“Nggak asik lo, ini serius lo nggak mau tau nama bapak tampan itu?” tanya Alvina sekali lagi mana tau Kania berubah pikiran.
“Nggak,” jawab Kania.
“Lo kerja di café nanti?” tanya Alvina lagi. Merubah topik pembicaraan mereka. Percuma juga berbicara laki-laki di depan Kania.
“Iya kenapa?” Kania was-was dengan pertanyaan Alvina.
“Gue anterin ya,” tawar Alvina.
“Tumben lo, ada maunya ni,” ucap Kania dengan nada ejekannya.
“Teman lo yang kemaren ganteng juga ya,” ucap Kania dengan nada manjanya.
“Sudah gue duga, dasar, pacar lo yang kemaren mau dikemanain,” ucap Kania tau maksud terselubung dari seorang Alvina.
“Nggak gitu gu—“
“Kania, Lo dipanggil ke bagiaan kemahasiswaan.” Kata Dahlia dengan tergesa-gesa.
“Beb, ngapain bagian kemahasiswaan manggil lo, ada masalah apa lo?” tanya Alvina penasaran.
“Nggak tau gue, gue ke sana dulu ya,” pamit Kania. Lalu dengan tergesa-gesa menuju gedung sebelah tempat orang-orang penting di kampus ini berada.
Sepanjang perjalanan otaknya berkelana menebak kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi padanya.
“Mudah-mudahan ini bukan perihal uang semeseter,” batin Kania. Karena ada satu mata kuliah Kania yang tidak memenuhi syarat untuk penerimaan beasiswa. Jadi pada semester ini ia diharuskan untuk membayar uang semester seperti yang lainnya.
***
“Ibu memanggil saya?” tanya Kania setelah sampai di depan ruangan kemahasiswaan.
“Masuk Kania, ada yang ingin ibu tanyakan,” ucap Bu Rina dengan lembut.
Kania melihat keadaan sekitar, ada beberapa orang penting yang ada di sini termasuk dekan mereka.
“Ada apa ini?” batin Kania bertanya-tanya.
“Kamu ya? Yang mencuri laptop bapak Daffa,” seloroh Bu Serina sesaat setelah Kania mamasuki ruangan.
“Daffa? mudah-mudahan bukan dia,” batin Kania, ia menjadi teringat dengan suaminya.
Kania tidak mengerti apa yang dikatakan Bu Serina, ia tak tau menau perihal laptop.
“Laptop? Maksudnya Buk?” tanya Kania, ia benar-benar tidak tau tentang masalah ini.
“Kalau bukan kamu siapa lagi Kania, kamu yang terakhir kali mengunci ruang komputer kan?” Bu Serina semakin menyudutkan Kania atas tuduhannya itu.
Kania mengelengkan kepalanya atas tuduhan Bu Serina padanya.
Bu Rina menengahi perdebatan mereka.
“Jadi begini Nak, Pak Daffa kehilangan laptopnya di ruang komputer, dan kami juga menemukan laptop ini di loker kamu,” jelas Bu Rina dengan nada lembutnya.
Kania kaget atas tuduhan yang di layangkan padanya.
“Loker saya buk? Saya tidak mencurinya Buk,” ucap Kania membela diri.
“Ngaku saja kamu,” tuduh Bu Serina lagi.
“Saya benar-benar tidak mencurinya Buk.”
Daffa tiba-tiba saja datang dan ikut mengintrogasi Kania. Daffa benar-benar tidak bisa memaafkan orang yang telah mencuri laptopnya. Padahal ia baru seminggu di kampus ini, sudah ada saja masalah yang terjadi padanya.
“Pak saya tid—“ perkataan Kania terhenti melihat siapa yang berdiri di depannya.
“Mas Daffa,” batin Kania, masih terpaku dengan keterkejutannya.
“Ini benar mas Daffa, dia juga menuduhku mencuri,” batin Kania, ia tertawa miris di dalam hatinya.
“Kamu yang terakhir kali mengunci ruangan komputer kan? Ngaku saja,” tuduh Bu serina lagi, Ia sepertinya mencari muka dihadapan Pak Daffa.
Bu Serina adalah salah satu dosen muda yang disegani di kampus, karena kepintarannya dan juga kecantikan tentunya. Bu Serina sering sekali mendekati dosen muda maupun dosen yang sudah beristri di kampus.
Sepertinya Kania harus hati-hati dengan Bu serina.
“Iya buk, saya melihat Kania yang mengambil laptop Pak Daffa Bu,” kata Liana, ikut campur. Bahkan Kania tidak sadar bahwa ada Liana di antara mereka.
“Liana lo!” geram Kania, masih menahan amarahnya.
“Nggak mau ngaku juga kamu, orang miskin seperti kamu mana mau ngaku,” ejek Bu serina lagi.
Daffa menatap datar ke arah Bu Serina, ia tidak suka ada orang yang mengatai Kania seperti itu. Apalagi di depannya sendiri.
“Pak, Bu, saya bersumpah tidak pernah mencuri laptop Pak Daffa.” Kania masih kekeuh dengan pendapatnya.
“Bo-bohong Buk,” jawab Liana lagi.
Liana mengatakan itu dengan nada terbata-bata.
“Bu saya …ya saya mencurinya saya siap menerima hukuman apapun.” Kania mengakui kesalahan yang tidak ia lakukan. Ia terpaksa melakukan itu, sepertinya ia mengerti apa yang terjadi sekarang. Dengan melihat ekpresi Liana saja ia mengerti apa yang terjadi. Lebih baik ia yang dikeluarkan dari kampus, daripada Liana. Liana adalah satu-satunya harapan orangtuanya, jika ia dikeluarkan dari kampus sangat menyakiti orangtuanya. sedangkan Kania, ia tak punya siapa-siapa kecuali Mamanya. Mamanya pasti mengerti apa yang Kania rasakan sekarang.
Lagipulan beasiswanya juga sudah dicabut, Kania juga tidak memiliki uang lagi untuk membayar uang semester, lambat atau cepat ia juga akan dikelaurkan dari kampus karena tidak membayar uang semesternya.
“Kania! saya tidak menyangka kamu melakukan ini, kamu saya keluarkan dari kampus ini,” marah pak Danu—dekan di fakultas ekonomi dan bisnis.
“Pak, biar saya saja yang memberi hukuman kepada Kania, Pak,” ucap Daffa.
“Tapi Pak Daffa hukuman saja tidak cukup untuk kesalahan sebesar ini Pak,” ucap Bu Serina, ia tak setuju kalau Kania dihukum, lebih baik dikeluarkan saja.
Daffa tidak menanggapi perkataan Bu Serina.
“Dan kamu Kania ikut ke ruangan saya,” putus Daffa, tak ada senyuman di wajah Daffa saat mengatakan itu.
Kania menghela napas mendengar itu. Ia yakin Daffa akan memberinya hukuman berat, dilihat dari cara Daffa berbicara padanya.
Kania tidak mengerti kenapa Liana melakukan ini padanya, padahal ia dan Liana cukup dekat, ia tak meyangka Liana menjebaknya.
Benar kata orang yang menjadi musuh adalah orang terdekat kita sendiri. hati-hati jangan pernah menaruh kepercayaan kepada siapapun bahkan bayanganmu sendiri meninggalkanmu di kala gelap apalagi orang lain.
“Kania, kamu nggak lupa kan, kamu hanya di pandang sebelah mata oleh semua orang, termasuk orangtuamu sendiri,” batin Kania.
Kania sudah terbiasa dengan situasi seperti ini, bahkan ia sering dituduh mencuri karena status miskin yang ia miliki. Di kampus tak ada yang tau bahwa Kania dan Claudia sepupu, mereka hanya tau bahwa Claudia sangat membenci Kania, Claudia sering berlaku semena-mena terhadap Kania di kampus.
Kania sangat beruntung bertemu dengan Alvina dan juga Aldi, dengan kehadiran mereka berdua Claudia sudah jarang membully nya, paling Cuma membully dengan kata-kata saja. Itu pun Alvina selalu membalas perkataan Claudia.
Larut dalam pikirannya, tak terasa ia sudah sampai di depan ruangan Daffa, ruangan Daffa tak seperti ruangan kepala jurusan pada umumnya. Yang Kania lihat Ruangan Daffa dua kali lipat lebih besar dari ruangan Kepala jurusan, bahkan ruangan Daffa seperti ruangan Dekan dengan fasilitas lengkap. Dilengkapi sopa dan ada juga dispenser di sudut ruangan.