bc

Dokter Cantik Kesayangan Kapten (Dokter Militer)

book_age18+
10
FOLLOW
1K
READ
HE
second chance
brave
bxg
war
like
intro-logo
Blurb

Kabar Duka! Seorang prajurit dan seorang dokter wanita dilaporkan hilang di Bukit Senja sejak pukul 12.00 waktu setempat. di duga, peristiwa ini terjadi akibat baku tembak dengan kelompok teroris. Hingga kini, pencarian masih terus dilakukan oleh pihak Militer. Lima tahun lalu, George, seorang prajurit melamar kekasihnya yaitu Risa Callysta seorang dokter di sebuah bukit yang terkenal begitu indah. Namun, momen bersejarah itu berubah menjadi tragedi kelam saat sekelompok teroris muncul dan melepaskan tembakan. George tertembak, dan bersama Risa keduanya jatuh ke dalam sungai. Risa ditemukan, namun George dinyatakan hilang. Waktu berlalu namun kenangan pahit di hati Risa belum sembuh. Ia memutuskan meninggalkan Indonesia dan pindah ke Amerika sebagai dokter Bedah. Namun takdir punya rencana berbeda, di sanalah dia bertemu dengan kapten Ricardo Gabriel seorang tentara elit yang dijuluki Srigala sunyi. Prajurit bayangan yang di kirim untuk misi mustahil, pria misterius yang menyimpan masa lalu kelam, sama seperti Risa. Pertemuan mereka bukan sekedar kebetulan. Bukti baru mengungkap bahwa George ternyata masih hidup dan di tahan oleh "Shadow Wolf" Organisasi rahasia paling mematikan di timur Tengah. Shadow Wolf menjalankan eksperimen manusia "Dark Mirror", proyek kelam yang mengubah manusia menjadi senjata hidup. Misi penyelamatan membawa Risa dan Ricardo bekerjasama. Di tengah medan berbahaya, mereka menghadapi dilema Cinta masa lalu dan perasaan yang mulai tumbuh. Keduanya harus membuka tabir kelam dari "Dark Mirror " Bertarung melawan pengkhianatan, menentukan nasib George dan mereka sendiri. "operasi cermin gelap" Adalah kisah aksi romantis tentang kehilangan, harapan, dan keberanian untuk mencintai lagi. Di medan pertempuran dan konspirasi, cinta tak hanya soal hati tetapi soal pilihan yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan segalanya.

chap-preview
Free preview
Amerika
Dear passengers, we will be landing shortly. Please return to your seats, fasten your seat belts, and ensure that all your belongings are securely stored." Thank you for your trust in the airline and have a pleasant journey. Risa menghembuskan nafas kasar saat mendengar pengumuman awak kabin yang menginformasikan bahwa mereka akan segera mendarat di Bandara John F. Kennedy. Risa tidak bahagia atau bersemangat akan hal itu. Baginya negeri itu hanyalah pelarian dari semua luka yang belum dia temukan obatnya. Di balik kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya mata cantik itu terus menatap keluar, mempersilahkan bulir bening keluar dan jatuh begitu saja dari kelopaknya. Pesawat mendarat dengan selamat, semua orang mulai sibuk bangun dan berjalan menuju pintu keluar. Begitu juga dengan Risa, dia berjalan sambil menenteng tas dan ponselnya. Risa menuju area bandara tepatnya area pengambilan bagasi dan imigrasi, dia menjalani seluruh prosedur yang diperlukan, setelah semuanya selesai Rida melangkah keluar dari area bandara menuju mobil yang sudah menunggu untuk membawanya ke hotel. Segala hal telah Risa pikirkan, dia akan tinggal cukup lama disana entah sampai kapan oleh sebab itu dia sudah menyiapkan kendaraan dan juga tempat tinggal. Dan Risa akan bekerja di rumah sakit yang cukup ternama di kota ini. Di tempat lain. Ricardo Gabriel berjalan masuk ke area hotel mewah yang telah dijaga ketat. pria dengan kebangsaan irak itu tampak luar biasa. Ia tampan, bertubuh tegap dan berisi, berkulit putih bersih, dan memiliki bibir semerah buah ceri. ”Selamat datang kapten, bagaimana perjalanan anda?" Sapa seorang staf dengan bahasa Inggris. ”Semuanya berjalan lancar, tapi aku ingin pertemuan dipercepat, karena aku harus segera kembali ke irak," Ujar Ricardo dengan nada serius mengejutkan mereka yang ada di depannya. "Tapi tuan semua persiapannya belum matang," ujar pria itu. Ricardo menghentikan langkah, menatap tajam dengan sorot tak suka dengan posisi tangan di dalam saku, "Kau mengeluh? apa kau di bayar untuk itu, aku datang ke sini penuh dengan pertimbangan apa kau menganggap waktuku tidak berharga? jangan berkata tidak bisa sebelum kau melakukannya!" Pria itu langsung terdiam. Siapa yang berani membantah Ricardo? Ricardo kemudian meninggalkannya dan menuju kamar di lantai atas menggunakan lift. Ia memilih untuk beristirahat hari itu setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. *** Tak lama berselang Risa tiba di hotel yang sama, Ia hanya menginap satu malam karena besok dia akan pindah ke apartemen mewahnya. "Sepertinya ramai sekali, apakah ada acara di hotel ini?" gumamnya saat melihat para prajurit memenuhi lobi. Risa berjalan menuju meja resepsionis untuk check-in. kamarnya ada di lantai 3, tipe VVIP yang lengkap dengan fasilitas kolam renang, olahraga pribadi dan lain-lain. "Bagaimana ini, tuan Ricardo meminta agar pertemuan dipercepat, padahal persiapan belum selesai," terdengar suara pria yang tampak frustasi dengan keadaannya saat Risa lewat di sekitar lift. "Bahkan di negara maju pun orang-orang tidak terlepas dari tekanan pekerjaan," pikir Risa. Brak! Karena tidak memperhatikan jalan, Risa justru menabrak seseorang yang datang dari arah berlawanan. "I'm sorry," ucap Risa dengan terburu-buru sambil memungut ponselnya yang jatuh. Pria itu hanya mengangguk, kemudian ikut memungut ponselnya yang ikut terjatuh, tanpa berbicara sepatah katapun mereka berpisah, sebagaimana kebiasaan yang terjadi di tempat asing. Risa lantas berjalan cepat menuju kamarnya, sebelum masuk dia juga melihat di depan kamar 111 yang berada di samping kamarnya juga tampak ramai, namun Risa tidak ambil perduli. ** 4 jam berlalu, karena lelah Risa tertidur cukup lama hingga pukul 21.00 malam dan dia hampir melewatkan makam malamnya. "Pantas saja perutku keroncongan," gumamnya sambil meraba perutnya. Ponselnya berdering, namun suara dering itu terasa asing di telinganya. Risa meraih ponsel itu untuk melihat siapa yang menghubunginya di malam ini. “My Beloved❤” “Hah? Siapa ini?” Risa panik dan menjauhkan ponsel dari wajahnya. Panggilan itu berhenti, namun dering kembali berbunyi menandakan seorang yang disana terus berusaha untuk menghubungi pemilik ponsel tadi. Risa mencoba membuka ponsel dengan face id, tapi gagal. "Tidak salah lagi, ponsel ini sudah tertukar," pikirnya sambil berusaha mengingat kejadian sebelumnya. Dering terus berbunyi membuat Risa sedikit kesal, tak bisakah sabar sebentar, Risa lantas menggeser tombol hijau, "Halo, maaf ponsel ini tertukar, saya akan segera mencari pemiliknya." tut Tanpa menunggu jawaban si penelpon Risa langsung mematikan sambungan telepon dan mencoba kembali mengingat tentang momen terakhirnya tadi. "Ah aku ingat, sepertinya pria tadi adalah pemiliknya." Risa langsung mengambil mantel trench coat-nya dan keluar dari kamar, meminta bantuan staf hotel. Ia menjelaskan kronologinya, dan pihak hotel membenarkan bahwa pria yang bertabrakan dengannya sudah keluar sejak beberapa saat lalu. “Mereka sudah pergi? Apakah mereka akan kembali?” tanya Risa. “Maaf, Nona. Sepertinya mereka tidak akan kembali karena akan mengadakan pertemuan dan langsung kembali ke Irak.” “Apa?” Risa terkejut dan panik. Hotel menyarankan agar Risa menghubungi pihak kepolisian. Karena urusannya telah di luar wilayah hotel, polisi lebih berwenang untuk membantu. Pihak kepolisian menyanggupi. Dari pantauan mereka, pria pemilik ponsel tersebut adalah anggota tim khusus yang sedang bertugas di negara itu. “Apakah mereka masih berada di sini?” tanya Risa. Petugas polisi mengangguk. “Silakan ikut kami.” Mereka menuju sebuah restoran mewah. “Permisi, Tuan. Maaf mengganggu. Kami dari pihak kepolisian,” ujar petugas memperkenalkan diri. Para pria di dalam restoran itu mengangguk. “Ada yang bisa kami bantu?” tanya salah satu dari mereka. “Ponsel Nona ini tertukar, dan dari pantauan kami, ponsel itu ada di sini.” Salah seorang pria melirik Risa. “Ternyata kamu, ya saya mengenalnya kamu yang tadi menabrakku kan?" Risa mengangguk. “Ponsel kita tertukar, Tuan,” katanya sambil menyerahkan ponsel itu. “Itu bukan milikku, itu milik Kapten,” katanya sambil menoleh ke arah seorang pria yang duduk membelakangi mereka. Pria yang dipanggil “Kapten” itu meletakkan ponsel di meja tanpa berkata-kata dan perlahan berbalik. “Terima kasih, Tuan,” ujar Risa gembira sambil mengambil ponselnya. Namun, saat mata mereka bertemu. Deg! Jantung Risa langsung berdebar kencang. Matanya tak berkedip saat tatapan mereka bertemu. Bibir Risa bergetar, tak sanggup mengucap sepatah kata pun. “Nona, mari kita keluar. Ponsel Anda sudah ditemukan.” Tubuh Risa terasa lemas, seolah tak sanggup menopang beratnya. Ia harus bertumpu pada meja untuk menahan tubuhnya tetap berdiri. “Nona, Anda baik-baik saja?” “Sepertinya dia sakit. Lihat, wajahnya tiba-tiba pucat. Sebaiknya bawa dia ke rumah sakit.” Risa menggeleng lemah, namun matanya masih terpaku pada pria di hadapannya. Hingga akhirnya, bibir tipis itu bergetar pelan dan berucap..... George......

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.8K
bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook