Ruang serbaguna digunakan untuk rapat kepala sekolah, sedangkan guru olahraga atau PJOK yang mengikuti MGMP diadakan di Laboratorium Fisika. Di meja masing-masing sudah tersedia air mineral botol, kue dan aneka makanan ringan sebagai hidangan. Semua guru terlibat aktif diskusi di acara musyawarah guru tersebut, hingga tepat jam sebelas siang, terdengar suara pintu ruangan yang diketuk.
Salamah dan Zahwa masuk membawa tumpukan kotak nasi, mata Salamah tidak sengaja menatap Ahmad tepat di saat Ahmad menatapnya. Senyum terukir di bibir Salamah sambil mengangguk tanda menyapa Ahmad dan berlalu menyusul Zahwa menaruh tumpukan kotak nasi di meja konsumsi.
"Langsung dibagi saja ya, Wa," perintah Herlan pada Zahwa.
"Iya Pak," jawab Zahwa.
Zahwa menyusun botol air mineral yang sudah tersedia di meja konsumsi di atas nampan, kemudian dibawanya berkeliling ruangan untuk dibagikan, Salamah berjalan di belakang Zahwa membawa kotak nasi. Ucapan terima kasih silih berganti terlontar dari para guru yang menerima kotak nasi dan air mineral. Tibalah giliran Salamah memberikan kotak nasi pada Ahmad, tidak bisa disembunyikan hati Salamah dag dig dug tak karuan.
"Terima kasih, Calon Istri," bisik Ahmad lirih sambil menerima kotak nasi dari tangan Salamah.
“Sama-sama.” Salamah tersenyum mengangguk tanpa dia sadari Zahwa memperhatikan mereka, sedangkan Mega dan Herlan yang duduk di dekat Ahmad pura-pura tidak mendengar.
Mata Ahmad tidak sedetik pun berpaling dari gadis yang beberapa hari ini selalu ada di lamunannya. Gadis yang benar-benar memikat hati, pikiran dan membuat Ahmad mencicipi apa yang dinamakan kerinduan.
Salamah keluar dari ruangan diikuti Zahwa. Pintu ruangan kembali ditutup oleh Zahwa.
"Izin dulu ya, Bro, Bun," pamit Ahmad segera pada Mega dan Herlan.
"Awas area yayasan, Bro, jangan nyosor," ledek Herlan yang sudah menebak Ahmad akan menemui Salamah. Ahmad meminta ijin kepada rekan guru yang menjadi pembicara di depan kelas. Setelahnya, dia langsung ke luar ruangan mengejar Salamah.
"De," panggil Ahmad menghentikan langkah Salamah dan Zahwa. Zahwa menatap heran pada Ahmad.
"Iya, Pak ada yang bisa kami bantu," tanya Zahwa sopan.
"Boleh minta waktunya nggak, Mbak, buat ngobrol sama Salamah sebentar," pinta Ahmad pada Zahwa.
Zahwa mengangguk dan mempersilakan mereka untuk mengobrol tanpa meninggalkan mereka berdua. Dia hanya bergeser dan berdiri agak jauh untuk membiarkan mereka mengobrol sejenak.
“De.”
Salamah mengangkat dagunya, menatap Ahmad yang kini tepat berdiri di sampingnya.
‘Ya Allah, dia yang selama ini sering mengganggu pikiranku, berada di depanku. Tersenyum, membuatnya terlihat begitu menawan, astagfirullah al azim.’
“De,” ulang Ahmad memanggil Salamah yang sedari terlihat bengong menatapnya.
“Iya Mas.”
"Terima kasih sudah balas suratku, Aku kangen, boleh?" aku Ahmad terus terang. Salamah terdiam bingung harus menjawab apa.
'Masa iya orang kangen minta ijin dulu' gerutunya dalam hati.
Ahmad menerima buku biru yang dititipkan Salamah pada Mega saat baru datang, ketika dia masih diparkiran motor, Mega menyapanya sambil memberikan buku tersebut dan langsung dia baca sebelum masuk ke ruangan.
"Insyaallah malam Kamis nanti Aku datang, De," lanjut Ahmad.
"Terima kasih, Mas.”
“Datang bersama kedua orang tua kita juga.”
“Hah?” Salamah terkejut mendengar penuturan Ahmad barusan.
“Iya, nanti aku dan keluargaku datang ke sini bareng Abah dan Amih juga,” ulang Ahmad menegaskan kalimat sebelumnya.
“Iya Mas, Salam buat Ayah dan Ibu.”
Salamah melirik ke arah Zahwa seolah memberi kode pada Ahmad bahwa dirinya harus segera pergi.
“Sampai jumpa malam Kamis, Assalamualaikum," pamit Salamah.
"Waalaikumsalam, Calon istri, Aku selalu merindukanmu, De," bisik Ahmad lirih membuat Salamah merasakan panas menjalar wajahnya karena tersipu menahan malu dan grogi.
Kalimat Ahmad dijawab Salamah dengan anggukan dan senyum. Senyum untuk seseorang yang mulai mengganggu pikirannya. Senyum untuk pria yang kini sering hadir di alam bawah sadarnya.
Ahmad masih berdiri memandang Salamah yang berlalu menuju dapur sekolah bersama Zahwa dengan senyum yang terukir di bibirnya. Senyum karena gadisnya yang pemalu terlihat begitu menggemaskan saat merasa malu dan tersipu.
‘Ya Allah, gadis pemalu itu benar-benar membuatku selalu rindu,’ aku Ahmad tanpa suara.
Ini bukan pertama kalinya Ahmad jatuh cinta, apalagi di masa 'ababil' istilah yang dia sematkan di masa SMA. Masa dimana dia bisa berpacaran dengan dua atau tiga gadis sekaligus. Pergaulan di masa Sekolah menengah atasnya benar-benar di jalur salah, bukan hanya sekedar peluk dan cium bahkan tak jarang berakhir di ranjang. Hingga ketika menjelang ujian kelulusannya, tragedi Nita, sang adik yang hampir diperkosa pacarnya di kosan sang pacar yang pada akhirnya menyadarkan Ahmad.
Saat itu Roni, pacar Nita mengajak adiknya ke pasar malam dan pameran pesta rakyat di alun-alun. Namun sampai jam sebelas malam Nita belum juga pulang. Mulyana, Sang ayah menyuruh Ahmad mencari Nita, dari keterangan teman Nita dan Roni, Ahmad pun mendatangi kosan Roni.
Tiga kali dia mengetuk pintu tidak ada balasan sama sekali, tapi motor Roni ada di parkiran khusus penghuni kosan. Akhirnya, Ahmad menggeser kursi yang ada di depan kamar kos, dinaikinya kursi tersebut dan dia mengintip ke dalam kamar dari celah angin-anginan di atas pintu. Dia melihat kondisi adiknya yang tidak berdaya dengan air mata Nita yang terus mengalir tanpa suara, karena mulut, tangan dan kaki Nita diikat, dengan keadaan pakaian atas yang sudah terlepas.
Dengan bantuan tetangga kos, Ahmad berhasil menyelamatkan sang adik, kasus itu tidak dibawa ke jalur hukum karena Mulyana sekeluarga tidak ingan banyak orang yang tahu. Bagaimanapun itu adalah aib untuk keluarganya dan setelah kejadian itu, Ahmad berubah drastis. Dia tidak ingin karena kesalahannya, adik semata wayangnya yang tak berdosa menanggung akibat dari perbuatan yang dia lakukan.
Mega guru PJOK sekaligus wali kelasnya yang dengan sabar membantu dan membimbing Ahmad untuk berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik. Ahmad pun memutuskan melanjutkan kuliahnya di Jawa Timur sekaligus tinggal di pesantren tempat Haris, suami Mega menuntun ilmu agama ketika muda.
Ahmad kembali ke ruangan melanjutkan kegiatannya, tapi buku biru yang terlihat di tasnya benar-benar merusak konsentrasi. Akhirnya, dia kembali membuka buku tersebut dan membaca berulang-ulang pesan yang ditulis Salamah tanpa sadar kalau sedari tadi Reza memperhatikannya.
"Assalamualaikum calon imamku." Tiba-tiba Reza datang merebut buku dari tangan Ahmad dan membacanya dengan lantang hingga semua guru menatap ke arah Reza. Mega segera merebut buku dari tangan Reza.
"Bacanya nanti ya, Pak Reza. Itu, Pak Adrian mau menutup acara," hardik Mega merebut buku tersebut dari tangan Reza, kemudian menunjuk ke arah moderator yang akan menutup acara.
"Yah, Bu Mega nggak asik ah," protes Reza. Dia kembali duduk ditempatnya. Mega mengembalikan buku pada Ahmad, dia menunjuk tas Ahmad dengan mata, agar Ahmad segera memasukkan buku tersebut.
"Biar cepat pulang, Pak Reza," sambar guru lain yang dekat dengan tempat duduk mereka.