Katakan yang jujur

1165 Words
Lolita tersenyum sinis sambil melipat kedua tangannya di depan dadaa. Matanya menatap ke arah televisi layar datar berukuran lima puluh inchi yang terpasang di dinding kamarnya. “Aku jadi penasaran siapa mantan kekasihmu. Dan di mana kamu membuang anakmu ...?” tanya Lolita seraya bertanya pada dirinya sendiri. “Kenapa terkadang orang-orang kerap membuang anaknya demi menggapai ambisinya.” Lolita kembali teringat almarhum Angelica, tantenya yang semasa hidup terlalu terobsesi pada kekayaan. Senyuman tipis menyerigai. “Aku pasti akan mengetahui semua kisah masa lalumu, Clara ... Entah mengapa Wildan sangat terobsesi padamu.” Dan tak lama setelah Lolita berguman pada dirinya sendiri, suara deringan ponsel terdengar. Tangan kanannya langsung menggapai ponsel yang berada tak jauh dari ia duduk. Tertulis nama Wildan di layar ponsel. Padahal baru saja ia melihat Wildan dari balik layar televisi. “Halo,” Lolita bersuara. “Lol ...,” panggil Wildan. “Iya, kenapa?” “Masalah yang kamu timbulkan semakin rumit. Sekarang wartawan mulai berasumsi jika penyebar foto masa lalu Clara itu adalah mantan kekasihnya. Orang tidak bersalah jadi terlibat kan ...,” keluh Wildan. “Bagus kalau wartawan infotainment mencari tahu siapa mantan kekasih Clara. Terkadang wartawan lebih pintar dari agen CIA jika menyangkut urusan masalah artis. Aku juga penasaran siapa mantan kekasih Clara itu,” jawab Lolita santai. Wildan memejamkan matanya rapat-rapat dan kemudian kelopak mata itu terbuka kembali perlahan. “Aku tidak peduli siapa mantan kekasih Clara. Aku juga tidak peduli dia dahulu pernah hamil atau tidak. Apa dia punya anak atau tidak. Anaknya di mana sekarang, aku tidak perduli. Justru yang aku pedulikan sekarang adalah kamu. Jika sampai wartawan tau kamu adalah dalang dibalik ini semua, kariermu bisa hancur.” Suara Wildan terdengar sangat lirih. Sejenak terjadi keheningan sesaat setelah Wildan berbicara tadi, Lolita merasa haru. “Jadi kamu mengkhawatirkan aku ...?” tanyanya dengan kalimat yang hampir terbata. Terdengar helaan nafas Wildan dari speaker ponsel. “Aku akan selalu memikirkanmu Lol. Kamu sudah seperti adikku. Aku tidak ingin kamu kesulitan. Tapi kenapa justru kamu yang mencari masalah.” Lolita berdecak kesal. “Tenang saja Wil. Wartawan tidak akan tahu jika aku yang menyebarkan foto Clara di masa lalu. Justru bagus, dengan ini siapa mantan kekasih Lolita akan muncul.” “Sudah aku bilang aku tak peduli siapa mantan kekasih Clara. Masa lalu Clara. Jika sampai wartawan mengendus kamu yang melakukan ini semua. Aku akan berpura-pura tidak tau apa pun! Aku tidak akan peduli lagi dengan kariermu!” hardik Wildan dan kemudian menutup panggilan ponselnya. “Kenapa Lolita sangat sulit diberitahu. Apa untungnya dia mencari tahu soal masa lalu Clara ...?!” guman Wildan menggerutu. Konferensi pers yang diselenggarakan telah usai. Sejak tadi Clara memperhatikan Wildan dari jauh. Setelah Nia menghentikan konferensi pers karena pertanyaan yang wartawan ajukan sudah mulai mengarah pada pertanyaan lebih pribadi, Wildan langsung menggeser kursi dan berdiri. Berjalan ke arah ruang keluarga. Merasa ada yang aneh Clara mengikuti Wildan yang ternyata sedang menghubungi seseorang di pojok ruangan. Clara berdiri di jalan masuk antara ruang ruang tamu dan keluarga. “Kamu sedang menelpon siapa?” tanya Clara yang akhirnya tidak tahan untuk bertanya. Ia berjalan mendekati Wildan. Wildan yang kebetulan sudah mematikan panggilan ponselnya seketika terkejut karena mendengar suara Clara. Punggungnya menegang dan menoleh ke belakang. “Kamu sedang apa? Kenapa menelpon di sana?” tanya Clara merasa aneh. Wildan tidak langsung menjawab. Ia terdiam dengan wajah menegang. “Hm ... Aku menelpon di sini karena di luar sana suara bising membuat suaraku di telpon tidak terdengar.” Wildan beralasan. Clara hanya menyahut ‘Oh’ dan kemudian membalikkan badan ke halaman depan lagi, untuk bersikap ramah pada wartawan karena takut dibilang artis yang sombong. Karena tanpa para pekerja pena itu, dirinya bukan apa-apa di ranah hiburan tanah air ini. Kehadiran Clara tadi, mendadak berdiri di belakangnya, mengejutkannya. Membuat jantung Wildan berdebar dengan kencang. “Hufh ....” Wildan menghela nafas kasar dan seakan nafasnya tercekat. Di lain sisi, Reno merasa aneh kenapa kini justru mantan kekasih Clara yang diributkan oleh awak media. Jika yang dimaksudkan mantan kekasih Clara itu adalah dirinya. Ia sama sekali tidak tahu apa-apa soal foto lama Clara yang tersebar di internet. Clara merasa ada yang menatapnya sejak tadi dengan sepasang mata elang mengamati. Ia menoleh ke arah mata itu di sela-sela perbincangannya dengan Susi, seorang wartawati dan bukan dalam sesi tanya jawab. Perbincangan antara teman. Mereka saling berpandangan dari jarak jauh. Membuat sebuah tanya muncul di hati Clara. Karena merasa ada sesuatu hal yang terpendam di dalam tatapan Reno, Clara berniat menghampiri pria bertubuh tinggi 180 cm dengan hidung mancung dan alis lebat berwarna hitam pekat itu. “Aku tinggal dulu ya Sus,” kata Clara pada Susi. “Oh ya, silahkan mbak ...,” sahut Susi mempersilahkan sambil tersenyum. Clara berjalan menghampiri Reno yang masih menatapnya dengan posisi berdiri seperti barisan ‘istirahat di tempat'. “Ada apa menatapku seperti itu?” tanyanya dengan alis berkerut. Reno mengehela nafas panjang. “Apa kamu tidak merasa ada yang aneh atau mengetahui jawaban dariku?” Kerutan di dahi Clara samakin terlihat dalam. Ia tidak tahu apa yang dimaksudkan Reno. “Kalo ngomong engga usah muter-muter Ren. Bikin aku bingung aja. Maksudnya apa?” “Kenapa kini justru kehadiranku dipertanyakan? Mereka bertanya dan mengorek tentang mantan kekasihmu, yaitu aku!” Reno menjawab dengan suara lirih. Ia tidak ingin ada orang lain mendengar pembicaraan mereka. “Aku bisa bersumpah atas nama Tuhan dan nama Anakku. Bukan aku penyebar foto lamamu di internet.” Clara membuang nafasnya kasar. “Ya, aku tahu,” jawabnya singkat. “Dan kenapa kamu tadi tidak mengatakannya? Jika bukan orang dari masa lalumu yang melakukannya?” Reno masih bertanya. Ia merasa dirugikan atas masalah ini. “Bagaimana jika karena masalah ini kelurgaku terusik? Astrid mengetahui jika akulah mantan kekasih dari seorang artis terkenal?” Tatapan mata Reno seakan menghunus tepat di jantung Clara. “Apa kamu malu jika Astrid mengetahui hubungan kita di masa lalu?” tanya Clara lirih. Reno mengatupkan bibirnya sejenak dan kemudian berbicara lagi. “Bukannya aku malu. Tapi aku tidak ingin masalah semakin rumit. Hidupku sudah bahagia sebelum ini.” Clara mengigiti bibir bawahnya. “Jadi aku mengganggu hidupmu?” “Jujur, aku jawab ‘iya’. Dan bagaimana dengan pernyataan pakar telematika Roy Samudra yang mengatakan jika foto kehamilanmu di masa lalu itu adalah foto asli? Bukan foto rekayasa?” tanya Reno menatap Clara tajam. Clara yang semula berdiri tegak kini mulai bergetar. Rasa cemas mulai merasukinya. “Foto yang menggambarkan kamu sedang hamil itu asli. Jadi sebetulnya kamu pernah hamil? Siapa ayah dari anak yang kamu kandung itu? Lalu di mana anakmu kini?” Hembusan angin yang menerpa tepat di detik itu serasa membuat buliran peluh kecil di kening Clara semakin terasa dingin. Pertanyaan Reno membuatnya seraya mati berdiri. “Jawab Clara. Jangan diam saja ...!” seru Reno sambil menahan intonasi suaranya agar tidak meninggi. Menahan intonasi nada dan volume suara, membuat giginya menggemertak. Clara menelan ludahnya. Kerongkongannya mendadak terasa amat kering bagai padang pasir yang membutuhkan hujan. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD