Menghindari Daffa

1153 Words
Kania masuh terpaku di depan pintu, binggung apakah ia masuk atau tidak. “Masuk,” ucap Daffa dari dalam ruangannya. Kania masuk dan duduk tepat di hadapan Daffa. Daffa tak henti-hentinya menatap Kania, seakan Kania akan hilang jika ia mengalihkan tatapannya. Ia masih menatap Kania beberapa menit setelah Kania duduk. Entahlah tidak ada yang tau kenapa Daffa sedalam itu menatap Kania. “Ini pak Daffa natapnya gitu banget, ngeri,” batin Kania merinding atas tatapan Daffa. “Pak Daffa, Pak Daffa,” ucap Kania sambil melambaikan tanggannya di wajah Daffa. Kania binggung Daffa tidak meresponnya. “Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, saya permisi Pak,” kata Kania pada akhirnya. “Siapa suruh kamu pergi, saya belum selesai ngomong,” kata Daffa dengan nada datarnya. “Perasaan pak Daffa nggak ngomong apa-apa dari tadi,” gumam Kania, tentu saja terdengar jelas di telingga Daffa. “Ngomong apa kamu barusan,” kata Daffa menatap marah ke arah Kania. “Tidak ada Pak,” Kania menundukkan kepala mengatakan itu. “Kania Fransiska,” ucap Daffa dengan nada beratnya. Ia menyandarkan punggungnya di kursi, seperti seorang bos besar. “Nama yang saya sebut dalam ijab kabul, kalau kamu tidak lupa,” sambung Daffa, menatap lekat ke arah Kania. Sedari tadi Kania menghindari tatapannya, terlihat tangan Kania bergetar setelah ia mengatakan itu. Secara tidak langsung ia mengatakan bahwa Kania adalah istrinya. “Saya ingat Pak,” jawab Kania masih menundukkan kepala. Ia tak tau bagaimana merespon perkataan Daffa. Perkataan Daffa terlalu benar untuk ia sangah. Itu faktanya, Daffa adalah suaminya sekarang. “Bagus,” ucap Daffa. “Tunggu saya diparkiran,” kata Daffa sambil membersihkan meja kerjanya yang penuh dengan kertas-kertas. Maklum saja Daffa sibuk, ia baru dua minggu di kampus banyak hak yang harus ia selesaikan di kampus ini. Kania tidak mengerti apa yang dikatakan Daffa, bukannya tadi Daffa akan menghukumnya. “Maksudnya Pak?” “Setelah ini kamu nggak ada kelas kan?” tanya Daffa. “Iya, terus?” Kania balik bertanya. Daffa kesal sendiri dengan kelemotan otak Kania, padahal Daffa mengatakan dengan sangat jelas tanpa ada kode-kode yang harus dipecahkan. “Saya baru tau kamu nggak ngerti bahasa manusia,” kata Daffa masih menahan kekesalannya, ia berusaha terlihat santai di hadapan Kania. Tidak mungkin ia memarahi Kania di hari pertama mereka bertemu bukan. “Saya ngerti Pak, tapi untuk apa saya menunggu bapak di parkiran.” Kali ini Kania benar-benar tidak mengerti apa yang dibicarakan Daffa. Daffa menghela napas, ia lelah dengan kelambatan Kania dalam mengartikan sesuatu. “Saya antar kamu pulang,” kata Daffa menjelaskan maksudnya. “hah? ehhh… tidak usah Pak saya bisa pulang sendiri, kos saya dekat sini,” kata Kania menolak ajakan Daffa. “Sepuluh menit lagi saya ke parkiran, tunggu saya di sana,” ucap Daffa, tidak memerdulikan perkataan Kania. Daffa tau Kania berusaha menolak permintaannya. Tapi ia tidak peduli Kania adalah istrinya bukan, jadi tidak ada larangan jika mereka berduaan setiap saat. “Pak, saya bisa pulang sendiri,” kata Kania lagi. Ia tidak ingin pulang bersama Daffa, bagaimana kalau temannya tau dan ia akan menjadi bahan gosip di kampus, bahkan Claudia akan tambah membencinya. Daffa menatap Kania dengan tatapan datar andalannya, bisa ia pastikan Kania tak berkutip hanya dengan tatapannya saja. “Saya tidak mau menggulang hal yang sama Kania,” ucap Daffa lagi dengan nada beratnya. Kania menghela napas dan mengatakan. “ Baiklah, Pak.” “Bagus,” kata Daffa dengan senyum tipisnya. Sangat tipis bahkan Kania tidak bisa melihat itu. “Saya permisi pak,” pamit Kania meninggalkan ruangan Daffa dengan lesu, sepertinya hidupnya akan rumit jika ada Daffa di sini. Sesampainya di luar ruangan Daffa, ia berlari seperti orang yang dikejar hantu. Bahkan ia sempat menabrak beberapa orang yang menghalangi jalannya. Di perjalanan ia bertemu Aldi yang sedang berkumpul bersama temannya. “Ehh Kania! mau ke mana?” teriak Aldi, sampai-sampai temannya menutup telingga mendengar teriakan Aldi. “Mau kerja!” Kania balas berteriak merespon perkataan Aldi. “Hati-hati.” Kania hanya mengacungkan jempol membalas perkataan Aldi. *** Daffa sudah selesai dengan pekerjaannya, ia segera bergegas agar Kania tidak bosan menunggunya, ia tak mau membuat Kania menunggu . Ia tak tau kenapa sepanjang perjalanan pikirannya hanya tertuju pada Kania. Pertemuannya dan Kania hari ini diluar dugaannya. Ia tak menyangka Kania juga kuliah di sini, di salah satu kampus swasta milik keluarganya. Dunia sempit sekali bukan. Tapi kenapa tidak ada yang memberitahunya kalau Kania kuliah. Sepertinya ia harus mengintrogasi orangtuanya, tidak mungkin orangtuanya tidak tau bukan. “Sudah jam segini, di mana Kania?” beo Daffa, sesekali ia melirik jam di pergelagan tanggannya. Daffa masih menunggu Kania di dalam mobilnya, bahkan hampir satu jam tidak ada tanda-tanda Kania akan datang. Ia juga berpuluh kali menelepon Kania atau pun mengirimi pesan ke Kania, tak satupun panggilan dari Daffa di tanggapi Kania. Setelah setahun lebih menikah baru pertama kali ini ia menghubungi Kania. “Apa dia menghindariku?” tanya Daffa pada dirinya sendiri, ia kesal sendiri menunggu seperti ini. Ia benci ada seseorang yang tidak mengharagai waktu. Daffa memutuskan untuk pulang sendiri tanpa Kania, jika menunggu Kania mungkin sampai besok perempuan itu tidak akan datang. Di lain tempat di waktu yang sama, Kania merasa bersyukur bisa terbebasa dari Daffa, ia belum siap menghadapi laki-laki itu. Pasti Daffa akan memberikan banyak pertanyaan padanya, Kania benci itu, kania benci menceritakan apa yang ia alami kepada orang-orang. Bukan ia tak percaya, hanya saja ia tak ingin orang lain memandang kasian ke arahnya. Bahkan dengan Alvina saja ia tak bercerita banyak. “Kania? tumben datang cepat,” kata Dimas yang baru saja ingin berkemas karena shifnya hampir habis. “Kebetulan gue ngga ada jadwal kuliah hari ini Dim,” jawab Kania, berjalan menuju ruang khusus staff. Kania berkerja di Café pada siang hari, jia ia tak ada jadwal kuliah. Jika ada jadwal kuliah, ia akan meminta pertukan shif kepada bosnya. Kebetulan boss tempat Kania sangat baik dan memberi kelonggaran pada Kania, selagi Kania menjalankan tugasnya dengan baik, kenapa tidak. Pada malam hari Kania bekerja menjadi kasir di salah-satu supermarket, itu yang menjadi alasan Kania sering terlambat datang ke kampus, karena pola tidurnya tidak teratur dan juga lelah bekerja seharian. Kania tidak bisa makan jika ia tak bekerja, ayahnya tidak pernah memberikan uang kepada Kania. setelah ia di usir dari rumah, ayahnya maupun neneknya tidak lagi menghubunginya. Tapi mamanya masih menghubung Kania, walaupun tidak sering, karena Papanya akan marah jika mamanya menhubunginya. Tapi, mamanya kadang juga memberikan ia uang jajan walaupun tidak seberapa, setidaknya membantu. Kania masih berpikir karena pertemuannya dan Daffa tadi, bagi Kania ini terlalu cepat, kenapa Daffa datang saat ia tidak baik-baik saja. "Apa yang harus aku lakukan? Tidak selama-lamanya aku bisa menghindari Mas Daffa. Bagaimana pun aku menghindar aku akan tetap berakhir bersama Mas Daffa," batin Kania sendu. Ia binggung harus melakukan apa, pertemuannya dengan Daffa hari ini sesuatu yang tidak ia harapkan. Bukan ia tidak menerima Daffa, bukan seperti itu. Hanya saja, kenapa secepat ini mereka dipertemukan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD