Reno menatap penuh tanya dan curiga pada Clara. ‘Apa Clara pernah hamil anaknya tanpa mengatakan yang sejujurnya?’
Sebuah pertanyaan yang selama ini tidak pernah dipikirkan Reno kini perlahan mulai merasuki otaknya.
Clara menatap manik mata yang hitam pekat itu. Di dalam kepalanya, Clara sedang merangkai kalimat untuk menjawab pertanyaan Reno. “Aku kini seorang artis, Ren. Sudah biasa mendapatkan berita-berita miring seperti ini. Kamu pasti akan terbiasa setelah sedikit lama bersamaku. Aku pastikan foto kehamilanku yang tersebar di internet itu adalah berita bohong semata.”
Pandangan Reno tidak beralih sedikit pun dari Clara. Di hati kecilnya yang terdalam, ada rasa berharap jika ternyata Clara pernah mengandung anaknya. Karena hal itu membuktikan jika ia tidak mandul.
Mereka bertatapan sebentar, sampai Clara menepuk bahu Reno yang lebih tinggi darinya. “Jangan terlalu dipikirkan. Gosip ini juga akan hilang seiring waktu.”
“Bagaimana jika mereka mencari tahu tentang aku? Bukankah kehidupanku akan tereskspos?”
Clara masih tetap santai menanggapinya. “Mereka akan bosan dengan semua ini. Lalu gosip ini lambat laun akan tertutupi dengan gosip lainnya,” jawabnya sambil tersenyum simpul.
“Dan bagaimana dengan Diva?” tanya Reno lirih. Senyuman di wajah Clara perlahan memudar karena pertanyaan itu.
“Apa putriku akan ikut dirugikan karena hal ini?” lanjut Reno lagi.
Clara menghela nafas panjang. “Akan aku pastikan Diva akan baik-baik saja,” jawabnya sambil menatap lekat manik mata Reno.
“Clara ....” Suara Wildan tedengar dan menghampiri.
Clara langsung memundurkan langkahnya dan menjaga jarak dengan Reno. Ia menoleh.
Wildan melangkahkan kakinya semakin dekat. “Ra, Fajar sudah memintaku untuk segera berangkat menuju lokasi syuting.”
Spontan Clara langsung melihat ke arah belakang Wildan. Di ujung halaman yang luas, Fajar, manager Reno tengah melambaikan tangan sambil tersenyum ke arahnya.
Kedua mata Reno pun mengikuti ke mana arah pandangan Clara memandang. Ia baru menyadari jika pria yang mengenakan kemeja biru tua dengan kacamata minus berbingkai hitam itu adalah manager Wildan.
“Maaf ya, aku harus pergi meninggalkanmu,” kata Wildan lagi.
Clara menganggukkan kepalanya. “Ya, tidak apa-apa.”
Wildan memeluk Clara dan kemudian mencium pipi kiri dan kanannya. “Jika ada apa-apa, hubungi aku ya.”
“Iya, aku akan segera menghubungimu. Tapi sepertinya tidak akan terjadi apa-apa denganku. Jadi tenanglah ...,” jawab Clara sambil melepaskan pelukan Wildan.
Wildan menoleh ke arah Reno. “Aku titip Clara padamu Ren. Semoga kamu bekerja dengan baik.”
Reno menganggukkan kepalanya mengerti.
Mereka saling bertatapan sebentar dan kemudian Wildan membalikkan badan, pergi menuju pagar tinggi berwarna hitam.
Clara memandangi kepergian Wildan hingga pria itu masuk ke dalam mobilnya.
“Sepertinya kamu sangat mencintai Wildan. Hingga sifat keras kepalamu itu luluh saat bersamanya,” kata Reno memecah kesunyian sesaat itu.
Clara menoleh ke samping. Melihat Reno lekat, seraya tak menyukai apa yang baru saja di dengarnya. Tapi ia tidak bersuara. Hanya mengatupkan bibir rapat-rapat dan menatap Reno dengan dalam.
“Sepuluh menit lagi, antarkan aku ke stasiun Tv Elang Citra,” ucap Clara kemudian.
***
Ini adalah hari ke lima Reno bekerja dengan Clara. Ia sudah ke sana ke mari mengantarkan Clara. Hubungan di antara mereka pun biasa-biasa saja. Sikap profesional antara bos dan driver sangat baik terjalin.
Clara menatap Reno dari kursi di bagian belakang mobil. Gosip tentang dirinya pernah hamil di luar nikah dan telah membuang anak yang dilahirkannya, justru semakin bergulir lebih jauh dari sebelumnya. Bahkan nama aslinya adalah Rara Sulistyowati pun sudah timbul ke permukaan.
Jika begini terus, sebetulnya Clara juga khawatir jika keberadaan Reno dan Diva akan diketahui khalayak ramai. Dan yang paling ditakuti Clara adalah dampak psikologis Diva jika mengetahui kenyataan bahwa dia bukanlah anak kandung dari orang tua yang telah merawatnya selama ini. Dia adalah anak dari idolanya yang telah membuangnya saat masih bayi.
“Ada apa melihatku terus?” tegur Reno sambil melirik ke belakang.
Clara yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, langsung tersadar. “Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku hanya kelelahan,” jawabnya langsung menyahut.
“Setelah bekerja denganmu selama beberapa hari ini, aku baru sadar jika kehidupanmu sangat sibuk dan melelahkan,” kata Reno sambil tidak lepas memandang ke arah jalanan lebar dan sepi.
Jam di arlojinya telah menunjukkan pukul satu dini hari. Tadi Nia justru pulang bersama Gina karena rumah mereka satu arah. Karena sama-sama ingin cepat pulang dan bersantai di atas kasur empuk yang nyaman, mereka memutuskan berpisah ketika selesai syuting video klip sebuah lagu dari band terkenal, yang di mana Clara menjadi modelnya di sana.
Suara halilintar tiba-tiba terdengar menggelegar. Membuat suasana malam yang sunyi dengan jalanan lebar berkelok ini semakin menyeramkan. Di kanan dan kiri, terlihat jajaran pohon besar tanpa rumah warga.
Syuting video klip yang dilakukan di kaki gunung membuat Clara dan Reno harus melewati jalanan yang sunyi.
“Apa sebentar lagi kita akan sampai di jalan raya?” tanya Clara resah karena buliran air hujan yang mulai mengguyur mobil mereka.
“Harusnnya sebentar lagi kita akan melihat jalan raya dan keluar dari jalan berkelok ini,” jawab Reno sambil tetap fokus melihat ke arah jalanan di sela-sela windscreen yang bergerak. (windscreen adalah alat yang digunakan membersihkan kaca mobil ketika hujan turun.)
Suara halilintar untuk kesekian kalinya kembali terdengar.
Clara mulai beringsut takut di kursi belakang. “Aku harap tidak terjadi apa-apa dengan kita saat hujan begini.”
Reno tersenyum tipis. “Memang apa yang akan terjadi pada kita? Tenang saja, sebentar lagi kita akan keluar dari jalanan sepi penuh tikungan ini. Melihat jalan raya dan kemudian akan segera sampai ke rumahmu.”
“Bagaimana jika ban mobil kita pecah di saat hujan deras seperti ini. Ya ampun ... semoga pikiran burukku ini tidak akan terjadi,” ucap Clara sambil menggigit bibir bawahnya.
“Kenapa kamu malah mengatakan yang tidak-tidak. Jangan berbicara sembarangan di tempat sepi begini. Dan jangan berpikiran buruk.” Baru saja Reno berbicara pada Clara agar tidak berandai-andai yang tidak-tidak, dan benar saja kan, tiba-tiba suara ban pecah terdengar nyaring.
“Daaar!” Suara ban mobil meletus.
“Aaaa!” Spontan Clara berteriak ketika mobil yang dikendarainya melesat dan berputar tak terkendali karena pecah ban. Kening dan kepalanya beberapa kali terbentur kaca jendela.
Laju mobil tidak terkendali. Di tambah dengan licinnya air hujan yang menggenangi jalanan. Untung saja Reno dapat menguasai keadaan dan kemudi mobil. Mobil berwarna putih mengkilap keluaran terbaru dan termasuk salah satu merek mobil mewah dengan harga hampir satu M itu berputar-putar dalam hitungan menit. Kemudain berhenti begitu saja di bahu jalanan dengan kasar.
Suara teriakan Clara yang memenuhi mobil mereda seiring mobil yang tak lagi berputar-putar. Ia mengatur nafasnya yang sudah terengah-engah.
Begitu pun dengan Reno. Kulit wajah Reno berwarna pucat karena hampir mengalami kecelakaan.
Di dalam guyuran hujan yang deras mereka berdua membisu. Hingga suara buliran air hujan yang membasahi aspal terdengar jelas.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Reno saat sudah menguasai diri dari kepanikan. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan jika Clara baik-baik saja dan tidak mengalami cedera sedikit pun.
Clara menganggukkan kepalanya. “Iya ...,” jawabnya lirih.
“Aku harus mengganti ban mobil dengan ban serep. Kamu tunggulah di sini,” kata Reno sambil membuka pintu mobil.
Deras dan dinginnya air hujan mulai membasahi rambut dan kepala Reno. Dengan cepat ia mengambil ban serep yang ada di bagasi belakang, lalu mulai menggantinya.
Clara memandangi Reno yang berusaha secepat mungkin untuk bisa mengganti ban mobil yang pecah itu dari balik kaca jendela. Ia mulai tidak tega melihat Reno basah kuyup di tengah malam seperti itu.
Clara berdecak kesal pada dirinya sendiri. Ia mulai mencari payung yang biasanya ada di dalam mobil. Setelah menemukan payung berwarna ungu dari tumpukan pakaian ganti miliknya yang ada di dalam mobil, Clara keluar mobil sambil membuka payung.
“Kenapa tidak memakai payung?! Kamu bisa sakit karena kehujanan.” Clara mengarahkan payung yang ia pegang di atas kepala Reno dan ia pun ikut berjongkok sambil melihat ke arah ban yang sedang berusaha di ganti.
Reno menoleh, menatap Clara yang sedang memayunginya. Mereka berada di dalam satu payung berdua.
“Kamu bisa sakit kalo kehujanan kek gini!” seru Clara lagi.
‘Kamu bisa saja sakit!’ Suara Clara saat mereka masih bersama, kembali terngiang di telinga Reno. Bertahun-tahun yang lalu kejadian serupa pernah mereka alami. Motor tua yang mogok dan diguyur hujan deras. Saat itu Clara terus menggurutu namun masih tetap setia bersamanya.
“Bisa, ganti bannya?” Suara Clara yang bertanya, kembali membuyarkan ingatan Reno di masa lalu.
“Bisa,” jawab Reno lirih. Kedua matanya masih menatap manik mata Clara.
“Tapi kok belum terpasang juga ban serepnya? Kamu bisa engga?” Clara bertanya lagi.
“Bisa. Tapi butuh waktu untuk gantinya kan,” jawab Reno sambil mengalihkan pandanganya kembali ke arah ban yang memang sulit terlepas dari tempatnya.
“Daaar!” Suara halilintar yang sangat kencang kembali terdengar. Petir mengkilat bagai cambuk api sejenak membuat langit yang gelap pekat kini menyilaukan mata. Spontan tangan Clara memegangi lengan Reno dan sedikit mencengkramnya. “Lebih baik kita meneduh saja. Kita ganti bannya kalo udah engga hujan dan engga ada petir,” ujar Clara sambil memyipitkan kedua matanya.
Reno mengusap wajahnya. “Tapi jadi lama.”
“Engga apa-apa. Aku ngeri denger suara petir dan kilat ini,” kata Clara sambil menarik tangan Reno ke belakang.
“Tapi kita meneduh di mana?” Dahi Reno berkerut.
Reno dan Clara menoleh ke belakang. Mencari-cari ke mana mereka harus mencari tempat berlindung dari hujan lebat yang sangat dingin ini.
“Di sana!” seru Clara sambil menunjuk ke sebuah halaman yang luas dengan atap kenopi di atasnya. Lampu redup yang tidak terlalu terang menerangi di depannya.
Reno mengikuti ke mana jari Clara menunjuk.
Mereka berlarian bersama dengan payung yang tak terlalu lebar menaungi kepala. Sesampainya di tempat yang dimaksud oleh Clara, Reno mengandahkan mukanya. Membaca tulisan papan yang tadi tak terlihat karena penerangan yang sangat minim.
“Penginapan di bukit Rangbangbin.” Clara membaca tulisan itu. “Sepertinya sampai hujan reda kita beristirahat di sini aja Ren.”
Reno terkejut dengan apa yang dikatakan Clara. “Kita beristirahat di sini?!”
Clara menganggukkan kepalanya. “Iya. Sementara. Memang kenapa?”
“Bukankah ini terlalu ekstrim. Bersama seorang supir, beristirahat di sebuah penginapan murah. Bagaimana jika ada orang yang mengenalimu di sini?” Reno mengingatkan.
“Mereka tidak akan terpikirkan jika ada artis yang sedang beristirahat di sini,” jawab Clara sambil tertawa ringan. “Ayo kita masuk. Menunggu diluar bakalan masuk angin!”
Bersambung