"Kami pamit ya," sambung Meri, kemudian Salamah dan Rahma bergantian bersalaman dengan Meri, Restu dan Nita. Meri juga memberikan uang lima puluh ribu rupiah pada Rahma.
Awalnya Rahma bingung untuk menerima, tapi Melihat senyum dan ketulusan dari Meri saat mengulurkan uang tersebut. Akhirnya, Rahma menerimanya dan membalas dengan ucapan terima kasih. Meri langsung menarik Nita untuk segera masuk ke mobil ketika tiba giliran Ahmad yang hendak berpamitan pada Salamah. Dia ingin memberikan waktu sejenak untuk sang putra agar bisa berbicara berdua dengan Salamah.
"De," panggil Ahmad.
Salamah menatapnya sekilas kemudian menundukkan pandangannya lagi, Rahma memilih berjalan sedikit menjauh memberi ruang privasi pada mereka.
"Kamu sudah terima...." Ahmad tidak melanjutkan kalimatnya karena dia yakin Salamah mengerti apa yang dia maksud.
"Sudah," jawab Salamah singkat dengan bibir bergetar.
"Kenapa nggak dibalas?" tanya Ahmad penasaran.
"Aku bingung mau nulis apa, Mas,” aku Salamah lirih. Dia menggigit bibirnya.
“Aku kangen,” aku Ahmad yang semakin membuat Salamah menggigit bibirnya menahan sesuatu yang membuncah dan merebak begitu saja tanpa bisa dia cegah.
“Jangan digigit, De, nanti berdarah,” cegah Ahmad yang membuat Salamah reflek mengangkat wajahnya, menatap Ahmad yang sedang tersenyum padanya.
“Rugi ada orang ganteng nggak ditatap,” narsis Ahmad dengan mengulum senyum karena melihat Salamah yang membuang muka dan terlihat salah tingkah di depannya.
“Ngomong dong, De, jangan hanya diam,” sambung Ahmad.
"Ya Allah, harus dengan cara apa kita berkomunikasi De," tanya Ahmad frustasi, dia menyugar dan mengacak rambutnya melampiaskan rasa kecewa melihat Salamah hanya diam tertunduk.
“Maaf,” ucap Salamah lirih dengan wajah tetap menunduk menautkan jemarinya, dia bingung menjawab pertanyaan dari Ahmad, karena sudah jelas para santri dilarang membawa ponsel pribadi, kalau pun menelpon lewat nomer bilik santriwati pasti nanti akan heboh dan dia harus siap menerima ledekan dari teman-temannya.
"Mas pulang De," pamit Ahmad dengan membawa perasaan kecewa karena gadisnya hanya diam membisu. Seolah tidak menantikan pertemuan dengannya.
"Malam Kamis akhir Maret ini doa Al-Qur'an, Mas.” Satu kalimat yang dia paksakan meluncur dari bibirnya.
"Insya Allah, Mas datang. Lumayan mengobati rindu meskipun yang dirindu hanya diam membisu,” sindir Ahmad yang membuat mata Salamah terasa panas.
“Assalamualaikum, De." Ahmad menangkupkan kedua tangannya.
“Waalaikumsalam,” jawab Salamah seraya mengangkat wajahnya menatap Ahmad. Dengan bibir bergetar dia memberikan seulas senyum untuk Ahmad. Ahmad membungkukkan badannya sedikit dengan senyum terbaik yang dia persembahkan untuk gadis yang kini memenuhi kerajaan hatinya, sebelum dia masuk ke mobil dan duduk di belakang kemudi.
Salamah dan Rahma melambai diiringi senyum membalas lambaian tangan Nita dan Meri. Mereka berjalan kembali ke bilik santriwati.
“Teh, ganteng banget sih,” bisik Rahma.
Salamah menarik tangan Rahma untuk segera kembali ke bilik santriwati. Rahma memborbardir Salamah dengan berbagai pertanyaan yang sedari tadi sudah menari-nari mengelilingi kepalanya. Membuatnya merasa jadi orang yang planga-plongo karena tidak tahu siapa Ahmad dan keluarganya. Mengapa mereka terlihat begitu akrab dengan Abah dan Umi Nyai padahal mereka tidak memiliki anak yang nyantri di situ. Rahma juga baru kali ini melihat mereka datang ke pesantren atau mungkin mereka memang sering datang hanya saja Rahma yang baru ngeh dengan wajah-wajah mereka.
Terus saja Rahma bertanya meskipun Salamah diam seribu bahasa dan tidak merespon satu pun pertanyaan dari Rahma. Hingga saat mereka sampai ke bilik santriwati, Salamah langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan Rahma yang sudah duduk di teras musala berharap sang kakak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi dia lontarkan.
“Teh, Aku kok ditinggal,” protes Rahma.
Salamah hanya melambaikan tangan dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintu rapat-rapat dan menyimpan amplop dari Meri di lemari. Saat itulah dia melihat buku biru teronggok di atas lipatan kerudung.
Kini dia duduk terpekur memandangi buku biru ditangannya, sungguh banyak kata yang sebenarnya ingin dia ucapkan pada Ahmad, tetapi rasa malu begitu menguasainya. Dia sadar Ahmad pasti kecewa tapi bagaimanapun seperti inilah dirinya, mau tak mau Ahmad mesti belajar menerima kekurangannya.
Dia yang tidak pandai berkata-kata. Dia yang tidak biasa berdekatan dengan pria. Dia yang merasa minder berada di dekat Ahmad. Senyum dan wajah Ahmad kerap kali membuatnya grogi sampai bibirnya terasa kelu.
Tampan, ganteng, atau apapun namanya. Namun, makhluk bernama George Ahmad Firmansyah itu sangat sukses membuatnya uring-uringan dengan sebuah rasa yang baru dia rasakan. Rasa yang ingin menatapnya berlama-lama, tapi debaran di d**a sama sekali tidak bisa dia kondisikan. Salamah menggeleng, menutup muka dengan kedua telapak tangannya.
"Mah, tadi Ahmad dan keluarganya yang bestel?" tanya Maya yang tanpa disadari oleh Salamah, dia sudah duduk disampingnya.
Maya adalah sahabat yang paling dekat dengan Salamah selama di pondok, hanya Maya dan Rahma yang tahu bahwa dirinya akan segera menikah tak lama setelah acara khotmil Qur’an diselenggarakan.
"Iya, May, sepertinya dia kecewa. Uing gak balas suratnya." Salamah langsung berhambur memeluk Maya, dia tersedu, tak bisa ditahan lagi air mata turun di pipinya.
"Uing malu May, tapi Uing nggak ada niatan bikin dia kecewa," lanjut Salamah terisak, Maya mengusap punggungnya. Pintu kamar sengaja Maya kunci karena dia yakin, Salamah butuh bercerita setelah sekilas tadi Maya mendengar sekelumit cerita yang disampaikan Rahma di depan musala.
"Uing mesti gimana, May? ‘Nih lidah susah banget buat ngomong di depan dia." Salamah menunjuk lidahnya, masih dengan isak tangis mencurahkan unek-unek di dalam hati pada Maya.
“Coba katakan lewat tulisan,” saran Maya. Dia melirik buku yang tergeletak di lantai di samping Salamah duduk.
“Nulis apa?”
“Tulis apa pun yang kamu rasakan. Katakan apa adanya, tidak perlu berpura-pura atau merangkai kata yang justru tidak menggambarkan apa yang kamu rasa,” ujar Maya. Dia mengambil buku biru tersebut.
“Ini dari Ahmad?” tebak Maya yang langsung diangguki Salamah.
“Apa yang dia tulis di sini adalah apa yang dia rasakan. Kamu juga bisa nulis apa yang kamu rasakan di buku ini, tak perlu membalas tulisan Ahmad dengan sesuatu yang tidak kamu rasakan,” lanjut Maya memberi nasehat pada sang sahabat.
Maya memang lebih dewasa dari Salamah, baik dari segio usia maupun pengalaman. Dia memiliki empat orang adik dan empat orang kakak. Salah satu penyebab dia harus dewasa dini. Harus mengalah demi menerbitkan senyum untuk keempat adiknya. Dia juga sering menumpahkan segala rasa dan cerita pada sebuah buku, buku harian. Bukan buku cinta seperti milik Salamah.
Sementara di perjalanan pulang, Nita tidak lagi menggoda Ahmad, karena kakaknya cuma diam tak bicara sedikit pun, hanya fokus melihat jalanan di depan. Jauh di lubuk hati Ahmad, Dia kecewa, kecewa karena rasa rindu yang dirasa hanya sepihak, tidak sedikit pun dia menemukan kerinduan untuknya terpancar dari mata Salamah.
Brrraaakkkkkkk
"Astaghfirullah al adzim ...."