (tata cara) khataman Al-Qur’an dimulai dari pembacaan tawasul kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya; juga kepada para nabi terdahulu, ulama-ulama, dan para ahli kubur. Selanjutnya adalah pembacaan dua puluh dua surat paling akhir dalam Al-Qur’an secara urut, mulai dari Ad-Duha, Al-Insyirah, At-Tin, Al-Alaq, Al-Qadr, dan seterusnya sampai An-Nas. Pembacaan kemudian bersambung kembali ke surat pertama (Al-Fatihah), lalu surat Al-Baqarah ayat satu sampai lima, dan seterusnya mengikuti susunan bacaan tahlil secara umum. Sebagai pamungkas, khataman Al-Qur’an ditutup dengan membaca doa khatmul qur’an. Allhummarhamni bilquran. Waj'alhu lii imaman wa nuran wa hudan wa rohmah. Allhumma dzakkirni minhu maa nasiitu wa 'allimnii minhu maa jahiltu warzuqnii tilawatahu aana-allaili wa'atrofannahaar waj'alhu li hujatan ya rabbal 'alamin. Sebagian yang hadir terlebih para akhwat terlihat menyeka air mata mereka, ketika suara Abah Kiyai yang begitu merdu dan lembut membacakan doa khotmil qur'an berulang kali di ikuti semua yang hadir. Air mata Salamah mengalir deras, entahlah itu air mata bahagia atau duka. Bahagia, karena setelah enam tahun menuntut ilmu, akhirnya hari ini dia lulus dan mendapat ijazah khotmil Qur'an. Duka, karena setelah kelulusannya dia akan meninggalkan pondok pesantren tempatnya belajar, bermain, dan bersenda gurau bersama teman seperjuangannya. Setelah Abah Kiyai menutup acara dan berfoto bersama para khotimah Al-Qur'an, Beliau kembali ke rumahnya, sedangkan para khotimah terlihat berpelukan sambil menangis haru. Salamah di sambut pelukan dari Mega ketika baru keluar dari Masjid. "Ya Allah, Teh, Bunda pasti kangen sama teteh, gak mau ditinggal teteh." Mereka berpelukan dalam tangis, keduanya begitu dekat selama tiga tahun ini. Mega sudah menjadi tempat Salamah bermanja-manja dan bercerita, sangat berat berpisah dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD