Risa menghembuskan nafas panjang saat memasuki ruang IGD, di rumah sakit yang akan menjadi tempat untuk bertugasnya mulai hari ini.
ini adalah hari pertamanya menjadi seorang dokter spesialis di Amerika yang kebetulan harus menggantikan dokter Leonard yang izin.
Langkahnya pelan namun pasti, meski tubuhnya sedikit lelah karena perjalanan panjang dan kurangnya istirahat Risa tetap bersemangat untuk menangani pasiennya. Setibanya di meja penerimaan pasien, seorang dokter menyambut Risa dengan ramah.
"Dokter Risa?" tanya pria itu sambil mengulurkan tangannya.
"Ya saya Risa," jawabnya dengan sopan sambil meraih tangan pria itu.
"Saya Samuel, salah satu dokter senior disini, dokter Leonard sudah memberitahu soal anda. Terimakasih karena sudah mau menggantikannya."
“Tidak masalah, dengan senang hati dokter Samuel."
“Pasien pertama anda pagi ini sudah ditangani oleh perawat, tapi masih membutuhkan observasi dokter. Dia seorang pria berusia sekitar 30 tahun mengalami keracunan makanan cukup parah. Ditemukan sekitar satu jam yang lalu dalam kondisi tidak sadarkan diri di sekitar apartemen."
“Apakah sudah diketahui makanan apa yang dikonsumsi sebelumnya?”
"Belum, tapi menurut laporan dia sepertinya mengonsumsi makanan cepat saji, itu terlihat dari CCTV yang merekam seorang kurir mengantarkan makanan ke apartemen tersebut."
"Ini mungkin saja terjadi dokter Risa, karena pria ini bukanlah orang sembarangan dia seorang kapten, dia datang kesini karena tugas khusus pasti ada pihak yang memang sengaja ingin menyerangnya."
Risa mengernyit heran, dia membuka catatan pasien. Wajahnya tiba-tiba tegang saat membaca nama yang tertera disana.
“Ricardo Gabriel…” bisiknya nyaris tak terdengar.
“Ya, itu nama pasiennya. Apakah Anda mengenalnya?” tanya Dokter Samuel.
Risa buru-buru menggeleng. “Tidak, namanya hanya familiar mungkin karena dia cukup terkenal bukan?" jawab Risa klasik.
Dokter Samuel dan Risa melangkah menuju ruang observasi. Saat pintu di buka, tatapan Risa langsung terpaku pada seorang pria yang tampak lemah di atas ranjang wajahnya pucat, meski begitu tidak mengurangi ketampanannya.
Jantung Risa berdetak kencang, perasaannya begitu khawatir.
"Pasien masih belum sadar sepenuhnya, kami sudah memberikan infus dan antiemetik, sekarang ini menjadi tugas anda dokter Risa silahkan diperiksa lebih lanjut."ujar dokter Samuel sebelum meninggalkan Risa disana.
Dengan tubuh gemetar, Risa mulai memeriksa Ricardo mjlai dari tanda vitalnya membuat pria itu tiba-tiba mengerang.
"George," lirih Risa memanggil Ricardo.
"Ricardo?" gumam Risa seperti menyadari bahwa yang di depannya bukanlah George melainkan Ricardo.
Mata pria itu mulai terbuka, tatapannya kosong mengarah pada Risa, "Siapa kau?"
Risa mencoba menghilangkan kegugupannya, "Aku... aku doktermu, dokter Risa."
Ricardo tampak bingung namun dia kembali memejamkan mata, tubuhnya mulai menggigil.
Risa mencoba memejamkan mata dan menghembuskan nafasnya perlahan untuk menenangkan diri. ia seperti sedang dipermainkan oleh semesta, pria di hadapannya kembali membawa luka lama yang belum pernah sembuh sebelumnya.
Kawasan rumah sakit kini di jaga ketat, siapapun yang datang akan diperiksa oleh mereka.
"Permisi kami dari tim kepolisian, kami sudah memeriksa rekaman CCTV dan mengamankan bekas makanan yang sempat dikonsumsi oleh tuan Ricardo."
Mendengar ucapan polisi itu, Risa langsung bergerak maju, "Tolong berikan pada saya, saya akan memeriksa makanan itu sekarang."
Dokter Samuel mengangguk dan menyerahkan barang bukti itu pada Risa untuk diperiksa lebih lanjut, polisi juga memberikan pendampingan khusus untuk mengawal proses pemeriksaan agar terjamin keakuratannya.
Risa langsung menuju ruang laboratorium untuk memeriksa makanan dan juga sampel darah yang sempat di ambil dari tubuh Ricardo.
Dengan penuh pertimbangan, Risa mulai mengeluarkan makanan itu, jika di lihat dari bentuknya tidak ada yang mencurigakan karena hanya sepotong ayam, buah dan juga jus yang tampak sudah di minum sebelumnya.
"Kenapa aroma ayam ini terasa aneh di hidungku?" gumam Risa merasa tidak beres.
merasa ada yang mencurigakan, Risa membelah ayam itu menjadi dua bagian dan benar saja ada sesuatu yang mencurigakan disana sebuah pil yang lebih kecil dari kacang hijau melekat di antara daging yang rapat.
Bagi orang awam, itu mungkin hanya di anggap tepung yang menyatu pada daging, namun bagi seorang dokter benda itu sangat mencurigakan.
Risa tidak hanya menemukan satu namun lima, tentu saja hal itu menambah kecurigaannya.
"Ini cukup aneh, apakah Ricardo tidak memeriksa makanannya? dia seorang kapten sudah tentu banyak musuh di sekitarnya."
Risa lantas berlari keluar untuk memanggil dokter Samuel.
"Dokter saya menemukan benda mencurigakan di makanannya, saya butuh tim laboratorium untuk pemeriksaan lebih lanjut, dari diagnosa awal saya ini adalah racun yang memang sengaja di bentuk untuk mengelabui korban."
Mendengar hal itu dokter Samuel mengiyakan, "Baik kita langsung serahkan pada pihak laboratorium."
Risa, dokter Samuel juga pihak kepolisian langsung menemui pihak untuk segera mengecek pil itu.
"Segera cek ini, kami membutuhkan hasilnya segera." pinta dokter Samuel.
Mendengar hal itu, Dokter Samuel langsung mengiyakan, "Baik, kita akan serahkan ini ke pihak laboratorium."
Risa, Dokter Samuel dan juga pihak kepolisian lantas berjalan cepat menuju Laboratorium untuk segera mengecek pil itu.
"Segera cek ini, kami membutuhkan hasilnya segera!" pinta dokter Samuel.
"Apakah keadaan tuan Ricardo baik-baik saja?" tanya polisi karena mereka cukup khawatir mengingat Ricardo adalah tamu negara mereka, namun justru mengalami insiden berbahaya yang hampir merenggut nyawanya.
"Kami sudah memberikan antidotum standar untuk melihat bagaimana racun untuk bekerja agar bisa memastikan penanganan yang tepat untuknya."
Polisi mengangguk paham, "Baik, kami akan menunggu hasil selanjutnya untuk itu kami akan melakukan penyelidikan terlebih dahulu untuk mengetahui siapa pihak yang bertanggungjawab atas tragedi ini."
Dokter Samuel juga Dokter Risa mengangguk, "Semoga semuanya baik-baik saja," gumam Risa di dalam hatinya.
**
Beberapa jam berlalu, hasil pemeriksaan laboratorium keluar, "Kami menemukan zat berbahaya yang dapat merusak organ dalam yang dapat menyebabkan kematian. pil ini tidak di jual bebas namun dibuat khusus oleh seseorang yang ahli di bidangnya."
Mendengar hal itu jantung Risa kembali berdegup kencang, "tidak salah lagi, memang ada yang ingin menghabisinya," ujar dokter Samuel menatap hasil laboratorium itu.
Mendengar ucapan dokter Samuel, Risa benar-benar khawatir takut jika Ricardo pria yang begitu mirip dengan George itu tidak bisa diselamatkan.
"Tidak, kita harus bergerak cepat dokter Samuel, nyawa tuan Ricardo terancam sekarang!" panik Risa tidak bisa menahan ketakutannya.
"Kamu benar, Dokter Risa. Apakah ada antidotum untuk racun ini?" tanya Dokter Samuel pada pihak laboratorium.
"Ya, ada dokter, kami sudah mengirimkan sampelnya, dan sebentar lagi itu sudah bisa digunakan."
Mendengar hal itu, hati Risa sedikit lebih tenang. Setidaknya, harapan untuk Ricardo tetap hidup masih ada.
"Dokter Risa, segera periksa keadaan Ricardo, kami menyerahkannya padamu," ujar Dokter Samuel yang mempercayakan Ricardo pada Risa.
"Baik, saya akan segera memeriksa keadaannya."
Risa pergi meninggalkan ruangan itu menuju ruangan rawat Ricardo. Seperti informasi tadi, antidotum itu sudah bisa segera digunakan, dan itu artinya mereka sedang berkejaran dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa Ricardo.