Awal baru untuk Kania

1375 Words
Kania berjalan santai menuju ruang tamu, ia sangat bersemangat karena hari ini hari terkhir ujian semester. Sudah enam bulan berlalu, rasanya baru kemaren ia mengikuti ospek yang penuh dengan drama-drama dan masalah yang tiada ujungnya Kania bersyukur bisa melewati itu semua walaupun dengan air mata. “Pa, ini uang Kania, kita nggak berhak menggunakannya untuk keperluan Claudia, Pa,” kata Dania. “Ma, kita orangtua Kania, kita juga berhak atas uang ini,” sangkal Wahyu atas argumen istrinya. “Pa, sudah cukup selama ini aku diam, pa—“ perkataan Dania terhenti saat melihat Kania menguping pembicaraan mereka. Kania tersenyum miris mendengar itu, tanpa pamit ia langsung menuju pintu keluar Rumah, bahkan ia tak menyapa neneknya yang duduk di kursi teras. “Dasar anak durhaka, kalau lihat orangtua itu di sapa!” teriak Mila melihat punggung Kania yang semakin jauh. "Jadi mereka menggunkan uang pemberian Daffa untuk membeli mobil untuk Claudia, apa aku tidak berarti dalam hidup mereka. Kenapa papa begitu jahat, padahal papa tau aku juga mati-matian cari uang untuk kebutuhan kuliahku," batin Kania miris akan hidupnya. Ia marah sekaligus kesal dengan sikap papanya, tidak sepantasnya Wahyu menggunkan uang itu untuk keperluan Claudia, sedangkan Kania harus kerja dulu baru bisa membeli barang yang ia inginkan. Rasanya tidak adil bagi Kania lagi dan lagi ia yang terluka, lagi dan lagi ia merasa diabaikan di keluarganya. Menyedihkan sekali bukan, tidak adakah yang mengerti apa yang Kania inginkan. Tak banyak yang ia butuhkan cukup kasih sayang orangtuanya, apa itu seseuatu yang sulit. Tapi Kania tak bisa melakukan apa-apa ia tak mau sampai mamanya menangis karena membela Kania. "Apa aku pergi saja dari rumah, biar papa dan nenek bahagia? Sepertinya tabunganku juga cukup untuk hidup sendiri," batin Kania. tiba-tiba saja itu terlintas dibenaknya. “Sepertinya itu ide yang bagus,” beo Kania lalu segera menelpon seseorang. *** “Ma, Kania pergi dulu,” pamit Kania. Ia sedang mengemasi barangnya, setelah berpikir panjang akhirnya ia memutuskan untuk pergi saja dari rumah. Daripada tinggal tempat di mana ia tak dihargai, tak dianggap. Sebenarnya ini keputusan yang sulit bagi Kania, tapi ia tak punya pilihan lain. Ia harus pergi dari rumah demi kesehatan mentalnya. “Mama harus menghubungi mama mertua kamu, biar kamu bisa tinggal di sana,” kata Dania ingin mengambil hp di sakunya. Tapi pergerakannya ditahan Kania. “Ma, jangan, Kania tak ingin merepotkan mereka,” cegah Kania lanjut menyusun barangnya. “Kania, mereka malah senang jika kamu tinggal di sana,” bujuk Dania lagi. Aditya dan keluarganya pasti akan sangat senang bila Kania tinggal di rumah mereka. Sebenarnya, mereka sudah menawarkan jauh-jauh hari agar Kania tinggal di rumah mereka saja. Karena bagi mereka Kania adalah tanggung jawab mereka, bukankah perempuan yang sudah menikah menjadi milik suaminya. Tapi pada waktu itu Kania menolak permintaan dari keluarga Daffa dengan alasan ia tidak bisa meninggalkan orangtuanya. “Mama, Kania mohon jangan. Lagipula, Mas Daffa masih di singapura kan,” bujuk Kania, sebisa mungkin hal ini tidak diketahui keluarga suaminya itu. Dania hanya diam, ia tak tau dengan apalagi membujuk Kania. Kania adalah anak yang keras kepala, sulit mengubah keputusan seseorang Kania. “Ma, Kania mohon jangan sampai mereka tau kalau Kania tinggal sendiri ataupun pekerjaan Kania Ma,” mohon Kania lagi. Ia tak mau menjadi beban keluarga Daffa. Kalian tidak lupa bukan, kalau Daffa pernah menghina Kania di awal pernikahan. Perkataan Daffa waktu itu sangat menyakiti hati Kania sehingga Kania tidak ingin keluarga Daffa membantunya. “Lambat atau cepat mereka pasti tau, apalagi Daffa,” kata Dania. "Hahhaa lucu sekali ya, memangnya mas Daffa pernah peduli padaku," batin Kania, mengejek dirinya sendiri. Semenjak kepergian Daffa sehari setelah pernikahan mereka. Daffa tidak pernah mengunjunginya apalagi menghubunginya. Hanya keluarga Daffa saja yang sering menghubunginya, baik orangtua Daffa maupun om dan tente Daffa. Sedangkan Daffa laki-laki itu tak peduli padanya. Ia pernah mendengar dari Bunda Anella, kalau Daffa pernah beberapa kali pulang ke Indonesia, tapi ia tak mengunjungi Kania. Sempat Kania berpikir apakah ia masih istri Daffa atau bukan. Sepertinya, ia akan meminta cerai saja jika Daffa sudah pulang dari singapura. “Iya Kania tau, tapi untuk sekarang Kania ingin sendiri Ma.” “Baiklah, jaga diri baik-baik ya,” ucap Dania menyerah berdebat dengan Kania. “Mama nggak usah khawatir.” “Bagus, kenapa tidak dari dulu saja pergi,” kata Claudia yang berada di ruang tamu. Kania berhenti sebentar dan melihat tampilan Claudia dengan tas mewahnya, jam tangan mewah dan juga Handphone mahal dan tentunya itu menggunkan uang pemberian Daffa. “Kamu memang anak tidak tau diri ya,” kata Mila saat berpasasan dengan Kania di ruang tamu. Sama seperti Claudia, Kania tak merespon perkataan neneknya. Ia muak dengan drama keluarga mereka, ia muak dengan ejekan neneknya, perlakuan semena-mena Claudia terhadapnya. Ini saatnya ia keluar dari neraka dunia itu. Satu tahun kemudian …. Tahun ajaran baru di mulai, terlihat banyak mahasiswa yang berlalu lalang di fakulatas ekonomi dan bisnis. Kania Fransiska mahasiwa angkatan dua dari fakultas ekonomi dan bisnis, dari kecil Kania tertarik dalam dunia bisnis dan Alhamdulillah semesta mengabulkan keinginannya. “Kania, ke mana aja lo udah dicariin dari tadi juga,” jengkel Alvina. Alvina sangat kesal dengan Kania karena tidak membalas pesan darinya. Alvina adalah sahabat perempuan satu-satunya yang di miliki Kania. Kania mempunyai banyak teman, baik dari organisasi ataupun di tempat kerjanya, tapi yang ia anggap keluarga hanyalah Alvina dan juga Aldi. Kania sangat menyanyangi mereka berdua. Alvina adalah sosok yang humoris yang bisa bergaul dengan siapapun, ia bisa dibilang cantik dengan kuli sawo matangnya, tingginya hampir sama dengan Kania. Tapi sayang ia seseorang yang mudah jatuh cinta dan sering gonta-ganti pacar hampir sebulan sekali. Kania sering bertanya apakah Alvina tidak bosan dengan hubungan seperti itu, dengan santainya Alvina menjawab ‘Main-main aja gue’ Kania dan Aldi menganga mengetahui alasan Alvina berpacaran selama ini. Berbeda dengan Aldi, semenjak kuliah Aldi tidak pernah berpacaran sekali pun. Katanya ada seseorang yang ia pilih menjadi calon istrinya. Jadi ia tak ingin menyakiti calon istrinya itu dengan gonta ganti cewek sana sini. Sampai saat ini calon istri Aldi masih menjadi misteri. “Hei, lagi mikir apa sih, dari tadi handphone lo bunyi,” kata alvina, menyadarkan Kania. Ia jenggah mendengar nada dering di handphone Kania yang memekakkan telingga. “Nggak diangkat?” tanya Alvina lagi, melihat nickname Langit ada di layar ponsel Kania. Kania mengelengkan kepala merespon perkataan Kania. “Kania, kenapa lo nggak tinggal di rumah gue aja, gue takut kalau lo bakal diapa-apain sama pacar cewek yang tinggal disebelah kamar lo,” kata Alvina berusaha membujuk Kania lagi, ini sudah kesekian kali Alvina mengajak Kania untuk tinggal bersama. Ia sangat khawatir dengan keselamatan Kania, setelah kejadian itu. Kejadian di mana ia hampir di cium oleh lelaki yang sering datang ke kamar sebelahnya. “Nggak apa-apa Vina, udah setahun gue di sana, ngga terjadi apa-apa kan,” jelas Kania berusaha membuat Alvina faham. Ia tak ingin merepotkan sahabatnya itu. “Kalau ada apa-apa hubungi gue ya, jangan diam-diam aja,” ucap Alvina. Kania menggangukkan kepala merespon Alvina. Mereka berdua masih berada di kantin, karena mereka baru saja mendapatkan informasi bahwa Bu Ina dosen mereka tidak masuk karena ada hal penting. Jadi mereka berdua memutuskan untuk di kantin saja sambil menikmati wifi gratis. “Ouh Iya Kania, lo tau kan, Buk Amora lagi cuti melahirkan?” Kania menggangukkan kepala tanda mengerti. “Ternyata yang gantiin buk Amora adalah dosen muda Kania. Sekaligus kepala jurusan kita yang baru, mana ganteng lagi,” jelas Alvina dengan semangat membara. “Terus?” kata Kania. “Kania, lo itu bisa nggak sih peduli dikit gitu sama cowok, cuek banget jadi cewek,” jengkel Alvina dengan balasan Kania. Padahal ia ingin melihat antusias Kania. “Gue udah nikah Alvina, kecil kemungkinan gue bisa lepas dari pernikahan itu,” batin Kania miris atas hidupnya. Kania tau diri dengan tidak mendekati laki-laki manapun. Walaupun mungkin suaminya tidak pernah menghubunginya atau menemuinya setelah akad nikah mereka tetap saja bagaimanapun juga Daffa adalah suaminya. Kania tidak mungkin menyakiti ibu mertuanya yang sudah mengangapnya anak sendiri bukan. Walaupun selama ini Daffa hanya mengirimkan pesan melalui bunda Anella, tetap saja ia menghargai bahwa ia sudah memilki suami. “Nggak bisa gue, hidup gue udah ribet banget ini. Ditambah lagi cowok makin pusing kepala gue,” jelas Kania memakan bakso yang baru saja ia pesan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD