Pertanyaan yang tidak terpikirkan

1218 Words
                “Dia akan bekerja denganku sekarang. Sebagai sopir dan bodyguard ku,” kata Clara memberitahu. “Sopir?” Clara menganggukkan kepalanya. “Ya, sopir. Bukankah katamu juga, aku harus memiliki supir pribadi dan juga pengawal? Nia juga mengatakan hal yang sama. Makanya aku mencari sopir dan kebetulan Reno, ayah dari fans kecil yang tempo lalu memberikanku hadiah ini mau bekerja denganku,” jelas Clara. Sejenak Wildan mengamati Reno dari atas kepala hingga ujung kakinya, dan kemudian menoleh ke arah Clara. “Kenapa tak memberitahuku?” Lagi-lagi Clara dipersalahkan seperti biasa. “Aku ingin memberitahumu, tapi aku belum sempat,” jawab Clara cepat. Ia tidak ingin terjadi pertengkaran dengan Wildan apa lagi di depan Reno. Ekspresi muka Wildan yang datar dan juga tubuhnya yang menegang kini berangsur melemah. Ia menghela nafas panjang dan menarik salah satu kursi makan. Duduk di sana. “Ayo duduk lagi ...,” ucap Wildan pada Reno. Reno kembali duduk sambil menatap Wildan, seorang aktor terkenal yang baru kali ini ia lihat secara langsung. Biasanya Reno hanya melihatnya di balik layar televisi. Clara juga ikut duduk di samping Wildan. “Kamu setuju kan jika Reno menjadi sopir dan pengawalku? Dia memiliki ilmu beladiri yang bagus. Bahkan sudah menguasai sabuk hitam karate.” “Benar. Kamu bisa karate?” tanya Wildan mulai sedikit kagum. Reno menganggukkan kepalanya. “Iya, hanya untuk menjaga diri saja. Dan tidak terlalu jago.” “Dan kamu adalah ayah dari anak kecil fans Clara yang bernama Diva itu?” Wildan bertanya seraya interogasi. Reno kembali mengangguk. “Iya.” “Bagaimana, tidak apa-apa kan? Jika Reno berkerja di sini?” tanya Clara sedikit cemas. Manik matanya bergetar saat berbicara. Wildan menatap Clara dan kemudian tersenyum. Ia mengangguk, setuju. “Terima kasih sayang ...,” kata Clara sambil memeluk Wildan tepat di depan mata Reno. Reno merasa heran kenapa Clara yang keras kepala terlihat cemas dan takut pada Wildan? Entah mungkin karena Clara memang terlalu mencintainya atau karena Clara memang ketakutan. Wildan melepaskan pelukan dan merangkul bahu Clara. Ia melihat ke arah Reno lagi. “Aku harap kamu bisa bekerja dengan baik. Aku titip Clara padamu saat aku tak ada,” katanya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Reno menyambut jabatan tangan Wildan. “Selamat datang,” kata Wildan yang kini mulai ramah dan bersikap hangat. “Terima kasih, Tuan Wildan.” “Jangan panggil aku Tuan. Panggil saja aku Wildan. Dan anggap kami semua di sini adalah keluargamu.” Reno tersenyum simpul mendengarnya. “Terima kasih.” Clara menghela nafas, lega melihatnya. Wildan pria yang sulit ditebak dan posesif. Sifat cemburunya yang terkadang absurt itu terkadang menyulitkannya. “Wartawan sudah tiba!” seru Nia yang tiba-tiba muncul dari gawang pintu sambil menggerakkan telapak tangannya ke depan. “Ayo semuanya siap-siap!” Reno yang masih awam dengan semua ini hanya diam dan menunggu intruksi. Baru saat Clara dan Wildan berdiri dan berjalan menuju ke ruang depan, ia pun ikut berdiri di urutan paling belakang. Reno yang berada di belakang Clara dan Wildan memandangi punggung Clara. Tangan kiri Clara bergandengan tangan dengan Wildan. Mereka tampak serasi. Membuat jantung Reno terasa sedikit nyeri. Saat sudah berada di halaman depan yang telah di tata sedemikian rupa oleh Nia dan juga orang-orang suruhannya. Tenda yang rapi, minuman kemasan dan makanan ringan yang telah dibagikan untuk para wartawan. Clara dan Wildan duduk di kursi yang telah dipersiapkan. Di depan mereka sudah terpasang beberapa microfon dengan lebel beberapa nama stasiun tv. Reno berdiri di belakang Clara dengan tegak. Ia menatap hiruk pikuk banyaknya wartawan yang diundang. Sekali lagi Reno mencuri pandang melirik ke arah Clara. Tatapannya sayu. ‘Ini adalah kehidupan yang kamu inginkan Clara ...,’ ucapnya di dalam hati. Di rumah yang berjarak puluhan mil dari kediaman Clara, Diva berteriak pada Astrid sambil menunjuk-nunjuk ke arah televisi. “Bunda! Bunda! Ayah ada di tv!” teriaknya. Astrid yang sedang menjemur pakaian kering langsung melempar pakaian yang akan ia jemur itu kembali ke dalam keranjang. Ia berlari dari halaman belakang menuju ruang tengah. “Ada apa?!” “Ayah ada di tv! Bersama Tante Clara!” teriak Diva yang tanpa sengaja menekan chanel tv ke berita infotainment. “Kamu nonton acara gosip?” tanya Astrid sambil ikut duduk dan sedikit menggeser bagian sofa yang diduduki Diva. “Aku engga sengaja tadi abis nonton Spongbob,” jawab Diva dengan raut muka takut dimarahi. Tapi Astrid sedang tidak berniat menceramahi. Tatapan matanya fokus ke arah layar tv yang datar dan lebar. “Ayahmu sekarang berkerja menjadi pengawal tante Clara,” kata Astrid sambil tersenyum senang. “Apa itu hal yang bagus?” Diva bertanya dengan polos. Astrid menoleh menatap putrinya. “Tentu. Itu adalah hal yang sangat bagus. Kesalamatan seorang selebritis terkenal ada di tangan ayahmu.” Sepasang mata Astrid membulat dan berbinar ketika berbicara. “Dan mereka sedang apa?” tanya Diva sambil menunjuk kembali ke arah layar televisi LED berukuran tiga puluh dua inch. Astrid tidak menjawab. Karena ia pun tidak tahu. Konferensi pers apa yang dimaksud judul yang tertulis di bawah layar. ‘Konferensi pers tentang berita kehamilan Clara.’ Sudah beberapa hari ini Astrid tidak melihat acara-acara infotainmet. Baik dari televisi atau pun di internet. Kesibukannya menjadi ibu rumah tangga dan mengurus Diva sangat menyita waktunya. “Memang Clara pernah hamil? Kapan dia menikahnya?” gumannya bertanya pada diri sendiri. Karena merasa bosan dan tidak mengerti dengan apa yang sedang disiarkan di tv, Diva turun dari sofa dan berjalan menuju keranjang mainannya. Menyibukkan diri dengan mainan-mainan yang telah dibelikan Clara tempo lalu. “Jadi semua berita ini hanya berita palsu? Sebuah hoax atau memang berita yang sengaja di viralkan agar popularitas semakin naik?” tanya salah satu wartawan seraya sinis dan memiliki dendam pribadi. Padahal semua pertanyaan yang telah ia rangkai adalah sebuah tugas pekerjaan yang ia emban. Reno menatap wartawan pria yang mengajukan pertanyaan barusan. Ia baru sadar jika kehidupan selebritis harus kuat mental. “Tentu saja ini hoax. Untuk apa aku sendiri yang menyebarkan foto dan berita itu agar popularitasku naik? Maaf, aku sudah terkenal. Jadi tidak usah membuat gimick seperti itu,” jawab Clara dengan wajah tenangnya. “Jika memang ini adalah berita hoax yang sengaja dibuat oleh seseorang, apa mbak Clara merencanakan akan mengusutnya dengan tuntas?” tanya salah seorang wartawan lagi. “Sudah dipastikan foto dan berita itu adalah hoax oleh oknum yang tidak bertanggung jawab!” sahut Wildan. Clara yang sudah menggerakkan bibirnya untuk berbicara, langsung mengatupkan bibirnya saat Wildan menyela. Wildan menggenggam tangan Clara dengan erat. “Aku akan mencari siapa penyebar berita hoax itu. Dan akan dipastikan dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Hal ini juga untuk pelajaran bagi semua orang jika kita harus menahan jari-jari kita di dalam sosial media.” Clara menoleh dan menatap Wildan yang terlihat tegas membelanya. “Tapi mas, menurut pakar telematika Roy Samudra, foto mbak Clara yang sedang hamil itu bukan rekayasa. Foto itu asli. Bagaimana jika ternyata, mbak Clara memang hamil dan si penyebar berita itu adalah mantan kekasih mbak Clara yang sakit hati?” Seorang wartawati kembali bertanya. Pertanyaan kali ini membuat Clara spontan melirik ke arah Reno yang berdiri di belakangnya. Ia baru terpikir, ‘Mungkinkah Reno yang menyebarkan berita image buruknya di internet?’ Nia yang berdiri di ujung halaman pun menatap lurus ke depan. Melihat ke arah Reno. “Tidak mungkin ...,” gumannya lirih.   Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD