Buku Biru 2

1143 Words
Brrraaakkkkkkk "Astaghfirullah al adzim...." Sebuah drum yang sangat besar terjatuh dari mobil pick up dan menggelinding ke arah mobil Ahmad. "Astaghfirullah al adzim," seru Ahmad sekeluarga hampir bersamaan. Beruntung Ahmad dengan sigap menginjak rem mobil sehingga tidak menabrak drum yang jatuh, dengan segera Ahmad melepas safety belt-nya, kemudian turun dari mobil dan membantu orang-orang mengangkat dan menaikkan kembali drum tersebut ke mobil bak. Kejadian itu menyebabkan beberapa mobil tertahan di belakang mobil Ahmad, setelah drum berhasil dinaikan Ahmad kembali ke mobil dan mengarahkannya ke pinggir jalan. "Istirahat dulu ya, gerah." Ahmad mematikan mesin mobil dan keluar tanpa menunggu jawaban dari keluarganya. "Bang, es kelapa empat ya," pinta Ahmad pada si penjual es kelapa yang mangkal tidak jauh dari mobilnya. "Mas kenapa sih?" protes Nita sambil duduk di dekat sang kakak, sedangkan Restu dan Meri duduk agak jauh dari mereka. Meri memilih duduk di tikar yang sengaja digelar penjual es kelapa untuk para pembeli. Angin sepoi-sepoi dari pohon yang berjejer dibelakang penjual es kelapa sedikit memberikan udara seger untuk mereka. "Apanya yang kenapa Nitnot," balas Ahmad sambil mengambil ponsel di saku. "Mas Ahmad habis ketemu calon istri bukannya senang, itu malah diam membisu," oceh Nita sambil memanyunkan bibir dan menghentakkan kaki. Ahmad berbalik menghadap sang adik, memasang tampang serius, "Nit menurut kamu Salamah ikhlas nggak sih?" tanya Ahmad. "Ikhlas apanya, Mas?" potong Nita bingung dengan pertanyaan Ahmad yang ambigu. "Ya ikhlas nggak, dia menerima lamaran mas," ulang Ahmad. "Mana Nita tahu, kemarin itu pas ngobrol setelah acara tukar cincin emangnya mas nggak nanya?" "Ya nanya, tapi dia minta mas ngerti kalau dia butuh waktu nerima semua ini." Ahmad menarik nafas sesaat,. "Wajar gak sih ada rasa kecewa ngeliat ekspresinya tadi. Dia kok ya datar banget gitu ketemu mas, nggak ada senang-senangnya ketemu calon suami," cerita Ahmad dengan nada kecewa saat mengeluarkan unek-uneknya, kemudian dia menyeruput es kelapa. "Ih, Mas ko sensitif banget. Nggak malu sama otot dan badan," cibir Nita menonjok d**a bidang Ahmad. "Mas yang milih Salamah dan minta pada ayah buat lamar dia tanpa pendekatan terlebih dahulu. Waktu ibu nasehatin, Mas tetap kekeh bahwa setelah istikharah berkali-kali wajah Salamah terus muncul. Harusnya ketika memutuskan itu, Mas harus terima Salamah sepaket dengan semua kelebihan dan kekurangannya, nggak bisa cuma terima cantiknya aja. Lagian wajarlah kalau dia bersikap kayak gitu, butuh waktu mas buat seorang gadis bisa membuka diri buat laki-laki, apalagi laki-laki yang ujug-ujug langsung lamar tanpa kenalan dulu." Nita menarik nafas setelah mengucapkan nasehat panjang pada sang kakak. "Pinter banget sih ratu sejagadnya mas." Ahmad tertawa sambil mengacak hijab sang adik yang langsung dihadiahi plototan mata oleh Nita. Setelah menghabiskan es kelapa masing-masing, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan mereka mengobrol membahas persiapan pernikahan Ahmad dan Salamah. Ahmad juga menyampaikan kalau minggu depan dia akan kembali ke pondok pesantren Al-Hikmah untuk menghadiri acara doa Al-Qur'an. Setelah khatam Al-Quran, santriwan dan santriwati yang dinyatakan lulus dan menyelesaikan pendidikan mereka di pondok pesantren akan membaca doa khatam Al-Quran bersama-sama sebagai penyempurna amalan yang telah dikerjakan. Doa Al-Qur’an akan dipimpin langsung oleh Sang Kiyai. Di pondok pesantren Al-Hikmah acara doa Qur'an santriwan dan santriwati dilaksanakan diwaktu yang berbeda, kemudian dilanjutkan dengan acara Haflah Akhirussanah dan Khotmil Al-Qur'an. __I.S__ Assalamualaikum calon imam❤️❤️❤️ Maaf kalau aku tak seperti yang kau mau, Maaf kalau sikapku mendatangkan kecewamu, Bukannya ku meragu, Bukan ku tak rindu, Bukan juga tak mengarapkanmu, Hanya, ini terlalu mendadak untukku. Tak sedikitpun ku tau tentangmu, Namun, semua meyakinkanku bahwa kau terbaik untukku, Maka ku ucap bismillah menerimamu sebagai calon imamku. Semoga sabarmu seluas samudera, Cintamu bukan hanya sekedar rangkaian kata. Karena nyatanya aku bukan bidadari surga yang sempurna, Aku hanya wanita biasa. Jujur, terlalu dini membahas cinta, Karena denganmu saja aku belum terbiasa. Semoga cinta kan menyapa ketika kita bersatu dalam ikatan halal dan berumahtangga. __Salamah khoerunnisa__ Salamah menutup kembali buku birunya dan kembali mencoba menutup mata, seraya berdzikir mengagungkan asma Allah hingga terlelap dalam tidur. Esoknya, setelah selesai membersihkan ruang guru, Salamah meletakan buku biru di meja Mega disertai kertas catatan bahwa dia menitipkan buku itu untuk diserahkan pada Ahmad. "Wah pas banget nih,"gumam Mega sambil membaca catatan kecil dari Salamah. Hari ini ada pertemuan MGMP (Musyawarah Guru Mata pelajaran) olahraga Kelompok Kerja Madrasah (KKM) wilayah tiga yang bertempat di MA Al-Hikmah. "Apanya yang pas, Bun?" timbrung Isti, guru IPA yang mejanya terletak di samping meja Mega. "Kepo," jawab Mega meledek Isti. "Buku apa nih, Bun?" Isti bertanya lagi, tangannya hendak mengambil buku biru punya Salamah, namun ditepis oleh Mega. "Gak boleh ah, rahasia," cegah Mega. "Dih Bunda, main rahasia-rahasian, paling juga buku cinta titipan santri, kan?" tebak Isti dengan gaya centilnya. "Tuh tahu." Mega memasukan buku biru tersebut ke dalam tasnya. "Punya siapa sih, Bun?" cecar Isti penasaran sambil menggoyangkan lengan kanan Mega. "Tuh kan, Isti kepo maksimal banget," ejek Mega, kemudian menjulurkan lidah meledek guru paling muda di MA Al-Hikmah. "Pelit ih," rajuk Isti sambil melipat tangannya di d**a dan memanyunkan bibir "Ciye, Ibu cantik pagi-pagi ngambek, manyun kayak gitu ngegemisin banget. Pengen cepat-cepat abang halalin boleh gak cantik," seloroh Rian merayu Isti. Rian datang bersama Herlan, keduanya bersalaman dengan Mega dan Isti sebelum duduk di bangku masing-masing. "Mbak Mega, Ahmad jadi ya sama ...." Herlan menyebut Salamah dengan bahasa isyarat. Herlan dan Rian memang memanggil Mega dengan Mbak kalau tidak di depan siswa. Mereka berdua sering disebut duo Upin Ipin di lingkungan yayasan Al-Hikmah, keduanya masih sama-sama single dan sering terlihat bersama di tiap acara yang diadakan yayasan. Ketika ada kegiatan olahraga di luar lingkungan yayasan, Herlan dan Mega sering mengajak Rian untuk ikut mendampingi para siswa. "Mas Ahmad yang di MA ... Bun?" sambar Isti dengan rasa penasaran. "Iya Isti, main sambar aja," protes Herlan dari tempat duduknya. "Dih, Pak Herlan juga main sambar aja, Isti nanya ke bunda," bela Isti. "Bun, Mas Ahmad sama siapa jadinya?" ulang Isti, berharap dijawab oleh Mega. "Kepooo...," teriak mereka bertiga. "Assalamualaikum, wah pagi-pagi Isti mah udah ribut aja nih." Sapa Haji Sobron. "Waalaikumsalam," jawab mereka serentak, kemudian bergantian bersalaman dengan Haji Sobron, kepala Madrasah Aliyah Al-Hikmah. "Pak haji mah Isti terus yang dituduh, yang teriak mereka," protes Isti sambil menunjuk Mega, Herlan dan Rian. "Yang menyebabkan mereka teriak-teriak pasti Isti," gurau Sobron yang sudah duduk di sofa ruang guru yang disediakan untuk tamu. "Ih, gak adil banget," cebik Isti, bibirnya manyun dengan wajah cemberut, ekspresi yang malah membuat teman-temannya tertawa. "Isti, panggil Salamah sama Zahwa ya," perintah haji Sobron. "Jam delapan, MGMP PJOK ya, Bu Mega?" sambungnya. "Inggih, Pak Haji. Rapat kepala sekolah juga jam delapan," jawab Mega. "Konsumsi dan lain-lain sudah siap?" lanjut Sobron menanyakan persiapan rapat dan kegiatan MGMP yang akan diadakan di sekolahnya. "Insyaallah siap, Pak Haji tadi Isti dari dapur sudah ada bu Ibah dan bu Rini di sana," jawab Isti. Mega, Isti dan lainnya bersiap-siap menyambut tamu, sedangkan guru yang ada jam mengajar mulai masuk kelas. Semua kembali fokus dengan tugasnya masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD