Menunjukkan Perhatian

1112 Words
Akira mendapatkan jatah libur dan beristirahat di rumah selama tiga hari. Tapi nyatanya selama itu pula ia merasa tubuhnya semakin tidak nyaman saja. Gejala-gejala yang biasa terjadi pada ibu hamil muda semakin terasa. Akira sering mual dan pusing di pagi hari. Ia juga merasa tubuhnya mudah lelah jika melakukan banyak aktivitas. Sofia pun ikut merasa heran saat beberapa kali mendapati Akira sedang mual-mual. Ibu itu menjadi khawatir dengan kesehatan putrinya. “Apa tidak sebaiknya kita ke dokter saja, Sayang?” ujar Sofia pada suatu ketika sontak membuat Akira terlonjak kaget. “Buat apa, Ma? Itu tidak perlu,” tolak Akira dengan halus. “Tentu saja untuk memeriksakan kondisi kesehatanmu. Kamu bahkan sudah libur bekerja dan beristirahat di rumah tapi sepertinya justru semakin parah. Kamu juga sering mual akhir-akhir ini. Mungkin asam lambungnya naik.” “Tidak, Ma. Akira tidak mau ke dokter. Akira baik-baik saja. Besok aku akan kembali bekerja,” ujar Akira meyakinkan ibunya. Akira sengaja menghindar agar Sofia tidak membawanya ke dokter sebab jika itu terjadi maka semua rahasianya akan terbongkar. Sebelum bau bangkai itu benar-benar tercium, dia harus menyembunyikannya sebaik mungkin. Meski sebenarnya ketidak jujuran membuatnya semakin berkubang dalam menanggung beban itu sendirian. Tidak ada teman berbagi bahkan pada Clarissa, teman terdekatnya selama ini. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Akira sudah bersiap rapi. Jatah liburnya sudah habis. Dia harus kembali bekerja meski tubuhnya masih sedikit lemah. Jika sampai dia tidak kembali ke kantor hari ini maka Albert bisa murka dan bisa jadi Levin juga akan terkena imbasnya. Lagi pula terus berada di rumah seharian membuat Akira khawatir ibunya akan semakin curiga. Setelah berpamitan pada Sofia, Akira berangkat dengan menggunakan jasa ojek seperti biasa. Dia tiba di kantor sekitar jam tujuh kurang lima menit. Akira langsung masuk ke ruangannya dan menjumpai Levin sudah datang lebih awal. Laki-laki itu turut senang melihat Akira sudah kembali bekerja seperti semula. Levin tak lupa meminta Akira untuk menghadap Albert. Ia mengatakan hal itu telah diperintahkan sendiri oleh sang atasan. Setelah memastikan sebelumnya bahwa Albert sudah datang, Akira pun melakukan apa yang disampaikan oleh Levin. Gadis itu mendatangi ruangan Albert dan mengetuk pintu sebelum masuk. “Silahkan masuk!” ujar Albert saat melihat Akira yang berdiri di sana. Akira masuk dan mendekat ke arah meja kerja Albert. Gadis itu berusaha sebisa mungkin untuk menetralkan kegugupannya. “Saya menghadap untuk memberitahukan bahwa saya sudah bisa kembali bekerja seperti semula, Pak. Pak Levin mengatakan bahwa saya diperintahkan untuk menghadap bapak,” ucap Akira. “Ya. Memang aku yang memerintahkan hal itu pada Levin. Bagaimana keadaanmu?” Pertanyaan terakhir Albert cukup membuat Akira mengangkat alis keheranan. Tidak biasanya bosnya itu akan basa-basi memperdulikan kesehatan seorang karyawan. “Saya sudah merasa lebih baik, Pak” jawab Akira. “Lalu bagaimana kondisi kandunganmu?” Pertanyaan Albert itu semakin membuat Akira gusar. Dia tidak mengerti kenapa Albert menanyakan hal itu. “Maaf, Pak. Saya rasa itu tidak ada hubungannya dengan urusan pekerjaan,” kata Akira menghindar. Lebih tepatnya dia tidak punya jawaban untuk pertanyaan Albert itu. “Baiklah kalau kamu merasa seperti itu. Saya hanya ingin memastikan bahwa kondisi karyawan saya baik-baik saja dan bisa bekerja secara optimal,” dalih Albert. “Kalau begitu silahkan kembali ke ruanganmu dan lanjutkan pekerjaannya,” imbuh laki-laki itu dan Akira pun berlalu. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, Albert tak lagi sesering dulu memanggil Akira ke ruangannya. Itu cukup membuat Akira merasa aneh. Biasanya Albert akan memanggilnya untuk memberikan perintah ini dan itu atau membuatnya harus bolak-balik. Tapi hari itu tidak sama sekali. Akira hanya fokus mengerjakan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya. Keanehan sikap Albert membuat Akira berpikir tentang satu hal. Apa mungkin Albert berubah karena telah mengetahui kehamilannya? Atasannya itu tidak lagi memerintahkan pekerjaan yang menyulitkan. Setidaknya untuk hari itu. Tapi kenapa Albert juga tidak menyinggung soal pemecatan setelah mengetahui keadaannya. Akira hanya menyimpulkan bahwa mungkin Albert begitu menjunjung profesionalisme dalam bekerja dan tidak menyangkut-pautkan dengan kehidupan pribadi karyawan. Setelah tiba jam istirahat makan siang, Levin memberitahu Akira bahwa mereka diajak makan siang bersama oleh Albert. Ada sebuah resto yang letaknya tak jauh dari kantor. Akira menurut dan keluar bersama Levin sebab Albert mengatakan sudah menunggu di front office. Akira tidak menaruh curiga dan menganggap itu hanya ajakan makan siang biasa. Seorang atasan di perusahaan lainnya mungkin juga sering melakukan hal itu. Setibanya di sana, Albert mempersilahkan mereka berdua untuk memesan apa pun yang mereka inginkan. Akira dan Levin saling pandang tak mengerti kenapa hari itu Albert begitu murah hati. Namun dari pada bertanya lebih jauh tentang alasannya, Levin justru memilih menikmati kesempatan makan gratis itu sebaik mungkin. Mereka memilih beberapa menu dan menunggu pelayan untuk menyajikan pesanan.  Akira memilih makanan berjenis seafood. Namun tanpa diduga, saat makanan tersaji di meja, justru Akira mendadak merasakan gelenyar tak nyaman pada perutnya. Akhirnya Akira pun berlalu dan berlari ke toilet setelah tak mampu menahannya lagi. Di tengah gejala mual yang belum sepenuhnya reda, Akira dibuat terkejut dengan kedatangan Albert yang sudah berdiri sejajar dengan Akira di depan wastafel. “Kenapa bapak menyusul kemari?” tanya Akira heran. “Saya hanya ingin memastikan kondisimu saja. Lebih baik kau ikut denganku sekarang,” kata Albert dan langsung menggenggam salah satu pergelangan tangan Akira. “Tapi kita akan pergi ke mana, Pak?” tanya Akira tak mengerti. “Sudah jangan terlalu banyak berkomentar. Ikut saja denganku,” titah laki-laki itu membuat Akira pada akhirnya terdiam. Albert tidak hanya mengajak Akira keluar dari toilet tapi juga keluar dari resto itu. Tadinya saat melintasi meja mereka, Albert sempat memberi tahukan pada Levin pada dia dan Akira akan pergi. Mereka meninggalkan Levin yang bersorak senang karena jatah makanan Akira dan Albert juga bisa ia habiskan sekalian. Sementara itu Akira merasa kebingungan di dalam mobil yang sudah melaju dengan tujuan yang tidak ia tahu. Entah apa yang sebenarnya diinginkan Albert. Akira tercengang saat mobil itu berhenti di depan gedung rumah sakit. “Ayo, Akira. Turunlah dengan berhati-hati,” ucap Albert yang langsung siaga membukakan pintu mobil untuk Akira. Membuat gadis itu semakin menatap tak percaya. Apakah benar itu adalah laki-laki yang sama dengan atasannya yang sangat menyebalkan beberapa waktu yang lalu? “Untuk apa kita ke sini, Pak?” tanya akira. “Tentu saja untuk memeriksakan kandunganmu. Aku memiliki seorang kenalan dokter yang hebat di sini. Mulai sekarang biar dia yang menangani segala hal yang berkitan dengan kehamilanmu sampai melahirkan nanti,” jawab Albert membuat Akira merasa sungkan. Akira merasa tidak nyaman dengan perhatian yang diberikan Albert secara tiba-tiba. Meski begitu dia tidak bisa melakukan penolakan saat Albert menariknya masuk dan bertemu seorang dokter benama Dokter Mega. Sembari mempersilahkan dokter itu melakukan pemeriksaan, pikiran Akira justru melayang entah ke mana. Benaknya masih bertanya-tanya dan tidak siap dengan perubahan sikap Albert yang dinilai terlalu drastis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD